Kalau bukan kita, siapa lagi?
By : Mimin Yuni Liyani
Hamparan
rerumputan menari-nari mengikuti laju angin. Dibawah rindangnya pohon, sepasang
sahabat sedang duduk menikmati sejuknya udara disore hari. Suara nyanyian dari
penyanyi mancanegara yang terdengar begitu indah, membuat mereka ikut terbawa
suasana.
“Ini
lagu favoritku” ucap seorang gadis. Lawan bicaranya hanya memandang sekilas
sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Kalau
ini lagu favoritku.” Katanya. Dan sebuah lagu daerah yang sudah tidak asing
mengalahkan suara dari penyanyi mancanegara.
“Rasa Sayange ?” dengan wajah polos, dahi
gadis itu berkerut seakan menggambarkan ekspresi bingung.
“Iya.
ini lagu favoritku, Embun.” Jawabnya tenang. Gadis itu menahan tawanya, namun
gagal yang akhirnya membuat dirinya kehilangan kendali hingga tertawa
terbahak-bahak.
“Awan,
Awan! Kau sungguh lucu. Apa tidak ada yang lebih bagus dari itu?” ledeknya.
Embun tidak berhenti tertawa, sedangkan Awan hanya diam memperhatikan sahabat
kecilnya itu. Setelah Embun mulai tenang, barulah dia beranjak untuk
mendekatinya.
“Selera
kita memang berbeda. Tapi, apakah salah jika aku lebih menyukai lagu daerah
yang sekarang hampir hilang ditelan masa??” Awan menatap dalam ke mata Embun.
Seperti habis ditampar, wajah Embun memerah. Dia terhenyak dari tempatnya dan
menyadari betapa bodoh dirinya yang tidak bisa menghargai budayanya sendiri.
Mereka memang sudah bersahabat dari kecil. Dan dia tahu antara dirinya dan Awan
mempunyai selera yang bertolak belakang. Dia memang lebih suka tentang budaya
negara lain dibandingkan sahabatnya itu. Tetapi, dia juga tidak
mempermasalahkan tentang Awan yang selalu menjunjung tinggi budaya Indonesia.
Dan setelah sekian lama bersahabat, baru
kali ini dia merasa tersadarkan mendengar perkataan Awan.
“Untuk
apa kita menyukai hal-hal seperti itu. Negara kita saja membiarkan budaya kita
diklaim oleh negara lain!” Embun berdiri dan membelakangi Awan dengan berkacak
pinggang.
“Hei,
jangan salahkan Negara-nya, tapi salahkan diri kita yang kurang menghargai budaya kita sendiri.” Sanggah Awan. Suasana
semakin menegang, mengingat baru kali ini mereka berselisih paham tentang
selera dan budaya yang mereka sukai.
Embun
menundukkan kepalanya, dalam diam dia merenung dan membenarkan ucapan Awan.
“Lalu
bagaimana dengan kebudayaan yang diklaim oleh negara lain itu?” tanyanya.
Awan
tersenyum lagi, sebelum meletakkan kedua tangannya dibahu Embun. Dengan penuh
keyakinan dia berkata “Itu tidak akan
terjadi selama kita mau mengakui dan melestarikannya. Cintai dari sekarang,
atau tidak sama sekali!”
“Begitukah?”
kata Embun dengan wajah polosnya. Matanya berbinar-binar menatap Awan.
“Ya!
Memang harus begitu. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menyelamatkan
budaya kita sendiri?” ucap Awan.
“Baiklah.”
Embun berlari meninggalkan Awan sendirian. Dengan sangat cepat dia terus
berlari menuju rumahnya dan mencari sesuatu dilemari tua Ibunya. Setelah
mendapat apa yang dia cari, Embun kembali menuju ketempat dimana dia
meninggalkan Awan.
Awan
merasa seperti orang bodoh, setelah melihat sahabatnya berlari menghampirinya
dengan memakai baju batik yang berukuran besar dan sebuah selendang yang juga
bermotif batik.
“Kalu
bukan kita, Siapa lagi?!” teriak Embun, membuat Awan tertawa melihat
tingkahnya.



0 komentar:
Posting Komentar