Rabu, 13 Mei 2015

^Fan_Fict^... Mencoba hal baru :)

BAYANGAN YANG HILANG.....
By : Mimin Yuni Liyani  ^_^
Kuroko no basuki only @ Tadatoshi Fujimaki
Kuroko no Basuke sepenuhnya hanya milik Tadatoshi Fujimaki.... J

Cast :
Kagami Taiga  ,  Momoi  , Kuroko Tetsuya, and others... 
    




 


















Cahaya mentari pagi masuk kedalam ruangan itu melalui celah jendela. Sinarnya yang terang terasa sangat menyilaukan. Dikamar yang berukuran sangat luas itu, seorang lelaki sedang memeluk seorang gadis yang masih terlelap didadanya dengan sangat manis. Bahkan lelaki itu masih teringat bagaimana dia bisa jatuh hati pada gadis itu. karena sikapnya dan kepribadiannya yang manis, juga gadis yang selalu mendukung dan ada untuknya disegala kondisi. Perlahan tangannya yang kekar membelai rambut gadis itu dan menatapnya dalam-dalam.
“Ehmm, ,,” suara tak jelas keluar dari mulut gadis itu sambil tersenyum manis.
“Kau sudah bangun, Momoi?” tanya si lelaki yang tengah menatap gadis itu.
“Kagami-kun?” gadis itu tersenyum. sepasang matanya menatap seluruh ruangan dengan dekorasi yang sederhana tapi berkelas itu. Gadis itu terkejut ketika melihat jam yang bertengger manis didinding menunjuk pukul 9 pagi.
“Omo... aku terlambat!!!” teriaknya sambil mengikat rambutnya dengan sembarang. Rambut yang acak-acakan itu justru terlihat semakin manis untuknya. Dia berlari menuju kamar mandi secepat kilat, meninggalkan Kagami yang semalaman telah menemaninya. Kagami meregangkan tubuhnya dan memijit bahu kirinya yang semalam penuh digunakan untuk menopang kepala Momoi.
Kagami, pelatih dan pemain basket yang terkenal dengan gaya serangan yang mematikan itu adalah pacar Yuuki waktu SMA. Namun setelah beberapa tahun, Momoi meninggalkannya karena Kagami tidak pernah memperhatikannya walaupun mereka berpacaran. Menurut Momoi, Kagami hanya memikirkan tentang basket, basket, dan basket. Namun sekarang, pria berambut merah maroon itu sudah beranjak dewasa dan menyadari bahwa hidupnya tidak dihabiskan hanya untuk basket, dia juga harus memikirkan tentang orang-orang disekitarnya terutama orang-orang yang selalu menyayanginya, seperti Momoi. Saat dia menyadarinya, ternyata Momoi telah pergi meninggalkannya jauh ke Amerika dimana dia melanjutkan sekolah seni untuk meraih mimpinya.
Untuk beberapa saat, Kagami merasa semuanya baik-baik saja, dengan atau tanpa Momoi disisinya, semakin hari berlalu dia merasa harus baik-baik saja walaupun rasa kehilangannya semakin terasa, hingga suatu hari Kagami merasa sudah diambang batasnya. Dia sangat merindukan Momoi, senyum dan gelak tawa gadis bermata indah itu selalu membayangi Kagami. Lelaki bertubuh tinggi itu akhirnya merasa putus asa. Beruntungnya, teman satu tim basket yaitu Kuroko dan Kiyoshi-senpai selalu menasehati dan mendengarkan keluh kesahnya. Dua orang itu memang benar-benar kawan yang terbaik, terutama si Kuroko, lelaki berambut biru dengan tubuh yang kecil.


Kenangan Kagami waktu itu terputar lagi dikepalanya. Suatu hari dimusim semi....
Suara pantulan bola basket memenuhi tempat latihan di SMA Seirin siang itu. Semua tim kelas satu, dan dua berlatih dengan sekuat tenaga. Saat itu si pelatih Riko-chan sedang memberikan menu latihan yang sama beratnya seperti yang pernah diterima oleh kagami dan kawan-kawannya. Tapi sekarang, Kagami telah melewati masa-masa itu. Dia, Kuroko, Kiyoshi-senpai, dan pacar pelatih Hyuga-senpai, hanya datang sebagai kakak kelas yang ikut membantu jalannya latihan menjelang pertandingan Winter-Cup tahun ini. Namun saat latihan, tiba-tiba saja Kagami meleset saat melakukan dunk beberapa kali, dia juga tidak bisa menerima operan luar biasa dari Kuroko yang selalu dapat membuatnya mencetak angka. Semua orang bertanya-tanya, hingga akhirnya Riko-chan memutuskan.
“Kagami-kun!!!” teriak gadis berambut pendek itu dengan kedua tangan berkacak pinggang.
Semuanya berhenti secara serentak saat mendengar teriakan penuh amarah dari pelatih.
“Apa?!” teriak Kagami dari bawah ring diujung lapangan.
“Kau keluar! Kuroko juga!” teriak Riko-chan sambil meniup peluitnya.
“Apa? A aku juga Riko-chan? Tapi kenapa??” tanya Kuroko dengan lugu.
“Harusnya kau lebih tahu dan mengerti Kuroko!!” semua yang ada dilapangan basket terdiam. Hyuga-senpai mendekati pacarnya dan mencoba menenangkannya.
“Tenanglah Riko-chan, aku yakin Kagami bisa mengatasi masalahnya sendiri.” Hyuga berdiri dibelakang Riko-chan sambil meletakkan tangan dibahunya, alih-alih untuk meredam suasana hati Riko yang memanas.
“Kagami-kun, ikut aku.” Kata Kuroko dengan percaya diri..
“Baka!!! Memangnya kenapa aku harus mengikutimu?!!” tangan Kagami yang besar itu terus menerus menekan kepala Kuroko seakan ingin memasukkan kepalanya kedalam organ dalamnya.
“Arrggghh!!” teriakan Kagami ketika Kuroko menjatuhkan tinju tepat wajahnya.
“Sudah ikut saja bodoh, dasar Bakagami!!!” balas Kuroko.
Semuanya tidak terkejut dengan tingkah mereka berdua, Kiyoshi-senpai pemain point-guard tim Seirin justru tersenyum dan cengar-cengir dengan aneh, membuat siapapun yang melihat ingin memukulnya karena tersenyum tanpa alasan.
“Masa muda, masa yang bahagia, akan lebih indah jika melaluinya dengan persahabatan. Marilah kita menjalin persahabatan yang manis. Semanis kue dango yang warna warni!!” katanya tidak jelas.
“Hei Kiyoshi, jangan berbicara hal yang memalukan seperti itu!” teriak Hyuga setelah melemparkan bola basket tepat ke kepala Kiyoshi.
“Ahahahahah HAHAHAHAHA” suara tawa memenuhi lapangan basket.
Saat diatas atap sekolah, dua orang pemain basket yang bertolak belakang itu  berdiri dengan  memunggungi satu sama lain. Sepi sekali. Hanya hembusan angin dan kicauan burung yang sesekali lewat yang mengisi kekosongan diantara mereka.
“Kagami-kun....” ucap Kuroko pertama kali.
“Apa?!” Kagami sangat keras. Dia adalah tipe lelaki yang sangat teguh pada pendapatnya atau biasa dibilang keras kepala dan tidak suka mengalah sesuai dengan gayanya bermain cepat dan mematikan saat basket, sangat berbeda dengan Kuroko yang tenang dan dewasa.
“Momoi-chan....” sebut Kuroko. Kagami yang mendengar Kuroko menyebut nama gadis itu  berbalik menatap Kuroko.
“...kau merindukannya????” lanjut Kuroko. Lelaki berambut biru itu tidak gentar sedikitpun meskipun dihadapannya ada orang yang lebih tinggi 25cm darinya sedang menatap tajam penuh amarah.
“Apa maksudmu, Kuroko?!” ucap Kagami. Baginya, memalukan sekali jika orang seperti dirinya menjadi lemah hanya karena merindukan gadis yang meninggalkannya.
“Dasar, Bakagami!!!” Kuroko menjitak kepala Kagami meskipun harus susah payah karena masalah tinggi badannya.
“Jangan sembarangan mengganti nama orang, Baka!!” teriak Kagami, mencengkeram jaket Kuroko.
“Habisnya, kau bodoh sekali Kagami-kun. Kau juga tidak bisa membohongiku, kau tahu itu kan?” Kagami terdiam mendengar ucapaan Kuroko, dia termenung beberapa saat, bahkan akan menghabiskan waktu yang lama jika Kuroko tidak cepat-cepat mengangkat suara.
“Apa kau masih suka basket, Kagami-kun?” Kuroko menyandarkan tubuhnya di balkon atap sekolah.
“Kenapa memangnya?” Kagami bertanya balik. Dia merasa harga dirinya akan runtuh perlahan-lahan jika harus menjawab pertanyaan itu dengan terang-terangan. Huft, memang dasar Bakagami ini, jual mahal sekali ya... J
“Kau pasti masih menyukainya, aku yakin itu.”
“Percaya diri sekali kau, Kuroko.” Kata Kagami dengan sinis.
“Ya. Karena aku sangat yakin.” Kagami tercekat, tak bisa bicara apa-apa lagi. Dia memang tidak pernah meragukan si Kuroko itu, tapi keyakinan Kuroko yang berlebihan terkadang membuat Kagami merasa seperti orang bodoh.
“dan kau juga merindukannya kan? Momoi-chan, pacarmu itu....” lanjut Kuroko. Kagami masih terdiam, mengalihkan pandangan ke lapangan upacara yang terlihat jelas dari atap sekolah.
“Karena aku yakin itu, Kagami-kun. Kau sama seperti aku, sangat menyukai basket. Tapi cara kita lah yang berbeda. Kalau kau menyukai basket karena kehebatanmu, aku menyukainya karena aku ingin membuat diriku hebat saat barmain basket. Terdengar sama tapi sangat berbeda kan?.......” Kagami menatap Kuroko dengan penuh tanda tanya.
“Apa maksudmu, Kuroko?” tanyanya pada akhirnya.
“Karena aku adalah bayangan, dan kau adalah cahaya yang menjadi penentu keberadaanku  Kagami-kun. Sehebat apapun bayangan, dia tidak akan menjadi apa-apa tanpa cahaya yang kuat. Karena cahaya yang kuat akan menghasilkan bayangan yang kuat, jadi begitulah aku tergantung padamu...” Kagami mengerutkan dahinya, mengangkat alis kirinya, lalu berganti alis yang kanan. Dia lalu berjongkok dan berdiri lagi dengan tampang yang aneh, dia terus melakukannya beberapa kali. Konyol sekali. 
“Kuroko!! Sebenarnya apa maksudmu itu?! apa hubungannya dengan semua ini!!” teriak Kagami kesal karena sulit untuk mencerna apalagi memahami kata-kata Kuroko. Tentu saja. Kagami kan lagi galau... J
“Sekarang ini, cahaya yang kuat itu justru dibayangi kenangan masa lalu yang membuatnya selalu menyesali apa yang terjadi. Bayangan itu meredupkanmu Kagami-kun.”  Ucap Kuroko seolah tahu segalanya.
“Apa?” Kagami terkejut.
“Permainan basket kita kuat karena kerjasama antara cahaya dan bayangan, tetapi itu tidak berlaku pada hubungan percintaanmu dengan Momoi-chan. Kau itu seperti orang yang menyesal karena selalu mengacuhkannya dan bersikap tak acuh walaupun kalian berpacaran selama 2 tahun. Penyesalanmu itulah yang menjadi bayangan gelap bagimu, seakan-akan bayangan itu akan menelanmu setiap kali kau mengingatnya. Itulah yang membuatmu kacau selama ini......” Kuroko menjelaskan, seperti biasa dia bertingkah seperti orang dewasa yang tahu segalanya. Tapi memang seperti itulah dia, Si Aquarius dengan golongan darah A. Kadang, semuanya merasa neruntung ada orang seperti Kuroko dalam tim basket mereka karena sikap dan sifatnya.
“.... Tidakkah kau ingat pertandingan minggu kemarin? Kau hampir mengacaukan segalanya kalau saja Kiyoshi-senpai tidak berada didekatmu untuk melakukan Re-bound. Tetapi untunglah semuanya baik-baik saja.” Kuroko menghembuskan nafas yang panjang, merasa lega. Sedangkan Kagami hanya menundukkan kepalanya.
“Ku..roko..” setetes air jatuh ke ubin tempat mereka berpijak. Kuroko terkejut bukan main, kalau setetes air itu adalah air mata Kagami, yang terus menetes hingga Kagami harus menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena tak bisa membendungnya lagi. Ini adalah pemandangan yang mengejutkan bagi  Kuroko, ternyata orang yang tak terkalahkan saat bermain basket bisa meneteskan air mata karena hal seperti ini. ‘Apakah mungkin dia telah lama kesakitan?’ pikir Kuroko.
“A  a ku... Aku harus bagaimana Kuroko?!” teriak Kagami histeris.
“Tenanglah Kagami-kun. Momoi-chan tidak akan senang melihatmu seperti ini.” Kuroko mendekati Kagami dan mencoba menenangkannya dengan meminjamkan bahunya pada Kagami. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya Kuroko meminjamkan bahunya sebagai tempat bersandar Kagami. Setelah hari itu, Kuroko selalu mengeluh karena merasa keram diseluruh bahunya. Tentu saja, karena Kagami lebih besar darinya, dan Kuroko melakukan itu selama berjam-jam demi menenangkan sahabatnya itu. Aneh memang. Hahahaha.. :D


Kagami kembali tersadar dari lamunannya, ketika Momoi mencubit pipinya dengan keras....
“Kagami-kun?!” teriak Momoi yang sudah berpakaian rapi seperti biasanya.
“Arrrgghh! Momoi, sakit!” Kagami mengelus-ngelus bekas cubitan Momoi di pipinya. Wajahnya yang keras terlihat semakin menyeramkan saat merasa kesal.
“Apa yang sedang kau lakukan Kagami?! Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau tidak mengacuhkanku. Apa kau ingin memperlakukanku sama seperti dulu??!” ucap Momoi dingin. Baru kali ini Kagami mendengar Momoi berkata seterus terang itu dihadapannya. Tapi itu justru lebih baik daripada mereka berdua harus selalu menjalin hubungan yang penuh dengan salah paham.
“Kenapa kau hanya memanggilku Kagami, Momoi-chan? Apa kau sedang marah padaku???” Kagami menarik tangan Momoi dan menatapnya penuh arti.
“Baka! Kenapa kau memanggilku Momoi-chan kalau biasanya saja kau hanya memanggilku Momoi!!” Momoi menarik tangannya dari cengkeraman Kagami, tapi percuma saja dia kalah jauh secara fisik.
“Hei,, tenanglah Momoi...” Kagami berkata lembut pada Momoi, sama sekali tidak seperti Kagami yang biasanya.
“ ... Aku hanya mengingat masa di mana aku merasa sangat kacau saat kehilanganmu. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi hanya karena kebodohanku. Maafkan aku.” Momoi terkejut bukan main. Sebelumnya Kagami tidak pernah meminta maaf untuk hal-hal seperti ini, apakah benar yang dikatakan Kuroko-kun padanya kalau Kagami yang sekarang telah berubah. Dia merasa tidak tega melihat Kagami yang sekarang, apakah dia turut ambil bagian dalam membuat Kagami menderita seperti ini. Tapi itu pasti akan sebanding jika dibandingkan dengan apa yang telah dialaminya beberapa tahun yang lalu.
“Apa? Apa maksudmu Kagami?” Momoi menahan air matanya, dia merasa terharu karena dulu dia pernah menganggap Kagami itu orang yang hangat, dan itu terbukti saat ini. Saat mereka telah terpisah dan dipertemukan kembali.
“Aku minta maaf. Maafkan aku atas semua kebodohanku, atas ketidakpedulianku, dan keegoisanku yang hanya memikirkan basket tanpa memahami bagaimana perasaanmu saat itu. aku minta maaf Momoi. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi.” Ucapnya tanpa keraguan sedikitpun. Kagami yang sekarang adalah orang yang sangat dewasa. Apalagi dia tidak ingin lagi terpisah dengan Momoi. Pertemuan ini adalah keberuntungan yang tidak akan disia-siakan lagi olehnya. Dia ingin menebus semuanya hari ini juga sebelum mereka akan terpisah lagi.
“Baka!! Bakagami!!!” mata Momoi berkaca-kaca. Tapi dia tidak ingin, dan tidak akan menangis karena telah berjanji pada dirinya sendiri.
Kagami hanya tersenyum lega sambil menatap peri kecilnya, si penghibur laranya.
Kagami melepas cengkeramannya dari tangan Momoi, betapa terkejutnya dia kalau cengkeramannya itu telah meninggalkan bekas merah ditangan Momoi. Kagami merasa bersalah, dan mengusap bekas cengkeramannya dengan lembut, membuat Momoi terenyuh melihatnya.
“Apa sakit??” tanya Kagami penuh perhatian. Yuuki hanya menggelengkan kepalanya karena sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi untuk saat ini. Tanpa dia sadari Kagami telah menarik tubuhnya  ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku.” Momoi terkejut, tapi dia mencoba tersenyum bahagia, karena itulah yang dirasakannya saat ini. Tak peduli riasannya akan rusak, atau baju-nya akan lusuh dia tetap ingin berlama-lama dalam pelukan Kagami.


Dua hari selanjutnya, di Bandara Internasional Tokyo....
Banyaknya orang yang lalu lalang semakin meramaikan sore itu. Di bandara Internasional Tokyo, lelaki dengan tinggi 190cm itu dengan santainya melewati pintu kedatangan. Sepertinya penerbangan yang memakan waktu berjam-jam dari Amerika-Tokyo tidak lagi membuatnya merasakan yang namanya jet-lag karena telah terbiasa. Kepergiannya di Amerika untuk menyelesaikan kontrak kerja telah berakhir, dan kini saatnya dia kembali ke negerinya.  Kagami Taiga, mantan pemain basket dari tim Kiseki no Sedai yang kini menjadi pelatih dan atlet basket terkenal itu masih mempunyai aura yang berbeda. Untuk lawannya bermain basket aura-nya sangat mengerikan, tapi untuk para penggemarnya yang jauh-jauh menyambut kedatangannya aura-nya sangat mempesona terutama untuk para gadis-gadis remaja yang tengah berteriak histeris untuk menyambutnya.
“Berisik sekali..” katanya saat menurunkan koper dan tas ranselnya dari pengangkut barang.
Dia lalu berjalan lagi menuju tempat parkir di bandara itu. “Apa tidak ada yang menyambutku selain para gadis mengerikan itu? huft...” ucapnya lebih kepada diri sendiri.
“Aku sudah menunggumu dari tadi.” Kata sebuah suara disampingnya.
“Arrrggghh! Sejak kapan kau ada di sini?” teriak Kagami karena terkejut bukan main.
“Sudah dari tadi.” Jawab suara itu.
“Walaupun sudah bertahun-tahun bersamamu, tapiaku masih tidak bisa menyadari keberadanmu, Kuroko. Kau memang luar biasa.” Ucap Kagami, lalu bersikap lebih normal dengan tampang keren-nya itu.
“Apa perjalananmu menyenangkan?” Kuroko mencoba membuka percakapan.
“Menyenangkan apanya, aku hanya tidur sepanjang perjalanan.” Jawab Kagami sambil memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.
“Kau tidak berubah, Bakagami.” Kata Kuroko dengan ekspresi datar.
“Apa katamu???!!! Hoii, tapi sepertinya kau bertambah tinggi semenjak aku pergi ke Amerika.” Kagami meletakkan telapak tangannya di atas kepala Kuroko dan membandingkan dengan tubuhnya yang sudah jelas sangat tinggi.
“Ya, benar. Aku bertambah 5cm.” Kuroko dengan percaya diri, langsung disambut dengan tawa Kagami yang sangat keras.
“Apa? Hanya 5cm?! Ahahahaha. . payah sekali kau Kuroko!” Kagami tidak berhenti tertawa.
“Kagami-kun?” tiba-tiba suasana menjadi tenang.
“Heh??”  Kagami berhenti tertawa, wajahnya lalu diselimuti dengan awan mendung saat menatap wajah Kuroko yang sedang serius.
“Apa kau bertemu dengan Momoi-chan?” tanya Kuroko penasaran. Dia berharap sesuatu yang baik terjadi pada Kagami, apalagi Kagami telah berusaha sejauh ini menjadi orang yang lebih baik hanya untuk Momoi-chan.
Suasana menjadi dingin, dan tidak ada yang bersuara diantara mereka berdua.


Keesokan harinya, di lapangan basket SMA Seirin.....
“Yo, Bakagami.. apa kau pulang tanpa membawa gadismu, huh??” ucapan Hyuga yang selalu terdengar pedas dan sinis itu seakan menjatuhkan Kagami ke jurang paling dalam.
‘Kuroko! Apa kau yang menyebarkan cerita itu?’ batin Kagami.
“Maaf, akan lebih baik kalau semuanya tahu yang sebenarnya.” Kagami terkejut saat Kuroko seperti menjawab pertanyaan batinnya itu, rasanya ingin mati saja mendengar ucapan sahabatnya yang seperti orang tak bersalah itu.
“Hah, hentikan! Aku hanya tidak ingin menjadi penghambat untuknya. Biar bagaimanapun dia punya mimpinya sendiri.” Kata Kagami dengan super tenang.
“Kau memang telah berubah ya..” Kiyoshi-senpai ikut angkat suara.
Dilapangan basket itu, tempat dimana mereka membanting tulang demi sebuah kemenangan menjadi saksi bisu sebuah perkumpulan yang dirindukan dari masing-masing orang, tak terkecuali Kagami. Sekarang mereka hanya bisa menghabiskan sedikit waktu untuk berkumpul bersama karena telah memiliki profesi yang berbeda-beda walaupun saling terikat. Hyuga-senpai membuka tempat pelatihan bersama pacarnya Riko-chan, Kiyoshi-senpai bekerja sebagai pelatih dan penasehat  di salah satu tim basket terbaik Jepang, Kuroko menjadi pelatih hebat sekaligus pemilik dari gedung Olahraga ternama di Tokyo. Dan yang paling beruntung adalah Kagami, karena dia masih bisa mengenang tempat ini setiap waktu, dia adalah pelatih tim basket SMA Seirin, tim basket terbaik di Jepang, selain itu dia juga seorang atlet basket nasional yang sedang diburu oleh pelatih-pelatih tim basket dari Amerika karena bakatnya. Semuanya memiliki profesi yang saling terikat. Entah mereka sadari atau tidak, basket telah menyatukan mereka hingga sejauh ini.

“Kagami-kun, aku dengar SMA Seirin akan memiliki manager tim basket yang baru, apakah benar?” tanya Riko-chan.
“Heh? Apa iya.” jawab Kagami datar. Seakan tidak tertarik dengan berita itu.
“Dasar kau, Bakagami! Serius dikit napa?!!” Riko menjatuhkan tinjunya kewajah Kagami.
“Oiihh, aku ini kan bukan muridmu lagi, pelatih!!” protes Kagami, tidak disangka tubuhnya yang besar itu justru bersembunyi dibalik tubuh kecil sahabatnya, Kuroko. Riko memang orang yang sangat tegas dan menakutkan, tapi dia adalah pelatih terbaik dan paling perhatian bagi para muridnya yang tidak lain adalah teman seangkatannya. Riko dipilih menjadi pelatih karena kehebatannya dalam menilai kekuatan fisik seseorang hanya dengan melihat tubuhnya, selain itu dia juga putri dari pelatih terkenal yang mencetak atlet-atlet profesional. Sampai saat ini pu Riko masih senang menjalani profesi sebagai pelatih, tentunya bersama Hyuga pacarnya.
“Bukankah Seirin juga akan mempunyai guru musik baru minggu ini?” ucap Kiyoshi, pembawaannya yang tenang selalu membuatnya lebih terlihat menonjol, apalagi dia adalah pemain paling tampan di tim basket SMA Seirin dulu.
“Apa? Guru musik juga? Wahh Seirin sekarang mengalami kemajuan yang pesat juga. Aku kira itu tidak akan terjadi tanpa murid sepertiku ini.” Celoteh Hyuga, yang langsung ditanggapi aneh oleh yang lainnya.
“Hyaa! Senpai! Kau ini percaya diri sekali.” Cela Kagami yang tadinya tak peduli merasa sedikit tertarik dengan bahan perbincangan mereka.
“Kagami-kun, aku dengar orang baru ini dari Amerika juga.” Kata Kuroko.
Hati Kagami berdesir, seiring dengan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
“Terserahlah. Aku pergi dulu.” Kagami bergegas meninggalkan kawan-kawannya. Kepulangannya dari Amerika seakan tidak menumbuhkan semangatnya walaupun hubungannya dengan Momoi telah membaik. Dia merasa sangat merindukan gadis itu.
“Aku harus menahannya. Aku yakin tidak apa-apa seperti ini.” Kagami menghembuskan nafas panjang, gaya berjalannya itu selalu menjadi ciri khas-nya, membuatnya semakin terlihat mempesona.
“Apa maksudmu?” ucap sebuah suara.
“Hiyyaa!! Sejak kapan kau ada disitu?!” teriaknya karena terkejut, lagi-lagi dia dikejutkan dengan hawa keberadaan Kuroko yang sangat tipis.
“Sudah dari tadi.” Jawabnya singkat.
“Ah sudahlah, mati saja.” Kagami melemparkan tinjunya, tapi tidak berhasil menghantam wajah Kuroko.
“Kagami-kun.” Kata Kuroko.
“Apa?!”
“Bukankah hubunganmu sudah membaik, kenapa kau terlihat sangat sangat sangat murung setiap saat?” Kuroko dengan wajah polosnya terlihat sangat imut dan manis, ingin sekali Kagami mengatakan ‘Kawai!’ kepada Kuroko tapi itu tidak akan pernah dilakukannya karena hanya akan merusak image-nya yang keren itu.
“Kenapa banyak sekali kata ‘sangat’, Baka?!”  Kagami menggelengkan kepalanya dan berlalu begitu saja.
“Kau masih menyesal?” tanya Kuroko lagi. Mereka tepat berhenti di persimpangan jalan, lampu yang berwarna merah membuat mereka harus menunggu beberapa menit.
“Tidak, aku sudah tidak menyesalinya.” Jawabnya dengan wajah datar. Kuroko merasa heran, kenapa sebenarnya si Bakagami ini, tapi dengan sabar dia tetap mencoba mengerti keadaannya.
“Long Distance Relationship itu memang tidak mudah ya...” Kagami tiba-tiba bersuara. Matanya menatap jauh ke depan.
“...bayangan yang dulunya akan memakanku setiap saat sudah menghilang, tapi kerinduan yang tak bisa kubendung justru lebih menakutkan.” Kagami menundukkan kepalanya.
“Kau hanya perlu bersabar. Pasti akan ada hari dimana kalian akan bersatu lagi.” Kuroko meletakkan tangannya dibahu Kagami, mencoba menenangkannya.
“Tentu saja. Aku sangat menantikan datangnya hari itu.” akhirnya, Kagami tersenyum untuk pertama kalinya setelah kembali dari Amerika. Dunia percintaan memang rumit, dan melelahkan. Tapi walau bagaimanapun itu akan berjalan sesuai dengan takdir, dimana yang telah lama berpisah dapat dipertemukan kembali atau justru sebaliknya yang harus terpisah dan merasakan kepedihan yang mendalam. Apapun itu, kita harus tetap berjalan maju, jangan sampai penyesalan di masa lalu menghambat atau bahkan menghentikan hidup kita. Karena esok pasti kan bahagia, selama kita selalu berusaha melakukan yang terbaik.




Se-minggu kemudian, di koridor sekolah.....
Lelaki itu baru saja datang beberapa menit yang lalu. Aktivitas kesehariannya seakan menjadi hal yang menyenangkan selama dia melakukannya di sekolahnya dulu. Karena hari sudah menjelang siang, sepertinya dia akan terlambat lagi untuk mengawasi latihan hari ini. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika telinganya mendengar suara tuts-tuts piano sedang dimainkan mengalunkan salah satu lagu favoritnya ‘melody of the night’ dia berhenti untuk beberapa saat dan mencoba mendengarkan dengan lebih jelas. Setelah beberapa saat, akhirnya dia menemukan sumber suara itu, di ruang musik. Tangannya baru saja akan memutar kenop pintu, sebelum akhirnya salah satu muridnya memanggilnya.
“Pelatih! Anda sudah datang ternyata. Kami sudah latihan sejak tiga puluh menit yang lalu.” Kata seorang murid berkaca-mata yang memakai seragam kebanggaan tim basket SMA Seirin.
“Oh, benarkah? Maaf aku ada urusan sebentar tadi. Ayo kita lanjutkan latihannya.”
Kagami meninggalkan koridor sekolah bersama rasa penasarannya. Sepertinya, alunan piano itu telah menarik perhatiannya.


Keesokan harinya, dilapangan basket....
Seuara peluit yang menggantung di leher Kagami seperti tak mau berhenti bersuara. Dengan smemegang stopwacht ditangan kanannya, Kagami terus mengawasi jalannya latihan hari itu. latihan yang di terapkannya memang lebih berat dari pada apa yang pernah dia rasakan sebelumnya. Tapi hal ini tidak lain hanya untuk membuat tim basket SMA Seirin terus mempertahankan kedudukannya di tingkat nasional.
“Pelatih!” teriak sebuah suara dari pintu masuk.
Kagami menghampiri suara itu yang merupakan suara dari wakil kepala sekolah Seirin.
“Ada apa Pak Katsumoto?” tanyanya setelah memberi hormat.
“Hari ini tim basket akan mendapat manager baru, aku ingin kau menjadi pembimbingnya selama dia menjadi manager disini.” Wakil kepsek itu lalu memanggil seseorang yang dimaksudnya itu.
Kagami menjatuhkan Stopwatch yang sedari tadi dipegangnya, tubuhnya seakan ingin meledak dan berhamburan keluar. Otot-otot kakinya, terasa sangat lemas, hingga dia harus berpegang pada dinding diampingnya.
“Kagami! Kau baik-baik saja?” tanya wakil Kepsek penuh khawatir.
“I ... I..yaa..” jawab Kagami terputus-putus.
Apakah ini yang menjawab kegelisahan hatinya hari ini, ini adalah jawaban atas apa yang dirasakan hatinya yang tak berhenti berdebar sejak pagi tadi.
“Apa kabar, Kagami-kun??” suara itu masih sama, dengan senyum manis yang selalu terkenang.
“Momoi...” Kagami merasa seperti sedang meleleh. Sementara Momoi hanya memandangnya penuh kerinduan dengan senyuman manisnya.


“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan pulang ke Jepang?” tanya Kagami setelah akhirnya punya waktu untuk mereka berdua.
“Aku hanya ingin memberimu kejutan Kagami-kun.” Jawab Momoi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Huhh, selamat. Kau berhasil Momoi-chan.” Kagami mendekati Momoi, seakan ingin memeluknya. Tapi dengan sigap Momoi menghindar darinya. Dia tidak ingin membuat murid-murid Kagami bertanya-tanya nantinya.
“Oh, baiklah. Sepertinya kau harus memperkenalkan dirimu terlebih dahulu.” Kagami membimbing Momoi untuk mengikutinya bertemu para muridnya.
“Hei Kalian!! Dengarkan baik-baik, kita punya manager baru disini!”
Momoi lalu memperkenalkan dirinya tanpa rasa canggung sedikitpun. Sesekali dia juga menjawab pertanyaan dari para murid itu dengan tenang. Untuk ukuran seorang manager baru, Momoi telah berhasil merebut hati para pemain. Tentu saja, siapa yang bisa menolak pesona gadis seperti dia. Kagami yang tengah melihatnya dari samping merasa beruntung telah mengambil hati gadis itu kembali.
“Momoi-san, mengapa kau ingin menjadi manager dari tim basket?” tanya salah satu pemain yang dari tadi sangat aktif bertanya.
“Aku? Emm, karena....”Momoi menatap Kagami beberapa saat, membuat lelaki itu semakin tertarik untuk mendengar jawaban dari mulutnya secara langsung.
“...karena aku ingin terikat dengan seseorang. Melalui basket aku bisa terus berada di dekatnya, dan bisa melihatnya kapanpun aku mau. Karena dia sangat menyukai basket, karena itu aku ingin sekali mempunyai profesi yang dekat dengannya. Aku menyukai apa yang dia sukai, seperti itu. baiklah, pertanyaan terakhir?” Kagami merasa tersentuh, bibirnya mengukir senyum yang sangat tulus.
“Apa profesi orang itu?” tanya salah satu dari mereka.
Momoi terdiam sejenak. Menatap wajah para pemain satu per satu secara bergantian.
“Dia, pelatih basket.” Jawabnya. Lalu tiba-tiba Kagami telah berada dihadapannya dan menarik tubuh Momoi ke dalam pelukannya.
“Kagami-kun! Kenapa kau selalu tiba-tiba memelukku seenaknya?!!!” Momoi merengek, dan marah bukan main, saat dipeluk oleh Kagami didepan para pemain tim basket SMA Seirin.
“Aku hanya ingin memberimu kejutan.” Kata Kagami dengan tenang.
Pemandangan itu membuat para pemain berteriak histeris karena merasa itu adalah tontonan yang sangat menarik. Ternyata manager baru mereka adalah pacar dari pelatih mereka yang berkepribadian keras dan tegas itu.
“Salah kalau tadi aku berpikir bisa menarik hatinya.” Kata kapten tim basket.
“Heii! Apa kau mau mati?!!!” teriak Kagami, menunjukkan tatapan iblisnya kepada para pemain. Mereka semua sontak berteriak histeris, karena ketakutan.
“Lari sprint 100 kali!!!!” perintah Kagami sambil meniup peluit kesayangannya.
“Arrgggghh lari..!!” kata mereka serentak.
‘Dasar Bakagami!’ kata Momoi dalam hati.
“Aku bisa mendengarmu Momoi-chan.” Kagami tersenyum tipis.
“Apa?! Memangnya aku bicara apa?” Momoi menahan senyumnya, dan bersandar pada Kagami yang masih tersenyum bahagia. Tak disangka kalau ini adalah jalan baru yang harus mereka tempuh. Mereka sudah pernah merasakan sakit karena sebuah hubungan, dan sekarang waktunya mereka memetik hasil dari usaha mereka karena telah berusaha selama ini. Kebersamaan menjadi satu-satunya hal yang mereka inginkan.
“Permainan piano-mu sepertinya sudah sangat baik..”ucap Kagami.
“Kau mendengarnya? Kapan??” Momoi penasaran.
“Itu rahasia.” Jawab Kagami, yang telah mengetahui jawaban dari semua rasa penasarannya waktu itu. Walaupun banyak orang bisa melakukannya, tapi belum pernah ada orang yang memainkan lagu favoritnya sebaik Momoi memainkannya, karena dia tahu bahwa Momoi selalu mengingat lagu favoritnya dan memainkannya dengan sepenuh hati.
Momoi memang pernah menjadi kenangan masa lalu yang menyakitkan karena membuatnya harus mengingat kesalahan setiap saat. Itulah yang membuat penyesalan di hati Kagami menguasai dirinya dan membuatnya kacau, seperti bayangan yang menelan cahaya. Tapi sekarang, Bayangan itu justru telah menguatkannya. Bayangan kelam yang hilang, dan membawa Kagami menjadi dirinya yang lebih baik. Tentunya dengan adanya Momoi di sampingnya.




Jumat, 07 November 2014

­­­ Jalani Aja Dulu
Oleh : Mimin Yuni Liyani

Satu...

Rara’S POV

Teriknya mentari seakan ikut menyempurnakan pagiku. Kututup kedua lubang telingaku dengan sepasang earphone dan memilih lagu untuk menemaniku dalam kesendirian. Dari sini tampak anak-anak yang sedang berhamburan menuju kelasnya. Ada yang bercanda, mengobrol, ada juga yang berlarian, seperti tikus dan kucing.

’19 Januari 2014,
Engga terasa udah tiga bulan kamu ngga ngirim kabar, ada apa?
Tiap hari aku selalu merindukan kamu berada disini, menghiburku saat aku benar-benar merasa jatuh. Tapi sekarang,, aku hanya bisa menulis dan menganggap kertas dan pena ini bisa meringankan kegelisahan yang menerpa hari-hariku. Maaf kalau sekarang aku lebih dekat sama kedua benda ini, karena kamu juga jauh disana dan ngga pernah ngasih kabar ke aku.
Miss you, my beloved friend’

Mataku teralihkan oleh sebuah lamborgini yang berhenti tepat di depan bangunan tempatku terpaku. Kuperhatikan ketika pintu mobil itu terbuka. Seorang cowok. Wajahnya dan bagaimana rupanya sama sekali tidak jelas dari sini. Pikiranku akhirnya dipenuhi dengan hal lain. Itu kan bukan tempat parkir, lagian mau sekolah apa mau ikutan pameran mobil mewah sih, kok sampai segitunya. ‘Dasar tukang pamer’ batinku.
Kututup buku biru dongker’ku. Kutekan lagi earphone yang mulai mengendur dari lubangnya. Tanpa menghiraukan situasi dibawah sana bola mataku mulai terpejam, menikmati setiap lirik lagu di mp3-ku. Mulutku pun ikut mendendangkan a thousand year-nya christina perry.

Heart beats fast colors and promisses
How to be brave,
How can i love when i’m afraid to fall
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years               
I'll love you for a thousand more...

Didalam ketenangan ini, tiba-tiba saja sesuatu menghantamku. Wajahku menunduk kebawah, mencari sumb­­­er yang menggangguku itu.
“Wooii Ra, lagi ngapain sih?!”  seorang cewek sedang berkacak pinggang dan berteriak dari bawah sana.
“Apaan sih In? Ngganggu aja deh.” Aku mendengus kesal. Melempar kembali gumpalan kertas itu.
“Yee, dicariin Pak Widi tuh. Dikantornya.”
“Oh Ya? Ngga lagi ngerjain aku kan?!” Indri manyun bukan main mendengar ucapanku.
“Ya ampun Rara, dibilangin juga ngga percaya. Ngapain juga aku teriak-teriak kaya’ orang gila gini kalau boongan?” terkadang dia melakukan hal yang benar, tapi dia lebih sering melakukan hal yang menggelikan kepada sahabatnya ini.
“Yaudah, makasih Indri cantik.” Aku tertawa melihat ekspresinya yang langsung berubah 180 derajat.
Dengan enggan aku menuruni anak tangga satu persatu.
Setibanya didepan ruang pak Widi, kuputuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasukinya. Tampaknya sedang ada tamu. Seorang lelaki dengan setelan jasnya dan cowok berseragam duduk disampingnya. Aku tidak merasa  pernah melihatnya sebelumnya. Apa ini orang yang tadi pagi? Pikirku. Namun sepertinya aku enggan memikirkannya terlalu jauh. Pak Widi yang mengetahui kehadiranku tersenyum dan berdiri dari tempatnya.
“Rara, bisa kesini sebentar.” Katanya.
“Iya pak, ada apa ya?” kakiku melangkah mendekati meja beliau.
“Bapak minta tolong, karena nanti ada urusan yang penting saya minta kamu menggantikan bapak memberikan pengarahan pada anak-anak yang tergabung dalam extra mading sekolah kita.”
“Tapi pak, saya kan udah kelas sebelas. Lagipula sudah lama ngga ikut ekstra pak.” Aku sedikit melirik kearah cowok yang duduk didepan pak Widi. Kulihat dia sedang memandangiku dengan wajahnya yang sedingin es dikutub utara.
“Ngga papa. Kamu kan yang paling bisa diandalkan. Apa sih yang ngga bisa dilakukan sama kamu.” Pak Widi menyunggingkan segaris senyum diwajah paruh bayanya.
“Baik pak. Saya usahakan. Ada lagi pak?”
“Nanti waktu istirahat pertama kamu kekantor bapak ya. Bapak mau kasih pengarahan sama kamu.”
“Oke pak.” Aku tersenyum. “kalau gitu saya permisi dulu pak.”
“Iya, silahkan.” Saat beranjak pergi mataku kembali melirik kearah cowok tadi. Dan lagi-lagi dia sedang memandangiku.
Aku sama sekali tak keberatan jika seseorang memandangiku, tapi caranya menatapku yang membuatku tidak nyaman. Rasanya seperti akan ada harimau yang siap siaga menyerangmu untuk dijadikan mangsa.  


Bel tanda masuk berbunyi tepat ketika aku menjatuhkan diri ditempat duduk. Anak-anak yang lain masih sibuk bergosip ria dipagi hari. Ini menjadi sarapan wajib dikelasku, terutama bagi para cewek.
“Eh Ra, ada kabar bagus nih!” Agni, teman sebangkuku berteriak kegirangan. Seperti biasa.
“Apaan sih?” aku tidak begitu tertarik dengan apa yang akan dikatakan cewek yang sudah menjadi sahabatku sejak SMP ini.
“Ada anak baru. Sumpah keren bangeeettt!!” serunya.
Belum sempat menjawabnya, cewek dengan rambut diikat ekor kuda tampak sedang berlari memasuki kelas.
“Hei guys! Ternyata bule. Baru pindah dari luar negeri. Ihh, keren bangeeett!!” entah setan apa yang merasuki mereka berdua sampai seperti ini.
“Ihh yang bener In?”
“ Haduh, kalian kenapa sih?”
“Ya ampun Rara-ku sayang, masa’ kamu ngga tahu sih? Bukannya kamu barusan dari ruangannya pak Widi ya?” Indri mencubiti pipiku dengan sadisnya.
“Terus?”
“Ada anak baru kan disitu tadi?!” bola mataku berputar dan menunjukkan ekspresi tidak peduli. Membuat mereka mendengus kesal.
“Eh, Bu Ani.. Bu Ani!” suara dari depan membuat semua murid gusar dan kembali ketempatnya masing-masing. Termasuk Indri yang sedari tadi berdiri disamping mejaku.

“Pagi anak-anak.” Bu Ani memasuki ruangan dan menyuruh Joe sebagai ketua kelas untuk menyiapkan.
“Hari ini kita kedatangan murid baru.” Katanya sambil tersenyum lebar. Suara bisik-bisik memenuhi ruangan. Beliau keluar, sepertinya sedang berbicara dengan seseorang diluar kelas.
“Eh, taruhan deh. Pasti lebih keren dari Petra Sihombing.” Agni membuka suara.
“Emang dia cowok ya?” tanyaku. Wajah Agni menatapku sinis, seakan berkata ‘Rara lola banget sihh, ngapain juga cewek-cewek pada ribut kaya tadi kalau ternyata anak baru itu cewek!’. Aku hanya bisa nyengir kuda.
Bu Ani kembali masuk, diikuti dengan seorang cowok bertubuh atletis dibelakangnya. Aku seperti sudah tak asing dengan wajah itu. Lalu kuingat-ingat kembali. Pantas saja, dia cowok yang tadi pagi. Si manja kaya raya. Bola mataku berkeliling keseluruh penjuru kelas, mengamati wajah-wajah mupeng (muka pengen)  teman-temanku. ‘Parah’ batinku. Memang sih, kita ngga boleh pilih-pilih teman. Mau kaya mau miskin. Tapi aku ngga suka aja kalau ada anak yang sok pamer, bak selebriti papan atas. Tapi entah mengapa yang ini berbeda. membuatku berfikir kalau dia adalah cowok yang bakal suka cari perhatian, dilihat dari tampangnya terutama.
“Nah, anak-anak. Ini dia yang Ibu bilang tadi.” Tangan Bu Ani menyentuh bahu kanan cowok itu.
“Silahkan perkenalkan diri kamu.”
Matanya berkeliling. Membuka mulut, dan menutup lagi. Pandangannya berhenti pada satu titik. Aku.
“Ehmm, nama saya Alexandrian Dirga Pratama. Kalian boleh panggil Alex. Mohon bantuannya teman-teman.” Katanya gugup.
“Hai Alex!!” kata cewek-cewek dipojokan.
Agni menyenggol tanganku dengan kasar.
“Tuh kan Ra, keren bangett!” bisiknya.
“Biasa aja.” Balasku.
Indri yang duduk dibangku sebelah tampak senyum-senyum sendiri. Aneh banget, kenapa pada lebay gitu sihh. Cowoknya juga ngga keren keren amat kali. Aku pun ikut berdebat dalam hati.

Bu Ani menjelaskan tentang Alex yang baru pindah dari Singapura, dan asli dari Bandung. Dia pindah kembali keIndonesia karena bisnis ayahnya yang sedang terfokus ditanah air ini. Beliau lalu menyuruhnya untuk memilih tempat duduk sendiri.
Kakinya yang panjang melangkah menuju baris belakang. Dia kembali menatapku, membuatku takut dan merasa tidak nyaman.
“Lihat Ra, dia duduk dibelakang Indri tuh.” Aku memperhatikan kedua sahabatku bergantian.
“Yaelah Ni, emang kenapa sih. Suka-suka dia dong.”
“Jutek banget sih Bu. Lagi dapet ya!” katanya diikuti tawa yang renyah. Akupun ikut tertawa dibuatnya.
Mata pelajaran pertama dan kedua berjalan lancar dan cenderung biasa-biasa saja. Aku tidak memilih-milih guru dan pelajaran yang diajarkan sebagai favorit atau yang kubenci seperti yang lainnya. Bagiku semua guru dan mata pelajaran sama-sama penting dan memberikan wawasan padaku. Itulah mengapa guru yang mengajar dikelasku menaruh perhatian lebih padaku. Walaupun begitu hari ini terasa berat sekali. Saat guru menyelesaikan materinya dan keluar dari kelas, kujatuhkan kepalaku diatas buku catatan biologi. Memasang earphone lagi.  Memejamkan mata. Dan tentu saja memikirkan dia yang jauh disana.
















Dua...

Normal POV

Jam dinding kelas menunjukkan pukul 14.10 WIB. Mata pelajaran Seni Budaya diisi dengan jam kosong karena gurunya ada keperluan mendadak. Walaupun begitu, tugas tetap menanti dengan sendirinya. Rara sebagai sekretaris kelas IPA 2 sedang menulis tugas yang diberikan Pak Wibowo. Rambut panjangnya menari-nari dengan indah. Tubuh idealnya beralih dari kiri kekanan, kiri kekanan, begitu seterusnya.
Alex yang duduk disamping ketua kelas sedang sibuk memainkan pulpennya.
“Eh, tahu ngga anak-anak disini pada ngomongin kamu.” Joe memulai pembicaraan.
“Kenapa?” Alex menatap cowok disampingnya dengan dahi berkerut.
“Tahu tuh. Lihat aja sendiri.”
Alex tidak mengacuhkan ucapan Joe. Dia mengambil buku catatannya dan mulai menulis.
“Siapa tuh?” katanya sambil menyunggingkan dagu kedepan. Joe mengikuti pandangannya.
“Oh, itu Rara. Kenapa?”
“Ngga papa, Orangnya unik.”
“Unik? Barang antik kali ya! Hehehe” mereka berdua tertawa lepas. Menghiraukan tatapan dari murid lainnya.
“Kok bahasa Indonesia kamu masih bagus gitu sih? Bukannya kamu lama diluar negeri ya.”
“Ohh, iya sih. Walaupun diluar tapi harus tetep cinta Indonesia dong. Aku disana juga masih sering pake bahasa Indonesia kok. Coba bayangin kalau aku ngomongnya kaya Cinta Laura gitu. Hahaha.”
“Haha, iya juga ya.”
Lagi-lagi sepasang mata Alex kembali tertuju pada cewek yang ada didepan sana. Entah apa yang ada dipikirannya, tapi sesuatu membuatnya merasa bahwa dia berbeda.
“Tolong dong yang piket bantuin hapus papan tulis.” Rara mengangkat sebuah penghapus ditangannya tinggi-tinggi. Berharap salah satu dari temannya untuk membatu.
“Sini, aku aja Ra.” Anton yang tempat duduknya dibelakang Rara berjalan kedepan kelas.
“Makasih.” Dengan anggun Rara kembali ketempat duduknya.

* * *

Lapangan basket tampak dipenuhi dengan murid-murid yang sedang menghabiskan waktu istirahatnya. Sorak-sorak cewek yang duduk berderet dipinggir lapangan, semakin membuat gaduh suasana disiang itu. Dengan keringat bercucuran, para pemain tetap menunjukkan perfoma terbaik mereka.
“Hei. Kok sendirian sih?” tanya seseorang pada cewek yang sedang duduk manis dibawah pohon cemara dipojok lapangan basket.
“Oh, ehmm lagi nungguin Indri sama Agni.” Dia membenarkan posisi duduknya. Mulai merasa tidak nyaman dengan kedatangan cowok ini.
Cowok yang sekarang duduk bersamanya kini hanya ber-O panjang.
“Aku Alex, kita kan belum kenalan. Rara kan?” sebuah tangan terulur, berharap mendapat sambutan.
“Iya.” Rara hanya membalas uluran tangannya. Dia kembali menatap kearah lapangan basket, tepatnya pada salah satu diantara pemain itu. Kini dia tersenyum ketika melihat cowok idamannya sedang tertawa lepas diseberang sana.
Alex yang melihat hal itu sempat bertanya-tanya dalam hati.
“Waduhh, ada cowok ngganteng nih. Aku Agni.” Sahabat Rara itu tiba-tiba saja datang, entah dari mana dan langsung cengengesan begitu melihat ada Alex disitu.
Dia membalas jabatan tangannya dan tersenyum ramah. Tentu saja itu membuat Agni terasa seperti melayang diudara.
“Mulai deh!” omel Rara dengan kesal.
Agni masih saja cengar-cengir tanpa berpaling dari Alex.
“Fans ketemu idola nih.” Kata Rara, menggeser tempatnya duduk untuk Agni dan melemparkan pandangannya.
Lagi-lagi Alex membuat jantung Agni berdetak lebih keras karena melihat senyumannya.
“Eh, Indri mana? Nanti jadi ngga nemenin aku?”
“Lagi diruang OSIS tuh Ra, dia bilang katanya ngga bisa nemenin kamu.” Jawab Agni.
“Lhoohh, kok gitu sih! Terus aku gimana?” ekspresi tak percaya dan menyedihkan terpancar diwajah cantik Rara.
“Ngga tahu.”Agni mengangkat bahunya.
Rara bingung. Tapi matanya tak pernah lepas memandangi cowok yang sedang latihan diseberang sana. Dengan asal, dia mengikat ekor kuda rambutnya menggunakan ikat rambut biru muda dan beranjak dari duduknya. Walaupun tidak tertata rapi, tapi ikatan rambut yang asal-asalan itu membuatnya semakin terlihat manis.
“Eh eh, Mau kemana?”
“kantor pak Widi.” Rara membersihkan roknya yang tidak kotor sama sekali.
“Butuh temen ngga Ra?” Alex menawarkan.
“Oo, ngga usah.” Rara lalu berlalu begitu saja. Meninggalkan sahabatnya dengan teman barunya ditengah kebisingan disiang itu.
“Dilihatin terus bang! Orangnya udah jauh kali.” Agni mengayunkan telapak tangannya didepan wajah Alex. Hanya senyuman yang terpampang diwajah Alex ketika Agni mengeluarkan ucapan tadi. ‘Beruntung banget Rara, dapet perhatian dari nih cowok.’ Pikir Agni.

Jam pelajaran terakhir terasa begitu lama. Seluruh murid dikelas IPA 2 seperti dibuat mati karena bosan oleh guru baru Bahasa indonesia mereka.
“Gila, masih muda gini lemot banget ngajarnya.” Agni geleng-geleng kepala.
Rara tersenyum, merapikan mejanya. “Ini mah kebangetan! Aku yang ngga pernah patah semangat aja sampai nguap lebih dari 9 kali. Hihihi.” Sahabatnya ikut tertawa melihat tingkahnya.

Bel sekolah berbunyi dengan nyaring. Memberikan semangat baru bagi mereka yang sudah mengharapkannya sedari tadi. Ditengah para murid yang berhamburan keluar kelas, dan padatnya koridor sekolah dipenuhi dengan suara decitan sepatu segerombolan cewek-cewek seakan menyapu jalanan.
“Mereka lagi.” Kata Agni. Rara hanya mendengus pelan dan tersenyum ketika kakak-kakak kelas itu melewati mereka.
“Bisa ngga sih, mereka ngga usah sok berkuasa kaya gitu.” Katanya sebal. Agni memang tak pernah suka dengan mereka yang dipilih menjadi anggota cheerleaders sekolah ini karena merasa paling berkuasa diantara anak-anak yang lain. Tentu saja hal ini tidak berlaku untuk cowok-cowok disini.
“Cuekin aja Ni. Kewarung depan yuk. Beli martabak piscok. Laper nihh, hehe.” Tangan Rara memutar-mutar diperutnya.
“Ihh, kebiasaan deh. Yang lain kek, beli bakso apa gado-gado gitu. Bosen tahu makan martabak tiap hari.” Rara manyun seperti anak yang sedang direbut mainannya.
“Hahaha, iya iya. Gitu aja cemberut.” Agni mencubit pipi sahabatnya dan berlari meninggalkannya. Melihat sahabatnya itu Rara langsung berlari mengejarnya.


Tiga,,,
Rara’S POV

Dengan lincah jemariku memainkan chord-chord gitar dengan pelan. Sebuah lagu mengalun begitu indah. Lagu favorit kita saat masih bersama-sama dulu. Tapi sekarang, hanya ada aku dan lagu ini. Tanpa dia yang biasanya mengiringi diriku menyanyikannya dibalkon kamarku atau diteras depan. Sudah tiga bulan ini dia sama sekali tidak memberi kabar padaku. Gelisah. Rindu. Itu kata yang menggambarkan perasaanku selama ini. Yah, walaupun masih ada kedua sahabatku dan teman-teman lain, tapi rasanya berbeda jika jauh dari orang yang sudah seperti belahan jiwa. Setiap detik seakan dipenuhi dengan memory kebersamaan kita. Tapi sungguh sayang, karena itu hanya seperti cuplikan-cuplikan drama yang sama sekali tidak nyata.
Mataku sekilas memandang kearah pintu kamar yang tiba-tiba terbuka.
“Lagi ngapain sih,Dek?” seorang cowok bertubuh tinggi dengan kaos Hardcore berdiri dipintu itu. Celana pendek boxernya semakin memperlihatkan kaki putihnya yang dipenuhi dengan bulu-bulu yang menjuntai.
“Ih, kakak ngagetin aja. Kalau masuk ketuk pintu dulu,napa!” kulemparkan boneka panda-ku tepat mengenai wajahnya.
“Aduhh. Kelamaan kalau harus ngetuk pintu dulu. Lagian kamu juga ngga bakal denger, apalagi tiap hari galau mulu kaya gitu.” Tawanya memecah ketegangan diantara kami.
“Ih!! Rese banget!” kuambil gitar yang tadi hampir terjatuh dari tempatku duduk dan menaruhnya disudut ruangan. Kak Dika yang tadi masih mematung diambang pintu kini sudah duduk disampingku. Dengan iseng mengacak-ngacak rambutku.
“Kenapa? Kok murung gitu mukanya.” Tanyanya penuh perhatian.
Aku terlahir dua bersaudara dari keluarga menengah atas yang mempunyai seorang kakak laki-laki. Bisa dibilang beruntung saat tahu bahwa cowok yang sedang menjalani pendidikan diperguruan tinggi pada semester 4 ini adalah orang yang melindungiku sejak kecil, yah tentu saja selain Papa dan Mama. Kak Dika sangat perhatian sama aku. Begitu peka saat adik kesayangannya lagi ada masalah dan langsung bertanya tanpa diberitahu terlebih dahulu. Dulu, waktu dia nganterin aku les bareng temen-temen, aku masih ingat betul bagaimana reaksi kedua sahabatku. ‘Heh Ra, siapa tuh? Pacar kamu ya. Gila manis banget’. Lalu dengan ekspresi mual karena tingkah mereka aku bilang saja kalau dia itu kakakku. Tentu saja itu mengakibatkan reaksi lain dari mereka. ‘Ohh, kakak kamu. Boleh dong dikenalin. Kapan-kapan kita main kerumah kamu ya. Siapa tahu aja kakak kamu yang keren itu bisa kecantol sama kita-kita’. Begitulah akhirnya mereka jadi sering main kerumahku hampir setiap hari dengan berbagai alasan yang sumpah itu ngga penting banget. Masak iya datang jauh-jauh Cuma bilang ‘Mau pinjem jepit rambut Ra’ sekalian ngecengin kakak kamu didepan tadi’ hahahaha. Parah gila. Sejak saat itu aku mulai menyadari kalau mereka berdua sangat rentan dengan barang bening sedikit saja. Terutama sama makhluk yang disebut laki-laki apalagi seperti kakakku ini. Namun, aku sudah terbiasa mengatasi hal-hal dan kemungkinan buruk yang akan terjadi saat sindrom itu menyerang mereka. Memang ngga salah kalau aku dibilang beruntung punya kakak seperti Kak Dika, orangnya baik, perhatian lagi. Saat aku tahu dia punya pacar, tentu saja aku merasa perhatiannya terbagi dengan cewek yang beruntung itu. Tapi walaupun begitu dia tetap ngga lupa kalau punya adik yang ngga kalah ajaib seperti  aku.
“Kayak ngga tahu aja deh.” Dengan malas aku menjawab pertanyaannya dan menelungkupkan tubuhku diranjang.
“Dia lagi? Udah tenang aja. Ngga mungkin kan dia ngga punya alasan yang jelas kenapa ngga ngasih kabar ke kamu selama ini.”
“Terserah. Bete banget!” aku merengek seperti anak kecil.
“Ngga usah dipikirin terus kali Dek, ntar juga dia balik lagi kok. Ngga mungkin dia ninggalin sepotong hatinya menyusuri jalan kehidupannya sendiri.” Kak Dika tersenyum lirih.
“Mulai deh, sok puitis!” aku memukulnya dengan bantal keras-keras.
“Hahaha, tapi keren kan? Udah ah jangan galau mulu. Mending ikut Kakak aja, cari kado buat kak Shinta.”
“Emang dia mau Ulang tahun ya? Pake acara beli kado segala.” Dengan malas aku bangun dari tidur dan bersandar dibahunya.
“Iya, lusa dia Ultah. Kamu kan cewek nih, jadi bisa dong bantuin Kakak nyari kado yang pas buat dia.” Dia kembali mengacak-ngacak rambutku.
“Beliin CD aja Kak, atau daleman. Dijamin pasti bermanfaat. Hahaha.” Aku melayangkan tinju kelengannya yang tiap hari dilatih ditempat fitness hingga terlihat berotot.
“Gila kamu Dek, ngga romantis banget sih. Lagian Kakak kan ngga tahu ukurannya dia. Hehehe”
Begitulah, tawa kami akhirnya memenuhi ruangan yang yang sempat terasa sunyi sebelumnya. Walaupun itu membuat Mama naik keatas untuk memastikan, takut kalau kami melakukan perang bantal yang bisa membuatnya kerepotan untuk membersihkan kamar. Tapi itu tidak menutup kemungkinan, akhirnya kami pun mendapat omelan dari Mama dan terpaksa membersihkan sendiri bekas-bekas kapuk yang bertebaran.
Aku akhirnya menemani Kak Dika mencari benda yang cocok untuk Kak Shinta di toko dekat sekolah yang biasa kukunjungi bersama Agni dan Indri. Disini berbagai macam benda khusus untuk cewek berjajar memenuhi setiap sudutnya. Mau cari apapun kalau buat cewek dijamin pasti ada. Kami memutuskan untuk berpencar. Aku mencari ditempat boneka dan aksesoris, sedangkan kakakku dibagian lainnya. Aku tertarik pada sebuah benda yang seperti kalung tapi sama sekali bukan kalung.
“Silahkan Mbk, lagi promo, Stok terbatas lho!” Seorang SPG yang datang entah dari mana tiba-tiba sudah berada dihadapanku.
“Ini gantungan ya Mbk? Kok kaya kalung ya.” Kataku, menyentuh benda itu satu persatu.
“Oh, iya Mbk. Ini gantungan ponsel. Buat sepasang.”
“Maksudnya?” dahiku berkerut tak mengerti.
“Iya, jadi gini Mbk. Ini itu gantungan buat sepasang. Kalau Mbk punya pacar bisa ngasih pasangannya buat dia. Uniknya nih Mbk, ini bisa dikasih foto kaya liontin gitu, bisa dibuka tutup terus ada suara-suaranya yang bisa diisi sendiri nanti Mbk. Terus kalau Mbk jadi beli nanti bakal ditulis namanya sama pasangannya disini pake Tinta perak atau emas sama promotornya disana. Stok terbatas lho Mbk, ditempat lain belum ada yang kaya gini.”
‘Wahh, keren’ batinku. Aku hanya ber-O panjang lalu tersenyum pada SPG itu. Setelah tahu, aku malah jadi pengen beli. Tapi kemudian terkejut bukan main, mengetahui bandroll harga yang tertera menunjukkan angka 0 sebanyak lima deret dengan angka yang bervariasi didepannya.
“Gila! Mahal banget. Padahal Cuma gantungan doang.”
Kuputuskan untuk mengambil sepasang dan sebuah boneka yang sangat lucu agar Kakakku bisa memilihnya nanti.
Aku berjalan menyusuri toko itu, mencari kak Dika lebih tepatnya. Setelah lama mencari akhirnya aku melihatnya dibagian perhiasan. Setelah dekat dengannya, aku baru menyadari kalau dia sedang mengobrol dengan seorang pria. Tapi, aku tidak mengenalinya karena posisinya yang memunggungiku.  
Semakin dekat, pembicaraan mereka semakin terdengar jelas ditelingaku. Aku langsung menghampiri kak Dika.
“Kak, aku Cuma dapet ini.” Kataku, menggoyang-goyangkan kedua benda itu.
“Tahun lalu kan udah boneka Ra, masa’ boneka lagi.” Katanya, dia lalu berpaling kearah temannya. “Oh ya, ini adiknya temen kakak di kampus.” Kak Dika tersenyum dan menepuk bahu cowok itu. Aku terkejut, wajahnya sudah tak asing bagiku.
“Namanya Alex Ra, keren kan?” kata kak Dika menggoda. Aku masih terheran-heran menyadari ternyata memang dia. Tidak salah lagi.
“Kita udah saling kenal kok kak. Kita kan satu kelas.”katanya.
“Lhoh, kalian sekelas? Kok ngga pernah diajak main kerumah sih Ra.”
 Aku melipat kedua tanganku. Merasa jengah disini.
“Ih, jadi ngga nih beli kadonya. Nih aku ngambil gantungan dari sana. Katanya lagi promo. Keren banget tahu.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Hah, mahal banget. Mending buat beli kalung. kakak juga udah dapet kok, jadi yang itu buat kamu aja.” Katanya
“Yah, ini mah kemahalan kak. Bayarin ya? Please!” aku menarik-narik lengan jaketnya. Berharap mendapat keberuntungan. Tapi dia menolak mentah-mentah. Berlalu pergi menuju kasir setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Alex.
Dengan kecewa aku melangkah pergi meninggalkan toko, tentunya tanpa gantungan tadi.
“Kak Dika pelit banget sih! Pelit pelit pelit!” rengekku setelah sampai dimobil. Menghentakkan kakiku layaknya anak kecil yang tidak dituruti kemauannya
“Belinya minta uang Papa ya. Uang kakak ngga cukup soalnya, lagian Cuma gantungan aja mahal banget harganya.” Tangannya dengan jail mencubit pipiku. ‘Kalau ngga beneran bagus juga ngga semahal itu kali Kak’ kataku dalam hati, tapi aku tak membalas perkataannya. Ada benarnya juga kan.
Dengan hati-hati, kami keluar dari tempat parkir dan melaju santai menembus senja disabtu sore. Awan-awan senja tampak berwarna biru gelap dengan garis-garis kuning dan orange diujung barat menandakan malam segera menjemput. Kunyalakan mp3 player dan memilih salah satu lagu kesukaanku, Innoncence-nya Avril lavigne. Pelan-pelan kubuka jendela mobil lalu merasakan dinginnya angin melalui kepalaku yang kudorong keluar. Gema adzan terdengar sayup-sayup ditelinga. Kuamati lagi langit, melongokkan kepala keluar. Awan yang tadi dihiasi dengan dengan kombinasi warna kuning kini berganti menjadi  garis ungu dan semburat merah muda yang menimbulkan degradasi warna yang sangat mengagumkan. Sungguh berbeda rasanya menikmati hal yang jarang kita sadari keindahannya selama ini. Sama seperti lirik lagu Avril, aku berharap hal ini juga tidak akan cepat berlalu.
“Kak, beli jagung bakar yuk.” Suaraku memecah keheningan. Tanpa berpaling dari jalanan, Kak Dika mengiyakan ajakanku. Mobil pun berhenti disalah satu pedagang jagung bakar langganan kami. Bau jagung dan mentega bakar sangat menyengat dihidung. Melengkapi malam yang dinginnya menusuk kulit.
“Kamu kok cuek banget sih dek tadi.” Kak Dika menggigit jagungnya, memulai perbincangan.
“Cuek gimana?” dengan tidak sabar, mulutku meniup-niup jagung yang masih panas.
“Tadi sama si Alex.” Kakak nih, ngapain lagi pake bahas-bahas dia.
“Biasa aja kok, engga cuek.”jawabku. kupasang earphone kesayanganku. Kemana-mana aku selalu membawanya. Bagiku hidup kurang berarti tanpa musik yang mengiringi langkahku. Dan tentunya tanpa mp3 dan earphone disaku bajuku.
“Yang bener?” itu adalah kata-kata yang selalu keluar dari mulutnya saat dia sedang tak percaya padaku.
“Males aja Kak. Lagian anaknya juga suka cari perhatian gitu. Sok ganteng, sok keren, pokoknya suka banget kalau dikejar-kejar sama cewek-cewek disekolah.” Akhirnya keluar juga dari mulutku, dengan suksesnya. Huft.
“Itu kamunya yang ngga suka apa cemburu sih? hahaha” Kini, kak Dika menyantap jagung keduanya. Kakakku yang ini memang paling jago soal makanan. Jago ngabisin maksudnya.
“Ogah, ngebayangin aja aku males. Kakak kan tahu sendiri kalau aku ngga pernah suka sama orang yang ‘sok’” sanggahku. dan hal terakhir yang akan kulakukan adalah menyukai orang sepertinya.
“Terserah deh. Tapi Alex orangnya baik kok. Kamu tuh jangan lihat cover-nya aja.” Dia melahap gigitan terakhirnya dan membayar kepenjual yang sudah terlihat kelelahan. Aku tidak bergeming. Tentunya dengan memikirkan apa yang baru saja meluncur dari mulutnya.









Empat,,,

Rara’S POV

Hatiku bergemuruh tak karuan. Rasa sesak kini semakin membuatku ingin meledak. Seperti disapu badai, harapanku sekarang sirna tak tahu kemana angin membawanya. Masih kuingat jelas isi pesan yang kubaca 10menit yang lalu.
‘ Rara, gimana kabar kamu? Maaf ya, udah lama ngga ngasih kabar. Oh ya, si Pascal sehat-sehat aja kan? Jangan lupa kasih wortel muda 3kali sehari ya, kamu kan biasanya lupa kasih dia makan. Lama nih ngga ngobrol sama kamu, ngga ngabisin waktu bareng kamu. Semua jadi beda disini. Ngga ada lagi cewek manis yang gangguin aku tiap hari. Sorry, kalau aku mendadak jadi cerewet. Habisnya kangen banget sama sahabatku itu. Oh ya Ra, selama aku disini hati aku ternyata juga ikut berubah seiring dengan perubahan dalam hidupku. Aku disini ketemu sama seseorang yang spesial buat aku, namanya Syafa. Dia juga sekolah bareng aku. Cukup jalan lima menit buat sampai kerumahnya. Dari sering ketemu sama jalan bareng, aku mulai menyimpan rasa sama dia. Orangnya baik Ra, cantik, sama seperti kriteria cewek yang pernah aku kasih tahu sama kamu. Sekarang, kita udah satu bulan lebih jadian. Sebenarnya aku belum mau ngasih tahu kamu, tapi aku pikir kamu harus tahu secepatnya. Sesuai janji kita dulu. Kamu juga wajib ngasih tahu aku kalau kamu jatuh cinta sama seseorang. Ingat ya! Ngga boleh lupa. Aku berharap kami bisa terus bareng Ra, do’ain ya biar langgeng. Kamu jaga kesehatan ya! Miss you my beloved friend :* ’
Mataku masih memandangi foto ditanganku. ‘Raka dan Syafa’. Wajah mereka mengembangkan senyum kebahagiaan, tapi memberikan kepedihan mendalam bagiku. Ingin sekali kurobek dan kubakar foto ini. Tapi sesuatu yang lain melarangku untuk melakukannya. ‘apa aku terlalu egois? Jika merasa tidak ingin dia menjadi milik orang lain. Aku harus menerimanya, asalkan dia bahagia. Lawan jenis memang tak bisa menjalin persahabatan dengan murni ya?! ’ kumasukkan lagi selembar kertas dan foto itu dalam amplopnya. Memang bukan jamannya berkirim surat untuk menanyakan kabar. Tapi aku dan dia sangat menikmatinya. Dulu saat kita pernah terpisahkan jarak, kita slalu berkirim surat seperti ini, memberi foto dan terkadang hadiah kecil. Ini memberikan sensasi tersendiri, terutama dalam masalah waktu. Saat-saat menunggu balasan yang tak kunjung datang itu sangat membosankan, tapi juga membuat penasaran seperti ‘nanti foto apa lagi ya?’  ‘ada yang spesial kah?’. Berbagai perasaan menemani disaat-saat seperti itu.
Tapi yang satu ini, membuatku sakit disini. Dihati ini. Cinta memang tidak pernah realistis, terkadang kenyataan tak sesuai dengan harapan. Membuat semua tampak membingungkan karena perasaan yang disebut ‘cinta’. Aneh. Tapi inilah kenyataannya.
“Paskal udah lama mati, dan sekarang perasaanku ke kamu juga harus ikut mati” kataku lirih. Memeluk kedua lututku, duduk diantara dinginnya angin malam.

* * *

“Ra, Ra!” Agni menyikut lenganku dengan keras. Membuyarkan lamunanku. Aku langsung geragapan dan menoleh seperti orang bingung. Kulihat raut wajahnya sedang mencoba memberitahukan sesuatu. Menyuruhku untuk melihat kedepan.
“Rara Arcelia Amora!!” teriakan itu membuatku kaget. Seperti baru dibangunkan dari dunia lain yang mengerikan.
“I Iy Iya pak.” Jawabku gugup. Pak Handoko, guru sejarah memang selalu meneriakkan nama muridnya dengan keras dan lengkap apabila tidak memperhatikan pelajaran atau sedang asyik sendiri. Kumisnya yang tebal bergerak naik-turun. Seharusnya itu menjadi hal yang lucu jika tidak dalam kondisi seperti ini.
“Kamu sakit!? Jangan ngelamun didalam kelas!” Katanya memperingatkan.
“Ma Maaf Pak. Saya agak pusing. Boleh izin ke UKS pak?” aku berbohong. Beralasan pusing karena tidak ingin melakukan apapun dan tak satu pun dari pelajaran hari ini dapat kuresapi dengan baik.  Walaupun begitu, dengan cepat beliau mengijinkanku meninggalkan kelas. Aku berterimakasih dan membiarkan kedua sahabatku yang bertanya-tanya terus dari tadi.

Aku berjalan dengan perlahan. Bahkan seperti orang yang kehilangan arah, walaupun tahu kemana tujuanku. Kelasku ada dipaling ujung dekat kantor guru dan ruang Tata Usaha. Untuk sampai ke UKS, bisa memakan 2 menit perjalanan jika berjalan dengan biasa. Tapi aku sedang tidak berjalan biasa sekarang ini. Kuinjak rumput dilapangan yang terbentang luas. Ruang UKS terpisah dari gedung pembelajaran atau ruang kelas, bersebelahan dengan ruang OSIS dan ruang musik. Baru sepuluh detik aku berjalan, tiba-tiba hujan mengguyur tempat ini dengan deras. Aku merasa lemas dan ‘pusing’ yang tadi Cuma pura-pura kini menjadi nyata menyerang sebagian besar kepalaku. Pelan-pelan aku memutar pandangan, mencari tempat berteduh. Dan terlihatlah bangunan perpustakaan tidak jauh dariku. Aku berlari secepat yang kubisa. Dan untunglah seragamku hanya basah sedikit terkena air hujan.
Tak jauh dariku, seseorang sedang berlari menuju tempatku berteduh. Dengan baju olahraganya, cowok itu terlihat semakin mempesona dari sini. Jantungku berdetak. ‘Ya Tuhan. Kevin.’ Batinku. Nafasnya masih memburu karena berlari dengan cepat. Aku mencoba untuk tidak peduli, walaupun sebenarnya sangat senang bisa bersamanya disini. Kudengarkan dia mengeluh karena hujan deras yang mengacaukan latihannya disaat pertandingan olahraga tinggal menghitung hari.
“Hei, ngapain disini, Nunggu hujan juga ya?” dia bersandar pada dinding dibelakangnya.
“Emm, iya nih.” Jawabku, salah tingkah.
“Emang mau kemana? Bukannya masih jam pelajaran ya.” Kini dia merubah posisinya. Mencondongkan tubuh dengan kedua tangan memegangi lututnya.
“Ng Mau ke UKS. Kamu sendiri?”
“kenapa, sakit? Aku baru aja mau kelapangan. Tadi habis ketoilet.”
“Emm gitu.” Aku tak menjawab pertanyaannya. Memeluk tubuhku dengan melipat kedua tanganku. Dingin ternyata. Rasa pusing yang tadinya tidak begitu terasa kini seakan menggerogoti sebagian kepalaku. Aku sudah sering seperti ini. Terutama saat terkena hujan. Migran lebih menyakitkan dibandingkan sakit kepala biasa. Perasaan ditusuk-tusuk dan seperti dihantam tepat mengenai setiap milimeter saraf otot kepalaku. Ini bisa membuatku memukul kepala atau menyakiti diri sendiri jika sakitnya sudah tidak tertahankan. Aku berjongkok, membenamkan kepalaku.
“Eh, kamu kenapa?” kevin tampak cemas. Menyentuh bahuku, tapi aku tidak bergeming.
Lalu terdengar suara langkah kaki menjauh. Hilang. Tapi tangan yang kuat itu tiba-tiba menarikku untuk berdiri beberapa saat kemudian.
“Ayo! Muka kamu pucet banget, ntar kalau pingsan gimana.” Dia membuka payung biru muda bermotif bunga itu. Menggandeng tanganku.
“Aku ngga papa kok.” Kataku pelan. Tiba-tiba, badanku serasa gemetar dan semuanya terlihat seperti bayangan yang kabur. Suara yang memikat itu terdengar mulai panik ditelingaku. Tubuhku terguncang. Dan tiba-tiba...  Bagai ditelan bumi, semua menghilang dari pandanganku digantikan oleh pekatnya kegelapan.

Hal pertama yang kulihat saat membuka mata adalah wajah ceria Indri sahabatku. Dia tersenyum ketika melihatku. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi dengan warna putih dan lemari tempat penyimpanan obat.
“Hei Ra, akhirnya sadar juga. Kamu ngga papa kan?” tanyanya.
“Sejak kapan aku disini In? Bukannya tadi aku...” aku kembali mengingat kejadian yang serasa seperti mimpi itu. Saat aku didepan perpustakaan, dan saat semuanya tiba-tiba menjadi gelap. Barulah aku menyadari kalau aku tadi pingsan.
“Udah inget? Beruntung banget kamu Ra digendong sama kapten basket.” Indri tersenyum penuh arti.
“Hah? Maksudnya?” dia lalu menjelaskan dengan rinci bagaimana peristiwa yang terjadi. Saat Kevin sendiri yang menggendongku, lalu melapor keguru piket. Dia juga yang menungguiku sebelum Agni dan Indri datang kemari.  Aku mengerjapkan mata berulang kali. Tak bisa membayangkan terlalu jauh bagaimana seorang Kevin rela berlari dengan nafas memburu ditengah derasnya hujan dengan seorang gadis dalam gendongannya. Ada perasaan bahagia yang tersembunyi dibalikknya. Paling tidak, ini membuatku lupa akan rasa sakit itu.
“Oh ya. Agni kemana?” aku mencoba untuk duduk, tapi kepalaku kembali bereaksi dengan hebat.
“Tiduran aja Ra, Agni lagi keluar sama Alex. Ngga tahu kemana. Eh, tuh mereka udah balik” Indri melihat kearah pintu ketika dua orang itu memasuki ruangan.
‘Ngapain dia disini’ pikirku ketika melihat cowok yang bersama Agni. Agni tampak membawa kantong plastik putih ditangannya, bertuliskan nama apotek yang tak jauh dari sini.
“Hei Ra, Kamu ngga papa kan?” wajahnya tampak khawatir.
“Nggapapa kok Ni.” Aku melihat Alex dengan sekilas. Dia sedang bersandar didinding dengan tangan kanannya yang dimasukkan kedalam saku celana. Tersenyum padaku.
“Nih, minum obat dulu. Disini ngga ada obat yang biasa kamu minum kalau lagi kumat, makanya aku tadi keluar sama Alex buat nyari ini. Untung aja aku tahu obat apa yang sering kamu minum.” dia mengambilkan aku air mineral dan menyuruhku meminumnya. Dalam hati aku sangat berterimakasih dengan kebaikan hati dan perhatian mereka. Terutama pada Agni yang selalu memahamiku dan tahu setiap kebutuhan khususku. Ngga lucu kan kalau dia memberiku obat cacing?
“Makasih ya. Oh ya. Kamu sama Alex....” aku hendak bertanya tapi Agni tiba-tiba saja memotong ucapanku.
“Ya engga lah. Mana mau dia sama aku. Hihihi.” Ternyata dia tahu apa yang mau kuucapkan. Kami semua ikut tertawa mendengar reaksinya yang terlalu blak-blakan.
Akhirnya aku pulang diantar oleh Alex. Hari ini dia membawa motor, jadi terpaksa mengantarku menggunakan taksi karena tidak mau aku pingsan lagi nantinya. Sebenarnya aku bisa saja menelpon Kak Dika, tapi aku lupa membawa ponselku dan kedua sahabatku itu memaksaku agar mau diantar oleh Alex.
“Udah mendingan Ra?” suaranya yang dalam terdengar begitu pelan.
“Udah kok.” Beberapa detik berlalu dan Kami kembali berdiam diri lagi. Tenggelam dalam pikirang masing-masing. Kupandangi hujan yang samar-samar dari jendela. Aku berharap agar hujannya segera reda, supaya aku tak perlu berada dipayung yang sama bersama Alex lagi.

Sesampainya dirumah, Alex mengantarku hingga didepan pintu rumah. Bajunya setengah basah karena memayungiku tadi. Kak Dika yang membukakan pintu terlihat senang dan menyuruhnya untuk masuk setelah memastikan aku hanya butuh istirahat saat ini. Aku langsung menuju kamarku, dan tak lupa mengucapkan terimakasih padanya. Kuhempaskan tubuhku diranjang dan terlelap tanpa mengganti seragamku yang lembab.       


Lima,,,

Normal POV

Dimeja makan hanya terdengar suara gesekan antara sendok dengan piring. Hening. Rara melahap nasi goreng telurnya dengan lesu. Dia merasa kurang sehat hari ini. Walaupun Mamanya menyuruhnya untuk istirahat dirumah, dia tetap ingin masuk sekolah. Terutama karena alasan ulangan matematika yang menanti hari ini dan dia tidak mau ikut ulangan susulan.
“Kok malah tambah panas? Semalem kan ngga gini.” Kak Dika memegangi dahi Rara dengan punggung tangannya. Mamanya yang sedang menuangkan jus memberi isyarat untuk tidak mengganggu Rara.
“Nanti kakak anter aja dek” Rara tidak bersuara. Dia sedang mencoba mengingat-ngingat semua rumus yang dipelajarinya selama dua minggu terakhir dengan susah payah. Mencoba untuk tetap tenang walau tidak ada persiapan yang matang menghadapi ulangan. Baginya, nilai harian dan ulangan adalah hal yang sangat penting karena merupakan 60% dari nilai yang tercantum diraport. Tapi dia tidak hanya mengejar ataupun menganggap nilai sebagai prioritas utamanya. Tujuannya adalah belajar dan memahami semua ilmu yang disampaikan oleh guru setiap harinya, dan nilai hanya menjadi acuan seberapa besar dia dapat memahami ilmu tersebut.
“Ayo kak, berangkat sekarang.” Baru saja kakaknya menyuapkan sendok pertama kedalam mulutnya, tapi Rara sudah berdiri merapikan kembali seragamnya.
“Baru juga jam 6 kurang dek.” Keluhnya.
Rara mencium tangan mamanya. Dia sebenarnya tidak mempermasalahkan apakah kakaknya akan mengantarnya atau tidak. Dia hanya ingin sampai disekolah lebih pagi agar bisa belajar nantinya.
“Eh eh eh. Kok buru-buru banget sih. Tungguin depan! Kakak ambil kunci mobil dulu.” Kak Dika berlari menaiki tangga setelah melihat Rara keluar dari pintu. Sebenarnya dia tidak tega melihat adiknya sakit seringan apapun. Ini sudah menjadi sifat bawaannya dari kecil. Lagipula hari ini dia tidak ada jadwal kuliah, jadi dia  menyempatkan diri untuk mengantar adiknya yang sedang kurang sehat.
Sekolah masih sepi karena baru jam 6 lebih lima menit. Berkat usahanya untuk menyuruh kakaknya berhenti mengajaknya bicara, Rara berhasil menghafal sebagian rumus yang akan dimunculkan disoal nanti.
“Makasih Kak.” Kata Rara dengan senyum sumringah diikuti dengan lambaian kearah mobil yang akan melaju.   
Tanpa basa basi, dia menuju ke gedung paling atas sekolahnya. Tempatnya menenangkan diri juga bisa sewaktu-waktu menjadi tempat paling tenang untuk berkonsentrasi. Dengan catatan matematika ditangannya, dia menerawang dan mengucapkan rumus-rumus bangun dimensi tiga. Sesekali juga dia mengerjakan soal latihan dan mencocokkan jawabannya. Jarum jam dipergelangan tangannya sedang menunjuk keangka 6 dan 11. Dia membereskan bukunya dan berdiri memandangi sekolahnya dari atas sini. Sosok itu menghentikan matanya yang sedang mengedarkan pandangan. Cowok yang sedang berjalan itu, menyibak orang-orang dijalanan hanya dengan tatapan matanya. Tampak juga gerombolan murid yang sedang kasak-kusuk dan tertawa girang karena melihatnya. Kebanyakan dari murid-murid itu adalah cewek, dan hampir semuanya. Rara hanya diam, dalam hati dia berkata ‘Haduh, parah banget. Cowok kayak gitu banyak yang suka ternyata.’ Dia hanya mendengar teman-temannya sering membicarakan Alex yang selalu menjadi pusat perhatian para cewek. Tak sedikit pula dari mereka yang menyimpan perasaan pada Alex. Dan baru kali ini dia bisa memastikan hal itu benar adanya.  

Bel tanda masuk berbunyi. Dan semakin membuat telinganya sakit karena posisinya yang tak jauh dari pengeras suara. Cepat-cepat Rara meninggalkan tempat itu. Dia menuruni tangga dengan cepat dan berharap tidak akan terjatuh. Beruntung Bu Frida guru matematikanya belum sampai ketika dia memasuki ruang kelasnya.
Bisa dibilang dia murid yang datang terakhir dikelas itu. Dengan sempoyongan dia menuju tempat duduknya. Meletakkan tas diatas meja dengan nafas yang masih memburu.
“Gila! Tumben banget baru datang Ra!” Agni melirik jam yang bertengger manis ditangannya. Dengan susah payah Rara mengatur nafasnya agar lebih tenang.
“Habis belajar.”jawabnya singkat. Jemarinya yang elok mengusap sedikit keringat yang mulai meluncur dari dahinya setelah berlari tadi.
“Di tempat biasa?” sudah jelas Agni tahu maksud Rara. Walaupun dia dan Indri jarang ikut bersamanya, tapi dia tahu tempat dimana Rara sangat senang menghabiskan waktunya disana. Termasuk saat dia belum belajar dan datang pagi-pagi untuk belajar disana.
“Yep!” Rara menjentikkan jarinya.
Alex terus memperhatikan Rara, cewek yang sudah membuat rasa penasaran bertumbuh dengan pesat dihatinya. ‘Di tempat biasa?’ itu kata yang sedang ada dalam pikirannya. Yang sedang mencari-cari apakah tempat biasa yang dimaksud oleh mereka adalah tempat dimana dia melihat Rara saat pertama kali. Namun pikiran itu harus dialihkan untuk sementara waktu karena Bu Frida sudah muncul dari balik pintu.


Diperpustakaan ini Rara sedang larut dalam bacaannya. Dia sedang tidak ingin pergi kekantin dengan teman-temannya dan memilih menghabiskan waktu istirahat diperpustakaan. Cowok yang tiba-tiba duduk dihadapannya mengganggu konsentrasinya.
Sebelum Rara beranjak dari duduknya, cowok itu sudah membuka mulutnya terlebih dahulu.
“Ada juga ya tempat sepi disini.”
“Hah?” dahi Rara mengukir kerutan-kerutan diatasnya.
“Hehe, enggak papa.” Kata cowok itu. Dia berdiri, berjalan menuju deretan buku yang tersusun dengan rapi.
“Ngapain kamu ke perpus?” pertanyaan bodoh. Rara juga menyadari betapa bodohnya kata yang terlontar dari mulutnya itu.
“Baca.” Katanya cuek. Tapi terlihat kedua ujung bibirnya melengking keatas. Dengan senyum yang masih terlihat jelas dia menambahkan “Sebenernya, males aja jadi pusat perhatian cewek-cewek genit itu.”
“Bukannya malah suka ya jadi pusat perhatian?” dengan cepat Rara berkata sekaligus sedikit menyindir cowok yang sedang membaca komik Conan didepannya itu. Dia sama sekali tidak heran melihat cowok seumurannya yang suka membaca komik, karena kakaknya sendiri yang lebih tua darinya suka mengoleksi banyak komik dan beragam film anime.
“H-hh, suka?? Yang ada justru ngga akan ada lagi ketenangan.” Kata-katanya begitu sederhana, tapi mampu membuat Rara tak percaya.
‘Jadi dia suka ketenangan ya? Apa dia juga suka menyendiri kayak aku?’ rasa penasaran sedikit menggoyahkan hati Rara. Namun tiba-tiba kepala yang mengintip dari rak buku lain itu membuat Rara terkejut. Dengan cepat Agni dan Indri menghampiri meja mereka.
“Ciyee! Berdua aja.” Goda salah satu diantara mereka. Rara tampak gusar. Lalu tanda tanya besar muncul dikepalanya. Seketika itu pula Agni dan Indri memasang kuda-kuda untuk menjelaskan mengapa mereka sampai masuk ketempat yang merupakan pantangan bagi mereka berdua.
“Eh, Ra kamu harus dengerin. Ini ngga baik banget.”
“Sumpah Ra! Pokoknya kamu harus dengerin kita.” Indri menambahkan. Rara hanya geleng-geleng kepala.
“Apaan sihh?” tanya Rara penasaran. Wajah sahabatnya tampak memancarkan sebuah kekhawatiran. Alex yang masih diam disitu ikut mendengarkan walaupun tidak mengalihkan pandangannya dari komik ditangannya.
“Kamu ingat waktu kamu pingsan ngga?” Agni mencoba menggugah kembali ingatan Rara.
“Iya, kenapa?”
“Kayaknya kamu bakal kena masalah deh.” Agni geleng-geleng kepala. Menatap kembali kepada Indri dan Rara bergantian.
“Ihhh, udah aku aja yang cerita. Kebanyakan basa-basi kamu Ni. Jadi gini Ra, ..” indri menghela nafas, melihat sekitarnya.
“..kemarin ada yang ngga sengaja lihat kamu digendong sama Kevin waktu kamu pingsan. Dan parahnya yang ngelihat itu kelas tiga, temennya Putri.” Indri memelankan suaranya saat menyebut nama yang anggun itu. Alex menutup komiknya dan ikut menyimak dalam diam.
“Terus?” dengan wajah penuh tanda tanya Rara ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
“Ihh, kayaknya kamu bakal kena masalah deh. Putri pacar Kevin, sekarang dia udah tahu kalau kamu kemarin digendong sama Kevin. Dan dia merasa ngga terima kalau cewek lain berusaha ngedeketin Kevin. Dia pikir kamu kemarin Cuma pura-pura pingsan buat deketin pacarnya itu Ra. Kamu tahu sendiri kan Putri orangnya kayak gimana?” Indri mengakhiri perkataannya dengan nada yang agak tinggi. Terlihat Agni sedang menggigit bibir bawahnya sendiri.
“Ooo, gitu..” dengan lemas Rara berkata. “Tapi nggapapa lagi, aku kan ngga bermaksud buat ngedeketin Kevin. Lagian kemarin ketemunya juga ngga sengaja, terus Cuma ada dia waktu aku pingsan. Jadi semuanya Cuma kebetulan aja.” Rara menjelaskan dengan mencoba untuk tetap tenang.
“Bener tuh, aku juga bakal nganggep itu Cuma kebetulan aja kalau jadi Kevin.” Alex yang semula diam ikut angkat suara.
“I yaa siihh, tapi beda lagi ceritanya kalau udah berurusan sama Putri.” Sambung Agni.
Mereka semua terdiam, tidak mencoba membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Rara hanya menganggap semua hanya kesalahpahaman belaka dan mencoba untuk tidak memikirkannya, walaupun merasa sedikit gentar jika mendengar nama orang yang dulu pernah mengerjainya habis-habisan.
Putri adalah ketua kelompok cheerleader disekolah mereka. Orangnya yang aktif dan wajah yang cantik membuatnya menjadi sosok yang populer dikalangan mereka. Walaupun sebagian besar anak tahu kalau dia adalah orang yang tidak suka tersaingi oleh siapapun dan sikapnya yang seenaknya membuatnya bercitra buruk dimata anak-anak cewek disini.

* * *

Keesokan harinya tepat saat jam istirahat, Rara dan Joe mendapat tugas untuk meminjam buku paket diperpustakaan. Tapi karena Joe sedang rapat OSIS , Alex yang menggantikannya ikut bersama Rara.
Suasana perpustakaan sangat ramai dibandingkan hari biasanya. Anak-anak kelas satu tampak memenuhi tempat disudut ruangan, mata mereka terus memandangi kedua kakak kelas mereka.
“Permisi Bu, saya disuruh Bu Ani buat pinjam buku” dengan sopan Rara meminta ijin pada penjaga perpustakaan yang memakai jilbab warna putih tulang itu.
“Oh, Silahkan ambil sendiri, nanti dicek disini kalau sudah semuanya.” Jelasnya.
“Iya, makasih Bu.” Rara berlalu meninggalkan penjaga perpustakaan, diikuti Alex dibelakangnya.
Perpustakaan sekolah ini cukup luas dan lumayan lengkap buku yang terpajang disetiap raknya. Rara menuju rak ditengah-tengah ruangan diikuti Alex dibelakangnya.
“Bukunya yang mana Ra?” Alex memecah kecanggungan yang sedari tadi menyelimuti mereka.
“Ngga tahu nih, coba aku lihat dulu.” Tangannya yang mungil merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan secarik kertas. Matanya kemudian menyusuri setiap inci rak tersebut, hingga tepat pada buku yang berjejer dengan judul yang sama.
“Ini nih bukunya, ambil 40 ya.” Katanya.
“Oke bos!” suara Alex yang terdengar aneh membuat Rara melotot dan tertawa ringan, membuatnya mendapat teguran dari penjaga perpustakaan.
Mereka pun mengambil buku yang dibutuhkan dan tentunya Alex yang membawa lebih banyak buku. Setelah mengisi jurnal peminjaman buku, Rara membawa buku-buku itu menuju kelasnya. Alex masih dibelakang karena ibu penjaga menyuruhnya untuk mengangat kardus buku yang tidak mampu diangkat olehnya.

Suara tawa yang membahana terdengar tidak jauh dari Rara. Tiba-tiba saja sebuah hantaman yang keras membuatnya tersentak. BRUUUKKK!!!!
“Aww!! Kalau jalan pake mata dong!!!” suara teriakan itu membuat semua orang yang lalu lalang menoleh pada mereka.
Rara terperanjat, segera berdiri masih dengan ekspresi terkejutnya dia meminta maaf pada cewek itu.
“Duhh maaf banget, aku ngga sengaja.” Rara menundukkan kepalanya, sedikit menatap sorot mata yang mengiris keberanian itu.
“Eh, Rara Put! Yang itu lho...” terdengar temannya membisikkan sesuatu ketelinga cewek itu.
“OO, jadi kamu yang namanya Rara?” cewek itu berkacak pinggang, semakin membuat Rara tersudut.
“I Iyaa kak.”
“Jadi kamu yang berani ngedeketin pacar ku?! Huh?!” Rara tak bergeming, dengan sedikit keberanian dia menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya dia masih trauma dengan cewek kejam yang satu ini.
“Alahh, alasan! Jangan macam-macam kamu ya! Apalagi sama Kevin, ngga usah sok cari perhatian!” cewek yang bernama Putri itu terus berkata dengan nada tinggi,
“Apaan sih? Kan udah aku jelasin kalau yang kemarin itu Cuma kebetulan. Suka banget cari gara-gara.” Kata itu meluncur begitu saja, dengan dibubuhi sedikit emosi.
“Apa? Ngga salah denger? Kamu tuh yang cari gara-gara! Dasar cewek gatel!!” dengan keras Putri mendorong tubuh Rara hingga terjatuh. Hal itu tentu saja membuat semua yang melihat menganggapnya hal yang sangat menarik. Tapi justru menjadi hal yang memalukan untuk mereka. Dengan kesal Putri menginjak semua buku yang jatuh dilantai dan terus menghujam Rara dengan ucapan yang menyakitkan. Rara yang sudah terbakar emosinya, melawannya. Memegang kaki yang mulus itu dengan sekuat tenaga, menyingkirkannya dari tumpukan buku yang sudah mulai sobek sampul depan dan kotor itu.
“Dasar cewek ngga tahu malu!”
“Kamu tuh yang ngga tahu malu. Kakak kelas tapi ngga bermoral!. Masih banyak yang ngga bisa belajar diluar sana yang butuh buku kayak gini, jangan mentang-mentang anak orang kaya kamu seenaknya aja!” Rara memunguti buku-buku itu. Menumpuknya menjadi satu bagian. Namun, dengan telak sebuah telapak tangan berhasil membuat capnya dipipi Rara.
“Hei!!! Apa-apaan kamu?!” tangan Putri kini dicengkeram dengan kuat. Membuatnya meringis kesakitan.
“Auww! Sakit Lepasin!” dia masih menahan sakit yang menjalar ditangannya.
“Lepasin ngga?!!”
“Jangan macam-macam kamu ya! Mentang-mentang kakak kelas seenaknya aja sama adik kelasnya.” Suara lantang itu dengan berani membentak Putri hingga meringkuk ketakutan.
“Lepasin dia!” tak jauh dibelakang mereka, seorang cowok datang dan memukul Alex tepat diwajahnya. Suasana semakin mencekam, walaupun Alex sudah melepaskan tangan Putri dia masih saja dihujami dengan pukulan.
“STOPP!!” Seketika itu pula mereka berhenti. Wajah marah Rara membuat suasana menjadi hening sejenak. “Kalian tuh kayak anak kecil tahu ngga!! Ngga malu apa udah pake seragam abu-abu tapi kelakuan kayak anak SD!!” dia mendekat pada Alex, meraih tubuhnya yang sedikit memar. Kevin yang masih ingat betul wajah cewek yang ditolongnya itu, merasa terkejut melihat bekas tamparan yang ada dipipi kirinya. Matanya yang coklat menatap tajam pada Putri.
“Kamu ngga papa kan?” tanyanya seraya melihat wajah Alex yang sudah dialiri darah segar disudut bibirnya. Dia menggelengkan kepalanya. Memunguti buku yang berserakan lalu mengajak Rara untuk kembali kekelas.
Untuk terakhir kalinya Alex menatap tajam pada Kevin, “Ini semua gara-gara cewek gila itu!!” ucapnya pedas. Rara menundukkan kepalanya. Takut jika pertengkaran itu akan berlanjut.


“Kok kamu diem aja sih dipukulin gitu?” Rara membuka kotak obat, yang ada diruang UKS. Dengan pengalamannya yang pernah menjadi anggota PMR, dia meneteskan obat merah diatas kapas dan dengan pelan mengobati luka Alex.
“Aww, Aww, sakit Ra!” keluhnya, lalu menarik kapas dari tangan Rara.
“Makanya diem aja. Jangan kebanyakan gerak.” Rara mengambil kapas itu lagi dan kini dengan lembut, menempelkannya di luka Alex.
“Hussf, Aww.. ya mau gimana lagi, aku kan ngga mau bikin semuanya tambah kacau. Lagian kamu juga udah nyelamatin aku kan.”
“Bukan aku, tapi kamu Lex.” Alex membisu mendengar suara Rara yang manis itu. Membuatnya ingin menghentikan waktu yang terus berputar. Sesekali dia menatap kedalam mata Rara yang teduh, ingin sekali dia terbang diatas awan. Bersama pencuri hatinya yang membuat harinya seperti malam bertabur bintang dan menari dalam indahnya gemerlap malam.
Sentuhan terakhir Rara, membuatnya tersadar dari khayalan yang memabukkan itu.
Dengan cepat Rara membereskan obat-obatan kedalam kotaknya dan mengembalikan ketempat semula.
“Udah ngga papa kan? Aku balik dulu ya.” Rara berdiri memperhatikan wajah Alex, melihat bekas lukanya yang kemerahan.
“Oh, Iya Ra. Aku juga mau balik kok. Makasih ya.” Senyum Alex mengembang.
“Enggak, aku yang harusnya bilang makasih. Makasih udah nolongin aku. Yuk masuk kelas.!” Ajaknya. Rambutnya yang panjang bergoyang-goyang dengan gemulai.
Alex mengikutinya dari belakang. Tersenyum sendiri dengan tingkahnya. 





Enam,,,

Rara’S POV

Hari-hariku kini selalu dipenuhi dengan Putri yang selalu mencoba mencari masalah denganku. Walaupun aku selalu diam saat dia bertingkah, bukan berarti aku takut kepadanya. Aku hanya tak ingin memperkeruh suasana. Apalagi berhubungan dengan Putri yang bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
Kemarin, tepat saat jam istirahat dia bahkan sudah berani menyiramku dengan air. Dia juga mempermalukan dan mengolok-ngolokku didepan teman-temannya. Cewek yang satu itu memang ngga pernah kapok-kapoknya membuat orang lain menderita, Walaupun hubungannya dengan Kevin sudah diujung tandu. Menurut kabar burung dan berdasarkan cerita dari sahabatku, Kevin tidak suka dengan sifat Putri yang kekanakan dan ingin menang sendiri. Sudah seminggu ini hubungan mereka menggantung. Aku sebenarnya berharap mereka akan segera putus. Disamping Putri yang sudah tidak menggangguku lagi, aku juga akan merasa lebih lega jika Kevin mendapatkan cewek yang lebih baik dari Putri.

Aku sedang duduk santai menyaksikan salah satu acara diTelevisi Swasta ketika suara bel pintu berdentang sebanyak tiga kali. Dengan terburu-buru aku berlari menuju pintu depan. Betapa terkejutnya diriku ketika mengetahui siapa yang ada didepan mataku.
“Hei, Ra.” Suara yang sudah tak asing itu menyapaku dengan senyum yang ramah.
“Alex? Ngapain kesini?” aku masih berdiri, memegangi gagang pintu.
“Kak Dika ada?” Alex mencoba untuk dapat melihat kedalam dengan melemparkan pandangannya melalui bahuku.
“Oh, ada kok. Masuk aja dulu.” Aku melangkah masuk kedalam rumah, mempersilahkan dirinya untuk duduk diruang tamu.
“Bentar ya, aku panggilin dulu.” Kakiku melangkah menuju tangga. Memanggil kak Dika dengan keras, karena dia tidak akan mendengarku jika sedang asyik dengan komik dan film animenya. Sama seperti saat ini. Dengan gusar, dia menuruni tangga yang berkelok panjang itu. Ini hari minggu, rumah akan terasa seperti milik kami berdua karena Mama dan Papa selalu bepergian untuk belanja dan melakukan kegiatan lainnya.
“Hei! Udah lama Lex?” dia menepuk bahu Alex yang sedang duduk disofa putih itu.
“Ngga kok, baru aja. Nganterin titipannya Kak Alice, dia lagi sibuk soalnya.” Suara mereka masih terdengar dari tempatku menonton TV. Alice? apa dia kakaknya? Alex dan Alice. Hmmt, bagus juga. Sepertinya orang tua mereka mempunyai huruf favorit untuk anak-anaknya.
Beberapa menit berlalu, suara mereka sudah tak terdengar lagi setelah sebelumnya sedang membicarakan salah satu buku komik terbaru. Mungkin kak Dika mengajaknya untuk naik kekamarnya. Biasanya teman kak Dika langsung menuju kamarnya tiap kali datang kesini, kecuali cewek! J
“Dek, titip Alex bentar ya. Kakak mau beli makanan dulu didepan.” Suara cemprengnya kak Dika mengagetkanku, kakinya yang panjang itu menuruni tangga seperti melompat saja. Aku masih belum mengerti apa yang dia katakan, ketika Alex tiba-tiba muncul dan duduk bersamaku. Barulah, aku mengerti.
“Emang aku baby sitter apa?!” keluhku. Dia hanya tertawa dan menghilang dibalik pintu.
Hening. Hanya suara riuh dari TV yang memenuhi ruangan. Menurutku Alex memang bukan seperti dugaanku, bahkan dia sangat baik untuk seorang teman yang baru kenal dua bulan lamanya. Walaupun segala macam dugaanku tentangnya yang bersifat negatif seperti si manja kaya raya dan tukang cari perhatian itu tidak benar, terkadang aku masih berpikiran kalau dia terlihat seperti itu. Namun dua bulan ini sedikit menyadarkanku kalau Alex adalah cowok mandiri yang bertanggung jawab dan berjiwa sosial tinggi. Ini jelas terbukti ketika aku dan teman-teman lainnya diajaknya untuk mengadakan penggalangan dana untuk korban banjir disekitar tempat tinggal kami. Dan dari situ aku tahu kalau dibalik sosoknya yang terlihat angkuh itu dia adalah orang yang lembut dan penuh perhatian, terutama ketika dia yang paling antusias dan bekerja paling keras diantara kami semua.
“Kok, diem aja Ra?” Alex menyelonjorkan kakinya, mencolek bahuku dengan jahilnya.
“Ihh, apaan sih Lex?” kataku sewot. Dia terus mengulangi perbuatannya, aku pun ikut membalasnya hingga tawa kami menggelegar karena aksi kejar-kejaran didalam rumah.
“Haduhh, capek tauk!” nafasku terengah-engah, aku mengepalkan tangan kananku dan memukul bahu kiri Alex.
“Auuww! Haha, ngga bosen apa Ra weekend kok dirumah aja.” Dia menjatuhkan tubuhnya disofa dengan mudahnya.
“Ya, mau gimana lagi. Lagi males kemana-mana, pengen nyantai dirumah.” Aku mengambil biskuit dalam toples dan mengginggitnya. Kak Dika sudah tiga puluh menit keluar dan belum menunjukkan batang hidungnya sampai sekarang. Membuatku merasa salah tingkah bersama Alex, walaupun aku hanya menganggapnya sebagai teman.
“Ngga seru ah. Jalan-jalan kek.” Dia mendorongku lagi. Sudah satu bulan ini kami selalu bersama saat ngumpul disekolah. Aku, Agni, Indri, Alex, Anton dan Joe. Sekumpulan anak dengan pribadi yang sangat berbeda, yang menghabiskan waktu senggang mereka bersama-sama.
“Gitar-gitaran aja yuk. Kamu bisa ngga?” seperti mendapat asupan semangat lebih, mataku berbinar saat mengatakan padanya.
“Wah, asyik tuh. Udah lama juga aku ngga pegang gitar. Emang kamu punya gitar?” dahinya berkerut, kuakui Alex memang lebih menawan saat sedang seperti itu.
“Punya dong! Yuk.” Ajakku. Aku melangkah naik kekamarku yang berada disamping kamar Kak Dika. Sekilas terlihat kamar kak Dika yang terbuka, dengan buku komik bertebaran diatas tempat tidurnya. Kurasa aku tahu apa yang mereka lakukan tadi.
Kupegang gagang pintu kamarku dan menekannya dengan kencang. Lalu semuanya menjadi serba biru putih seperti lautan awan yang terbentang luas dilangit.
“Kamar kamu Ra? Keren juga.” Alex masih mengekor dibelakangku. Masuk dan mengedarkan pandangannya kepenjuru ruangan yang lebarnya sekitar 5 X 6 meter ini. Aku meraih leher gitar yang kugantungkan diatas tempat tidurku. Saat aku turun dari sana, kulihat Alex sedang mengamati foto-foto yang kutempel didekat meja belajarku. Aku langsung menarik lengannya.
“Eh, Eh. Itu pacar kamu ya? Kok fotonya banyak banget dikamar kamu” dia menunjuk ke foto yang dipandanginya tadi.
“Bukan!!” aku berteriak, dan aku rasa dia langsung diam seketika.
Kakiku melangkah perlahan menuju taman, dibawah pepohonan terdapat bangku dan tempat yang biasa kupakai untuk berkumpul atau main dengan teman-temanku dulu. Udara yang sejuk menyambut kedatangan kami.
Kuhempaskan tubuhku kebangku taman itu, lalu menghirup nafas dalam-dalam.
“Sejuk ya. Hemmmt.” Alex memejamkan matanya. Gitar yang tadi dipegang kini ikut bersandar dibangku taman ini. Aku mulai bernyanyi dengan pelan. Menyanyi dengan asal-asalan. Walaupun begitu aku tetap menikmatinya, merasa lepas dan bebas jika melakukan apa yang kita senangi walaupun hanya bernyanyi asal-asalan.
Jari-jari panjang Alex mulai memetik senar dengan perlahan tapi pasti, melody yang dimainkannya membuatku serasa melayang. Sepertinya dia sangat mahir memainkan gitar. Aku terkagum dibuatnya. Suaraku yang lumayan merdu mengalun dengan sendirinya. Seakan menyuruhnya untuk mengiriku, dia lalu mengira-ngira nada dan kunci yang akan digunakan agar terdengar pas dengan nada suaraku. Hingga beberapa saat kemudian, nada-nada yang dihasilkan oleh pita suaraku dan petikan gitar Alex membuat sore ini menjadi lebih indah.
Ku coba untuk melawan hati 
Tapi hampa terasa di sini tanpamu 
Bagiku semua sangat berarti lagi 
Kuingin kau disini 
Tepiskan sepiku bersamamu 

Lagu Hingga akhir waktu dari nineball, mambuatku membayangkan saat-saat bersamaku dulu. Saat aku merasa waktu berhenti berputar ketika aku bersama sahabat sekaligus orang yang aku sayangi. Saat kami selalu tertawa, bercanda, dan bersedih bersama-sama. Ini lagu kenangan untuk kami. Semakin aku memejamkan mata, semakin jelas putaran memory itu dikepalaku. Setitik air mata menetes. Aku menikmati alirannya dipipiku.

Tepiskan sepiku bersamamu 
Tak kan pernah ada yg lain disisi 
Segenap jiwa hanya untukmu 
Dan tak kan mungkin ada yg lain disisi 
Ku ingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu
Hingga akhir waktu ... 

Aku tersenyum diakhir lagu, dengan tulus tersenyum mengingat semua tentang kita.
“Udah lama kita ngga nyanyi bareng kaya gini Raka.” Aku tertawa dengan ringan, mengusap air mata dipelupuk mataku.
“Hah, Raka??” suara dengan nada terkejut itu membuang jauh-jauh khayalanku. Alex menatapku dengan heran. Aku lalu tertawa menyadari kebodohanku. Aku sedang bersamanya, bukan Raka! Kenapa aku malah memikirkan orang yang belum tentu memikirkanku.
“Haduhh, sorry Lex. Hahaha” tanganku menepuk kakiku dengan keras, terlihat dia masih bingung dengan tingkahku.
“Pacar kamu yang tadi itu ya? Raka?” dia mengangkat jari telunjuknya keudara, menunjuk kearah kamarku. Aku lalu menggelengkan kepalaku. Tawaku musnah seketika, berganti dengan awan mendung yang memenuhi hati dan pikiran ini.
Belum juga aku mengeluarkan suara, air dari langit menetes dengan diameter yang cukup besar, menandakan akan hujan deras. Kami bergegas masuk kedalam rumah, dengan bekas tetesan air hujan yang menempel dibaju kami.
“Lhoh, kalian dari mana?” kak Dika menoleh melihat kami yang masuk dari pintu samping. Berbagai cemilan dan makanan ringan tersebar dimeja depan TV.
“Dari taman kak, aku masuk kamar dulu ya.” Kataku, melihat Alex dan Kak Dika lalu naik keatas.

Aku mengganti pakaianku yang terasa lembab dan dingin. Sejenak kuamati foto-foto yang memberi tanda tanya pada Alex. Gambarku dan Raka yang tercetak terlihat bahagia saat difoto itu. Sudah berbulan-bulan dan aku belum mengganti gambar yang tertempel disitu. Naluriku mengatakan untuk mengambil sebuah buku biru dan memutuskan untuk merangkai kata didalamnya.        
Tetesan air langit seakan menemani kesendirianku
Setitik air mata sudah diujung pelupuk
Ingin sekali kutanyakan ‘bagaimana kabarmu’
Tapi apakah itu akan terbalas olehmu?
Kau bahkan tak disini
Sangat jauh disana, dengan hati untuk orang lain
Tapi mengapa aku masih berharap untuk terus merasakannya
Ataukah aku hanya merasa kesepian semata karena tak mempunyai selain dirimu?
Bukan aku orang yang bisa menjawab ini semua
Aku memang bodoh, padahal aku tahu hatimu telah kau tutup untuk yang lebih pasti
Kau juga membawanya jauh bersamamu, dibelahan tempat  yang berbeda
Sejujurnya aku ..
Aku... sungguh tak bisa berkata-kata
Merangkai kalimat pun seperti hal yang tabu saat ini
Tapi ini yang paling tulus dari lubuk hatiku
‘Aku Merindukanmu’ bahkan sangat merindukanmu
Semoga kau baik-baik saja disana, bersama potongan hati yang baru
Aku mencoba untuk tetap tersenyum walaupun tak begitu berusaha dengan keras






Tujuh,,,

Normal POV

Derap langkah kaki sepertinya tak membuatnya gentar untuk melangkah lebih pasti. Keputusannya sudah bulat, bahkan sebelum hubungannya telah kandas. Entah resiko apa yang akan menghadang jalannya, dia tak pernah berhenti melangkah dan memutuskan untuk berbalik. Dia sudah yakin, apapun hasil yang didapatnya nanti. Dua minggu yang panjang sudah dijalaninya dengan mendekatkan diri untuk membuka mata sekaligus hati gadis yang telah mencuri perhatiannya. Walaupun gadis itu mencoba untuk biasa saja, tapi menurutnya dia juga menyimpan sebuah perasaan untuknya. Dan inilah saatnya mencari jawaban dari hatinya.

Lapangan basket sudah mulai sepi. Ratusan penonton yang menyaksikan jalannya pertandingan sudah mulai beranjak dari duduknya dan pergi melalui pintu keluar. Wajah kemenangan dan bahagia terpampang jelas diwajah para pemain SMA Merpati dan segenap pendukungnya. Sekumpulan murid yang menyebut mereka sebagai ‘Crayon’ masih duduk dengan manis dikursi penonton. Menyempatkan diri untuk mengucapkan selamat pada teman mereka yang telah berusaha dengan keras. Seorang pemain yang menyandang gelar kapten basket, berjalan menuju kursi penonton dengan percaya diri. Meninggalkan kerumunan teman-teman dan terdengar sorakan penuh semangat dari kawan satu timnya. Sekilas matanya menatap ke tempat gadis-gadis yang memakai baju warna-warni dan pom-pom ditangannya. Tatapan itu mendapat balasan yang lebih tajam dari seorang cewek yang pernah menjalin tali melebihi sebuah pertemanan dengannya. Tapi, dia tak ragu lagi untuk terus melangkah.
“Heii, selamat ya Vin. Kamu keren banget tadi.” Kata salah satu gadis disitu, Rara. Teman-temannya juga tak mau kalah memberi ucapan selamat pada Kevin. Mereka tertawa bersama.
“Makasih semua. Makasih Ra.” Matanya berhenti pada Rara, dan tersenyum simpul.
“Ciiyyyyeee ..!!!” sorakan teman-temannya membuat Rara tersipu malu.
Alex yang ada disampingnya, merasa tidaak nyaman namun tetap tertawa bersama mereka.
“Ra, emm ada yang mau aku omongin sama kamu.” Semua mata yang ada disitu saling menatap curiga.
“Ngomongin apa?”
Hening. Kevin merasa kikuk berada disitu, pandangannya berkeliling dan tangan kanannya menggenggam dengan kuat.
“Emm, kamu.. kamu mau ngga ngasih izin buat aku? Buat jadi pengisi hati kamu?” wajahnya merah padam, namun merasa lega untuk sementara.
Kasak-kusuk semakin jelas diantara mereka, Agni dan Indri menyenggol lengan Rara. Semua yang ada disitu menantikan reaksi seperti apa yang akan diberikan Rara, kecuali satu. Alex. Kakinya yang terbalut sepatu keds menghentakkan irama drum dilantai, dengan tidak tenang.
“Hahh?? Maksud kamu?” Rara tampak terkejut, dan semakin bingung. Dia memang menyukai Kevin, tapi tak pernah terpikir olehnya akan mendapat momen seperti ini dalam hidupnya.
“Yaa, kamu. . kamu mau ngga jadi pacar aku?” jelasnya sekali lagi.
Hening. Usulan dari para temannya meminta Rara untuk menerima permintaan Kevin.
“Emm, gimana ya?” bola matanya memutar sekali. Bingung merasuki perasaan Rara.
Kevin berbalik kearah teman satu timnya yang masih setia menantinya lalu meminta agar salah satu diantara mereka melemparkan bola basket kepadanya. Dengan mudah, bola orange kecoklatan itu ditangkap oleh kedua lengannya yang berotot.
“Kalau kamu mau, kamu peluk bola ini. Tapi kalau kamu nolak, kamu boleh lempar bola ini.” Kevin memperagakan gerakan melempar itu pada Rara, seperti mengajari anak SD bermain basket.
Rara memandang teman-temannya, dan terpaku lama pada Alex yang seperti tidak peduli. Sejenak dia berpikir, keputusan mana yang harus dia pilih agar tak menyakiti orang lain. Putri dengan sorotan matanya yang tajam memandang penuh kebencian pada Rara, yang kemudian memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
Akhirnya Rara mengambil bola itu dengan perlahan, dan masih dengan pikiran yang bimbang. Karena satu keputusan yang salah akan menyakiti pihak lain.
Alex yang melihatnya pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan Rara.

* * *

Kantuk masih menghiasi wajah mereka. Dipagi yang dingin ini, seseorang sedang meratapi nasibnya diam-diam.
“Emang kamu kemarin kemana Lex, kok ngilang gitu aja?” tanya Joe yang memainkan rubik dengan cepat.
“Ngga kemana-mana kok.” Jawabnya singkat. Cowok yang baru datang langsung bergabung dengan kedua temannya.
“Lagi ngapain sih?” tanya cowok yang biasa dipanggil Anton itu.
“Lagi nanya Alex pergi kemana, habis pertandingan kemarin.” Joe yang tak berpaling dari permainannya menjawab dengan lesu.
“Oh,, kasihan Rara kemarin pulang naik taksi sendirian gara-gara kamu ngilang Lex.” Cetus Anton, yang kemudian menarik kursi untuk merapat pada mereka.
“Emang pacarnya ngga nganterin apa?!” suara Alex sedikit meninggi mendengar Rara yang ternyata pulang sendirian. Kalau saja dia menahan diri untuk tidak pergi pasti Rara tak akan pulang sendirian dimalam yang dingin itu.
“Pacarnya kan kamu! Gimana sih?” Joe berkata dengan suara cemprengnya yang tinggi, mendapat anggukan dari Anton tanda setuju. Alex semakin berkerut dahinya, semakin rupawan wajahnya.
“Lhoh?? Maksudku Kevin! Yang kemarin nembak dia.” Alex mengangkat bahu, kedua temannya tertawa dengan keras. Membuat anak-anak yang sudah datang memusatkan perhatian pada mereka.
“Bukannya Rara nolak dia gara-gara udah punya kamu Lex?” Anton menahan tawanya.
Semakin bingung pikiran Alex, tak tahu kemana ini akan berujung.
“Aku kan ngga jadian sama Rara. Dia beneran nolak Kevin? Kapten basket yang keren itu?” kedua temannya memandanginya dengan tatapan kasihan.
“Kamu sih, ngilang gitu aja. Andai kamu lihat ekspresinya Kevin. Hahaha.” Joe tertawa lagi, diikuti dengan Anton yang membayangkan kembali peristiwa malam kemarin.
“Aku pikir Rara bakal nerima dia waktu ngambil bolanya dari Kevin.” Ungkap Alex.
“Yahh, emang sih Rara ngambil bolanya. Tapi begitu tahu kamu udah ngga ada disampingnya dia ngelempar bola kelapangan. Katanya dia lebih milih buat jadi temen Kevin dari pada jadi pacarnya.” Anton menjelaskan dengan perlahan. Seperti menyadarkan Alex dari mimpi panjangnya. Mimpi buruk yang akhirnya berakhir, berganti dengan perasaan lega sekaligus terkesan.


 Tiga sekawan itu sedang duduk bersama dibangku Rara. Suara tawa dan bisik-bisik memenuhi batas area mereka yang membuat anak-anak lain tertarik untuk melihat lebih dekat. Wajah terkagum-kagum tampak diantara mereka yang telah memenuhi rasa penasarannya.
“Wahh, romantis juga si Kevin Ra. Kenapa ngga kamu terima aja kemarin?” tanya Agni yang memegang seikat bunga mawar merah ditangan kanannya. Harum. Bunga itu sudah ada diloker meja Rara sebelum dia memasukkan tas kedalamnya. Sekotak coklat juga tampak membuat cewek-cewek lain diruangan itu gigit jari karena merasa Rara adalah cewek yang beruntung.
“Aku kan Cuma nganggep dia temen Ni, ngga lebih.” Ungkapnya. Rara tampak tak terlalu senang dengan perlakuan Kevin terhadapnya, dia tidak pernah ingin mengikat sebuah hubungan yang melebihi pertemanan dengan Kevin walapun dia mengagumi sosoknya.
“Wahh, dari siapa Ra?” celetuk Anton yang belakang cewek-cewek yang bergerombol disitu. Anton mengangat kepalanya agar bisa melihat Rara.
“Dari mantan calon pacar!” teriak Indri kepadanya. Kini Anton hanya ber-‘wow’ dan ber oo panjang. Dia yang merasa cowok pasti tidak akan melakukan hal romantis seperti kepada orang yang telah menolak cintanya.
Anton kembali ketempat duduknya bersama Alex dan Joe, dan menceritakan hal itu pada kedua sahabatnya itu.
“Jangan-jangan dia ngga suka sama cowok lagi!?” bisik Joe menimpali cerita Anton yang langsung disambut jitakan oleh Alex.
“Gila! Kalau ngomong hati-hati Joe.” Tawa pun meledak diantara mereka.
Jauh dari topik Anton angkat bicara tentang hal yang mengganjal isi hatinya selama ini.
“Jujur deh Lex, kamu beneran ngga jadian sama Rara?” tanyanya dengan suara super pelan, seperti akan ada pukulan keras terhadapnya jika berbicara melebihi volume itu. 
“Hah? Jadian dari hongkong!?” balas Alex.
“Ehh eh, tapi aku juga mikirnya gitu semenjak kalian berdua jadi akrab banget. Kamu juga sering diem-diem merhatiin dia kan Lex? Jujur deh. Kamu suka kan sama dia?!” Joe yang sudah tahu persis seluk beluk teman sebangkunya dengan yakin menjatuhkan vonis yang membuat Alex mati gaya diantara mereka.
“Ehh? Ya.. ya enggak lah. Mana mungkin aku suka sama cewek kaya Rara. hahaha” hampir saja wajah Alex akan memerah seperti kepiting rebus kalau dia tidak menahan luapan rasa malunya itu. Dia bisa bernafas sedikit lebih lega. Paling tidak, untuk saat ini.
“jadi kamu ngga tertarik sama cewek kaya Rara? Jangan-jangan kamu juga ngga suka sama cewek! hahahaha” Joe merasa temannya sangat bodoh karena berkata dia tidak tertarik sama Rara.
“Iya, udah pinter, cantik, baik lagi. Oh ya, anaknya juga suka banget sama musik kan?? Coba kamu bayangin cowok kaya kamu, punya pacar kaya Rara. Bakal jadi the best couple, Lex!” seru Anton tak mau kalahnya.
Alex hanya geleng-geleng kepala sambil menunduk dalam-dalam mendengar suara tawa temannya. Baginya untuk saat ini, lebih baik membohongi perasaannya dari pada merusak kebahagiaan Rara mendapat pengagum baru yang selalu memperhatikannya. Walau menurutnya tak jelas apakah Rara juga menyukai pengagumnya atau tidak. Tapi mendengar bahwa Rara menolak Kevin karena melihatnya tidak ada disana waktu itu, sedikit membuat tanda tanya dikepalanya. Apa yang membuat Rara menolak cowok perfect seperti Kevin?
Entahlah, baginya bisa melihat senyum Rara setiap hari adalah hal terindah yang selalu ingin dia nikmati. Untuk kesekian kalinya Alex mencuri pandang ke meja peri kecilnya dari tempatnya duduk, melihat rambut indahnya yang meliuk-liuk karena gerakan si pemiliknya yang sedang tertawa dengan lepas. Sekali lagi rasa yang menggelitik membuat hatinya bergetar dan menyunggingkan segaris senyum diwajahnya.


Delapan,,,

Rara’S POV

“Dari siapa kak?” tanyaku
“Nggak tahu dek, yang nganter paketnya juga ngga tahu siapa pengirimnya.” Kak Dika berbalik dan hilang dari pandanganku.
Hmmmt, sekotak kado misterius? Entahlah, aku masih terlalu lelah untuk memikirkan kemungkinan yang terjadi. Kembali kurebahkan badanku ditempat tidur setelah meletakkan kotak besar itu diatas meja rias. Masih terlalu awal untuk mengawali pagi dihari minggu ini. Aku juga terkejut ketika mendapati Kak Dika sudah bangun. Kutarik selimut tebal hingga membungkus semua tubuhku. Tak berapa lama aku sudah terlelap kembali, ketika jeritan ponsel itu mengusik tidurku. Lagu ‘Nightmare’ dari Avenged Sevenfold cukup membuatku sport jantung saat mendengar scream dari vokalisnya M.Shadows. Banyak dari anggota keluargaku dan teman-teman cewekku yang memaksa untuk mengubah dering ponselku karena bisa membuat kepala mereka pusing mencerna lagu-lagu heavy metal seperti itu. Tapi, aku tak menghiraukan mereka karena menurutku itu merupakan selera yang unik untuk seorang cewek yang juga seorang kutu buku sepertiku.
 Sambil meraba-raba, kuraih ponsel yang tak jauh dari tempatku tidur.
“Ha ..Halo?” kataku sembari menahan diri untuk tidak menguap. Tapi tetap saja, usaha itu sia-sia karena virus kantukku telah meledak dengan cepat.
“Haduhh, baru bangun tidur Neng?” kata suara diseberang. Suaranya yang sudah familier dan sesekali mampir dimimpiku itu membuat segaris senyum diwajahku.
“Hehe, iya Bang. Ada apa nih? Ngganggu tidur aja!” kataku berpura-pura sebal. Terdengar tawa dari seberang sana.
“Yaelahh, mana ada cewek jam segini baru bangun tidur? Kaya kebo aja kamu! Hahaha.”
“Masbuloh?! Ngapain sih Lex?” masalah buat elo adalah kalimat favorit kami saat sedang berkumpul atau nongkrong bareng, sekedar untuk seru-seruan semata. Biasanya kami menyingkatnya dengan ‘masbuloh’, dan ‘masbuge’ yang merupakan kepanjangan dari masalah buat gue.
“Eng Anu.. Anak-anak semalem bilang kalau hari ini mereka mau ngajak jalan bareng. Gimana kamu bisa ngga?” suara Alex terdengar ragu ditelingaku.
“Emm gimana ya, aku lagi pengen dirumah soalnya. Tapi ngga papa lah kalau Cuma nongkrong aja. Emang mau jalan kemana sih?” sekuat tenaga aku memaksa tubuhku untuk bangun dari tidur. Butuh waktu cukup lama agar mataku bisa benar-benar ‘on’ .
“Gini Ra, berhubung Senin kan libur nih, mereka ngajakin buat camping gitu sekalian refreshing. Tapi berhubung cuaca lagi ngga mendukung, aku nawarin buat nginep divilla keluarga aku aja. Gimana ikut ya?!” satu, dua, tiga, empat, ,, dst. Butuh waktu lama untuk berpikir. Aku benar-benar tak punya pikiran ingin berlama-lama diluar rumah, apalagi sampai menginap. Hening.
“Ra?” ucap suara diseberang sana.
“Eh, i iya Lex? Emm gimana ya, aku Cuma males keluar aja. Belum tentu dapet izin dari papa mama.” Kataku dengan penuh sesal. Aku berharap dia membiarkan diriku absen dari rencana itu.
“Udahh, itu mah gampang Ra. Ntar aku jemput kamu, emm sekitar satu jam lagi. Kamu bawa pakaian, sama barang yang kamu perluin dua hari besok ya. Dont worry, ntar aku yang bilang sama tante Ane. OK? See you later.” Dan begitulah akhirnya dia memutus percakapan kami.

Lima belas menit lagi Alex akan sampai dirumahku. Terpaksa aku harus mengiyakan ajakannya, karena setelah kupikir-pikir aku tidak mau mengecewakan teman-temanku yang begitu antusias dengan rencana ini. Dengan pelan, kusisir rambutku yang tergerai hingga punggung. Setelah memasukkan barang-barang kedalam tas, aku memutuskan untuk memakai T-shirt keren warna merah dengan syal yang menggantung dileherku. Aku cukup nyaman memakai jeans kesayanganku dan tak lupa sepatu keds yang serasi dengan atasannya.
“Dek, ditungguin tuh!” aku melompat tinggi, dengan tangan yang kuletakkan erat diatas jantungku. Lalu secepat kilat yang berbahaya kulemparkan sisirku hingga mengenai kepala kak Dika.
“Awww!! Sakiitt dek!” teriaknya. Tangannya memegangi kepala berambut landak itu.
“Kak Dika!!! Udah dibilangin kalau mau masuk ketuk pintu dulu! Bikin aku sport jantung aja.” Teriakku tak kalah kencangnya. Aku yakin mamaku akan langsung berlari menuju kamarku jika mendengar suara ribut dari kami berdua.
“Hehe, sory lupa. Ditungguin Alex tuh. Tadi juga udah kakak izinin sama mama waktu dia mau pergi. Jadi ya, kamu jaga diri ya, jangan macem-macem.” Dengan menunjukkan wajah skeptis, dia menggerak-gerakkan jari telunjuknya seperti menggelengkan kepala.
“Iya Iya, makasih ya kak.”

Aku turun dengan tas ransel disebelah bahuku. Sementara tangan kananku sibuk memakai jam tangan dan aksesoris, kakiku menuruni tangga dengan perlahan tapi pasti. Alex tampak sedang duduk disofa dengan buku ditangannya. Namun, setelah lebih dekat, ternyata yang dipegangnya adalah komik keluaran terbaru yang sempat diidam-idamkan oleh kakakku. SPTB (seperti biasa). Aku tersenyum kepadanya, dan dia beranjak dari duduknya dengan kecepatan super.
“Eh, udah siap Ra?” katanya, sambil memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jujur, aku kurang nyaman dengan caranya memandangku.
“Udah. Yang lain mana?” tanyaku mencoba mengalihkan tatapan matanya yang setajam pisau belati.
“Yang lain ntar setengah jam lagi baru ngumpul dirumahku. Yuk berangkat. Kita mampir diswalayan dulu buat beli makanan.” Ajaknya, terlihat benar-benar siap untuk pergi.
Keren. Mungkin itu satu dari banyak kata yang menurutku pas untuk Alex setelah menyadari penampilannya. Dan bisa dijamin, dia mendapatkan kata yang lebih dari sekedar keren  dari cewek-cewek lain.

Kami memutari halaman depan rumah Alex yang membentuk jalan mobil seperti lingkaran. Ternyata butuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk membeli semua bahan makanan yang kami butuhkan, hingga membuat wajah teman-teman kami suntuk karena menunggu terlalu lama.
Setelah pertemuan yang singkat dan kami mengatur rencana, semuanya pergi dengan menggunakan mobil sebagai transportasi. Aku, Alex, Joe dan Agni berada dalam mobil Alex yang tentunya lebih sesak dengan barang dan bawaan dibanding mobil yang satunya. Sedangkan Anton, Indri, Kevin, Dany, dan salah satu sepupu Kevin yang kalau tidak salah bernama Keke, ada dimobil Kevin. Sudah sejak kejadian penolakanku beberapa waktu yang lalu, Kevin memutuskan untuk menerima keputusanku menjalani hubungan sebagai teman dengannya dan dia juga ikut bergabung bersama kelompok kami. Dan tentu saja Dany yang sebenarnya adalah sahabat dekat dan teman satu tim basket Kevin ikut dengannya untuk menjalin pertemanan dengan kami.
Sepanjang perjalanan, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol, bernyanyi dan tak henti-hentinya mengucapkan ‘Woow’, ‘Widihh’, ‘Keren’ dan sederet kata yang mengungkapkan kekaguman ketika menjumpai pemandangan indah yang jarang kami temui.
“Emangnya ngga ada yang tinggal divilla kamu ya Lex?” cetus Agni dibelakang kursiku.
“Emm, ngga kok. Villanya Cuma dipakai kalau ada acara keluarga aja. Paling Cuma aku sama kak Alice yang sering kesitu buat refreshing sesekali.” Jelasnya. Matanya tak berpaling dari jalanan.
A bersaudara batinku. Alice dan Alex. Nama yang membuatku terkagum-kagum, apalagi setelah mendengar nama lengkapnya dari Alex. Suatu hari dia pernah bercerita tentang dia dan saudaranya yang hampir mirip itu. Walaupun beda umur mereka sama dengan beda umurku dengan Kak Dika, tapi Alex berkata banyak yang bilang kalau mereka itu seperti saudara kembar yang memiliki wajah yang mirip. Saat aku membayangkan Alex versi wanita, aku pasti akan menganggapnya gadis tercantik yang pernah kutemui. :D
Setelah hampir satu setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai disebuah rumah besar yang klasik dan dikeliingi oleh taman yang terlihat sangat asri. Kalau dibanding dengan halamanku yang tak kalah asrinya, ini adalah versi super besarnya.
 Kami masuk dengan mulut menganga, karena kagum. Alex memang benar-benar anak orang kaya ya? Aku turun membawa ransel dan banyak kantong plastik berisi makanan yang dengan begitu saja diacuhkan oleh teman-temanku, kecuali kalau sudah siap untuk dikonsumsi.
Seluruh penjuru ruangan dipenuhi oleh suara anak-anak yang sedang berkumpul. Suasana yang cukup ricuh, tapi seru dan mengasyikkan. Kami bermain-main sepanjang hari. Berbagi cerita dan pengalaman, makan, ngemil, main games, bernyanyi bersama dengan gitaris baru kita ‘Alex’ yang ternyata adalah mantan anak band. :D  Senang rasanya saat berada disuasana yang mengharapkan waktu untuk berhenti sejenak agar tak menghapus kesenangan yang indah ini. Tapi waktu tetaplah harus berputar, layaknya hidup yang terus berjalan seperti roda yang berputar. Senjapun menyapa kami yang kebanyakan (hampir semua) belum ingin mandi. Akhirnya dengan keengganan yang teramat sangat, kami bubar untuk kekamar masing-masing yang sudah diatur oleh Alex.

“Andai aja tiap hari kaya gini.”gumamku. kami sedang menikmati hangatnya api unggun menerpa tubuh kami dihalaman belakang rumah.
“Kamu bahagia?” tanya Alex, setengah berbisik dan hanya kujawab dengan anggukan pelan. Sulit untuk kupungkiri kalau suaranya yang khas itu mampu menggetarkan jiwa. Tapi cepat-cepat kutangkis perasaan aneh , yang kutahu akan mengakibatkan efek negatif bagiku dan hubungan pertemanan kami.
“Hei guys! Emmm, minta perhatiannya sebentar dong.” Kevin berdiri didekat api unggun, memecah keributan diantara kami. Suara bisik-bisik pun timbul dari teman-temanku. Indri yang duduk disebelahku menyenggol lenganku. Maksudnya? :0
“Aku mau nyanyi buat seseorang , ..” ucapan Kevin terputus karena sorakan dari anak-anak.
“Husst, emm semoga aja salah satu dari kalian tahu siapa yang aku maksud. Lagu ini buat kamu, pencuri hatiku.” Segaris senyum tergambar jelas diwajah orang yang sempat mejadi sosok yang kukagumi itu. Tampan. Aku baru sadar kalau semua mata tertuju padaku dengan pandangan menyelidik. Arggh! Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, meyakinkan mereka kalau yang dia maksud bukanlah aku. Ya, walaupun Kevin terkadang selalu perhatian padaku.
Dan mengalunlah lagu falling in love-nya J-Rocks yang juga merupakan band favoritku dari mulut Kevin.
Kurasakan ku jatuh cinta
Sejak pertama berjumpa
Senyumanmu yang selalu menghiasi hariku
Kau ciptaan-Nya yang terindah
Yang menghanyutkan hatiku
Semua telah terjadi
Aku tak bisa berhenti memikirkanmu
Dan kuharapkan engkau tau...
Mataku terpejam, suara tepuk tangan temanku-temanku mengiringi suara Kevin. Aku membayangkan apakah ini yang sedang kurasakan? Ah, sepertinya tidak. Dan aku harap memang tidak semudah itu untuk menyimpulkan apa yang sedang kurasakan.

..Iam falling in love
Im falling in love with you..

Jarum jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 10.30. teman-temanku mungkin sudah terlelap karena kelelahan. Sedangkan aku disini masih berdiri memeluk tubuhku, memandangi gemerlapnya malam dari balkon lantai dua.
“Belum tidur?” kata suara dibelakangku. Aku mengira itu adalah Kak Dika yang suka mengagetkanku, tapi ternyata hanya ada Alex. Ingin sekali aku meninjunya jika saja aku tidak mampu menahan diri karena terkejut. Melihat ekspresi wajahku, Alex buru-buru meminta maaf.
“Eh Sorry, kaget ya?” katanya lalu berdiri disampingku.
Aku masih diam, meredam keterkejutanku.
“Indah ya Lex.” Ucapku, sambil menengadah menatap pekatnya langit malam yang seperti dihiasi oleh ratusan juta lampu neon diangkasa.
“Iya Ra. Sama indahnya waktu nglihat senyum kamu.”
“Hah?” dahiku berkerut. Apa dia bilang? Apa aku ngga salah denger?
“Udah lupain aja.” Katanya enteng. Meninggalkan tanda tanya besar dikepalaku.
Tiba-tiba saja, sebuah jaket sudah melekat ditubuhku, dengan perlahan Alex membenarkan posisinya agar bisa menutupi tubuhku dari angin malam.
“Nanti bisa masuk angin kalau Cuma pake kaos gini.” Katanya penuh perhatian membuatku mengulas senyum. Jadi ingat sama papa yang suka perhatian sama aku. Semoga aja waktu pulang nanti aku ngga diinterogasi habis-habisan. Yah walaupun Papa buka tipe orang posesif, tapi beliau cukup protektif dan senang mendengar cerita ataupun curhatan dari anak-anaknya.
“Makasih Lex.” Ucapku pelan, yang hanya dibalas tatapan olehnya. SPTB(seperti biasa). Entah kapan dia akan menghentikan kebiasaan menatapnya yang tajam juga menghanyutkan itu padaku. 
“Pernah nonton crazy little thing called love ngga Ra?”aku mengingat-ngingat judul film yang disebutkannya itu. Tapi nihil, Aku hanya menggelengkan kepala.
“Disitu, ada yang bilang kalau kita bisa memenangkan hati orang yang kita cintai dengan menghubungkan bintang-bintang itu membentuk inisial namanya.” jarinya menunjuk kelangit, dan menghubungkan titik demi titik membentuk sebuah huruf yang aku tidak tahu apa yang telah dibentuknya.
Tanda tanya lagi. Apa dia baru mengukir inisial pacarnya? Tapi setahuku dia tidak pernah dekat dengan cewek lain. Yah, setidaknya aku tahu itu saat kita nongkrong bersama. Mungkin dia sedang mengukir inisial cewek yang disukainya. Entahlah.
Dia pun masuk kedalam setelah menyuruhku untuk segera tidur. Beberapa menit sebelum aku melangkah kedalam ruangan, insting dan naluriku berkata untuk menggerakkan jariku. Menghubungkan satu titik ketitik lainnya. Dan terbentuklah, sebuah inisial yang membuatku ingin menumpahkan air mata.


Malam yang terlalu indah untuk menitikkan air mata,
Ini semua karena ‘dia’ yang membuatku mengukir namamu diantara bintang-bintang
Apakah memang masuk akal?
Aku mengukir namamu, berharap bisa mencuri hatimu
Karena demikian yang ‘dia’ katakan,
Haruskah aku menyalahkannya? Apa justru diriku yang terlalu bodoh?
Yah, mungkin memang diriku yang terlalu bodoh,
Kalau bukan karena diriku sendiri, kau pasti tidak akan membiarkan air mata mengalir dipipiku
Aku yakin itu, karena kau memang selalu begitu


“R”







Sembilan,,,

Rara’S POV

Hari ini aku merasa sangat lelah. Terlalu banyak kegiatan disekolah membuatku selalu menantikan hari libur. Memang seharusnya hari libur kemarin aku istirahat dirumah, bukannya menginap dengan teman-temanku divilla Alex. Meskipun begitu aku tak menyesal. Justru sangat berterimakasih pada mereka, terutama Alex.
Aku berjalan kaki menuju rumah setelah mengucapkan terimakasih(untuk kesekian kalinya) pada Alex karena selalu berbaik hati mengantarku pulang.
Tampak sebuah motor cowok yang terparkir dihalaman depan, yang aku sendiri tidak tahu motor siapa itu. Mungkin milik teman kakakku yang sedang berkunjung.
Dan benar saja, ketika aku memasuki ruang tamu tampak seorang cowok yang harus kuakui terlihat, ehmm misterius? Yap, misterius. Itu yang kutangkap dari dirinya yang sedang duduk berbincang dengan Kak Dika.
“Itu dia baru pulang. Ra! Sini bentar.” Suara Kak Dika membuatku berhenti dan membalikkan badan menghadap mereka berdua.
“Ada apa kak?” tanyaku. Wow, wajah cowok itu terlihat lebih jelas. Dia hanya melihat kearahku, tanpa senyum sedikitpun. Baru kali ini ada cowok yang tidak mau memberikan senyumnya saat kuperhatikan. Mungkin dia sedikit cuek? Bukan mungkin lagi, tapi memang iya. Hal itu terlihat dari bahasa tubuhnya dan caranya melihatku.
“ Ini yang kakak ceritain waktu itu. Temen kakak yang juga guru les musik. Ingat ngga?” kak Dika mencoba membuatku mengingat ceritanya yang sudah lebih dari berbulan-bulan dimemory otakku.
Aku Cuma nyengir kuda. Benar-benar lupa. Hanya gelengan kepala yang kuberikan untuk menjawabnya.
“Ngga kaget deh...” katanya skeptis. Lalu menceritakan lagi tentang temannya yang terlihat cuek binti sangar itu.
“YUDA.” Dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku. Kusambut tangannya, dan kurasakan genggamannya yang sangat kuat dan tegas.
“Rara.” Kataku anggun, dan tersenyum simpul.
Coba bayangkan seorang cowok yang tinggi dengan rambut cepak dan kelihatan  seperti personil band rock/metal (yang satu ini, ngga pake baju robek-robek sama anting yang ngga jelas, alias versi kerennya). Celana jeans, jaket kulit hitam. Laki banget. Dan kelihatan macho banget :3 gigit jari deh kalau sudah lihat yang kayak gini. Ini nih tipe seorang Rara : cowok cuek, cakep, tinggi, macho, pemusik pula. :D lengkap sudah buat dijadiin cowok idaman. Nilainya 80 dari 100. Bisa bertambah atau berkurang seiring berjalannya waktu.
“Masih berminat buat les musik?” tanyanya. Suaranya ng-bass. Tambah laki dah, hahaha. Haduh Rara udah mulai miring nih, ngga baik! Bisa-bisa terbang ke awan nantinya.
“Yep! Aku sih pengen banget bisa main musik, tapi ngga punya banyak waktu buat ikutan les yang jadwalnya selalu nabrak sama jadwal sekolah aku.” Tuturku. Biarin aja kalau dibilang cerewet. Emang dari dulu aku pengen banget bisa main musik, tapi ngga punya waktu buat mengasah bakat aja.
“Gitu ya, tapi kamu bisa kok ambil les-nya setelah pulang sekolah atau malam hari.”
“Serius? Murid yang lainnya gimana dong?” tanyaku,
“Udah lah dek, ngga usah dipikirin. Yang penting kan kamu bisa ikut les tanpa mengganggu proses belajar kamu.” Kak Dika ikut memberikan pendapatnya.
“Ihh, ya ngga boleh egois juga dong Kak.” Cetusku. Dia langsung diam, lalu menyenggol lengan temannya.
“Yah, karena Dika sahabat aku, kamu boleh kok ikut les kapan aja. Maksudnya kalau kamu sama aku lagi free. Gimana?”
Oo o o, ternyata karena kak Dika. Yah, kalau gini sama aja dia terpaksa ngasih penawarannya. Tapi nggapapa lah, kapan lagi dapat kesempatan kayak gini. Jarang-jarang.
“Oke deh. Aku ikut.” Kataku mantap.
“Gitu dong!” seru kak Dika. Kakak yang super ajaib. Walau bagaimanapun, aku tidak akan mendapatkan penawaran seperti ini kalau bukan karena kak Dika. Love you so much my brother! :* 
“Minat sama alat musik apa?” tanya Kak Yuda. Melihat umurnya yang kira-kira seumuran dengan kak Dika, mungkin cowok ini pantas untuk kupanggil ‘kak’ juga.
“Emm, pengen bisa semua sih. Gitar, piano, pengen bisa ng-drum juga.” Jawabku dengan senyum lebar. Alisnya sedikit terangkat, mendengar jawabanku. Kenapa, apa ada yang salah?
“Eh, tahu ngga dek, kalau Yuda waktu SMA dulu sering main piano setiap ada acara-acara penting disekolah. Bener kan Yud? Cewek-cewek aja jadi klepek-klepek kalau lihat kamu.” Tawa pun membeluncah disekitarku.   
Oh, jadi kak Yuda juga satu SMA sama kak Dika ya. Tapi aku kok baru lihat sekarang ya, mengingat lamanya mereka berteman.
Kami akhirnya memutuskan jadwal lesku. Dua kali seminggu setiap jam lima sore pada hari Rabu dan jam enam malam tiap hari sabtu.

Setelah berbincang untuk beberapa saat, kak Yuda pamit untuk pulang. Berdasarkan hal yang kutangkap dari pembicaraan mereka, kak Yuda sudah tiga jam berada disini. Andai saja aku pulang lebih awal pasti bisa lebih lama menghabiskan waktu mengobrol dengannya. Terlalu berharap memang.
Aku dan kak Dika mengantarnya sampai pintu depan. Salah satu dari sopan santun yang diajarkan kedua orang tua kami agar memperlakukan tamu dengan baik dan sopan.

“Dia Jomblo!” bisik kak Dika padaku. Aku hampir tidak mendengar yang diucapkannya.
“Maksudnya?” aku sontak berkacak pinggang dan memicingkan mataku kearahnya. Kak Dika tertawa melihat diriku.
“Ya, kali aja kamu naksir dek. Dia kan tipe kamu banget.” Kak Dika berlalu dari pintu, menuju kamarnya.
“Kakak sok tahu ah.” Bantahku. Pipiku bersemu merah. Malu. Kak Dika memang kakak yang paling mengerti diriku.
“Emang kenyataannya gitu! Hahaha” suaranya membuatku semakin memerah.
Aku tidak suka ada orang yang tahu kalau diriku diam-diam suka pada seseorang, dan mencoba untuk menutupi perasaanku itu. Aku mungkin bisa mengelak jika orang lain yang mengatakannya. Katakanlah kedua sahabatku, Indri dan Agni. Aku selalu bisa mengelak dari mereka jika merasa tersudut, tapi tidak dengan Kak Dika.

* * *


Selesai makan malam bersama keluarga, aku langsung menuju kamar untuk mengerjakan PR yang mulai menumpuk seperti gundukan tanah. Bukan anak sekolah kalau tidak ada PR (pekerjaan rumah) yang selalu menanti dimeja belajar untuk segera dikerjakan. Mau tidak mau aku pun harus menjalani susah senang menjadi pelajar dengan senang hati, karena aku tahu ini adalah tugas seorang pelajar yang menjadi generasi penerus bangsa Indonesia ini.
Setelah tiga puluh menit berlalu, terdengar ketukan dipintu kamarku. Aku yang sedang serius malas untuk membukakan pintu itu, karena aku pikir paling Kak Dika atau Mama yang ada disana.
“Masuk!” seruku, tanpa mengalihkan pandangan dari buku biologi.
“Ra.. ?” panggil suara itu. Aku sontak berbalik menyadari kalau itu bukan suara Mama, apalagi Kak Dika. Dan ternyata itu adalah suara Indri yang sedang menutup pintu kamarku.
“Indri!! Kok ngga bilang-bilang kalau mau datang?” tanyaku, girang sekaligus terkejut. Dia hanya tersenyum simpul. Setelah kuperhatikan lebih seksama, ini bukanlah pribadi seorang Indri yang selalu ceria.
“Ada apa In?” tanyaku cemas. Indri malah nyengir kuda melihat kekhawatiranku.
“Emm, Ra. Aku mau.. emm ngomong sesuatu sama kamu. Emm, tapi.. tapi kamu jangan , , jangan marah ya..?” ucapnya, mencengkeram lenganku layaknya anak kecil yang minta dibelikan mainan oleh ibunya.
“Kamu kenapa sih? Udah cerita aja In, nggapapa kok!” bujukku lalu mengajaknya untuk duduk ditempat tidurku. Aku menarik kursi dan duduk dihadapannya.
Indri mulai menceritakan semuanya, tentu saja dengan perasaan harap-harap cemas. Aku bisa melihatnya dari bahasa tubuh dan sorot matanya. Dan setelah dia mengakhiri ceritanya yang lumayan panjang dikali lebar itu, aku tertawa dengan keras. Baru kali ini aku tertawa keras, dan lepas, tanpa meperhatikan sopan santun. Uppss. :D
“Ohh, jadi kamu jadian sama Kevin??” lagi-lagi aku tertawa, melihat ekspresi Indri.
“I Iya Ra, aku takut kamu marah. Kok kamu malah ketawa girang gitu sih Ra?!” indri spontan menempelkan punggung tangannya didahiku.
“Enggak, lucu aja. Kenapa aku harus marah In? Aku ikut senang kamu jadian sama Kevin.” Kataku, benar-benar tulus dari hati.
“Masalahnya bukan gitu Ra, ini , emm.. kamu kan juga suka sama Kevin dari dulu. Iya kan Ra?” aku terkesiap. Diam beberapa saat, sebelum tersenyum tipis.
“Mungkin waktu itu bukan suka seperti cinta yang aku rasain sama Kevin In, aku Cuma kagum aja sama dia. Makanya kenapa aku terang-terangan nolak dia waktu dia nembak aku. Sekarang perasaanku sama dia hanya sebatas rasa suka sebagai teman.” Tanganku meraih jemarinya, mencoba meyakinkannya. Aku memang suka sama Kevin, tapi itu dulu. Sebelum dia nembak aku. Setelah aku lumayan dekat dengannya, ternyata aku tahu kalau dia itu merupakan sosok yang aku kagumi, bukan sosok yang aku cintai. Dan rasa kagumku itu semakin pudar seiring berjalannya waktu karena telah terbiasa.
“Kamu yakin Ra? Aku ngga mau gara-gara masalah ini, persahabatan kita jadi ngga seharmonis dulu.” Ungkapnya, Indri benar-benar khawatir. Wajahnya terlihat sendu. Sedalam itukah kekhawatirannya terhadap persahabatan kami, yang memang sudah terjalin sejak SMP.
“Yakin kok. 100% yakin. Kamu tenang aja, persahabatan kita ngga akan ternodai dengan hadirnya seorang cowok. Kalaupun aku masih suka sama Kevin, aku ngga akan merusak persahabatan kita waktu kamu jadian sama dia In. Kamu jauh lebih baik buat dia daripada Putri yang suka cari gara-gara itu.” Aku lalu terkikik, kenapa juga membandingkan Putri (mantan Kevin yang jail abis) sama sahabatku Indri yang baik hati, tidak sombong dan.. (tambah sendiri kriterianya :D)
 Kami tertawa bersama. Inilah kekuatan persahabatan. Selalu menerima kekurangan satu sama lain, saling percaya, dan saling terbuka. Sama halnya dengan menjalin hubungan yang spesial.
“Makasih Ra. Ngga salah aku milih kamu jadi sahabat aku.” Katanya lirih. Aku merasa terharu, dan terlalu mendramatisir suasana hingga mataku berkaca-kaca. Andai saja ada Agni juga, lengkap sudah tiga sahabat ini.
“Eh, Agni udah tahu?” tanyaku.
Indri menggelengkan kepala. “Baru kamu yang tahu Ra, ini juga aku masih takut soalnya Kevin juga pernah suka sama kamu kan.” Akhirnya keluar juga hal yang mengusik hatinya. Aku tahu dia akan berkata demikian, karena itu juga yang kukhawatirkan.
“Udahlah In, itu kan masa lalu. Jangan pesimis gitu dong. Kalian cocok kok, banget malah.” Aku tersenyum lebar.  Lalu teringat akan sesuatu. “Berarti, waktu dia nyanyi divilla waktu itu buat kamu?” aku tertawa lagi, melihat wajah Indri berangsur merona.
“Ihh, jangan diketawain dong. Aku juga ngga nyangka dia bakal se-nekad itu, yah walaupun ngga terlalu nekad kayak waktu dia nembak kamu dulu. Sebelum acara itu, dia udah bilang kalau suka sama aku, tapi aku cuekin gitu aja.” Begitulah Indri, tapi aku bahagia dia menemukan cowok seperti Kevin. Walaupun aku yang jadi perantaranya secara tidak langsung.
Kami mengobrol tentang hal-hal yang selalu jadi topik pembicaraan cewek. Wajar. Hingga Indri mengeluarkan pertanyaan yang benar-benar membuatku terdiam.
“Emm, aku boleh nanya ngga Ra?” katanya
“Apaan? Ngga soal Putri lagi kan, tenang aja dia ngga bakal nyakitin kamu kok.” Tegasku.
“Bukan, Ini soal Alex. Kamu ngga ada perasaan gitu sama dia?” indri mengucapkan sangat pelan bagian terakhir.
 Dahiku berkerut dan alisku terangakat sebelah, untuk waktu yang cukup lama. Aku berpikir keras. Aku menyadari kalau aku dan Alex sangat dekat. Bisa dibilang akulah cewek disekolah yang paling dekat dengan Alex.
“Ngga tahu. Kok tiba-tiba tanya gitu sih?”
“Ya gimana lagi. Ini tuh udah jadi pembicaraan anak-anak waktu ngumpul kalau ngga ada kalian. Dan kami semua merasa kalau kalian tuh saling suka satu sama lain Ra.” Indri bicara setegas mungkin.
“Aku ngga kepikiran In, ya mau gimana lagi, kamu kan tahu aku kesepian sejak ngga ada Raka yang selalu ada disisi aku.” Terangku, merasa sangat sedih.
“Dan Alex jadi pelarian kamu gitu?” tanyanya. Mataku sontak melotot karena tak percaya cewek didepanku ini akan berkata begitu.
“Kok kamu...” ingin sekali aku berteriak kenapa dia bisa menarik kesimpulan seperti itu. Tapi itu semua teredam ketika dia menenangkanku.
“Ra, bukan maksud aku ngomong gitu. Aku melihatnya kamu itu menganggap Alex sebagai Raka. Tapi kamu ngga boleh gitu Ra. Alex ya Alex, Raka ya Raka. Mereka itu dua orang yang berbeda Ra. Kamu ngga boleh terus terbayang-bayang sama Raka, yang akhirnya membuat kamu menganggap orang yang deket sama kamu itu dia.” Aku langsung terhenyak dari keterpurukanku selama ini. Benarkah demikian? Sejahat itukah diriku? Apa benar yang dikatakan Indri kalau aku selama ini tidak adil memperlakukan Alex yang kuanggap sebagai pengganti Raka?
Air mata mengalir deras dipipiku. Aku menangis, menangis dipelukan sahabatku.
“Aku jahat ya In?” tanyaku tersedu-sedu.
“Enggak Ra, kamu ngga jahat. Kamu Cuma belum menyadarinya aja. Aku tahu kamu sayang banget sama Raka, tapi kamu juga harus melihat Alex dalam hidup kamu Ra. Sebagai Alex yang sesungguhnya, bukan Alex yang kamu anggap seperti Raka.” Indri mengelus rambutku dengan lembut.
Ucapannya semakin menyadarkanku. Bayangan masa-masa ketika aku bersama Alex terputar dikepalaku, berbaur dengan masa ketika aku bersama Raka. Seperti telah melihat film yang sedang diputar, aku tersadar kalau mereka memang dua orang yang berbeda dan memiliki kepribadian yang sangat berbeda.
Harusnya aku tahu kalau Raka tidak akan memperlakukanku seperti apa yang telah dilakukan oleh Alex. Tapi kenanganku bersama Raka telah membutakan mata hatiku tentang seorang Alex yang sangat perhatian denganku.
“Aku baru tahu In, kalau dia berbeda.” ucapku. Kuusap air mata yang belum juga berhenti dengan telapak tanganku.
Indri hanya tersenyum.
Ya, mungkin itu satu-satunya jawaban yang kuharapkan darinya, karena aku tak ingin berpikir lebih dalam lagi.
Kehadiran Indri memberikan kejutan dan sebuah pencerahan bagi seseorang yang terpuruk dengan satu orang sepertiku. Aku sangat berterimakasih padanya yang berusaha membuka mata hatiku. Masih ada orang yang memperhatikan diriku lebih dari seorang Raka. Masih ada orang yang mampu menekan perasaannya demi membuatku tersenyum, seperti Alex.
Lantas kenapa Alex tak pernah mengucapkan sepatah kata pun tentang perasaannya terhadapku? Apa dia takut, atau aku yang terlalu ke-GR-an?
“Mungkin dia takut kehilangan kamu.” Begitu kata Indri, seperti tahu apa yang aku pikirkan. Ya, itu mungkin saja. Tapi mungkin juga tidak. Entahlah. Hidup ini seperti berisi ribuan balok tanda tanya yang membuat kita untuk mencari sendiri jawabannya.

Aku melepas kepulangan Indri dengan berat hati. Dia telah berbaik hati padaku malam ini. Tapi jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karena datang sendiri, aku memohon pada Kak Dika agar mau mengantarkan Indri pulang. Alih-alih rasa terimakasihku padanya yang telah membuka pintu kesadaranku. 




Sepuluh,,,

Rara’S POV

Kamarku dibobol maling!
Itulah yang terlihat dari kamarku yang semula rapi, setelah diobrak-abrik oleh kedua sahabatku. Seperti habis kemalingan. Mau tidak mau aku hanya bisa mengelus dada.
“Apaan nih?!” seru Agni dari tempat tidur.
Oh, kotak besar itu. Belum kusentuh sama sekali.
“Wow, Besar banget Ni. Dari siapa Ra? Kok ngga dibuka?” sambung Indri yang tiba-tiba saja sudah ada didekat Agni.
“Oh,, emm itu aku juga belum tahu dari siapa.” Lalu kuambil kotak itu dari mereka dan kuletakkan dalam lemariku.
“Kok diambil sih! Dibuka dong Ra!” teriak Agni. Setelah memaksa dan merayuku, mereka akhirnya mampu meluluhkan hatiku agar mau membuka kotak itu didepan mereka.
“Wahh, KEREN!!” ucap mereka hampir bersamaan. Sepasang boneka lumba-lumba yang indah yang diletakkan bersama dengan puluhan burung-burung kertas warna-warni. Rasanya seperti menggali harta karun ditumpukan pasir.
“Gila! Kamu dapat penggemar rahasia lagi Ra?”
Entah. Kugali-gali tumpukan burung yang menutupi boneka itu untuk mencari sesuatu yang bisa memberiku informasi.
“Ngga tahu.” Jawabku setelah akhirnya tidak menemukan apa-apa.
“Eh lihat, ini kok ukurannya super banget ya.” Kata Indri sambil mengangkat burung kertas yang sangat besar. Lampu diotakku langsung ‘on’ begitu melihatnya. Kuambil benda itu dari tangan Indri dan kubuka lipatan-lipatan kertas itu. Benar saja, ada surat didalamnya.
Sekilas kupandangi surat itu tapi tidak ada nama yang tertera didalamnya, hanya sebuah inisial. Kuputuskan untuk menyimpan surat yang belum kubaca dibuku biru dongker-ku.
“Kok ngga dibaca sih Ra?” celetus Agni dengan ekspresi kecewa.
“Percuma, ngga ada nama pengirimnya.”jawabku tak acuh. Biarkan saja mereka ngedumel dalam hati. Aku tidak pernah suka membaca surat-surat seperti itu didepan siapapun. Dan aku rasa mereka sudah tahu hal itu, apalagi mereka bukan lagi teman biasa buatku.
“Husst, udah jangan dipaksa. Ntar manyun lagi si Rara.” Suara Indri terdengar riang. Kami semua tertawa dibuatnya.
Ketika beres-beres ruangan kamarku, aku berpikir siapa yang telah mengirim kado itu. Ini bukan hari ulang tahunku. Bahkan masih berbulan-bulan lagi.
Dan yang menjadi tanda tanya besar adalah, kenapa lumba-lumba dan burung kertas? Aku tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau aku sangat menyukai dua hewan itu. Maksudku bukan dalam arti suka yang sebenarnya. Aku suka lumba-lumba karena menurutku lumba-lumba suka berpindah-pindah mengarungi lautan. Hal ini kuartikan sebagai manusia yang juga berpindah-pindah dari satu hati ke hati yang lain hingga menemukan hati yang memang merupakan potongan dari hatinya sendiri (soulmate). Sedangkan burung itu sendiri lebih kuartikan sebagai kebebasan menjalani hidup, dan kebebasan mencari jati diri.
Aku terus berpikir, tapi hanya ada jalan buntu. Aku tak pernah mengatakan hal itu pada siapapun. Pasti orang yang telah mengirim itu adalah orang yang telah mengenalku dengan sangat, sangat baik.

* * *

Aku sedang menyirami tanaman depan ketika mobil Kak Dika memasuki pekarangan. Wajahnya terlihat ceria sore ini. Wajar saja, setiap pulang jalan dengan Kak Shinta dia selalu punya cerita yang menarik seputar kencannya yang siap untuk dibagikan padaku. Cowok memang tidak suka mencurahkan isi hatinya pada seseorang terutama lawan jenis, tapi entah mengapa kakakku yang satu ini malah selalu berbagi denganku. Hampir tidak ada rahasia diantara kami, mungkin karena pertalian darah?
“Ada yang lagi bahagia nih!” seruku tanpa mengalihkan pandangan.
“Hehe tahu aja. Oh ya, hari ini ada les kan sama si Yuda?” oh iya, aku hampir saja lupa. Kulihat jam ditanganku, lalu akhirnya bersyukur jam masih menunjukkan pukul 16.00. masih satu jam lagi.
“Iya, dianterin ngga nih? Aku kan ngga tahu rumahnya kak Yuda.” Ucapku memelas.
“Iya gampang. Si Shadow scream lagi tuh!” katanya setiap kali mendengar dering ponselku.
Aku menuju keteras depan untuk mengambil ponselku, dan terdiam ketika mendapati nama si penelpon.
“Em hallo?” kataku. Sikapku sedikit berubah setiap kali bertemu atau berbincang dengan Alex. Aneh memang, setelah sekian lama kita baru menyadari kalau kita menaruh hati pada seseorang, walaupun aku sendiri belum yakin akan perasaan itu. Secara tidak langsung itu akan mempengaruhi cara kita memperlakukannya.
“Hei, pinjem catatan Matematika dong Non!” katanya tanpa basa-basi.
“Boleh. Kapan perlunya?”
“Emm, kalau bisa sih hari ini. Kamu dirumah kan?”
“Iya. tapi bentar lagi aku mau berangkat les. Sekitar satu jam lagi, atau mau nanti malam aja ngambilnya?” tawarku.
“Yaudah, bentar lagi aku kesitu. Oke?” tanyanya lagi.
“Oke.” Jawabku singkat. Alex menutup teleponnya, tanpa berpikir panjang, akupun masuk kedalam rumah dan bersiap untuk pergi kerumah Kak Yuda.


“Sorry ya Ra, ngrepotin kamu terus.” Kata Alex ketika menerima buku catatanku, dengan senyumannya yang mempesona.
“Santai aja lagi Lex, apa gunanya teman?” ucapku seolah kami berdua adalah teman dari dulu. Alex hanya memicingkan sebelah matanya, dan tersenyum nakal.
“Makasih ya. Mau pergi kemana sih?” tanyanya setelah melihat penampilanku yang sedikit rapi.
“Mau les musik, sama temannya Kak Dika.” Aku tersenyum
“Ohh, aku mau nganterin kok kalau dibolehin sama kamu.” Maunya sih gitu Alex batinku, tapi segera kusingkirkan pikiran yang terlihat berharap itu.
“Ngga usah makasih, ada kak Dika yang siap antar. Lagian aku juga belum tahu tempatnya kok.” Jawabku, mencoba tetap tersenyum. Beberapa detik, suasana kikuk menyelimuti kami berdua.
“Oh yaudah, aku balik dulu ya. Sekali lagi makasih.” Setelah memandangku untuk terakhir kalinya, Alex berbalik menjauh dariku. Secepat dia datang, secepat itu pula dia pergi meninggalkan pekarangan rumah dengan motornya.


Kami berada didepan pintu sebuah rumah yang terlihat bersih dan asri. Kak Dika yang sedari tadi didepanku mengetuk pintu kayu yang besar itu beberapa kali. Setelah menunggu beberapa saat, keluarlah seseorang yang terkesan misterius itu.
“Eh, udah sampai?” sapanya dengan senyum yang hemat.
“Hei Yud. Iya nih, aku langsung balik dulu ya. Nih, Cuma nganterin Rara doang.” Kata kak Dika tanpa basa-basi.
“Oke, hati-hati ya.” Ucapnya sambil memberi tepukan dibahu Kak Dika. Aku hanya nyengir kuda melihat kak Dika yang tega membiarkanku sendirian secepat ini.
“Tenang aja, nanti pulangnya kakak jemput.” Seakan tahu akan perasaanku, dia mencoba untuk membuatku menjadi lebih berani.
“Oke.” Jawabku. Mengamati kak Dika yang sedang memutar mobilnya, aku tidak beranjak sedikitpun dari tempatku sejak kedatanganku kemari. Hingga saat cowok yang lebih tua dariku itu mengajakku untuk masuk kedalam.
“Duduk dulu, aku kebelakang sebentar.” Ucap Kak Yuda sembari menunjuk sofa diruangan 5 x 6 meter ini. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan menatapnya berlalu melalui pintu.
Ruangan ini tidak terlalu besar, tetapi cukup rapi dan indah untuk ukuran seorang cowok. Disudut ruangan tampak alat-alat musik bertengger dengan rapi dan sebuah piano berada didekat tempatku duduk. Dindingnya dihiasi dengan beberapa bingkai foto yang membuatku tertarik untuk mengamatinya lebih dekat lagi.
“Sorry lama.” Suara kak Yuda membuatku berjingkat karena terkejut. Ditangannya sebuah nampan berisi dua gelas minuman dan camilan yang menggugah selera. Aku jadi ingat kalau belum sempat makan siang tadi.
“Oh, ngga usah repot-repot kak.” Kataku sedikit tersipu lalu kembali kefoto ketiga didinding itu.
“Itu waktu aku masih SMA dulu.” Katanya dibelakang bahuku. Difoto itu tampak kak Yuda sedang bermain piano disebuah panggung yang lumayan besar. Lengkap dengan setelan jasnya dia menekan tuts-tuts piano seperti seorang profesional.
“Oh, jadi kak Yuda sering ikut acara-acara musik kayak gini ya?” aku kembali duduk disofa.
“E’em lumayan lah.” Katanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.

Setelah cukup lama berbasa-basi, kak Yuda akhirnya memulai pelajaran dihari pertama ini. Dia menjelaskan tentang not balok dan nada-nada dasar. Aku sedikit mengerti karena pernah belajar secara otodidak dulu, jadi hanya perlu pengulangan untuk lebih jelasnya saja.
“Jari telunjuk kamu kurang pas Ra.” Katanya dibalik piano besar itu. Aku masih diposisi awalku, duduk disofa sambil memegang gitar dan mempraktikan kunci gantung yang telah dia ajarkan.
“Gini kak?” tanyaku tak lepas dari senar yang kutekan dengan jari-jariku.
“Masih belum.” Jawabnya. Berkali-kali aku mengulang dan bertanya tapi masih belum benar juga. Jariku sampai sakit dan lecet karena mencoba terlalu keras.
Saat rasa putus asa-ku mulai memuncak, seketika itu pula kak Yuda dengan kesabarannya yang lebih cocok diartikan dengan sifat cueknya menghampiriku. Dibenarkannya posisi jari-jariku pada senar gitar dan memintaku untuk memetiknya.
“Kalau main musik jangan pakai emosi, harus pakai perasaan.” Begitu katanya, matanya yang teduh menatapku dengan lembut, membuatku terpaku sejenak. Kak Yuda yang tahu akan hal itu, menertawakanku dengan lepas. Aku baru tahu kalau dia punya lesung pipi yang semakin menambah daya tariknya.
“Habis, udah nyoba tapi ngga bisa-bisa.” Kataku manyun.
“Rara tahu ngga kalau ngga ada yang instant? Mie instant aja ngga bisa langsung dimakan kok, harus direbus dulu. Sama seperti belajar ilmu baru. Kamu harus memahaminya, dan berusaha sedikit demi sedikit. Aku dulu juga ngga ngerti sama sekali tentang musik, tapi karena aku mau, makanya aku mampu. Kamu juga harus begitu Ra.” Jelasnya, membuatku terkagum-kagum.
“Ohh, gitu ya.” Suaraku yang polos membuat kak Yuda menyapukan tangannya dikepalaku lalu mengacak-ngacak rambutku dengan usil.
Hal yang selalu membuatku bertanya-tanya. Apakah ada arti tersendiri dari gerakan mengacak-ngacak rambut ini? terutama oleh cowok. Alex yang sering melakukan itu padaku selalu tak acuh setiap kali aku bertanya kenapa dia dengan usil merusak tatanan rambutku. Aku pun sudah sering bertanya pada diri sendiri tapi tak pernah mampu mengartikannya. Selalu samar-samar arti yang terkandung dari gerakan itu. Apakah itu berarti rasa ketertarikan? Atau rasa sayang? Atau hanya sekedar iseng? Atau mungkin kak Yuda hanya sedang sebal padaku yang LOLA( loading lama ) menangkap penjelasan darinya. :D

Aku berdiri didepan pintu rumah kak Yuda. Setelah dua jam mendapat pelajaran dihari pertama, aku mulai mengerti kalau kak Yuda adalah cowok cuek. Namun, dibalik sifatnya itu, dia orang yang  perhatian dan juga sabar.
Aku sedikit mencuri pandang dengannya ketika dia sedang berdiri bersandar didinding dengan posisi kaki kiri menyilang dan tangan didalam saku celana. Entah mengapa, semakin lama cowok itu semakin terlihat menarik. Namun, segera kuhapus pikiran itu setelah mengingat akan perasaanku pada seseorang yang baru kusadari akhir-akhir ini. Apalagi dia adalah guru les-ku dan juga teman dari kakakku,  tidak baik menyukai orang yang seharusnya kita hormati sebagai pengajar. Kagum boleh, tapi tidak boleh lebih dari itu. Sadar akan hal itu, senyumku pudar bersamaan dengan rintikan air yang turun dari langit.
“Masuk dulu Ra, Dika-nya juga belum sampai.” Katanya terlihat kedinginan.
“Emm, Kak Yuda masuk aja dulu. Aku nunggu disini aja. Bentar lagi kak Dika juga sampai kok.” Dengan bimbang aku melirik jam tanganku, dan benar saja kak Dika sudah molor lima belas menit dari janjinya menjemputku.
“Beneran nggapapa?” tanya kak Yuda. Aku terdiam sejenak untuk berpikir.
“Ohh, nggapapa lah kak. Aku nunggu disini aja.” Kataku gengsi, dan benar-benar merasa tidak yakin. Semoga saja sisi gentleman kak Yuda tersentuh dan memilih untuk menemaniku sampai kak Dika datang.
“Yaudah, aku masuk dulu ya.” Katanya lalu beranjak dari tempatnya dan berlalu meninggalkanku.
Aku hanya tersenyum. tersenyum kaku lebih tepatnya. Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa aku bisa dengan mudahnya termakan oleh rasa gengsi-ku. Sekarang aku harus menerima akibatnya, menunggu sendirian didepan rumah orang yang baru-baru saja kukenal dan ditengah hujan yang semakin deras.
“Yah, kok beneran masuk sih.” Gumamku penuh kekecewaan.
Mataku berkeliling keseluruh penjuru teras dan taman rumah kak Yuda. Gelap. Aku yang sudah kedinginan merasa bulu kudukku berdiri karena merinding. Kutendang pikiran naif dan konyolku yang selalu saja membuatku ingin berlari dan berteriak sekuat tenaga sama seperti pemeran utama difilm-film horor. Dengan perasaan takut, aku duduk disalah satu kursi didepan rumah Kak Yuda yang mulai terasa lembab karena hujan. Beberapa menit aku menunggu, mencari kesibukan dengan mengotak-atik ponselku walaupun jelas tidak ada pesan atau telepon masuk. Melihat ponselku, aku teringat akan Alex. Ingin sekali aku menelponnya, namun niat itu kuurungkan dan lebih memilih untuk menghubungi nomor kak Dika.
Pintu rumah kak Yuda terbuka ketika dering kedua terdengar diponselku. Sosok yang menarik itu muncul dari pintu itu dengan payung ditangannya. Kuamati kak Yuda sudah berganti pakaian, terlihat lebih rapi.
“Percuma, Dika lagi sibuk katanya. Jadi, ngga bisa jemput kamu.” Kata kak Yuda, sambil menunjuk ponselku. Kenapa dia bisa tahu kalau aku menghubungi kak Dika? “Lah terus? Aku pulangnya gimana dong?!” aku yakin terlihat seperti gadis manja karena kak Yuda begitu heran melihat ekspresiku.
“Aku yang nganterin kamu pulang.” Ucapnya, sambil membuka payung dan menarik tanganku.
Aku yang masih manyun, terkejut dengan sikap spontan kak Yuda. Dia menarik tanganku untuk mendekat padanya. Benar-benar susah ditebak.
“Jalannya hati-hati ya, mobilnya ada disamping rumah situ.” Jarinya yang bebas menunjuk kearah yang dimaksud. Butuh sekitar delapan meter jauhnya untuk sampai disana. Aku hanya menganggukkan kepala ketika kak Yuda sudah menuntunku menuju mobilnya. Tangan kanannya merangkul bahuku dan mendekatkan tubuhku kepadanya. Aku berpikir apakah kak Yuda sedang mencari kesempatan atau karena tidak ingin aku kehujanan.
“Kalau ngga gini, badan kamu bisa basah kena hujan.” Jelasnya, seolah tahu apa yang aku pikirkan.
“Lhoh, kok kak Yuda... kok bisa...” kataku terbata-bata. Sekilas terlihat dia menyunggingkan senyumnya.
“Udah, masuk gih.” Katanya seolah menyuruhku untuk berhenti bicara. Dia membukakan pintu untukku, dan segera menuju kepintu pengemudi.
























Sebelas,,,

Normal POV

Sekumpulan pelajar itu sedang bergurau dihalaman belakang rumah Rara. Dua diantara mereka sedang saling mencuri pandang ketika membicarakan tentang program belajar yang akan mereka terapkan untuk meningkatkan nilai mereka. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka angkat bicara.
“Eh eh, kayaknya ada yang baru jadian nih!?” teriak Anton dari belakang bahu Alex. Keributan mulai timbul dari suara kasak kusuk diantara mereka.
“Emang siapa yang baru jadian? Kamu nton?” tanya Alex yang selalu kurang up to date tentang perkembangan asmara teman-temannya.
“Siapa lagi kalau bukan...” belum sempat Anton menyelesaikan kalimatnya, sebuah botol minuman menghantam dirinya dari tempat para cewek duduk. Semua mata terkejut melihat Indri melakukan hal itu.
“Lhoh, kok pake acara nglempar segala sih In?! Santai dong, hahaha.” Ucap Anton sambil bersiap menerima serangan kedua dari Indri.
“Ini ada apa sih?” tanya Agni yang belum diberi tahu oleh Indri. Rara yang sudah mengetahui akan hal itu memilih untuk menutup mulut dari pada harus menerima timbukan dari Indri. Diam-diam dia memperhatikan cowok yang ada diseberangnya, begitupun cowok yang sedang diperhatikan itu mencuri pandang dengannya.
“Udah, biarin aja.” Kata Indri.
“Ini pada ngomongin apa sih? Kok pada ngga jelas gini.” Keluh Agni yang terlihat kesal. Indri merasa bersalah tidak memberitahunya, dia takut Agni akan marah padanya.
“Sebenarnya, aku baru jadian sama Indri.” Kata Kevin. Tak disangka-sangka pengakuannya menimbulkan reaksi berlebihan dari sekumpulan anak disitu, kecuali Rara dan Anton yang sudah tahu lebih dulu.
“Hahh?!!! Kamu jadian sama dia In?! Aku kok bisa ngga tahu sih?” teriak Agni terkejut. Dalam hatinya dia merasa dikhianati.
“Sorry Ni, sebenarnya aku mau kasih tahu kemarin tapi aku belum yakin kalau Kevin beneran serius sama aku. Dan aku pikir, kita lebih baik backstreet aja pacarannya” Jelas Indri, menundukkan kepalanya. Gerakan saling sorot mata antara anak cowok menandakan seolah akan ada perselisihan diantara mereka. Kevin yang telah membuat pengakuan merasa bersalah membuat pacar barunya tersudut.
“Tapi aku kan sahabat kamu In?! Ngga seharusnya aku tahu hal ini dari orang lain. Kamu udah tahu Ra?!” tanya Agni berpaling kearah Rara dengan mata yang mulai memerah menahan air mata.
Rara yang tahu akan perasaan Agni menundukkan kepalanya semakin dalam selama beberapa detik, sebelum dia menghampiri sahabatnya itu.
“Iya Ni, lusa kemarin Indri ngasih tahu aku soal ini, tapi bukan berarti dia melupakan kamu sebagai sahabatnya karena ngga ngasih tahu tentang hubungannya sama Kevin. Dan kamu ngga tahu hal ini dari orang lain kok, kita semua kan teman, ngga boleh mempermasalahkan hal sepele kayak gini.” Rara dengan sabarnya meyakinkan Agni agar percaya padanya. Agni terdiam, ditampiknya tangan Rara yang menyentuh bahu kanannya. Dengan jalan yang tegas dia menghampiri Indri, sorot matanya yang tajam seolah membuat keberanian Indri merosot dari tempatnya. Semua cowok disitu merasa khawatir, terutama Kevin.
Sejenak dia berhenti didepan Indri, dan menatapnya dengan tajam. “Bodoh!!” teriaknya.
Semua orang disitu terkejut dengan hal itu. Rara yang baru ingin mencegah Agni, tiba-tiba berhenti ketika melihat sahabatnya itu memeluk Indri.
“Bodoh banget sih kamu! Kenapa ngga bilang dari awal coba? Aku ngga bakal melarang kamu kalau memang serius sama Kevin” perasaan lega merasuki semua orang yang ada disitu. Tawa pun membeluncah diantara mereka. Para cowok yang sudah tahu akan hal itu segera mencengkeram bahu Kevin untuk meminta traktiran darinya sebagai pajak jadian. Kevin yang memang solidaritas antar kawan-nya tinggi menyanggupi hal itu dan disambut sorakan dari anak-anak cowok.
“Eh Kevin! Jangan sekali-kali nyakitin sahabatku ini! Kalau sampai bikin dia nangis, kamu bakal berurusan sama aku.” Ancam Agni dengan tegas sambil mengepal tinjunya menghadap Kevin. Rara yang tadinya berada diseberang, kini sudah berada ditengah-tengah sahabatnya dan memeluk bahu mereka berdua.
“Sama aku juga!!” teriak Rara tak mau kalah. Mereka semua kembali tertawa bersama-sama.
“Siap ibu-ibu!” balas Kevin tak kalah konyolnya, yang disambut dengan lemparan kerikil dari Agni dan Rara.



Sementara Indri dan Kevin sedang pergi membeli makanan sebagai bentuk traktiran mereka, Agni, Rara, Anton, Joe, Alex dan Danny sedang sibuk mengerjakan tugas matematika dari bu Frida. Setiap kali mereka mendapat tugas kelompok, selalu rumah Rara-lah yang menjadi tujuan utama karena udaranya yang sejuk dan asyik untuk ngumpul. Mama Rara pun tak tanggung-tanggung menyediakan camilan lebih dilemari es-nya untuk teman-teman Rara yang selalu senang belajar dirumahnya.
“Yang ini gimana Ra?” tanya Alex sambil menyodorkan bukunya kearah Rara. Karena nilai matematika Rara yang paling tinggi diantara mereka, dengan mudahnya dia menjelaskan cara mengerjakan soal yang ditanyakan oleh Alex.
“Makasih yah.” Kata Alex sembari mengacak-ngacak rambut Rara. Sebuah penghapus meluncur kewajah Alex dengan telak.
“Ciyyeee! Ciyye! Kayaknya ada yang mau nyusul Indri sama Kevin nih!” seru Joe yang duduk disamping Alex. Rara manyun dan pura-pura tak peduli dengan ucapan temannya itu.
“Apaan sih!” ucap Alex, meninju bahu temannya. Joe kemudian membisu setelah menerima peringatan dari Alex. Teman-temannya yang lain hanya terdiam, melihat hal itu. Dalam hati mereka masing-masing semakin tahu kalau kedua temannya itu saling menyimpan ketertarikan. Agni yang pura-pura serius menyembunyikan senyumannya dibalik buku catatannya.
“Dek! Ada yang nyariin nih.” Teriak kak Dika dari pintu belakang. Rara menoleh kearahnya, dan kembali lagi ke soal seolah tidak peduli.
“Ra Ra! Itu tuh Ra!” Agni yang sedari tadi diam menyenggol lengan Rara, dengan gusar. Tampak kepanikan menyelimuti wajahnya yang manis.
“Apaan sih Ni? Lagi serius nih.” Balas Rara yang tak berkutik.
Alex memperhatikan seseorang yang sedang menuju tempat mereka dengan seksama, ekspresi bingung dan penasaran tampak diwajahnya. Lalu dengan cepat dia melihat kearah Rara berkutik dengan soal-soalnya.
“Siapa Ra?” tanyanya.
“Apanya yang siapa?” Rara yang tidak mengerti mendongakkan kepalanya menatap Alex, dilihatnya cowok itu sedang menatap kearah lain. Rara terperanjat setelah melihat orang itu. Tanpa sadar dicengkeramnya buku yang penuh soal-soal itu hingga menimbulkan bekas lekukan. Mata Rara berkaca-kaca melihat orang yang sedang tersenyum kepadanya. Ingin rasanya dia berlari kepelukan orang itu, namun rasa sakit yang dia simpan justru menekan hasratnya untuk melakukan hal itu. Dengan penuh perhatian digenggamnya tangan Rara oleh Agni yang tahu tentang perasaan sahabatnya itu.
“Ra..Raka?”ucap Rara. Suaranya parau karena menahan air mata. Lidahnya seakan kelu untuk berkata-kata. Dilihatnya sekali lagi orang itu, dia bertanya-tanya apakah semua ini nyata? Apakah orang yang ada dihadapannya benar-benar Raka? Kenapa dia baru datang saat luka yang Rara rasakan berangsur sembuh? Kedatangan Raka seakan membuka luka lama yang dipendam olehnya selama ini.
“Hei Ra, apa kabar? Bisa bicara sebentar?” Raka menatap Rara dengan penuh perasaan, dan baralih keteman-temannya secara bergantian. Melihat keadaan Rara yang terlihat bahagia bersama teman-teman barunya, ada sedikit kelegaan dihati Raka. Kekhawatirannya selama ini akhirnya sirna setelah melihat Rara secara langsung.
Rara menganggukkan kepalanya dan berlalu kedalam rumah diikuti oleh Raka dibelakangnya.
Didapur rumahnya, Rara berhenti dan berbalik pada Raka. Air matanya sudah diujung pelupuk, dan dia sudah tidak tahan untuk mencegahnya mengalir dipipinya.
“Ra..?” ucap Raka terlihat khawatir. Didekatinya sahabat kecilnya yang paling disayangi itu, namun tangan Rara mencegahnya untuk berjalan lebih dekat lagi.
“Kenapa Ka? Kenapa tiba-tiba kamu datang setelah sekian lama ngga ada kabar? Kenapa?!” dengan sekuat tenaga, dia menahan semua amarahnya yang mustahil sekali untuk dilakukan. Semua rasa sakit dikeluarkannya perlahan-lahan melalui derai air matanya.
“Ra.. dengerin dulu..” ucapan Raka kembali dipotong dengan tangis Rara yang semakin menjadi-jadi.
“Mungkin aku emang ngga ada artinya buat kamu Ka, tapi ngga dengan perasaan aku ke kamu. Sedikitpun kamu ngga mikirin persahabatan kita, harusnya aku tahu dari awal...”
“.. Kamu ngga tahu kan gimana keadaan aku selama kamu jauh disana? Apa kamu mikirin aku Ka? Ngga! Kamu sama sekali ngga mikirin perasaan aku! Dan sekarang kamu tiba-tiba datang gitu aja, apa susahnya sih ngasih kabar ke aku?!” Rara menangis histeris, setelah menumpahkan kekesalannya selama ini.
“Dengerin aku dulu Ra, please dengerin aku ngomong. Sekali ini aja Ra. Mungkin ini kesempatan terakhir aku buat ngomong sama kamu.” Raka berkata pelan, seakan takut hal yang akan diutarakannya akan lebih menyakiti Rara.
“Maksud kamu?” Rara tersadar dari tangisnya.
Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Saat akan bicara, rasa sakit yang tak tertahankan membuat Raka terbatuk-batuk. Dilihatnya telapak tangannya yang ternodai dengan warna merah. Tubuhnya berkeringat dan Raka terbatuk kembali. Rara yang melihat noda darah ditelapak tangan Raka mendekatinya dan dengan wajah khawatir bertanya pada Raka.
“Ini yang mau aku kasih tahu ke kamu. Hidup aku udah ngga lama lagi Ra.” Wajah Raka tertunduk kemata gadis yang sangat mempengaruhi hidupnya selama ini.
“Apa maksud kamu? Kamu kenapa Raka?” diperhatikan tubuh Raka yang terlihat jelas menjadi lebih kurus. Matanya yang dulu indah, kini dikelilingi oleh bulatan hitam seperti orang yang tidak tidur beberapa hari.
“Kamu kenapa Ka?! Cerita sama aku, kamu kenapa?” Rara terus merajuk, seakan mematahkan keinginan Raka untuk menceritakan tentang penyakitnya.
Raka mendekat kearah Rara yang kebingungan, dia lalu memeluk orang yang sangat dia sayangi itu.
“Aku kena kanker Ra..” katanya lirih. Hati Rara seperti ingin meledak mendengarnya. Dia yang tak percaya ucapan Raka, menatapnya seakan meminta Raka untuk menjelaskan kejutan yang menyakitkan itu.
“Iya Ra, aku kena kanker Paru-paru. Aku menderita ini sejak kelas tiga SMP. Waktu aku pergi ke Surabaya, aku menjalani pengobatan serius disana karena dokterku memvonis hidupku ngga akan bertahan lama Ra. Aku takut, aku takut mengatakan yang sebenarnya sama kamu. Aku ngga akan sanggup Ra, kamu ngerti kan gimana perasaan aku?” air mata Rara meleleh mendengar penjelasan Raka, dengan erat dia memeluk tubuh Raka yang terasa sangat lemah. Dalam pelukan Raka, Rara menangis tersedu-sedu seakan itu adalah hal yang wajar untuk saat ini.
“Kenapa baru sekarang kamu bilang Ka? Kenapa?! Aku ngga mau kehilangan kamu Raka, aku ngga mau!!”
“Maafin aku Ra, maafin aku.” Ini untuk terakhir kalinya. Untuk terakhir kalinya Raka bisa bertemu dengan Rara. Dengan sekuat tenaga, Raka menahan rasa sakit yang semakin menggerogoti tubuhnya. Kini hanya semangatnya untuk bertemu orang yang disayangi yang mampu menguatkannya.
“Kamu udah baca suratku Ra?”suara Raka memecah keheningan.
“Surat?”tanya Rara tak mengerti. Seperti tidak ingin menjawab pertanyaan Rara, Raka kembali memeluknya dengan penuh kasih antara sahabat yang sudah lama tak bertemu.


Rara kembali kehalaman belakang rumahnya bersama Raka. Diperkenalkannya Raka kepada teman-temannya, terkecuali Indri dan Agni yang sudah lama mengenal Raka.
“Apa kabar Ka? Kok sekarang kamu kurus banget sih? Wah, pasti gara-gara ngga ada Rara yang perhatiin terus nih!”ucap Agni ceplas-ceplos. Raka tertawa pelan mendengarnya.
“Ini pacar kamu Ra?”tanya Anton, yang berusaha keras menahan rasa penasarannya, namun gagal. Sekilas, Alex memperhatikan Raka dan Rara secara bergantian. Perasaan bergemuruh dihatinya, membuat dirinya ingin pergi dari tempat itu. Akan tetapi setelah beberapa saat, dia merasa kalau ada yang salah dengan Raka. Raka  mengingatkannya pada kakaknya dulu.
“Oo bukan, aku sahabatnya Rara dari kecil. Pengennya sih dijadiin pacar bro, tapi si Rara nolak terus sih.” Jawab Raka bergurau. Semua yang ada ditempat itu tertawa mendengarnya. Setelah beberapa menit berlalu, kecanggungan diantara mereka sirna  karena Raka adalah anak yang asyik diajak ngobrol tentang apapun.
“Kamu habis nangis Ra?” bisik Alex sepelan mungkin. Rara menatapnya dengan sorotan terkejut dan segera tersenyum kaku.
“Hah? Enggak kok.” Katanya berbohong.
“Aku tahu Ra.”ucap Alex, membuat Rara menatap penuh arti kepadanya. Raka yang sempat melihat hal itu, merasa kalau Alex tahu semua tentang Rara.
“Eh eh, Ada yang tertarik ikut les musik ngga?”kata Rara mencoba mengalihkan perhatian Alex terhadapnya.
“Dimana Ra?” tanya Kevin yang sedang duduk berdampingan dengan Indri. Nampaknya mereka sedang diselimuti rasa bahagia setelah rahasia percintaannya diketahui oleh semua yang ada disitu.
“Ditempatnya teman kakak aku. Namanya Kak Yuda, satu kampus juga sama kak Dika.”jelas Rara. Dia yang merasa kikuk saat harus les sendirian, menganggap ini adalah kesempatan emas baginya untuk mencari teman saat les nanti.
“Dari namanya keren tuh Ra. Orangnya keren juga ngga?” ceplos Agni lagi, yang mendapat sorak-sorai dari anak-anak yang lain.
“Orangnya sih keren Ni, tapi cuek gila. Walaupun gitu, dia orangnya baik kok.” Alex yang mendengarnya, merasa bahwa nama guru les Rara sudah tidak asing baginya.
“Yang cuek-cuek gitu bukannya tipe kamu ya Ra?” sambung Raka, yang mencoba terlihat biasa saja walaupun sedang menahan sakitnya.
“Apaan sih?!”balas Rara, dilemparnya kulit kacang kearah Raka.
“Lhoh, Rara kan udah ada yang punya!” Indri yang tiba-tiba angkat suara mendapat sorotan dari teman-temannya.
“Eng ngga jadi deh.”katanya lagi. Semua mata kini melihat Rara dan Alex secara bergantian.
“Ciyyee ciyye!!” teriak Anton, Joe, Danny, dan Kevin secara bersamaan. Raka merasa penasaran tentang siapa yang menyimpan rasa terhadap Rara. Bukan karena dia cemburu atau merasa tersaingi, dia justru merasa senang karena ada yang memperhatikan Rara mengingat betapa singkatnya sisa hidup yang dia miliki. Ini berarti dia akan lebih lega jika harus pergi meninggalkan Rara. Karena terlalu serius berkutik dengan pikirannya, Raka merasa dadanya seperti dililit dengan kuat. Dengan rasa sakit yang teramat sangat, dia menahan agar bisa bertahan lebih lama lagi. Namun ternyata semua itu sia-sia karena tak berselang lama, dia kembali batuk dan muntah darah. Rara memberikan sapu tangannya kepada Raka, dengan cemas menanyakan keadaan Raka.
“Aku baik-baik aja kok Ra. Oh iya, aku balik dulu ya guys. Udah sore juga nih.” Raka beranjak dari tempatnya dengan sempoyongan. Perasaan cemas menyelimuti semua yang ada disitu, tak terkecuali Alex. Apa benar yang dipikirkannya tentang Raka?
“Kamu ngga papa sob?” tanya Joe sambil membantu Raka berdiri dan menepuk bahunya.
Raka tersenyum simpul dan menatap sekelilingnya. “Ngga papa. Makasih buat obrolannya ya, senang bisa ketemu kalian semua.” Rara terenyuh mendengar Raka, seakan itu adalah salam perpisahan untuk mereka.
“Yoi, kapan-kapan ngumpul bareng lagi ya.” Sahut anak cowok yang lainnya, yang hanya dibalas senyuman oleh Raka. ‘kapanpun kalau Tuhan masih ngasih kesempatan buat aku’ batin Raka.
Dengan tangan menggandeng Raka, Rara mengantar sahabatnya untuk masuk kedalam rumah. Dia menekan semua kesedihan dan ketakutannya tentang Raka yang semakin lemah kondisinya. Ketika sudah berjalan beberapa meter, Raka meminta untuk berhenti dan berbalik kearah teman-teman Rara yang menjadi teman barunya.
“Tolong ya, bilangin sama yang suka Rara buat jaga dia. Aku titip Rara sama kalian semua.”ucapan Raka membuat air mata meleleh dipipi Rara. Semua merasa bingung dan terpaku dengan ucapan Raka.
“Maksudnya apa?” tanya Agni, disusul oleh pertanyaan lainnya yang muncul dari Indri dan Joe. Tanpa menjawab semua pertanyaan itu, mata Raka tertuju pada Alex yang dibalas dengan anggukan olehnya.

Setelah hari ini, dia akan merasa lebih lega. Setelah mengetahui semuanya, dia akan merasa bahagia melihat sahabat kecilnya dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padanya. Beban yang dirasakannya selama ini seakan berkurang melalui sebuah pengakuan. Dalam kesakitannya dia mencoba untuk terus tersenyum kepada sahabat yang disayanginya. Berpikir kalau mungkin itu adalah senyuman terakhir yang bisa diberikan olehnya. Dia berharap sahabatnya akan kuat menghadapi hidup setelah hari ini, terutama setelah kepergiannya nanti. Seandainya saja Tuhan masih memberikan sisa hidup yang panjang untuknya, akan dilakukan untuk membuat hal yang tak terlupakan yang akan menjadi kenangan terindah untuknya dan sahabatnya.
Namun harapan hanya tinggal harapan. Dia harus tersadar dan menyadari kenyataan. Kenyataan akan pahitnya sebuah kehidupan.





Dua belas,,,

Rara’S POV

Aku berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit yang terasa sangat sepi. Sudah hampir satu hari penuh aku tidak meninggalkan tempat ini. Kekhawatiranku akan kondisi Raka sudah berada dipuncaknya. Kalau saja dia tidak memaksakan dirinya untuk datang menemuiku, pasti kondisinya tidak akan semakin memburuk seperti sekarang ini.
Setelah membeli mie instan yang sebenarnya tidak dianjurkan oleh mamaku, aku duduk dibangku taman rumah sakit. Tanpa nafsu makan sedikitpun aku memaksakan diriku untuk bisa menelan makananku. Terkadang aku merasa sendirian adalah hal yang paling menyenangkan, tetapi sendirian disaat seorang sahabat sedang memperjuangkan hidupnya bukanlah hal yang ingin kurasakan. Tanpa kusadari air mataku meleleh dengan sendirinya.
“Ra..?” sebuah suara muncul dari sampingku, diikuti dengan tangan yang menyentuh bahuku. Sejenak aku menatap sosok itu, sebelum akhirnya tenggelam dalam tangisku.
“Sabar Ra, kamu yang sabar.”katanya pelan, berusaha untuk menghiburku.
“Aku takut Lex, aku takut dia bakalan ninggalin aku.” Kutenggelamkan wajahku dikedua telapak tanganku. Alex yang entah dari mana tahu keberadaanku duduk disampingku dan memeluk bahuku untuk membuatku tenang.
“Dia ngga akan ninggalin kamu Ra, percaya sama aku. Sekarang kamu jangan nangis lagi, kasihan Raka kalau harus melihat kamu menangisi dia.” Entah memang benar, atau hanya ingin menghiburku aku percaya begitu saja dengan ucapan Alex. Kuusap wajahku yang basah karena air mata.
“Nah gitu dong. Kalau senyum kan tambah cantik.” Aku tersenyum mendengarnya.
“Kamu darimana tahu aku disini?” tanyaku yang sedari tadi masih penasaran terhadap Alex yang tiba-tiba datang.
“Insting, kamu kan ngga bisa menghilang begitu aja dari radarku.” Katanya sambil tertawa ringan. Membuatku meninggalkan tinjuku dilengan kanannya.

Aku kembali keruangan dimana Raka dirawat. Ketika mendekati ruangannya, terlihat banyak keluarga Raka yang sedang berkumpul disitu. Kepanikan terlihat menghiasi wajah mereka. Aku yang melihat hal itu berlari mendekat dan bertanya apa yang terjadi. Namun, tak satupun dari mereka memberitahuku yang sebenarnya. Tanpa pikir panjang kubuka pintu kamar Raka, dan terkejut bukan main melihat sahabatku yang telah terbujur kaku. Seperti granat yang akan meledak, hatiku bergemuruh menahan sakit. Aku terpaku disudut kamar, tangis dari orang tua Raka memenuhi ruangan hingga membuatku ikut merasakan sakitnya rasa kehilangan. Kenapa secepat ini Tuhan? baru kemarin dia menemuiku, dan sekarang kau sudah mengambilnya dari dunia ini. Apakah salah jika aku merasa marah? Apakah salah jika aku berteriak karena ketidakadilan ini?
Aku tersungkur ditempatku karena tak sanggup menopang tubuhku untuk berdiri. Tangisku pun sudah pecah sedari tadi. Saat dokter dan para suster tiba diruangan, aku masih belum bisa mengontrol diriku sendiri. Dengan sekuat tenaga aku memaksa tubuhku untuk bergerak. Kudekati sahabatku yang sudah pergi dan menatap wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Mama Raka mendekati dan memelukku dengan erat. Entah bagaimana sakitnya kehilangan anak yang paling disayangi, mungkin eratnya pelukannya mampu menjelaskan kalau Beliau sangat kehilangan. Beliau membisikkan sesuatu, yang membuatku merasa sangat bersalah. Andai saja aku datang lebih cepat, atau andai saja aku tidak menuruti Mama Raka untuk membeli makanan, aku pasti bisa memenuhi keinginan Raka untuk dapat melihatku sekali lagi. Setidaknya sebelum dia benar-benar pergi.


“Ini ada lagi Ra, katanya ada dimeja kamar Raka waktu mamanya bersihin kamarnya.”suara kak Dika muncul, memasuki kamarku ketika aku sedang membaca surat pertama Raka yang dikirim bersama boneka lumba-lumba dan burung kertas. Seolah tahu betapa hancurnya hatiku, kak Dika memelukku dengan penuh simpati.
“Kamu yang kuat ya, Raka pasti ngga mau nglihat sahabatnya jadi cengeng gini.” Katanya sambil mengusap air mata yang mengalir dipipiku. Aku menganggukkan kepalaku, seolah kata-kata adalah hal tersulit yang bisa kukeluarkan.

Untuk Rara,,,
Mentari ngga akan pernah pergi untuk meninggalkan bumi,
Dia ngga akan berhenti untuk memberikan sinarnya yang menghangatkan jiwa.
Sama seperti aku, aku ngga akan meninggalkan kamu begitu aja
Aku juga ngga akan berhenti memberikan semangat untuk kamu,
 Semangat agar kamu tetap kuat menjalani hidup meski tanpa kehadiranku.
Ra,  kalaupun aku udah ngga ada didunia ini, aku ngga mau melihat kamu bersedih
 Aku mau Rara tetap tersenyum, aku mau Rara tetap tegar  
Aku percaya, akan ada banyak orang yang sayang sama kamu,
akan ada yang selalu perhatian dan juga akan ada yang menggantikan diriku dihidupmu,
saat semua itu terjadi, cukup ingat aku sesekali disaat kamu merasa sendirian,
“R”

“Ngga ada dan ngga akan pernah ada yang bisa menggantikan kamu Raka.” Begitu kubaca surat terakhir dari Raka, kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Dorongan mental diberikan oleh teman-temanku yang sangat terkejut dengan meninggalnya Raka yang baru mereka temui, mereka mencoba menghiburku dan memberi motivasi agar aku tetap kuat dan sabar. Aku bertanya-tanya, apakah mereka pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang disayangi? Mungkin mengatakan untuk tetap kuat lebih mudah daripada menjalaninya. Perlahan, kupejamkan mata dalam keheningan malam. Aku ingin terlelap secepat mungkin, berharap ini semua hanyalah sebuah mimpi buruk saat aku terbangun nanti.




Apa aku merasa baik-baik saja dan tabah setelah meninggalnya sahabat kecilku? Jujur aku jauh dari kata ‘baik’, karena aku teramat sangat sedih dan terlihat menyedihkan. Aku akui kebenarannya, betapa menyedihkannya diriku, tapi aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Semua manusia akan kembali kesisi-Nya, begitupun aku dan semua yang ada disini. Hanya saja waktu yang menentukan siapa yang terlebih dulu pergi untuk meninggalkan kesedihan bagi orang yang ditinggalkan. Dan kali ini, Raka-lah yang harus pergi untuk bertemu dengan-Nya terlebih dulu.
“Aku baik-baik aja kok.” Kataku menyunggingkan segaris senyum. Setidaknya ini bisa  membuat mereka tidak terlalu berlebihan mengkhawatirkanku.
“Kamu yakin Ra?” tanya Kevin yang sedang duduk disamping Indri.
Hal tersulit adalah mengatakan kita baik-baik saja disaat kesakitan sedang menghujani hati kita. Itu yang kurasakan saat ini, dan itu membuatku harus berbohong agar tidak membebani teman-temanku.
“Ya ampun Rara, lihat deh mata kamu sampai bengkak gitu masih bilang kamu baik-baik aja. Kita semua khawatir sama kamu, apalagi mendadak Raka....”
“Husst, udah deh. Jangan dibahas terus. Kasihan Rara, lagian dia udah bilang baik-baik aja, kalian jangan pada lebay bisa ngga sih?.” Sahut Alex yang tiba-tiba memotong ucapan Agni.
Setidaknya dia bisa membuat semua orang terdiam. Tapi apakah dia secuek itu dengan keadaanku, atau tidak ingin membuatku bersedih jika ada yang mengungkit meninggalnya Raka?
Aku menatapnya dengan tajam sekaligus berterimakasih dalam diam.


Seharian aku merasa tidak tenang. Disekolah aku sedikitpun tidak menangkap pelajaran karena terfokus pada kesedihanku.  Dan sekarang aku merasa terjebak ditengah kebahagiaan teman-temanku. Disini, ditempat dimana kami sering menghabiskan waktu untuk nongkrong dan bermain, aku merasa sangat sepi walaupun berada dalam keramaian. Aku tahu mereka mencoba untuk menghiburku, tapi hati ini seakan tidak sependapat dengan ragaku untuk duduk diantara mereka.
“...iya kan Ra?” ucap seorang dari mereka. Sejenak aku masih berkutik dengan diriku, hingga alam bawah sadarku memberontak untuk terbangun dari lamunanku.
“Hah? Apa?” aku menatap keteman-temanku dengan linglung, yang langsung ditanggapi dengan ekspresi kecewa dan kasihan oleh mereka.
“Kamu ngga papa Ra? Jangan ngelamun terus dong. Kita jadi khawatir sama kamu.”
“Ah, kalian apaan sih? Aku ngga papa kok, beneran. Tadi ngomongin apa sih?” kataku dengan senyum mengembang.
Tak butuh waktu lama aku akhirnya bisa membaur dalam pembicaraan mereka. Kami bercanda, dan tertawa bersama. Namun sepasang mata itu tampak tak berpaling dariku. Aku terus mendapatinya sedang memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan tatapan tanpa ekspresi. 
“Ngga usah dipaksain.” Katanya pelan, sambil menatap tajam kearahku. Aku bisa menjamin, tak seorangpun mampu menangkap ucapannya dengan jelas termasuk diriku yang duduk dihadapannya.
“Hah? Kamu ngomong apa tadi?” tanyaku, spontan.
“Ngga papa, lupain aja.”jawabnya.
Apa aku tidak salah dengar? Apa dia baru saja berkata untuk tidak memaksakan? Tapi apa maksudnya, memangnya apa yang sedang kupaksakan? Bahkan setelah mengatakan sesuatu dengan sinisnya, dia tidak menganggapku ada ditempat itu dengan sikap cueknya yang tidak peduli. Karena sudah merasa bosan dan tidak nyaman, aku pamit untuk pulang terlebih dahulu. Mungkin dirumah akan lebih menenangkan, apalagi aku harus datang kerumah Raka untuk ikut tahlilan bersama keluarganya.


Tiga belas,,,

Normal POV

Gadis itu sedang termenung untuk kesekian kalinya ketika sepasang mata itu tak berhenti menatapnya. Karena belum pernah merasakan pedihnya kehilangan, jiwanya sangat terguncang walaupun terlihat tegar diluarnya. Teman-temannya yang melihat Rara selalu tersenyum mengira dia telah bisa bangkit dan menerima kenyataan atas perginya sahabat sedari kecilnya berhubung sudah lewat dari tujuh hari.
Ketika sedang istirahat disiang itu, segerombolan murid sedang menikmati makanan mereka dikantin sekolah. Karena keseruan yang ditimbulkan dari perdebatan diantara mereka mengenai mana yang lebih keren antar band mancanegara dan band lokal dan juga antara kakak kelas yang lebih cantik dibanding Rara, membuat tawa mereka memenuhi kawasan kantin itu. Rara terus dibuat sakit perut karena tertawa oleh tingkah teman-temannya.
“Cukup Ra!” teriak Alex yang kemudian berdiri. Dia menarik lengan Rara untuk menjauh dari teman-temannya dengan paksa. Keterkejutan yang mereka rasakan membuat mereka terpaku.
“Kamu apaan sih Lex? Lepasin aku!” jerit Rara. Teman-teman mereka hanya bisa tercengang tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Alex! Ngapain sih? Kasihan Rara tuh.” Kata seorang teman cowok. Diikuti dengan teriakan dari kedua sahabat Rara, Agni dan Indri.
Mungkin ini pertama kalinya mereka mendapat tatapan super tajam dari Alex. Tatapan yang menggambarkan betapa besar amarah yang sedang dirasakannya ketika dia menoleh. Melihat itu, mereka hanya bisa berdiam diri.
“Lepasin! Sakit Lex!” teriak Rara. Dia memohon pada cowok yang berdiri didepannya, matanya yang tajam seakan ingin merobek mulutnya untuk berhenti berteriak.
“Cukup Ra! Aku bilang cukup.” Ucapnya. Rara yang sama sekali tidak mengerti menatapnya dengan penuh kebencian dihatinya.
“Apa sih? Maksud kamu apa?!”
Seperti mendapat tontonan seru, semua berkumpul disisi yang lain. Melihat orang yang terlihat sangat serasi bertengkar hebat ditempat umum merupakan kebanggaan tersendiri.
“Aku bilang cukup! Berhenti bersandiwara. Berhenti pura-pura tegar! Aku tahu kamu ngga sekuat itu Ra. ..” semakin lama semakin kuat cengkeramannya pada lengan Rara. Gadis yang mulai menyadari maksudnya kini terdiam tak percaya, orang yang mendapat perhatian lebih darinya berteriak dengan kasar didepan matanya.
“... kemana Rara yang dulu? kemana Ra?! Ini semua Cuma topeng yang kamu pasang buat menutupi semua kesedihan kamu. Semuanya palsu Ra, palsu!” nafas Alex memburu secepat dia melontarkan kalimat itu. Dilihatnya mata gadis dihadapannya mulai berkaca-kaca. Saat tetesan pertama jatuh mengalir dipipinya, saat itulah dia sadar apa yang telah dilakukannya.
“Udah Lex? Udah marah-marahnya? Udah puas kamu?!!” Alex melepaskan cengkeramannya dari lengan Rara yang menimbulkan bekas kemerahan disana. Matanya terkejut melihatnya, dan menatap Rara yang tampak tak bisa lagi menahan air matanya.
“Ra,, bukan itu maksud aku.. dengerin aku...”
“STOP! Aku memang ngga sekuat itu Lex! Aku memang pura-pura tegar dihadapan kalian semua, Apa salah kalau aku mencoba untuk tegar?! Apa salah kalau aku ngga mau membebani kalian?!” tumpah sudah semua kesedihan melalui air mata yang telah lama dipendam olehnya. Hatinya terasa sangat sesak oleh semua ini. Alex yang mencoba untuk minta maaf merasa sangat menyesal telah kehilangan kontrol. Dia memang pernah kehilangan kakak sulungnya karena sebuah penyakit yang mematikan. Itu membuatnya mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Rara.
“Aku minta maaf Ra.” Ucapnya pelan.
“Aku ngga butuh permintaan maaf kamu Alex!! Kamu ngga tahu kan gimana menderitanya aku? Kamu ngga tahu, karena kamu memang ngga pernah merasakannya. Kamu bahkan sedikitpun ngga peduli sama aku Lex. Apa salah kalau aku mencoba untuk tetap tersenyum?!”  
Alex menatap tajam kearahnya, ingin sekali dia berteriak dan memukul orang dihadapannya kalau saja dia bukan gadis yang telah mencuri hatinya.
“Kamu salah Ra, aku Cuma ngga mau kamu menyimpan semua kesedihan kamu dan pura-pura tersenyum dihadapan kami. Aku tahu kamu sedang berduka, tapi kamu tetap harus ikhlas tanpa menjadi orang lain yang pura-pura tegar tapi rapuh didalamnya.” Jelas Alex.
“Kamu salah Lex. Coba aja kamu tahu gimana sakitnya kehilangan. Semudah itu Lex, tapi menjalaninya ngga semudah apa yang kamu ucapakan!”  Rara tersungkur ditanah. Teman-temannya mendekat untuk membantunya berdiri namun dilarang keras olehnya.
“Aku tahu Ra! Aku tahu gimana rasanya!” ucapan Alex seakan menampar dirinya, teman-temannya juga bertanya apa maksud dari perkataan Alex itu, tapi tak diacuhkan olehnya.
“Apa?!” tanya Rara. Karena sudah muak dengan tingkah Rara yang kekanak-kanakan, Alex berbalik dan berjalan menjauh sebelum akhirnya berhenti dan menatap Rara.
“Aku tahu! Tapi aku ngga sebodoh apa kamu lakukan selama ini. Kamu harus rela Ra! Hidup akan tetap berjalan, ngga berhenti di sini aja. Dan kamu harus menerima kenyataan, jangan terpuruk terlalu lama dalam kesedihan. Itu sama aja kamu menyakiti diri kamu sendiri Ra.”
Rara tercengang, air matanya semakin deras mengalir dipipinya. Apa dia sebodoh apa yang dikatakan Alex? Namun, pikiran itu tak sekuat apa yang dirasakannya pada Alex saat ini. Pelan-pelan, rasa benci itu mulai tumbuh dihati Rara bersamaan dengan perasaannya yang mulai memudar.



“Kamu beneran ngga mau ngomong sama Alex?” tanya Indri yang terlihat jelas kekhawatirannya.
“Buat apa?” tanya Rara cuek. Ingin membalas perilaku Alex, kini dia merasa tidak perlu peduli terhadapnya.
“Ra?” ucap Agni yang harus berbagi tempat duduk dengan Indri. Rara yang berpaling dari novel ditangannya, merasa ditekan oleh tatapan kedua sahabatnya itu.
“Iya ngapain juga aku harus ngomong sama orang yang ngga peduli sama aku?!” ekspresi tak percaya muncul diwajah Agni dan Indri. Mereka benar-benar tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rara, bahkan setelah melihat pertengkaran hari itu.
“Kamu tuh bego’ apa o’on sih Ra? Ngga peka banget jadi cewek.” Rara yang sedang sensitiv merasa tidak terima dengan perkataan Agni yang ceplas ceplos.
“Kamu tuh ngga nyadar ya kalau dia perhatian banget sama kamu? Coba deh kamu pikir-pikir, selama ini dia udah perhatian tanpa kamu menyadarinya Ra.”
Tepat ketika Rara ingin membalas perkataan Agni, beberapa cowok tampak memasuki ruang kelas tak terkecuali Alex. Matanya saling bertautan dengan Rara yang segera membuang muka tak peduli.
“Bodo amat!” ucapnya lalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya dan Alex yang sedang menatapnya berlalu melalui pintu.
Sejujurnya dia merasa sangat terkejut melihat kelakuan Rara yang menjadi cuek dan tidak peduli padanya beberapa hari ini. Rara juga sering menghindar setiap kali bertemu atau bertatap muka dengannya. Hari-harinya mulai terasa hampa tanpa kehadiran seorang Rara. Sering kali dia berpikir, apakah ini semua karena sikap tidak pikir panjang yang dia lakukan terhadap Rara beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, itu tidak membuatnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya walaupun dia merasa bersalah telah melakukannya. Begitupun dengan Rara, yang sama keras kepalanya.
Pada dasarnya, mereka berdua sama-sama bersalah dalam hal itu. Sikap tidak pikir panjang Alex dan sikap kekanak-kanakan Rara setiap kali mendapat masalah atau sedang sedih yang tidak mau berbagi kepada teman-temannya. Namun tidak satupun dari mereka yang mengaku kalau itu adalah salahnya dan meminta maaf.



Anton, Agni, Indri, dan Joe yang sekelas dengan Alex dan Rara sedang berdiskusi dimeja paling belakang dikelasnya. Karena muak dengan sikap kedua teman mereka yang hampir seminggu ini tidak saling bicara, mereka merencanakan sesuatu untuk membuat suasana kembali mencair.
“Yakin? Ntar kalau dia marah gimana?” tanya salah satu diantara mereka.
“Udah nggapapa, optimis aja semuanya bakal lancar.”
“Jadi, deal ya?” tanya Anton, menatap dengan penuh waspada ke ketiga temannya. Semuanya mengangguk serempak walaupun masing-masing dari mereka merasa ragu dengan ide gila itu. Seperti sedang dikejar waktu, adrenalin mereka terpacu untuk terus maju.


Saat bel masuk berbunyi, Rara kembali masuk kedalam kelas untuk mengambil baju ganti olahraga didalam tasnya. Namun dia merasakan ada yang aneh. Kelas terasa tidak seperti biasanya, tentu saja karena semua orang sepakat untuk keluar terlebih dulu dari kelas sebelum Alex dan Rara masuk. Tepat ketika dia melangkah masuk, matanya sudah dihadapkan dengan cowok yang membuatnya jengkel setengah mati. Tanpa reaksi yang berarti dia berjalan menuju tempat duduknya dengan malas-malasan. Saat sedang membuka resleting tas, dia mendengar suara pintu tertutup dengan keras. Karena terkejut dia berteriak diikuti oleh Alex yang tersentak dari duduknya. Rara berlari menuju pintu dan menarik gagang pintu untuk membukanya, tetapi hasilnya nihil. Sekuat tenaga dia menarik bahkan menendang pintu itu sambil berteriak untuk minta tolong pada siapapun yang ada diluar agar mau membukakan pintunya.
“Woii! Buka pintunya!!!” setelah sekian kali berusaha membuka dan berteriak secara bersamaan dia merasa lelah. Tiba-tiba bahunya dipegang oleh Alex, yang menyuruhnya untuk mundur. Alex terus mencoba untuk membuka pintu itu, tapi tetap saja tidak bisa.
“Apa-apaan nih? Pasti kamu kan yang punya niatan jahat kaya gini.” Belum juga bisa membukanya, Alex sudah dihujani oleh perkataan pedas Rara. Darahnya serasa mendidih dan sudah mencapai ubun-ubun. Rara yang melihat Alex mengepalkan tangannya mundur selangkah dan berkata dengan tatapan mengejek.
“Kenapa? Mau nampar? Apa mau ninju sekalian?!” suaranya yang terdengar menantang membuat Alex jengah dan berusaha untuk tidak memperdulikannya walaupun tidak bisa.
“Kamu tuh ya! Kenapa jadi kasar gini sih?!” teriak Alex. Rara sontak melotot karena tidak terima. Baginya, Alex-lah yang membuatnya menjadi kasar seperti ini. Rara mengangkat telapak tangannya dan hampir menjatuhkannya dipipi kiri Alex sebelum ditampik olehnya. Namun dia tak menyerah sampai disitu, untuk melampiaskan semua kekesalannya dia terus memukul tubuh Alex yang coba ditahan olehnya namun akhirnya dibiarkan begitu saja. Mungkin Rara memang sangat kesal padanya hingga kehilangan kendali seperti itu.
Namun, perasaan itu seakan berhasil dikalahkan oleh perasaan lain yang sedang membara dihati Alex. Perasaan yang rindu akan kehadiran Rara, akan senyum Rara yang sudah tidak bisa dilihatnya lagi akhir-akhir ini. Perasaan itu begitu menggebu hingga membuat dirinya untuk menarik Rara kedalam pelukannya dan melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
Rara yang butuh waktu cukup lama untuk tersadar dari keterkejutannya atas sikap spontan Alex menarik tubuhnya untuk menjauh dan membuat Alex terkejut. Alex benar-benar kehilangan kendali. Bahkan bukan hanya Rara, tetapi juga dirinya. Perasaannya telah membutakan mata hatinya, hingga mendorong hasratnya untuk mencium Rara.
‘PLAKKK!!’ suara tamparan itu benar-benar jatuh telak dipipi Alex, membuatnya tercengang. Rara sungguh tidak terima dengan perbuatan Alex. Walaupun Rara pernah menaruh hati pada Alex, bukan berarti dia bisa seenaknya menciumnya. Bahkan mencuri ciuman pertama itu darinya.
“Kamu keterlaluan Lex!” teriak Rara bersamaan dengan terbukanya pintu kelas dan munculnya teman-teman yang memasang tampang kecemasan.
“Ra, Aku ngga bermaksud buat gitu...” Rara berlari meninggalkan Alex yang dihantui rasa penyesalan.
“Ra tunggu, Ra!!” Alex berteriak dan mengejar Rara, tapi gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.
“Ini semua gara-gara kalian!!” matanya menatap tajam pada keempat temannya. Wajah bingung melanda mereka, yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ditempat lain, Rara sedang menangis tersedu-sedu. Dia tidak bisa menahan rasa yang bergejolak dihatinya. Dia bahkan heran kenapa hatinya serasa bergetar setelah kejadian yang memalukan itu. Alex sungguh tidak bisa menghargai dirinya sebagai  perempuan. Rara tidak terima atas sikap Alex yang begitu kurang ajar dimatanya. Kenapa dia melakukan itu sementara beberapa hari yang lalu dia memarahi dan tidak peduli padanya. Rara merasa sedang dipermainkan oleh Alex.




Empat belas,,,

Rara’S POV

Mentari sore tak seterik biasanya. Angin yang terus berhembusan tak sedikitpun membuatku merinding walau hanya mengenakan kaos oblong dan celana tiga perempat. Berulang-ulang lagu yang sama terdengar dari earphone yang setia menggantung ditelingaku. Aku tak sepenuhnya fokus pada jalan yang telah kulalui, apalagi yang ada didepanku. Pikiranku serasa melayang-layang diudara seperti sebuah plastik bekas yang dibuang oleh seseorang begitu saja. Sengaja kuputar lagu ini berulang-ulang. Mungkin tubuhku terus melaju dengan sepeda lipat yang kutunggangi, tapi tidak dengan pikiranku. Sama hal nya seperti Avril yang mendendangkan lagu Hush Hush dengan penuh penjiwaan, pikiranku berada dalam kediamanku. Terpaku, dan tidak ingin berkata apapun. Muak adalah satu-satunya hal yang mampu ku ungkapkan dengan kondisiku. Aku merasa muak dengan permainannya, aku merasa muak dengan sikapnya, dan aku merasa muak dengan apapun yang berhubungan dengannya. Alex.
Namanya yang melintas dipikiranku seakan membuat sisi emosionalku ditekan dan ingin memberontak. Sekuat tenaga kukayuh sepeda dengan kecepatan maksimal. Aku tak peduli jika akan menabrak tiang listrik didepan sana, atau tercebur ke dalam got yang penuh dengan cairan hitam menjijikkan. Air mataku melebur tak terkendali dari mata dan mengalir deras dipipi. Aku lepas kendali. Dan saat tiba ditikungan menuju tempatku les, aku berteriak histeris karena sebuah mobil tepat menyimpang dijalanku.
GUBBRRRAAAKKKKK!!! Decitan rem mobil itu terlalu nyaring hingga memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Aku terpental dari sepedaku yang telah bengkong roda depannya, tubuhku berguling-guling dijalanan. Sakit yang kurasakan terlalu banyak. Tajamnya aspal yang berserakan seperti jarum yang menusuk-nusuk saja. Ditambah lagi benturan dikepalaku. Samar-samar masih bisa kulihat seseorang berlari kearahku dan mengangkat tubuhku. Lalu kudengar dia berteriak, membuatku untuk terus tersadar dengan mata melotot karena terkejut.
“RARA!!! Ya amppun, kamu ngga papa kan?!” suara itu, wajah itu, dan kecemasannya membuatku terdiam.
“Ayo bangun! Kita kerumah sakit Ra.” Aku menggelengkan kepala, namun dia dengan sigap mengangkat tubuhku. Aku berontak dan memukul tubuhnya.
“Jangan. Ngga mau.” Dengan lemah aku bersuara.
“Tapi aku ngga mau kamu kenapa-napa. Udah, pokoknya kita kerumah sakit sekarang!” aku memberontak lagi, dan kali ini lebih keras hingga menjatuhkan diriku sendiri ketempat dimana aku sempat berguling-guling diatasnya.
“RARA! Oke oke kita ngga kerumah sakit. Haduhh! Kamu jangan gini dong. Ayo bangun.” Aku kembali diangkatnya dan didudukkan tepat disampingnya.

* * *

“AUWWW!! Pelan-pelan dong!” teriakku. Dengan sabar kak Yuda menuruti perkataanku. Dia begitu resah dan khawatir kalau terjadi sesuatu padaku. Tangannya berulang-ulang mencelupkan handuk ke air hangat untuk membersihkan luka-lukaku. Aku mendapat banyak kenang-kenangan dari kejadian tadi. Dahiku berdarah, kedua siku dan tanganku terluka, kakiku lecet-lecet ditambah robekan dikaosku yang membuatku khawatir akan ada luka dibalik kaos yang robek itu. Dan tanpa kusadari, sepatu kesayanganku robek dibagian depannya. Aku kemudian berpikir untuk tidak mengenakan kaos oblong dan celana tiga perempat saja saat bersepeda.
Sementara kak Yuda dengan kesabarannya mengobatiku, mataku memandang jauh, sejauh pikiranku yang melayang-layang. Sakitnya terasa disini. Semua ini karena dia. Dia yang telah membuatku merasa marah dan benci.
“Kamu kalau naik sepeda hati-hati Ra. Jangan ngebut-ngebutan kayak tadi. Untung aja Cuma luka sama lecet dikit, gimana kalau...” belum juga kak Yuda menyelesaikan ucapannya dia sudah terkejut mendapati diriku berlinangan air mata.
“Ra..Ra? kamu jangan nangis dong, aku minta maaf udah bikin kamu kayk gini...” aku tak menghiraukannya, justru tangisanku semakin histeris. Tangan kananku kuletakkan diatas dada kiriku dan kutekan sekuat mungkin supaya rasa sakit itu tidak terlalu menyesakkan. Aku tidak peduli lagi dengan kegusaran kak Yuda yang bingung harus berbuat apa. Biar saja dia merana karena penyesalannya itu. Aku terus sesengukan. Dan beberapa detik kemudian kak Yuda memegang kedua tanganku, matanya memaksaku untuk menatapnya. Aku luluh sejenak, tangis yang tadi sempat meledak kini seperti ditekan dengan kehangatan yang diberikan olehnya.
“Tenang Ra. Kamu harus tenang.” Ucapannya yang lembut berhasil memberikan sugesti padaku.
Kak Yuda terus mengusap-usap kedua tanganku sebelum dia duduk disampingku dan menyandarkan kepalaku dibahunya.
“Kamu boleh cerita apa aja kalau udah merasa lebih baik. Oke?” aku hanya mengangguk kecil. Kehangatan. Itu yang kurasakan dari sikap dewasa yang dilakukannya padaku. Setelah hampir setengah jam terus membebani bahu kak Yuda aku akhirnya memberanikan diri untuk bercerita semuanya dari awal. Aku menceritakn tentang ketertarikanku, tentang meninggalnya sahabatku, dan tentang pertengkaran itu. Kak Yuda dengan setia terus mendengarkan dan sesekali memberi respon atau bertanya. Dia adalah pendengar yang tidak hanya bisa mendengar, tetapi juga berusaha untuk mengerti apa yang kurasakan. Usaha yang bagus.
“Jadi kamu udah beberapa hari ngga bicara sama dia?” tanyanya yang langsung kujawab dengan sekali anggukan.
“Oke. Jadi kesimpulannya kalian sama-sama suka, tapi kalian juga sama-sama keras kepala.” Aku manyun melihat kak Yuda yang segamblang itu bisa menyimpulkan kebenaran yang sulit ku pahami.  
 “Bener ngga? Iya kan? Kalau memang seperti itu, harus ada salah satu dari kalian yang mengesampingkan ego masing-masing dan minta maaf. Se-Simple itu kok” katanya lagi. Aku terdiam dan tak ingin menjawab apalagi membetulkan pernyataannya itu. Cukup ku resapi saja apa yang dikatakannya barusan.
“Ah udah ah, jangan ngelamun terus. Mending kita jalan-jalan aja yuk.” Ajaknya
“Hah? Dengan kondisi seperti ini, kak Yuda tega ngajak aku pergi. Kan kak Yuda juga yang udah buat aku jadi gini.” Gerutuku kesal setengah mati. Tidak heran dan memang sepantasnya aku berkata seperti itu karena badanku serasa dipukuli orang satu kampung. Sakit disana-sini.
“Oke deh, karena aku juga terlibat, kamu dapet kompensasi les gratis dirumah kamu. Gimana?” mataku berbinar dan langsung mengiyakan penawaran itu.

* * *

Apa ini rasanya menjadi pusat perhatian?? Sejak aku turun dari mobil kak Dika semua mata tertuju padaku. Tak sedikit juga yang bertanya kenapa aku seperti habis diterkam hewan buas dan menyebabkan jalanku menjadi pincang dengan perban disana-sini. Aku tidak suka mata-mata itu memandangiku dari ujung rambut hingga ujung sepatuku seperti selebriti yang berlenggang di Red Carpet. Terlebih lagi histeria yang timbul saat aku menginjakkan kaki dikelasku. Teriakan mereka, pertanyaan, dan apapun yang ditimbulkan mereka membuatku ingin mengutuk didalam hati dan memilih untuk ijin sekolah jika tahu akan diperlakukan seperti ini. Aku memang tidak suka perhatian yang terlalu berlebihan apalagi dilakukan hampir semua murid dikelasku, terkecuali satu orang yang hanya duduk tegang dibangkunya. Sorot matanya seakan bertanya ‘apa yang terjadi?’. Aku tahu dia khawatir, tapi kalau hanya feeling-ku saja tanpa bukti atau tindakan darinya itu sama saja tidak ada artinya.
“Ya ampun Rara! Kok bisa sampai gini sih?” ucap Agni. Indri membenahi kursi dan membantuku duduk. Semuanya berkumpul dimejaku, membuatku harus menjawab pertanyaan dan menjawabnya dengan jawaban yang sangat membosankan.
Jam olahraga terpaksa aku tinggalkan. Semua murid sudah berhambur keluar untuk segera melakukan pemanasan dilapangan. Tanpa sengaja aku menyenggol tempat pensilku, isinya berhamburan dilantai. Menyebalkan. Dengan kondisi seperti ini masih saja aku berbuat hal ceroboh. Dengan kerepotan aku mendorong mejaku agar bisa berdiri tanpa mengenai luka-luka ku. Belum juga aku berdiri, seseorang memunguti satu persatu alat tulisku. Hatiku bergetar, saat melihatnya menyerahkan tempat pensilku beserta isinya. Dia berlalu dengan cepat, sebelum aku sempat mengucapkan kata terima kasih.
Aku tidak langsung pulang saat bel jam pelajaran terakhir habis. Sepuluh menit aku tinggal didalam kelas dengan berbekal earphone ditelingaku, setidaknya jalanan dan  koridor-koridor sekolah sudah tidak terlalu ramai karena aku takut jika seseorang menginjak kaki atau menyenggol luka-lukaku. Setelah cukup yakin, aku berjalan lambat menuju gerbang sekolah. Aku dikejutkan dengan lambaian tangan seorang lelaki yang kukenal. Dia lalu berlari menghampiriku dengan tergesa-gesa.
“Hei..” katanya. Senyum simpul terlihat sangat manis diwajahnya, membuatku menyadari kalau dia punya sepasang lesung dipipinya. Aku terperangah kagum, baru kali ini aku melihat kak Yuda tersenyum seperti itu. Dia yang tidak mendapat jawaban dariku melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku.
“Oh, Heii..” balasku gugup.
“Aku antar pulang ya.” Tanpa menunggu jawaban dariku dia menggandeng tanganku hingga sampai dimobilnya dengan sabar. Tak lupa, dia juga membukakan pintu mobil untukku.
“Makasih.” Kataku, yang hanya dijawab dengan senyuman mautnya.
Jantungku berdegup cepat. Aku merasa wajahku memerah tanpa sebab. Mataku berpaling, memperhatikan gerak lelaki yang juga berperan penting atas apa yang terjadi padaku.

Tidak hanya sekali, berhari-hari kak Yuda mengantar jemput seperti sopir pribadiku. dan ini adalah hari keempatnya. Semua murid disekolah terus saja menggosipkan tentang diriku yang beruntung mempunyai cowok yang perhatian seperti dia. Tapi perlu digaris besar bahwa kak Yuda bukan pacarku. Aku pun tak ingin mempermasalahkan hal itu, karena itu bukan masalah yang berarti. Biarkan saja mereka bertanya dan menebak-nebak dan aku hanya tersenyum simpul menjawabnya.
“Sore Non!” katanya sumringah. Kak Yuda ada didepan kelasku saat semuanya bubar karena jam pelajaran telah habis. Lagi-lagi aku dibuat terkejut olehnya. Melihat diriku yang belum sembuh benar, kak Yuda dengan sikap gentle-nya mengambil tas dari tanganku dan membawakannya. Hal itu menimbulkan jeritan iri dari murid-murid cewek yang melihat tindakannya.
“Sore kak.” Balasku agak lamban.
“Yuk pulang. Langsung pulang, apa mau jalan-jalan dulu?” tawarnya. Aku menimang-nimang dan hanya memberikan anggukan padanya sebelum menggandeng lengan kirinya. Entah mengapa dan bagaimana aku merasa sangat bahagia saat berada didekat kak Yuda. Dia seperti kakak, tapi dia lebih dari sekedar kakak buatku. Dia spesial.
“Ciyyyyeeee!!! Yang mau kencan! Hahaha” terdengar sorakan dari sahabat-sahabatku yang berjalan tepat dibelakangku. Aku menoleh dan tersenyum pada mereka.
“Bukan kencan kok.” Kataku. Sekilas kulihat wajah Alex yang menggambarkan ketidaksukaannya saat memandangku. Atau memandang kami berdua lebih tepatnya.
Aku menceritakan itu pada kak Yuda saat sampai dimobil, tetapi dia hanya tersenyum kecut tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“Kok diem sih? Gimana kak?” rengekku, menarik-narik lengan kemejanya.
“Gimana apanya?” dia lalu mengalihkan pembicaraan. Namun aku tidak sedikitpun menghiraukannya, dan memilih menikmati pemandangan yang menjenuhkan.
“Yah, dia ngambek lagi. Eh Ra?” aku tak bergeming.
“Itu berarti dia cemburu ngelihat kamu jalan sama aku.” Jawab kak Yuda pada akhirnya,
“Oh Ya????” tanyaku antusias. Mataku berbinar-binar, seperti masih ada secercah harapan. Walaupun aku tak tahu pasti apa yang masih bisa diharapkan.
Kami akhirnya berhenti dialun-alun dan memesan beberapa makanan favoritku. Terkadang aku bertanya-tanya mengapa kak Yuda begitu memanjakan diriku,apakah karena dia merasa harus menebus kesalahan yang dibuatnya, atau ada alasan yang lain.
“Nih, jagung bakar manisnya.” Kak Yuda menyodorkan jagung bakar padaku.
“Yummy, enak nih. Hehehe”
“Itu masih panas lho, hati-hati makannya.” Ucapnya sambil meniup-niup jagungnya.
“Emm, kak? Kak Yuda kenapa sih perhatian banget sama aku? Kak Yuda memperlakukan aku begitu baik, bukan karena kecelakaan waktu itu kan?” tanyaku
“Uhukk, uhukk ehemm.” Kak Yuda tersedak, entah karena apa.
“Hah? Masak kamu ngga tahu juga sih Ra? Selama ini kamu ngga tahu kenapa aku perhatian sama kamu?” kak Yuda menggelengkan kepalanya berulang kali. Membuatku merinding jika sewaktu-waktu anggota badan paling berharga itu terlepas dari tempatnya.
“Kenapa? Kak Yuda ngga mungkin suka kan sama aku?” tanyaku pada akhirnya.
“Kalau iya kenapa?” aku tersedak mendengar itu.
“Hah? Ngga mungkin! Cowok sekeren kak Yuda suka sama aku? Impossible!” kataku keras-keras. Entah bagaimana, pernyataan polosku membuat kak Yuda tertawa terpingkal-pingkal. Memangnya apa yang salah?
“Haha, Oh jadi selama ini.. selama ini kamu nganggap kalau aku ini keren?!” dia geleng-geleng kepala lagi. Ooppzz aku kelepasan bicara.
“Apaan sih kak Yuda? Siapa bilang kak Yuda keren? Salah denger tuhhh, wheeeekkk!”
Tanpa terasa sore itu berlalu begitu cepat. Kehangatan seorang kak Yuda mampu mengalihkan perhatianku, paling tidak saat aku bersamanya. Dia seperti air penyejuk jiwa yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit hati seseorang. Termasuk penyakit hatiku sendiri. Tak jarang dia selalu siap dan sigap menjadi tempat sampahku. Tempat dimana aku membuang kesedihan dan menceritakan segala macam keluh kesahku.
Apakah ini yang dinamakan soulmate? Atau belahan jiwa? Atau apalah itu. Aku merasa sangat hidup dan menjadi diriku sendiri saat didekatnya. Aku berharap ini tidak hanya sekali seumur hidupku. Karena aku juga butuh orang seperti dia dalam hidupku. Orang yang mungkin adalah soulmate-ku, belahan jiwaku, atau mungkin hanya selingan dalam perjalan cintaku.








Lima belas,,,

Rara’S POV

Rabu menyebalkan. Suara gesekan sepatu anak-anak bergema memenuhi lapangan basket. Pukul sebelas pagi sebenarnya bukanlah jam yang menyenangkan untuk  melakukan aktivitas berat seperti yang kami lakukan. Seiring dengan bertambahnya jumlah putaran yang kami lalui, peluh terus berjatuhan dari kening para siswa. Tak terasa lima belas menit sudah kami berlari ketika Pak Hendra meniup peluit yang selalu digantungkan dilehernya. Akhirnya penderitaan kami berakhir untuk sementara.
“Anak-anak, silahkan membentuk barisan 4 bersap!” teriakan beliau selalu saja menimbulkan keluhan bagi para siswa yang belum genap beristirahat walau hanya  sejenak.
“Iya Pak!” sahut kami bersamaan. Empat puluh siswa bukanlah jumlah yang sedikit, dan wajar saja itu menimbulkan sedikit keributan untuk membentuk barisan empat ber-sap yang sempurna. Jujur saja, kami yang rata-rata berusia 17 tahun kecuali aku, masih sulit membedakan bagaimana bentuk antara barisan empat ber-sap dan empat berbanjar.
“Oke, semuanya boleh duduk dengan tenang.” Ucap beliau. Pak Hendra adalah guru olahraga paling muda disekolah kami. Beliau memiliki postur tubuh yang sangat atletis. Tinggi dan juga punya mata cokelat yang indah. Aku selalu menyama-nyamakannya dengan idolaku Mattew Shadow, karena beliau juga memiliki potongan rambut sama dan juga sepasang lesung yang manis dipipinya. Tanpa diketahui oleh siapapun termasuk dua sahabatku, aku diam-diam mengaguminya.
“Hari ini kita akan latihan teknik-teknik bermain bola basket, dan setelah itu kita akan melalukan penilaian.” Penjelasannya cukup menimbulkan suara riuh dan keluh dari kami. Sebagian ada yang paling menyukai olahraga basket, namun bagi sebagian lainnya menganggap ini adalah tantangan terbesar untuk mencapai nilai B.
“Joe dan Anton tolong ambil bola basket di gudang olahraga, sementara yang lainnya membentuk pasangan dengan anak yang barisnya dibelakang kalian. Mengerti?” teriaknya.
“Mengerti Pak!” jawab kami tanpa semangat.
Aku sedikit lega ketika mendengar penjelasan beliau, namun tidak lagi setelah aku memutar tubuhku menghadap ke belakang dan disitulah seorang laki-laki yang akan menjadi pasanganku.
“Emm, maaf Pak. Boleh tukar pasangan ngga? Masa’ saya dipasangin sama cowok sih pak?!” kataku saat Pak Hendra sedang sibuk mengabsen.
“Kamu ini bikin ribet saja, Ra. Tidak apa-apa kalau pasangannya cowok. Sudahlah!”
“Ta.. Tapi pak..?” aku ingin sekali membantah namun sorot matanya yang tajam membungkam mulutku begitu saja.

“Kamu beneran pacaran sama guru les kamu?” tanyanya saat mem-passing bola padaku. Aku sungguh tidak bersemangat ketika harus berhadapan dengan Alex disaa-saat seperti ini.
“Memangnya kenapa?” sekilas kulihat bola matanya yang membesar,
“Apa?!! Jadi kamu beneran jadian sama dia? Aku bener-bener ngga nyangka.” Ucapnya lagi. Alex melempar dengan keras bolanya padaku lalu menyapu rambutnya dengan tangan kebelakang. Aku bisa melihat keringatnya yang bercipratan karena gerakan tangannya itu. Sedetik aku terkesima.
“Bukan urusan kamu!” teriakku. Sekuat tenaga aku melempar bola yang kupegang tepat ke keningnya. DUUUNNKK. Aku bisa memastikan itu akan terasa sangat sakit karena suara yang terdengar dari bola yang memantul. Namun, karena itu, aku tanpa sengaja mencelakakan diri sendiri karena terjatuh dengan posisi kaki yang berbahaya.
“ ARRGGGHH!” teriakku membuat anak-anak yang lain terkejut. Dan berlarian kearahku.
“Rara! Ya ampun Rara kamu kenapa?” tanya Indri dengan khawatir. Diikuti oleh Agni yang membantuku untuk bangun.
“Auuww Sakit Ni, Ndri. Kaki aku sakit!” rintihku kesakitan.
“Awas awas!” suara itu datang bersamaan dengan sebuah tangan yang dengan sigap menggendongku menuju UKS. Sendirian Alex membopongku dengan ekspresi penuh rasa cemas. Aku bisa merasakan itu dengan jelas.
Perlahan dia menurunkanku di ranjang yang ada dipojokan ruang UKS ini.
“Mana? Mana yang sakit?” tanyanya.
“Kaki.. aduhhh sakit banget Lex...” teriakku ketika Alex melepas sepatuku dan melihat kakiku.
“ Sebentar, tahan ya, ini bakal sakit.” Katanya ketika hampir menyentuh kakiku dengan kedua tangannya.
“Enggak mau! Sakit Lex, sakit!!” teriakku, Alex terlihat panik dan sangat bingung. Lalu matanya teralihkan oleh Pak Hendra dan teman-teman yang datang untuk melihat kondisiku.
“Ra,, lihat aku Ra. Kamu baik-baik aja. Oke?” katanya meyakinkan.
“Gimana bisa baik-baik aja?!” aku tak henti-hentinya merintih dan memukul-mukul tempat tidur ini.
“Aku sayang kamu Rara!” teriak Alex, membuatku terpana dan wajahku memerah karena terkejut, lalu tanpa sadar dia melakukan satu gerakan untuk menyembuhkan kakiku yang terkilir.
“ARRRGGGHH! Gila kamu Lex!” teriakku lagi. Hah! tipuan macam apa itu?

* * *

Kak Yuda menahan tawa ketika menatapku, alisnya terangkat sebelah hingga menimbulkan kerutan-kerutan didahinya.
“Apaan sih?!!” ucapku kesal.
“HAHAHA jadi semua yang ada disitu nyorakin kamu gara-gara kamu jadi diem waktu denger Alex bilang ‘Aku sayang kamu’? GOKIL tau.” Katanya hingga tertawa terpingkal-pingkal. Aku hanya memandang bungkus keripik yang berserakan dengan tatapan kosong.
“Ngga lucu tau!” kataku manyun. Lalu melemparnya dengan bantal yang sebelumnya ada dipangkuanku.
“Yahh, ngambek lagi. Iya-iya emang ngga lucu kok, tapi lucu banget. Hahaha” ejekan kak Yuda membuatku ingin sekali marah, namun melihat wajahnya yang begitu lepas aku tersenyum.
“Aku ngga nyangka aja dia ngomong itu supaya aku mau diem dan ngga teriak-teriak lagi. Eh tau nya kakiku malah mau dipatahin....” kak Yuda masih menyimak dan mulutnya masih saja menyibukkan diri dengan melahap camilan yang tersaji dimeja.
“Dia ngga langsung pergi sih, habis itu dia ngambil kotak P3K buat ngobatin lecet-lecet dikaki sama tangan aku. Aku ngga nyangka dia berbuat seperti sama aku.” Terbayang ketika Alex dengan mata sendu nya menatapku lalu pergi begitu saja setelah apa yang dilakukannya. Aku terus memandangi bayangnya dari belakang. Karena dari belakang itulah aku bebas memandangnya tanpa perlu malu melihat wajahnya.
“Coba kalau ngga ada dia, , eh tapi itu juga gara-gara dia. Nyebelin nyebelin nyebelin!”
“Hah? Kenapah? Dia udah perhatian gitu masih aja kamu bilang nyebelin.” Sahut kak Yuda. Tangannya kini sedang sibuk melipat kertas origami merah muda.
“Iya lah, aku ngga bakal semarah itu dan ngga bakal ngelempar dia pake bola basket kalau dia ngga nyebelin kaya tadi.” Kataku bersungut-sungut karena sisi emosionalku yang meninggi.
“Hah? Jadi kamu ngelempar dia pake bola?! Kamu gimana sih? Sekuat apapun cowok tetep ngerasain gimana sakitnya dilempar pake bola kali Non!!” jemari kak Yuda  dengan gemas menyentil dahiku.
“Auww! Salah dia sendiri kenapa jadi nyebelin.”
“Kamu udah tanya gimana keadaan dia? Kalau badan yang kena bola paling ngga sakitnya bakal ada sampai 3 hari, kalau kena kaki bakal nyeri-nyeri sampai jalannya pincang, kalau kena kepala...” kaka Yuda menggelengkan kepalanya dengan wajah skeptis.
“..Ini yang paling bahaya. Kalau kena kepala... dia bisa gegar otak, bisa amnesia, atau bahkan bisa menyebabkan kematian.” Katanya pada akhirnya. Aku merinding. Takut sekaligus khawatir pada apa yang telah kuperbuat.
“Kak Yuda serius??? Haduuhh, gimana dong kak. Gimana kalau sampai Alex gegar otak? Atau gimana kalau dia sampai amnesia? Dia bakal lupa sama kenangan-kenangan kita waktu dulu dan dia juga bakal lupa sama aku, gimana dong kak??” tanyaku histeris.
“HhAHAHAHA. . segitu khawatirnya sama Alex. Ngga bakal segitunya juga kok, cowok kan setrong. Hehehe” jawabnya jail.
“ahh kak Yuda apaan sih. Lagian yang bener itu strong, bukan setrong..”
Gelak tawa kami bergema memenuhi ruangan dimana aku selalu belajar musik bersamanya. Tak terasa jam pembelajaran hari ini berlalu dengan sangat cepat dan aku harus segera pulang karena mobil kak Dika terdengar memasuki pekarangan rumah kak Yuda. Aku buru-buru pamit dengan kak Yuda tak lupa juga dengan mamanya yang sedang sibuk mencoba resep baru didapurnya.


Suara gemuruh dari televisi memenuhi ruang keluarga dimana aku dan kak Dika sedang merebahkan diri di sofa. Kakinya menindih kakiku sementara tanganku dengan kuat mencengkeram lengan bajunya. Kami sama-sama berada dipuncak ketegangan, sebelum akhirnya penjaga gawang dari kesebelasan favoritnya kehilangan fokus hingga kebobolan bola.
“ARRGGGGHHH!!!” teriak kami bersamaan. Ekspresi kecewa terpampang jelas diwajah kakakku satu-satunya itu. Aku yang melihat itu seakan tahu kekecewaan yang dirasakannya.
“Tenang, masih ada tambahan waktu lima menit kan kak? Keep calm!” ucapku memberi semangat dengan tangan menggenggam keatas seperti orang yang berteriak ‘MERDEKA!’ saat hari-hari tujuh belasan.
“Kali ini ngga boleh kebobolan lagi. . harus!” katanya tanpa berpaling dari layar televisi.
Lima menit kemudian tampang lusuh kami berdua berubah menjadi kegembiraan ketika jagoan kak Dika unggul 2-1. Karena itu, sebagai imbalan menemaninya aku bisa menikmati nasi goreng buatan kak Dika yang paling enak secara Cuma-Cuma. Walaupun cowok kak Dika ini paling jago kalau masak nasi goreng. Rasanya dijamin lebih enak dari buatan Mama, apalagi buatan abang-abang yang selalu lewat didepan rumah. Tapi sayangnya, kak Dika jago kalau masak nasi goreng aja, masakan lain dijamin ngga ada yang mau makan. Hahaha
“Cabe nya yang banyak kak!!” teriakku dari ruang keluarga. Samar-samar terdengar bunyi lumpang dan alu saling bertumbukan saat kak Dika meracik bumbu.
“Kamu itu ya, kalau dibilangin suka bandel. Nanti kalau lambung kamu kumat gimana?” balasnya sambil menjongokkan kepala dari dapur.
“Yaahh kakak, please. Biar makannya banyak, jagoannya kan baru menang?!” rayuku. Dan sambil menggelengkan kepala kak Dika tersenyum simpul. Rayuan sukses! J
 Sambil menunggu santapan malam itu, aku melihat-lihat CD film yang baru kubeli dua hari yang lalu. Setelah memilih, aku memutuskan drama korea sebagai tontonan dimalam minggu ini. Untung saja Mama dan Papa sedang kerumah nenek, jadi aku tidak perlu berbagi televisi dengan mereka.
“Masih lama ya kak? Laper nih!” keluhku.
“Sabar! Yang ini paling spesial!” balasnya. Mataku lalu tertuju kembali memandangi aktor tampan Seo in Guk yang sedang sibuk dengan berkas-berkas dimeja kantornya. Wajah dinginnya membuatku mengulum senyum dan menjerit didalam hati. Dia adalah aktor yang sedang kukagumi akhir-akhir ini, walaupun begitu aku tetap pengagum setia Matthew Sadow dan akan seperti itu sampai aku atau dirinya tiada kelak.
“Nih! Porsi ekstra, ekstra cabai, ekstra cinta! Hehehe” begitu suara kak Dika disertai dengan wajah gombalnya.
“Mulai deh!” tanganku dengan jail mencubit pipi kirinya.
“Auuww! Korea lagi dek?” tanyanya sambil mengelus-elus bekas cubitanku. Kakakku memang tidak pernah suka dengan drama-drama romantis seperti drama korea, berbeda dengan kesukaannya terhadap apapun yang berbau Jepang. Aku heran, padahal dua Negara itu bertetangga dan tidak memiliki perbedaan yang terlalu ekstrem tapi ternyata mempengaruhi selera masing-masing individu seperti kami.
“Udahlah kak, yang ini filmnya bagus. Pesannya juga bagus kok.” Kataku penuh optimis sambil menyantap nasgor dengan lahapnya.
“Terakhir kali kamu bilang gitu, kamu nangis histeris sampai mata kamu sembab banget waktu bangun tidur. Hahaha” yah, dan dia kakak yang paling mengertiku, walaupun dia tidak suka tapi dia selalu menemaniku menonton drama korea dan yang lainnya.
“Ihh, kak Dika matanya juga berkaca-kaca kan? Coba aja ngga ada aku, pasti udah habis tisu satu kotak! Hahaha” kami lalu saling ejek hingga sseporsi nasgor penuh cinta adik kakak itu tinggal bersisa bekas-bekas minyak dipiringnya.
“Dek, si Alex kok udah ngga pernah main sih?” celetuknya tiba-tiba. Hatiku terasa bergetar dan berdetak lebih cepat mendengar nama itu disebut.
“Ngga tahu.” Jawabku singkat. Kak Dika mengacak-acak rambutku dan mendorongku dengan sikunya.
“Ah kamu ini ditanya jawabnya gitu. Kalian berantem??!” mataku sontak membesar saat melihatnya, dan kak Dika tertawa melihatku.
“Apaan sih. Kami ngga berantem kok. Cuma jaga jarak aja.” Jelasku. Percuma saja jika aku menyembunyikan hal se-sepele apapun padanya, lebih baik kuceritakan semuanya agar lebih nyaman dan aku merasa sedikit lebih lega.
“Apa bedanya? Huh?” tanyanya mendekatkan wajah padaku.
“Ya jelas beda lah, kalau berantem itu pukul-pukulan atau jambak-jambakan atau tusuk-tusukan. Kalau jaga jarak kan ngga gitu. Wheeeekkk.” Ejekku.
“Kamu ini kapan gede sih? Kalau itu nenek-nenek ompong juga tahu. Kenapa sih  mesti jaga jarak kalau hati kalian aja sebenernya ngga mau dijauhin? Huh?” Oh My God. Itu realitanya, dan kak Dika segamblang itu mengungkapkannya didepan mataku sendiri. Aku lalu terdiam. Bukan, kami berdua yang terdiam. Kak Dika tahu dimana dia harus memberiku waktu untuk berpikir dan menata hati. Film itu juga seakan menamparku ketika Seo In Guk menekan egonya demi memperjuangkan hatinya.
“Ehmm, kak Dika pernah ngga, emmm pernah gini ngga?” telunjuk kananku menyentuh bibirku sembari melihat kak Dika dengan canggung. Lalu seketika aku menyesal melakukannya.
“Hahhh? Kamu udah gitu sama Alex? kok bisa? Kapan? Haduhh, ngga bener nih, ngga baik dek!” tingkah kak Dika seperti orang yang sedang kebingungan harus berbuat apa.
“Ihh ngga gitu. Jawab dulu dong kak. Pernah ngga cewek yang kakak cium itu marah gara-gara kak Dika nyuri ciuman pertamanya? Terus gimana reaksi si cewek itu?” aku memiringkan kepala dengan wajah sendu, dan kak Dika mengerti akan itu.
“Emmm, ngga tahu kakak lupa.”
“Masa’ lupa sih? Pasti udah sering kan kayak gitu. Ih kak Dika juga sama aja seperti cowok yang lain.”
“Ehh ngga gitu. Tapi intinya kamu jangan sampai ngasih yang begituan sama cowok, sekali dia gitu dia bakal minta terus sama kamu. Kalau dia minta lebih gimana?”
Aku langsung menggeleng-gelengkan kepala.
“Ini ngga seperti yang kak Dika pikirin. Dia spontan ngelakuin itu waktu kondisi kita emang lagi renggang. Gimana dong kak? Aku bingung...” rengekku meminta jawaban. Tangan kak Dika dengan lembut mengelus rambutku.
“Ooo yang waktu kamu terpuruk ditinggal Raka itu, kalian berantem? kenapa?” tanyanya penuh perhatian.
“Ngga tahu, dia marah-marah gitu aja sama aku. Kak Dika kan tahu kalau aku paling ngga suka ada orang yang bicara keras ataupun kasar sama aku tanpa bilang maaf setelah kejadian itu.” Jelasku
“Mungkin dia sebel lihat kamu, kamu perlu sadar diri dong dek gimana kelakuan kamu setelah kejadian menyedihkan waktu itu. Kamu down, kamu bikin semuanya khawatir. Mama, Papa, Aku sendiri dan bahkan temen-temen kamu juga khawatir sama kondisi kamu. Ya wajar aja kalau Alex marah sama kamu, dia takut kamu ngga bisa move on dan mungkin dia berbuat begitu demi kebaikan kamu.” Perbedaan usia memang menjadi pembeda atara pemikiran yang sudah matang atau yang masih mentah. Tapi terkadang dewasa-nya seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya angka diusia mereka.
“Jadi intinya, dia lebih memilih aku membencinya daripada dia harus melihat aku terpuruk, seperti itukah?” simpulku pada akhirnya.
“Yappz, dan mungkin dia mencuri ciuman pertamamu waktu itu karena dia tidak bisa mengendalikan hasratnya. Menjaga jarak dengan orang yang kita sayangi itu berat, apalagi kalau dia selalu terlihat dimanapun kita berada, kamu harus tahu itu...”
Aku menggelengkan kepala penuh kekaguman. “Waaoooww.”
“Apa yang dilakukannya itu ngga mudah dek, bayangin aja kamu harus nahan apapun yang ingin kamu lakukan, kamu harus rela dibenci demi kebaikan orang yang kamu sayangi. Disisi lain kamu selalu ingin disampingnya, sementara dia menjaga jarak sama kamu dan dia selalu ada dipandangan kamu dimanapun kamu berada. Sakitnya itu disini sama disini.” Kata kak Dika menunjuk di dada bagian kiri dan kepalanya.
“Tapi dia sama sekali ngga bilang maaf.” Aku kembali mengerucutkan bibirku.
“Maaf? Haha.. seharusnya kata maaf itu ngga ada dikamus orang yang saling menyayangi. Tapi dia pasti punya alasan kuat tentang itu.” Mataku berbinar-binar. Kenapa tiba-tiba aku merasa kak Dika sangat brilliant malam ini. Sejenak kami kembali pada kesibukan menonton drama sebelum akhirnya aku tertawa ringan yang membuat kak Dika memandangku.
“Aku bener-bener ngga nyangka. Ternyata ada ya, aku kira hal seperti itu cuma ada di drama-drama aja. Ternyata....” aku tertawa lagi, menggelengkan kepalaku lagi, dan tertawa lagi.
“Kamu jadi pemeran utamanya di drama kehidupan kamu.” Timpal kak Dika. 
Aku tersenyum, berkata pada diri sendiri dan memohon semoga dramaku seindah drama-drama lain yang berakhir bahagia.  J


Enam belas,,,

Normal POV

“Ohh, apa harus aku? Kenapa ngga pergi sama kak Dika aja sih?” kening Rara  berkerut ketika berpikir sambil menggenggam telepon ditelinganya.
“Ayolah, kali ini aja Ra.. please?” suara kak Yuda terdengar sangat manis saat memohon padanya. Rara terlihat menimang-nimang sejenak, mengetuk-ngetukkan jari telunjuk diatas bibirnya.
“Oke, ,” jawabnya singkat.
“Yess! Gitu dong. Aku jemput jam 7, dandan yang cantik ya, makasih sayang. Hehe” oh Tuhan. Rara serasa ingin melayang ketika orang yang sedang dekat dengannya saat ini memanggilnya seperti itu.
“Huh? Sayang?? Awas kalau lama..!” ancamannya seperti tak dihiraukan oleh Kak Yuda yang suasana hatinya sedang ceria. Tanpa menunggu jawaban, Rara langsung menutup teleponnya dan merebahkan diri ditempat tidur dengan bebas.
Sepasang bola mata itu menatap langit-langit kamarnya, pikirannya sedang meloncat-loncat lalu sedetik kemudian dia berjingkat dan mengacak-acak isi lemarinya.

18.30 . Rara sedang memandangi bayangannya dari cermin riasnya. Perlahan-lahan dia menata rambut panjangnya dengan alat pengeriting rambut Mama-nya. Tak biasanya dia seperti ini. Dengan sabar dia meng-curly rambutnya hingga jatuh indah dibahunya. Lima belas menit kemudian dia memoles wajahnya dengan make-up yang tidak terlalu tebal tetapi tampak cantik dan sangat natural. Lipstik merah muda menjadi sentuhan terakhir, membuat Rara tampak lebih segar dan semakin manis saat tersenyum.
 “Ciyee yang lagi dandan! Jangan lama-lama, pacarnya udah nunggu dibawah..” suara kak Dika tiba-tiba saja muncul dibalik pintu kayu kamar Rara. Karena terkejut, Rara refleks melempar sisirnya hingga mengenai kepala kak Dika.
“Kak Dika!! Ketuk pintu dulu! hobby banget bikin adeknya jantungan. Suruh nungguin bentar.” Keluhnya sebal, hampir saja serangan panik tadi merusak mood Rara. Namun setenang mungkin dia mengabaikan itu dan mengambil dress biru pastel-nya yang jatuh cantik sampai di lutut. Secepat kilat dia berganti pakaian dan meraih sepasang heels yang tampak sangat serasi dengan dress yang dikenakan. Rara kembali bercermin.
“Oh! Anting mana anting?!” tanyanya pada diri sendiri yang terkadang ceroboh menaruh barang-barang pribadinya. Setelah yakin semuanya sudah beres, Rara kembali bercermin dan menyambar tas tangan kesayangannya.
“Oh No! I can’t breathe....” suara kak Yuda terdengar lirih ketika Rara berdiri dihadapannya. Dia memandangi ujung rambut hingga ujung kaki gadis yang berdiri didepannya.
“Alloo??! Kak?!!” ucap Rara melambaikan tangan didepan wajah kak Yuda, membuatnya tersadar dari khayalannya.
“Oh, hehe. Kamu terlalu berlebihan deh Ra.” Ucapnya canggung.
“Huhh?? Kenapa? Make-up aku ketebelan ya, apa terlihat terlalu dewasa?” tanya Rara tanpa jeda. Rara merasa kikuk mendengar pendapat kak Yuda.
“Enggak gitu, kamu terlalu berlebihan cantiknya. Bikin sesak disini. Hehe.” Tangan kanan kak Yuda menyentuh dadanya yang lapang.
“Awas aja kalau berani macem-macem sama Rara, gue timpuk lu!” ancam kak Dika yang membuat semuanya tertawa. Diperjalanan Rara duduk tenang didalam mobil, sementara Yuda sedang berperang dengan hatinya, menyiapkan diri dengan apa yang akan dihadapinya nanti.

Suasana pesta reunian sekaligus perayaan ulang tahun salah satu alumni sekolah Rara tampak sangat ramai. Disana sini terlihat kakak kelas Rara sekaligus teman dari kakaknya yang masih dikenalinya. Rara merasa seperti orang asing yang terdampar ditempat suatu suku didaerah pedalaman. Karena canggung dia menghentikan langkahnya, membuat kak Yuda menyadari apa yang dirasakannya.
“Kenapa? Udah ngga papa, santai aja.” Kak Yuda menggenggam tangan Rara dan tersenyum padanya. Mereka berkeliling dan menyapa teman Kak Yuda. Mata Rara berhenti saat melihat seorang gadis yang sedang berjalan dari pintu masuk. Dia memiliki paras yang cantik dan sangat menawan. Namun, Rara merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya, wajah itu seperti mirip seseorang yang pernah ditemuinya tetapi Rara sama sekali tidak bisa mengingat siapa itu.
“Waoow, siapa dia?” bisik Rara pada kak Yuda ketika kakaknya bersama pasangannya yaitu kak Shinta bergabung bersama mereka berdua.
“Itu yang lagi ulang tahun.” Jawab Kak Yuda singkat lalu dengan jelas ekspresi wajahnya berubah menjadi dingin.
“Kamu ngga mau ketemu sama dia? Udah lama kan sejak kejadian waktu itu.” Ucap kak Dika, sementara Rara sibuk mengobrol dengan kak Shinta yang sudah seperti kakaknya sendiri. Jujur Rara tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, dan itu membuat Rara merasa sangat penasaran.
“Itu masa lalu, dan aku ngga mau kembali kemasa itu.” Sanggah kak Yuda.
“Tapi kamu masih cinta kan sama dia?!” pertanyaan kak Dika seolah menyudutkan dirinya, kak Yuda tidak menjawab malah mengambil dua gelas minuman yang tersaji untuk Rara dan dirinya. Rara merasa kak Yuda bukanlah orang yang telah dikenalnya. Dia seperti kak Yuda saat pertama kali mereka bertemu. Dingin dan angkuh.
“Bukan urusan kamu.” Jawab kak Yuda kesal.
Rara berhenti memperhatikan mereka dan melihat kesekeliling ruangan hingga berhenti disatu tujuan. dia sampai tersedak minumannya sendiri saat melihat orang itu.
“Alex?! kok dia bisa disini?” tanyanya lebih pada diri sendiri.
“Iyalah, namanya juga pesta ulang tahun kakaknya. Yang pakai gaun merah itu yang namanya Alice, kakaknya Alex.” kak Dika menjelaskan
Rara hanya ber-oo panjang. Pantas saja gadis itu mirip sekali dengan orang yang kukenal, ternyata dia adalah kakak Alex yang sering dibilang kembarannya.
Pesta kemudian berlalu sangat membosankan bagi Rara. Kak Yuda terus mengacuhkannya dan sibuk dengan dirinya sendiri, duduk diam disamping Rara. Rara sangat kesal mengingat kak Yuda lah yang merengek padanya supaya dia mau menemaninya kepesta itu, namun dia justru mengacuhkannya.
“Kak? Kapan pestanya selesai?” tanya Rara basa-basi, sekedar mencairkan suasana.
“Paling bentar lagi.” Jawab kak Yuda dingin. Sontak Rara terkejut, dan ijin untuk pergi kekamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi Rara tanpa sengaja menabrak seseorang. Alex. mereka terkejut satu sama lain. Alex membantu Rara berdiri dan menanyakan keadaannya.
“Ngga papa kok. Oh ya, titip ucapan selamat ulang tahun buat kakak kamu.” Katanya tanpa basa-basi,
“Kamu kesini sama siapa? Ngga sama kak Dika kan?” Alex mengedarkan pandangannya, dan menemukan kak Dika, tetapi dia ingin sekali memberontak ketika disitu juga ada guru les Rara.
“Sama dia juga?! Dia itu bukan orang yang baik buat kamu Ra.” Rara terkesiap, memandang heran pada Alex.
“Maksud kamu apa sih Lex?” Rara berlalu namun Alex menarik tangannya.
“Dengerin aku, dia itu Cuma mainin kamu. Kamu jangan semudah itu dong percaya sama dia.” Alex memandang sendu kedalam mata Rara.
“Omong kosong tahu ngga, terus emangnya kenapa kalau aku sampai beneran suka sama dia? Bukan urusan kamu kan?!!” Rara memuncak, mood-nya sudah buruk karena perilaku kak Yuda, kini dia harus bertengkar lagi dengan Alex.
“Itu urusan aku! Kamu ngga tahu kan kalau dia itu...”
“Dia apa? Kamu mau bilang kalau dia masih ada perasaan sama kakak kamu? Terus kenapa aku harus peduli Lex?” belum sempat Alex menyelesaikan perkataannya dia sudah memotongnya begitu saja.
“Hei, ada apa sihh? Kamu nggapapa kan Ra?” kak Yuda tiba-tiba muncul dibelakang Rara.
“Peduli apa sih kamu?! Urus aja diri kamu sendiri.” Celetuk Rara pada kak Yuda.
“Denger ya Lex, dia mungkin emang mainin aku, tapi apa kamu ngga ngaca sama diri kamu sendiri? Kamu lebih mainin perasaan aku dari pada apa yang dia lakuin ke aku. Puas kamu?”
“Apa?! Maksudnya aku?!! Kalian ngomongin apa sih?” tanya kak Yuda yang merasa dipermainkan disitu.
“Diem kamu! Dasar pengecut!” tantang Alex. kak Yuda merasa naik pitam dan hampir saja meninju Rara yang menghalangi mereka berdua.
“Kamu itu pengecut, kalau masih cinta kenapa ngga bilang aja, huh?! Jangan berani-beraninya kamu mainin hatinya Rara!!”teriak Alex membuat semua perhatian tertuju pada mereka bertiga.
“Aku ngga pernah bermaksud mainin hatinya Rara, kalau ngomong dijaga dong!!” balas Kak Yuda.
“Omong kosong! Kalian itu bullshit tahu ngga?! Kaya anak kecil!!” itu adalah suara terakhir Rara sebelum dia pergi meninggalkan mereka berdua.
Tanpa disadari, Alice melihat pertikaian mereka bertiga. Ketika Rara keluar ruangan, Alice mengejarnya dan memintanya untuk mengobrol sebentar.
“jadi kamu orangnya? Ngga salah kalau dia selalu corat-coret dinding kamarnya sama nama kamu.” Terang Alice.
“Jadi kamu orangnya? Pantas aja kak Yuda tega nyuekin aku semaleman ini.” Ucap Rara ketus. Alice hanya tersenyum. mereka kemudian mengobrol semalaman. Saat itulah Rara tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya, dan saat itulah dia baru tahu yang sesungguhnya tentang besarnya perasaan Alex pada dirinya. Dia lalu pamit untuk meninggalkan pesta. Sendirian dia berjalan menuju jalan raya untuk menunggu taksi.
Hampir lima belas menit Rara menunggu namun tak ada taksi yang lewat, kalaupun ada taksi itu sudah ada yang menumpangi.
“Ternyata masih disini...” ucap suara dari samping Rara. Baju yang dikenakannya terlihat sangat berantakan dan peluh berjatuhan dari keningnya.
“Ka..kamu?” Rara merasa berdebar melihat dirinya. Apa benar semua yang diceritakan oleh Alice padanya tadi. Semua itu membuat hatinya bergemuruh tak karuan. Antara senang, takut, salah tingkah, dan juga penasaran bercampur menjadi satu.
“Kemana aja kamu? Aku muter-muter nyari kamu. Tapi yang dicari ngga nyadar sama sekali.  Huft!” Alex berada lebih dekat dimana Rara berdiri. Dia memegang lututnya sambil mengatur pernafasan.
“Bukan salah aku kan?!” sangkal Rara, melepas sepasang heels-nya karena lelah berdiri terlalu lama.
Alex tersenyum tipis, memandang Rara penuh kasih. Hati Rara serasa ingin meledak karena berdebar sangat kencang, tetapi rasa gengsi membuat dirinya mengacuhkan Alex.
“Memang. Semua salahku. Kenapa aku sampai jatuh cinta sama cewek kaya kamu.”
Oh Tuhan, Rara ingin sekali terbang, melambung tinggi kelangit penuh bintang.
“Aku bakal tetep maafin kamu walaupun kamu ngga bilang gitu. Jadi ngga usah bilang omong kosong lagi.”
“Kapan sih kamu ngerti kalau aku beneran sayang sama kamu??” Alex mendekat, memegang kedua bahu Rara dengan tangannya. Tetapi Rara menepisnya. Alex terkejut bukan main, rasanya seperti dirinya sudah tak berarti lagi bagi gadis itu.
“Ngga akan, tanpa bukti yang berarti.” ucap Rara, melempar pandangannya melihat padatnya kendaraan dimalam hari.
“Kenapa aku harus ngasih bukti, sementara orang itu bisa dengan mudah dapetin perhatian kamu?” sorot mata Alex menunjukkan keputusasaan. Rasa putus asa ketika Rara dengan mudahnya menyukai kak Yuda sementara dirinya semakin dijauhi oleh Rara.
“Itu beda. Aku sayang sama kak Yuda sebatas rasa sayang kakak dan adik, dan aku ngga pernah mengharap lebih walaupun dia memperlakukanku dengan spesial.” Jelas Rara,
“Aku harus apa biar kamu percaya?” tanya Alex penuh harap. Apapun itu dia akan melakukannya demi peri kecilnya itu, demi melihat kembali senyum Rara setiap harinya.
“Kenapa tanya aku? Harusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”
Alex merogoh saku celananya, dan menggenggam sesuatu sebelum meraih tangan Rara dan meletakkan barang itu ditelapak tangannya. Rara terkejut bukan main.
“Ini... Ini yang waktu itu?” ingatan Rara kembali saat dia sedang pergi mencari hadiah untuk pacar kakaknya dan sangat menginginkan benda yang ada ditangannya itu. Sebuah gantungan yang dirancang untuk pasangan. Disitu terukir nama Alex love Rara dengan tinta emas. Rara sungguh tidak menyangka akan mendapatkan itu dari Alex.
“Aku udah suka sama kamu sejak pertama kali kita bertemu. Sejak pertama kali aku ngelihat kamu sendirian diatas gedung sekolah. Sejak pertama kali kamu jutek sama aku. ..” mata Rara berkaca-kaca. Sejauh itu kah? Sedalam itukah? Dan selama itukah Alex telah memperhatikan dirinya? Alex semakin erat menggenggam tangan Rara yang bergetar pada saat itu.
“..sejak saat itu aku merasa kalau kamu butuh seseorang yang bisa bikin kamu tertawa seperti biasanya. Dan aku ingin jadi orang itu. Sekarang udah cukup lama aku nahan perasaan itu. Kamu mau jadi pacar aku?” Alex mencetuskan pertanyaan itu dengan berat, seperti itu adalah kata-kata terakhir yang ingin dikatakannya.
“Ehh, emm aku.. akuu ngga bisa. Maaf aku ngga bisa.” Jawab Rara tanpa berpikir panjang. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali dan melepas pegangan Alex.
“Ngga bisa?! Kenapa Ra??” alex merasa dilempar dari langit ketujuh dan jatuh telak dibumi dengan keras. Dadanya seakan butuh perisai yang mampu melindunginya agar tidak hancur berantakan.
“Aku ngga bisa aja. Belum waktunya.” Kata Rara tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Lalu kapan Ra? Paling ngga kamu bilang dong alasannya ke aku.” Paksa Alex, terus menyudutkan Rara.
“Aku ngga suka diikat sama sebuah status yang namanya pacaran. Kenapa harus pacaran kalau jadi sahabat  aja kita bisa menyayangi satu sama lain? Aku Cuma ngga mau semuanya berubah jadi lebih buruk dari yang sekarang. Jalani aja dulu. Mungkin kalau udah waktunya, kamu bakal jadi yang terakhir dalam hidupku.” Terang Rara dengan sangat tenang. Alex tercengang mendengar perkataan peri kecilnya yang bisa berpikir se-dewasa itu.
“Jadi?” suara Alex terdengar berat ditelinga Rara.
“Jadi,, kita jalani aja dulu. walaupun sebuah hubungan tanpa ikatan, tapi kalau kita sama-sama tahu perasaan masing-masing, sama-sama tahu ngga ada yang mau kehilangan satu sama lain, bukankah itu sudah cukup??” Rara menatap dalam ke mata Alex, mencari jawaban dari sinar matanya. Lalu Alex tersenyum dengan sangat tulus.
Alex memeluk Rara dengan sangat erat. Beberapa detik kemudian dia melepasnya dan mendekatkan wajahnya pada Rara. Semakin dekat, Alex memejamkan matanya dan menyetuh jari telunjuk Rara yang telah mengunci bibirnya.
“Ini bukan apa yang aku inginkan.” Kata Rara tanpa sungkan.
Alex tersenyum lagi, menangkis jari Rara dan menjatuhkan ciumannya di kening gadis itu dengan penuh kasih sayang. Rara tersenyum, senyum termanis yang pernah dia lukiskan diwajahnya. Dan itu karena ada Alex didekatnya. Selalu saja Alex, selalu saja karena Alex, dan selalu hanya ada Alex.
Sungguh sayang cuaca malam itu sangat tak mendukung karena tak lama kemudian langit menjatuhkan air mata bahagianya dengan penuh suka cita. Mengguyur deras daerah itu dan membuat sepasang muda-mudi itu basah kuyup. Tawa masih terdengar ketika mereka berlari mencari tempat berteduh.
Hingga pada akhirnya, sepasang muda-mudi itu terus bersama-sama. Terus bergandengan tangan, dan terus melangkah bersamaan mengarungi dunia mereka yang dulu sulit untuk dicapai. Kini dengan cinta, persahabatan, dan harapan yang menuntun untuk meraih sebuah mimpi, hidup bisa lebih bahagia, lebih bermakna, dan juga lebih berwarna yang warnanya mengalahkan indahnya warna pelangi. Hidup mereka, dan hidup kita juga. J