Jalani Aja Dulu
Oleh
: Mimin Yuni Liyani
Satu...
Rara’S
POV
Teriknya mentari seakan ikut menyempurnakan pagiku.
Kututup kedua lubang telingaku dengan sepasang earphone dan memilih lagu untuk
menemaniku dalam kesendirian. Dari sini tampak anak-anak yang sedang
berhamburan menuju kelasnya. Ada yang bercanda, mengobrol, ada juga yang
berlarian, seperti tikus dan kucing.
’19 Januari 2014,
Engga terasa udah tiga bulan kamu ngga ngirim kabar, ada apa?
Tiap hari aku selalu merindukan kamu berada disini,
menghiburku saat aku benar-benar merasa jatuh. Tapi sekarang,, aku hanya bisa
menulis dan menganggap kertas dan pena ini bisa meringankan kegelisahan yang
menerpa hari-hariku. Maaf kalau sekarang aku lebih dekat sama kedua benda ini,
karena kamu juga jauh disana dan ngga pernah ngasih kabar ke aku.
Miss you, my beloved friend’
Mataku teralihkan oleh sebuah lamborgini yang
berhenti tepat di depan bangunan tempatku terpaku. Kuperhatikan ketika pintu
mobil itu terbuka. Seorang cowok. Wajahnya dan bagaimana rupanya sama sekali
tidak jelas dari sini. Pikiranku akhirnya dipenuhi dengan hal lain. Itu kan
bukan tempat parkir, lagian mau sekolah apa mau ikutan pameran mobil mewah sih,
kok sampai segitunya. ‘Dasar tukang pamer’ batinku.
Kututup buku biru dongker’ku. Kutekan lagi earphone
yang mulai mengendur dari lubangnya. Tanpa menghiraukan situasi dibawah sana
bola mataku mulai terpejam, menikmati setiap lirik lagu di mp3-ku. Mulutku pun
ikut mendendangkan a thousand year-nya christina perry.
Heart
beats fast colors and promisses
How to be
brave,
How can i
love when i’m afraid to fall
I have died everyday
waiting for you
Darling don't be
afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a
thousand more...
Didalam ketenangan ini, tiba-tiba saja sesuatu
menghantamku. Wajahku menunduk kebawah, mencari sumber yang menggangguku itu.
“Wooii Ra, lagi ngapain sih?!” seorang cewek sedang berkacak pinggang dan
berteriak dari bawah sana.
“Apaan sih In? Ngganggu aja deh.” Aku mendengus
kesal. Melempar kembali gumpalan kertas itu.
“Yee, dicariin Pak Widi tuh. Dikantornya.”
“Oh Ya? Ngga lagi ngerjain aku kan?!” Indri manyun
bukan main mendengar ucapanku.
“Ya ampun Rara, dibilangin juga ngga percaya.
Ngapain juga aku teriak-teriak kaya’ orang gila gini kalau boongan?” terkadang
dia melakukan hal yang benar, tapi dia lebih sering melakukan hal yang
menggelikan kepada sahabatnya ini.
“Yaudah, makasih Indri cantik.” Aku tertawa melihat
ekspresinya yang langsung berubah 180 derajat.
Dengan enggan aku menuruni anak tangga satu
persatu.
Setibanya didepan ruang pak Widi, kuputuskan untuk
mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasukinya. Tampaknya sedang ada tamu.
Seorang lelaki dengan setelan jasnya dan cowok berseragam duduk disampingnya.
Aku tidak merasa pernah melihatnya
sebelumnya. Apa ini orang yang tadi pagi? Pikirku. Namun sepertinya aku enggan
memikirkannya terlalu jauh. Pak Widi yang mengetahui kehadiranku tersenyum dan
berdiri dari tempatnya.
“Rara, bisa kesini sebentar.” Katanya.
“Iya pak, ada apa ya?” kakiku melangkah mendekati
meja beliau.
“Bapak minta tolong, karena nanti ada urusan yang
penting saya minta kamu menggantikan bapak memberikan pengarahan pada anak-anak
yang tergabung dalam extra mading sekolah kita.”
“Tapi pak, saya kan udah kelas sebelas. Lagipula
sudah lama ngga ikut ekstra pak.” Aku sedikit melirik kearah cowok yang duduk
didepan pak Widi. Kulihat dia sedang memandangiku dengan wajahnya yang sedingin
es dikutub utara.
“Ngga papa. Kamu kan yang paling bisa diandalkan.
Apa sih yang ngga bisa dilakukan sama kamu.” Pak Widi menyunggingkan segaris
senyum diwajah paruh bayanya.
“Baik pak. Saya usahakan. Ada lagi pak?”
“Nanti waktu istirahat pertama kamu kekantor bapak
ya. Bapak mau kasih pengarahan sama kamu.”
“Oke pak.” Aku tersenyum. “kalau gitu saya permisi
dulu pak.”
“Iya, silahkan.” Saat beranjak pergi mataku kembali
melirik kearah cowok tadi. Dan lagi-lagi dia sedang memandangiku.
Aku sama sekali tak keberatan jika seseorang
memandangiku, tapi caranya menatapku yang membuatku tidak nyaman. Rasanya
seperti akan ada harimau yang siap siaga menyerangmu untuk dijadikan mangsa.
Bel tanda masuk berbunyi tepat ketika aku
menjatuhkan diri ditempat duduk. Anak-anak yang lain masih sibuk bergosip ria
dipagi hari. Ini menjadi sarapan wajib dikelasku, terutama bagi para cewek.
“Eh Ra, ada kabar bagus nih!” Agni, teman
sebangkuku berteriak kegirangan. Seperti biasa.
“Apaan sih?” aku tidak begitu tertarik dengan apa
yang akan dikatakan cewek yang sudah menjadi sahabatku sejak SMP ini.
“Ada anak baru. Sumpah keren bangeeettt!!” serunya.
Belum sempat menjawabnya, cewek dengan rambut
diikat ekor kuda tampak sedang berlari memasuki kelas.
“Hei guys! Ternyata bule. Baru pindah dari luar
negeri. Ihh, keren bangeeett!!” entah setan apa yang merasuki mereka berdua
sampai seperti ini.
“Ihh yang bener In?”
“ Haduh, kalian kenapa sih?”
“Ya ampun Rara-ku sayang, masa’ kamu ngga tahu sih?
Bukannya kamu barusan dari ruangannya pak Widi ya?” Indri mencubiti pipiku
dengan sadisnya.
“Terus?”
“Ada anak baru kan disitu tadi?!” bola mataku
berputar dan menunjukkan ekspresi tidak peduli. Membuat mereka mendengus kesal.
“Eh, Bu Ani.. Bu Ani!” suara dari depan membuat
semua murid gusar dan kembali ketempatnya masing-masing. Termasuk Indri yang
sedari tadi berdiri disamping mejaku.
“Pagi anak-anak.” Bu Ani memasuki ruangan dan
menyuruh Joe sebagai ketua kelas untuk menyiapkan.
“Hari ini kita kedatangan murid baru.” Katanya
sambil tersenyum lebar. Suara bisik-bisik memenuhi ruangan. Beliau keluar,
sepertinya sedang berbicara dengan seseorang diluar kelas.
“Eh, taruhan deh. Pasti lebih keren dari Petra
Sihombing.” Agni membuka suara.
“Emang dia cowok ya?” tanyaku. Wajah Agni menatapku
sinis, seakan berkata ‘Rara lola banget sihh, ngapain juga cewek-cewek pada
ribut kaya tadi kalau ternyata anak baru itu cewek!’. Aku hanya bisa nyengir
kuda.
Bu Ani kembali masuk, diikuti dengan seorang cowok
bertubuh atletis dibelakangnya. Aku seperti sudah tak asing dengan wajah itu.
Lalu kuingat-ingat kembali. Pantas saja, dia cowok yang tadi pagi. Si manja
kaya raya. Bola mataku berkeliling keseluruh penjuru kelas, mengamati
wajah-wajah mupeng (muka pengen)
teman-temanku. ‘Parah’ batinku. Memang sih, kita ngga boleh pilih-pilih
teman. Mau kaya mau miskin. Tapi aku ngga suka aja kalau ada anak yang sok
pamer, bak selebriti papan atas. Tapi entah mengapa yang ini berbeda. membuatku
berfikir kalau dia adalah cowok yang bakal suka cari perhatian, dilihat dari
tampangnya terutama.
“Nah, anak-anak. Ini dia yang Ibu bilang tadi.”
Tangan Bu Ani menyentuh bahu kanan cowok itu.
“Silahkan perkenalkan diri kamu.”
Matanya berkeliling. Membuka mulut, dan menutup
lagi. Pandangannya berhenti pada satu titik. Aku.
“Ehmm, nama saya Alexandrian Dirga Pratama. Kalian
boleh panggil Alex. Mohon bantuannya teman-teman.” Katanya gugup.
“Hai Alex!!” kata cewek-cewek dipojokan.
Agni menyenggol tanganku dengan kasar.
“Tuh kan Ra, keren bangett!” bisiknya.
“Biasa aja.” Balasku.
Indri yang duduk dibangku sebelah tampak
senyum-senyum sendiri. Aneh banget, kenapa pada lebay gitu sihh. Cowoknya juga
ngga keren keren amat kali. Aku pun ikut berdebat dalam hati.
Bu Ani menjelaskan tentang Alex yang baru pindah
dari Singapura, dan asli dari Bandung. Dia pindah kembali keIndonesia karena
bisnis ayahnya yang sedang terfokus ditanah air ini. Beliau lalu menyuruhnya
untuk memilih tempat duduk sendiri.
Kakinya yang panjang melangkah menuju baris
belakang. Dia kembali menatapku, membuatku takut dan merasa tidak nyaman.
“Lihat Ra, dia duduk dibelakang Indri tuh.” Aku
memperhatikan kedua sahabatku bergantian.
“Yaelah Ni, emang kenapa sih. Suka-suka dia dong.”
“Jutek banget sih Bu. Lagi dapet ya!” katanya
diikuti tawa yang renyah. Akupun ikut tertawa dibuatnya.
Mata pelajaran pertama dan kedua berjalan lancar
dan cenderung biasa-biasa saja. Aku tidak memilih-milih guru dan pelajaran yang
diajarkan sebagai favorit atau yang kubenci seperti yang lainnya. Bagiku semua
guru dan mata pelajaran sama-sama penting dan memberikan wawasan padaku. Itulah
mengapa guru yang mengajar dikelasku menaruh perhatian lebih padaku. Walaupun
begitu hari ini terasa berat sekali. Saat guru menyelesaikan materinya dan
keluar dari kelas, kujatuhkan kepalaku diatas buku catatan biologi. Memasang
earphone lagi. Memejamkan mata. Dan
tentu saja memikirkan dia yang jauh disana.
Dua...
Normal
POV
Jam
dinding kelas menunjukkan pukul 14.10 WIB. Mata pelajaran Seni Budaya diisi
dengan jam kosong karena gurunya ada keperluan mendadak. Walaupun begitu, tugas
tetap menanti dengan sendirinya. Rara sebagai sekretaris kelas IPA 2 sedang
menulis tugas yang diberikan Pak Wibowo. Rambut panjangnya menari-nari dengan
indah. Tubuh idealnya beralih dari
kiri kekanan, kiri kekanan, begitu seterusnya.
Alex
yang duduk disamping ketua kelas sedang sibuk memainkan pulpennya.
“Eh,
tahu ngga anak-anak disini pada ngomongin kamu.” Joe memulai pembicaraan.
“Kenapa?”
Alex menatap cowok disampingnya dengan dahi berkerut.
“Tahu
tuh. Lihat aja sendiri.”
Alex
tidak mengacuhkan ucapan Joe. Dia mengambil buku catatannya dan mulai menulis.
“Siapa
tuh?” katanya sambil menyunggingkan dagu kedepan. Joe mengikuti pandangannya.
“Oh,
itu Rara. Kenapa?”
“Ngga
papa, Orangnya unik.”
“Unik?
Barang antik kali ya! Hehehe” mereka berdua tertawa lepas. Menghiraukan tatapan
dari murid lainnya.
“Kok
bahasa Indonesia kamu masih bagus gitu sih? Bukannya kamu lama diluar negeri
ya.”
“Ohh,
iya sih. Walaupun diluar tapi harus tetep cinta Indonesia dong. Aku disana juga
masih sering pake bahasa Indonesia kok. Coba bayangin kalau aku ngomongnya kaya
Cinta Laura gitu. Hahaha.”
“Haha,
iya juga ya.”
Lagi-lagi
sepasang mata Alex kembali tertuju pada cewek yang ada didepan sana. Entah apa
yang ada dipikirannya, tapi sesuatu membuatnya merasa bahwa dia berbeda.
“Tolong
dong yang piket bantuin hapus papan tulis.” Rara mengangkat sebuah penghapus
ditangannya tinggi-tinggi. Berharap salah satu dari temannya untuk membatu.
“Sini,
aku aja Ra.” Anton yang tempat duduknya dibelakang Rara berjalan kedepan kelas.
“Makasih.”
Dengan anggun Rara kembali ketempat duduknya.
*
* *
Lapangan
basket tampak dipenuhi dengan murid-murid yang sedang menghabiskan waktu
istirahatnya. Sorak-sorak cewek yang duduk berderet dipinggir lapangan, semakin
membuat gaduh suasana disiang itu. Dengan keringat bercucuran, para pemain
tetap menunjukkan perfoma terbaik mereka.
“Hei.
Kok sendirian sih?” tanya seseorang pada cewek yang sedang duduk manis dibawah
pohon cemara dipojok lapangan basket.
“Oh,
ehmm lagi nungguin Indri sama Agni.” Dia membenarkan posisi duduknya. Mulai
merasa tidak nyaman dengan kedatangan cowok ini.
Cowok
yang sekarang duduk bersamanya kini hanya ber-O panjang.
“Aku
Alex, kita kan belum kenalan. Rara kan?” sebuah tangan terulur, berharap
mendapat sambutan.
“Iya.”
Rara hanya membalas uluran tangannya. Dia kembali menatap kearah lapangan
basket, tepatnya pada salah satu diantara pemain itu. Kini dia tersenyum ketika
melihat cowok idamannya sedang tertawa lepas diseberang sana.
Alex
yang melihat hal itu sempat bertanya-tanya dalam hati.
“Waduhh,
ada cowok ngganteng nih. Aku Agni.” Sahabat Rara itu tiba-tiba saja datang,
entah dari mana dan langsung cengengesan begitu melihat ada Alex disitu.
Dia
membalas jabatan tangannya dan tersenyum ramah. Tentu saja itu membuat Agni
terasa seperti melayang diudara.
“Mulai
deh!” omel Rara dengan kesal.
Agni
masih saja cengar-cengir tanpa berpaling dari Alex.
“Fans
ketemu idola nih.” Kata Rara, menggeser tempatnya duduk untuk Agni dan
melemparkan pandangannya.
Lagi-lagi
Alex membuat jantung Agni berdetak lebih keras karena melihat senyumannya.
“Eh,
Indri mana? Nanti jadi ngga nemenin aku?”
“Lagi
diruang OSIS tuh Ra, dia bilang katanya ngga bisa nemenin kamu.” Jawab Agni.
“Lhoohh,
kok gitu sih! Terus aku gimana?” ekspresi tak percaya dan menyedihkan terpancar
diwajah cantik Rara.
“Ngga
tahu.”Agni mengangkat bahunya.
Rara
bingung. Tapi matanya tak pernah lepas memandangi cowok yang sedang latihan
diseberang sana. Dengan asal, dia mengikat ekor kuda rambutnya menggunakan ikat
rambut biru muda dan beranjak dari duduknya. Walaupun tidak tertata rapi, tapi
ikatan rambut yang asal-asalan itu membuatnya semakin terlihat manis.
“Eh
eh, Mau kemana?”
“kantor
pak Widi.” Rara membersihkan roknya yang tidak kotor sama sekali.
“Butuh
temen ngga Ra?” Alex menawarkan.
“Oo,
ngga usah.” Rara lalu berlalu begitu saja. Meninggalkan sahabatnya dengan teman
barunya ditengah kebisingan disiang itu.
“Dilihatin
terus bang! Orangnya udah jauh kali.” Agni mengayunkan telapak tangannya
didepan wajah Alex. Hanya senyuman yang terpampang diwajah Alex ketika Agni
mengeluarkan ucapan tadi. ‘Beruntung banget Rara, dapet perhatian dari nih
cowok.’ Pikir Agni.
Jam
pelajaran terakhir terasa begitu lama. Seluruh murid dikelas IPA 2 seperti
dibuat mati karena bosan oleh guru baru Bahasa indonesia mereka.
“Gila,
masih muda gini lemot banget ngajarnya.” Agni geleng-geleng kepala.
Rara
tersenyum, merapikan mejanya. “Ini mah kebangetan! Aku yang ngga pernah patah
semangat aja sampai nguap lebih dari 9 kali. Hihihi.” Sahabatnya ikut tertawa
melihat tingkahnya.
Bel
sekolah berbunyi dengan nyaring. Memberikan semangat baru bagi mereka yang
sudah mengharapkannya sedari tadi. Ditengah para murid yang berhamburan keluar
kelas, dan padatnya koridor sekolah dipenuhi dengan suara decitan sepatu
segerombolan cewek-cewek seakan menyapu jalanan.
“Mereka
lagi.” Kata Agni. Rara hanya mendengus pelan dan tersenyum ketika kakak-kakak
kelas itu melewati mereka.
“Bisa
ngga sih, mereka ngga usah sok berkuasa kaya gitu.” Katanya sebal. Agni memang
tak pernah suka dengan mereka yang dipilih menjadi anggota cheerleaders sekolah
ini karena merasa paling berkuasa diantara anak-anak yang lain. Tentu saja hal
ini tidak berlaku untuk cowok-cowok disini.
“Cuekin
aja Ni. Kewarung depan yuk. Beli martabak piscok. Laper nihh, hehe.” Tangan
Rara memutar-mutar diperutnya.
“Ihh,
kebiasaan deh. Yang lain kek, beli bakso apa gado-gado gitu. Bosen tahu makan
martabak tiap hari.” Rara manyun seperti anak yang sedang direbut mainannya.
“Hahaha,
iya iya. Gitu aja cemberut.” Agni mencubit pipi sahabatnya dan berlari
meninggalkannya. Melihat sahabatnya itu Rara langsung berlari mengejarnya.
Tiga,,,
Rara’S
POV
Dengan
lincah jemariku memainkan chord-chord gitar dengan pelan. Sebuah lagu mengalun
begitu indah. Lagu favorit kita saat masih bersama-sama dulu. Tapi sekarang,
hanya ada aku dan lagu ini. Tanpa dia yang biasanya mengiringi diriku
menyanyikannya dibalkon kamarku atau diteras depan. Sudah tiga bulan ini dia
sama sekali tidak memberi kabar padaku. Gelisah. Rindu. Itu kata yang
menggambarkan perasaanku selama ini. Yah, walaupun masih ada kedua sahabatku
dan teman-teman lain, tapi rasanya berbeda jika jauh dari orang yang sudah
seperti belahan jiwa. Setiap detik seakan dipenuhi dengan memory kebersamaan
kita. Tapi sungguh sayang, karena itu hanya seperti cuplikan-cuplikan drama
yang sama sekali tidak nyata.
Mataku
sekilas memandang kearah pintu kamar yang tiba-tiba terbuka.
“Lagi
ngapain sih,Dek?” seorang cowok bertubuh tinggi dengan kaos Hardcore berdiri
dipintu itu. Celana pendek boxernya semakin memperlihatkan kaki putihnya yang
dipenuhi dengan bulu-bulu yang menjuntai.
“Ih,
kakak ngagetin aja. Kalau masuk ketuk pintu dulu,napa!” kulemparkan boneka
panda-ku tepat mengenai wajahnya.
“Aduhh.
Kelamaan kalau harus ngetuk pintu dulu. Lagian kamu juga ngga bakal denger,
apalagi tiap hari galau mulu kaya gitu.” Tawanya memecah ketegangan diantara
kami.
“Ih!!
Rese banget!” kuambil gitar yang tadi hampir terjatuh dari tempatku duduk dan menaruhnya
disudut ruangan. Kak Dika yang tadi masih mematung diambang pintu kini sudah
duduk disampingku. Dengan iseng mengacak-ngacak rambutku.
“Kenapa?
Kok murung gitu mukanya.” Tanyanya penuh perhatian.
Aku
terlahir dua bersaudara dari keluarga menengah atas yang mempunyai seorang
kakak laki-laki. Bisa dibilang beruntung saat tahu bahwa cowok yang sedang menjalani
pendidikan diperguruan tinggi pada semester 4 ini adalah orang yang
melindungiku sejak kecil, yah tentu saja selain Papa dan Mama. Kak Dika sangat
perhatian sama aku. Begitu peka saat adik kesayangannya lagi ada masalah dan
langsung bertanya tanpa diberitahu terlebih dahulu. Dulu, waktu dia nganterin
aku les bareng temen-temen, aku masih ingat betul bagaimana reaksi kedua
sahabatku. ‘Heh Ra, siapa tuh? Pacar kamu ya. Gila manis banget’. Lalu dengan
ekspresi mual karena tingkah mereka aku bilang saja kalau dia itu kakakku.
Tentu saja itu mengakibatkan reaksi lain dari mereka. ‘Ohh, kakak kamu. Boleh
dong dikenalin. Kapan-kapan kita main kerumah kamu ya. Siapa tahu aja kakak
kamu yang keren itu bisa kecantol sama kita-kita’. Begitulah akhirnya mereka
jadi sering main kerumahku hampir setiap hari dengan berbagai alasan yang
sumpah itu ngga penting banget. Masak iya datang jauh-jauh Cuma bilang ‘Mau
pinjem jepit rambut Ra’ sekalian ngecengin kakak kamu didepan tadi’ hahahaha.
Parah gila. Sejak saat itu aku mulai menyadari kalau mereka berdua sangat
rentan dengan barang bening sedikit saja. Terutama sama makhluk yang disebut laki-laki
apalagi seperti kakakku ini. Namun, aku sudah terbiasa mengatasi hal-hal dan
kemungkinan buruk yang akan terjadi saat sindrom itu menyerang mereka. Memang
ngga salah kalau aku dibilang beruntung punya kakak seperti Kak Dika, orangnya
baik, perhatian lagi. Saat aku tahu dia punya pacar, tentu saja aku merasa
perhatiannya terbagi dengan cewek yang beruntung itu. Tapi walaupun begitu dia
tetap ngga lupa kalau punya adik yang ngga kalah ajaib seperti aku.
“Kayak
ngga tahu aja deh.” Dengan malas aku menjawab pertanyaannya dan menelungkupkan
tubuhku diranjang.
“Dia
lagi? Udah tenang aja. Ngga mungkin kan dia ngga punya alasan yang jelas kenapa
ngga ngasih kabar ke kamu selama ini.”
“Terserah.
Bete banget!” aku merengek seperti anak kecil.
“Ngga
usah dipikirin terus kali Dek, ntar juga dia balik lagi kok. Ngga mungkin dia
ninggalin sepotong hatinya menyusuri jalan kehidupannya sendiri.” Kak Dika
tersenyum lirih.
“Mulai
deh, sok puitis!” aku memukulnya dengan bantal keras-keras.
“Hahaha,
tapi keren kan? Udah ah jangan galau mulu. Mending ikut Kakak aja, cari kado
buat kak Shinta.”
“Emang
dia mau Ulang tahun ya? Pake acara beli kado segala.” Dengan malas aku bangun
dari tidur dan bersandar dibahunya.
“Iya,
lusa dia Ultah. Kamu kan cewek nih, jadi bisa dong bantuin Kakak nyari kado
yang pas buat dia.” Dia kembali mengacak-ngacak rambutku.
“Beliin
CD aja Kak, atau daleman. Dijamin pasti bermanfaat. Hahaha.” Aku melayangkan
tinju kelengannya yang tiap hari dilatih ditempat fitness hingga terlihat
berotot.
“Gila
kamu Dek, ngga romantis banget sih. Lagian Kakak kan ngga tahu ukurannya dia.
Hehehe”
Begitulah,
tawa kami akhirnya memenuhi ruangan yang yang sempat terasa sunyi sebelumnya. Walaupun
itu membuat Mama naik keatas untuk memastikan, takut kalau kami melakukan
perang bantal yang bisa membuatnya kerepotan untuk membersihkan kamar. Tapi itu
tidak menutup kemungkinan, akhirnya kami pun mendapat omelan dari Mama dan
terpaksa membersihkan sendiri bekas-bekas kapuk yang bertebaran.
Aku
akhirnya menemani Kak Dika mencari benda yang cocok untuk Kak Shinta di toko
dekat sekolah yang biasa kukunjungi bersama Agni dan Indri. Disini berbagai
macam benda khusus untuk cewek berjajar memenuhi setiap sudutnya. Mau cari
apapun kalau buat cewek dijamin pasti ada. Kami memutuskan untuk berpencar. Aku
mencari ditempat boneka dan aksesoris, sedangkan kakakku dibagian lainnya. Aku
tertarik pada sebuah benda yang seperti kalung tapi sama sekali bukan kalung.
“Silahkan
Mbk, lagi promo, Stok terbatas lho!” Seorang SPG yang datang entah dari mana
tiba-tiba sudah berada dihadapanku.
“Ini
gantungan ya Mbk? Kok kaya kalung ya.” Kataku, menyentuh benda itu satu
persatu.
“Oh,
iya Mbk. Ini gantungan ponsel. Buat sepasang.”
“Maksudnya?”
dahiku berkerut tak mengerti.
“Iya,
jadi gini Mbk. Ini itu gantungan buat sepasang. Kalau Mbk punya pacar bisa
ngasih pasangannya buat dia. Uniknya nih Mbk, ini bisa dikasih foto kaya
liontin gitu, bisa dibuka tutup terus ada suara-suaranya yang bisa diisi
sendiri nanti Mbk. Terus kalau Mbk jadi beli nanti bakal ditulis namanya sama
pasangannya disini pake Tinta perak atau emas sama promotornya disana. Stok
terbatas lho Mbk, ditempat lain belum ada yang kaya gini.”
‘Wahh,
keren’ batinku. Aku hanya ber-O panjang lalu tersenyum pada SPG itu. Setelah
tahu, aku malah jadi pengen beli. Tapi kemudian terkejut bukan main, mengetahui
bandroll harga yang tertera menunjukkan angka 0 sebanyak lima deret dengan
angka yang bervariasi didepannya.
“Gila!
Mahal banget. Padahal Cuma gantungan doang.”
Kuputuskan
untuk mengambil sepasang dan sebuah boneka yang sangat lucu agar Kakakku bisa
memilihnya nanti.
Aku
berjalan menyusuri toko itu, mencari kak Dika lebih tepatnya. Setelah lama
mencari akhirnya aku melihatnya dibagian perhiasan. Setelah dekat dengannya,
aku baru menyadari kalau dia sedang mengobrol dengan seorang pria. Tapi, aku
tidak mengenalinya karena posisinya yang memunggungiku.
Semakin
dekat, pembicaraan mereka semakin terdengar jelas ditelingaku. Aku langsung
menghampiri kak Dika.
“Kak,
aku Cuma dapet ini.” Kataku, menggoyang-goyangkan kedua benda itu.
“Tahun
lalu kan udah boneka Ra, masa’ boneka lagi.” Katanya, dia lalu berpaling kearah
temannya. “Oh ya, ini adiknya temen kakak di kampus.” Kak Dika tersenyum dan
menepuk bahu cowok itu. Aku terkejut, wajahnya sudah tak asing bagiku.
“Namanya
Alex Ra, keren kan?” kata kak Dika menggoda. Aku masih terheran-heran menyadari
ternyata memang dia. Tidak salah lagi.
“Kita
udah saling kenal kok kak. Kita kan satu kelas.”katanya.
“Lhoh,
kalian sekelas? Kok ngga pernah diajak main kerumah sih Ra.”
Aku melipat kedua tanganku. Merasa jengah
disini.
“Ih,
jadi ngga nih beli kadonya. Nih aku ngambil gantungan dari sana. Katanya lagi
promo. Keren banget tahu.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Hah,
mahal banget. Mending buat beli kalung. kakak juga udah dapet kok, jadi yang
itu buat kamu aja.” Katanya
“Yah,
ini mah kemahalan kak. Bayarin ya? Please!” aku menarik-narik lengan jaketnya.
Berharap mendapat keberuntungan. Tapi dia menolak mentah-mentah. Berlalu pergi
menuju kasir setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Alex.
Dengan
kecewa aku melangkah pergi meninggalkan toko, tentunya tanpa gantungan tadi.
“Kak
Dika pelit banget sih! Pelit pelit pelit!” rengekku setelah sampai dimobil. Menghentakkan
kakiku layaknya anak kecil yang tidak dituruti kemauannya
“Belinya
minta uang Papa ya. Uang kakak ngga cukup soalnya, lagian Cuma gantungan aja
mahal banget harganya.” Tangannya dengan jail mencubit pipiku. ‘Kalau ngga
beneran bagus juga ngga semahal itu kali Kak’ kataku dalam hati, tapi aku tak
membalas perkataannya. Ada benarnya juga kan.
Dengan
hati-hati, kami keluar dari tempat parkir dan melaju santai menembus senja
disabtu sore. Awan-awan senja tampak berwarna biru gelap dengan garis-garis
kuning dan orange diujung barat menandakan malam segera menjemput. Kunyalakan
mp3 player dan memilih salah satu lagu kesukaanku, Innoncence-nya Avril lavigne.
Pelan-pelan kubuka jendela mobil lalu merasakan dinginnya angin melalui
kepalaku yang kudorong keluar. Gema adzan terdengar sayup-sayup ditelinga.
Kuamati lagi langit, melongokkan kepala keluar. Awan yang tadi dihiasi dengan
dengan kombinasi warna kuning kini berganti menjadi garis ungu dan semburat merah muda yang
menimbulkan degradasi warna yang sangat mengagumkan. Sungguh berbeda rasanya
menikmati hal yang jarang kita sadari keindahannya selama ini. Sama seperti
lirik lagu Avril, aku berharap hal ini juga tidak akan cepat berlalu.
“Kak,
beli jagung bakar yuk.” Suaraku memecah keheningan. Tanpa berpaling dari jalanan,
Kak Dika mengiyakan ajakanku. Mobil pun berhenti disalah satu pedagang jagung
bakar langganan kami. Bau jagung dan mentega bakar sangat menyengat dihidung.
Melengkapi malam yang dinginnya menusuk kulit.
“Kamu
kok cuek banget sih dek tadi.” Kak Dika menggigit jagungnya, memulai
perbincangan.
“Cuek
gimana?” dengan tidak sabar, mulutku meniup-niup jagung yang masih panas.
“Tadi
sama si Alex.” Kakak nih, ngapain lagi pake bahas-bahas dia.
“Biasa
aja kok, engga cuek.”jawabku. kupasang earphone kesayanganku. Kemana-mana aku
selalu membawanya. Bagiku hidup kurang berarti tanpa musik yang mengiringi
langkahku. Dan tentunya tanpa mp3 dan earphone disaku bajuku.
“Yang
bener?” itu adalah kata-kata yang selalu keluar dari mulutnya saat dia sedang
tak percaya padaku.
“Males
aja Kak. Lagian anaknya juga suka cari perhatian gitu. Sok ganteng, sok keren,
pokoknya suka banget kalau dikejar-kejar sama cewek-cewek disekolah.” Akhirnya
keluar juga dari mulutku, dengan suksesnya. Huft.
“Itu
kamunya yang ngga suka apa cemburu sih? hahaha” Kini, kak Dika menyantap jagung
keduanya. Kakakku yang ini memang paling jago soal makanan. Jago ngabisin
maksudnya.
“Ogah,
ngebayangin aja aku males. Kakak kan tahu sendiri kalau aku ngga pernah suka
sama orang yang ‘sok’” sanggahku. dan hal terakhir yang akan kulakukan adalah
menyukai orang sepertinya.
“Terserah
deh. Tapi Alex orangnya baik kok. Kamu tuh jangan lihat cover-nya aja.” Dia
melahap gigitan terakhirnya dan membayar kepenjual yang sudah terlihat
kelelahan. Aku tidak bergeming. Tentunya dengan memikirkan apa yang baru saja
meluncur dari mulutnya.
Empat,,,
Rara’S
POV
Hatiku
bergemuruh tak karuan. Rasa sesak kini semakin membuatku ingin meledak. Seperti
disapu badai, harapanku sekarang sirna tak tahu kemana angin membawanya. Masih kuingat
jelas isi pesan yang kubaca 10menit yang lalu.
‘
Rara, gimana kabar kamu? Maaf ya, udah lama ngga ngasih kabar. Oh ya, si Pascal
sehat-sehat aja kan? Jangan lupa kasih wortel muda 3kali sehari ya, kamu kan
biasanya lupa kasih dia makan. Lama nih ngga ngobrol sama kamu, ngga ngabisin
waktu bareng kamu. Semua jadi beda disini. Ngga ada lagi cewek manis yang
gangguin aku tiap hari. Sorry, kalau aku mendadak jadi cerewet. Habisnya kangen
banget sama sahabatku itu. Oh ya Ra, selama aku disini hati aku ternyata juga
ikut berubah seiring dengan perubahan dalam hidupku. Aku disini ketemu sama seseorang
yang spesial buat aku, namanya Syafa. Dia juga sekolah bareng aku. Cukup jalan
lima menit buat sampai kerumahnya. Dari sering ketemu sama jalan bareng, aku
mulai menyimpan rasa sama dia. Orangnya baik Ra, cantik, sama seperti kriteria
cewek yang pernah aku kasih tahu sama kamu. Sekarang, kita udah satu bulan
lebih jadian. Sebenarnya aku belum mau ngasih tahu kamu, tapi aku pikir kamu
harus tahu secepatnya. Sesuai janji kita dulu. Kamu juga wajib ngasih tahu aku
kalau kamu jatuh cinta sama seseorang. Ingat ya! Ngga boleh lupa. Aku berharap
kami bisa terus bareng Ra, do’ain ya biar langgeng. Kamu jaga kesehatan ya!
Miss you my beloved friend :* ’
Mataku
masih memandangi foto ditanganku. ‘Raka dan Syafa’. Wajah mereka mengembangkan
senyum kebahagiaan, tapi memberikan kepedihan mendalam bagiku. Ingin sekali
kurobek dan kubakar foto ini. Tapi sesuatu yang lain melarangku untuk
melakukannya. ‘apa aku terlalu egois? Jika merasa tidak ingin dia menjadi milik
orang lain. Aku harus menerimanya, asalkan dia bahagia. Lawan jenis memang tak
bisa menjalin persahabatan dengan murni ya?! ’ kumasukkan lagi selembar kertas
dan foto itu dalam amplopnya. Memang bukan jamannya berkirim surat untuk
menanyakan kabar. Tapi aku dan dia sangat menikmatinya. Dulu saat kita pernah
terpisahkan jarak, kita slalu berkirim surat seperti ini, memberi foto dan
terkadang hadiah kecil. Ini memberikan sensasi tersendiri, terutama dalam
masalah waktu. Saat-saat menunggu balasan yang tak kunjung datang itu sangat
membosankan, tapi juga membuat penasaran seperti ‘nanti foto apa lagi ya?’ ‘ada yang spesial kah?’. Berbagai perasaan
menemani disaat-saat seperti itu.
Tapi
yang satu ini, membuatku sakit disini. Dihati ini. Cinta memang tidak pernah
realistis, terkadang kenyataan tak sesuai dengan harapan. Membuat semua tampak
membingungkan karena perasaan yang disebut ‘cinta’. Aneh. Tapi inilah
kenyataannya.
“Paskal
udah lama mati, dan sekarang perasaanku ke kamu juga harus ikut mati” kataku
lirih. Memeluk kedua lututku, duduk diantara dinginnya angin malam.
*
* *
“Ra,
Ra!” Agni menyikut lenganku dengan keras. Membuyarkan lamunanku. Aku langsung
geragapan dan menoleh seperti orang bingung. Kulihat raut wajahnya sedang
mencoba memberitahukan sesuatu. Menyuruhku untuk melihat kedepan.
“Rara
Arcelia Amora!!” teriakan itu membuatku kaget. Seperti baru dibangunkan dari
dunia lain yang mengerikan.
“I
Iy Iya pak.” Jawabku gugup. Pak Handoko, guru sejarah memang selalu meneriakkan
nama muridnya dengan keras dan lengkap apabila tidak memperhatikan pelajaran
atau sedang asyik sendiri. Kumisnya yang tebal bergerak naik-turun. Seharusnya
itu menjadi hal yang lucu jika tidak dalam kondisi seperti ini.
“Kamu
sakit!? Jangan ngelamun didalam kelas!” Katanya memperingatkan.
“Ma
Maaf Pak. Saya agak pusing. Boleh izin ke UKS pak?” aku berbohong. Beralasan
pusing karena tidak ingin melakukan apapun dan tak satu pun dari pelajaran hari
ini dapat kuresapi dengan baik. Walaupun
begitu, dengan cepat beliau mengijinkanku meninggalkan kelas. Aku berterimakasih
dan membiarkan kedua sahabatku yang bertanya-tanya terus dari tadi.
Aku
berjalan dengan perlahan. Bahkan seperti orang yang kehilangan arah, walaupun
tahu kemana tujuanku. Kelasku ada dipaling ujung dekat kantor guru dan ruang
Tata Usaha. Untuk sampai ke UKS, bisa memakan 2 menit perjalanan jika berjalan
dengan biasa. Tapi aku sedang tidak berjalan biasa sekarang ini. Kuinjak rumput
dilapangan yang terbentang luas. Ruang UKS terpisah dari gedung pembelajaran
atau ruang kelas, bersebelahan dengan ruang OSIS dan ruang musik. Baru sepuluh
detik aku berjalan, tiba-tiba hujan mengguyur tempat ini dengan deras. Aku merasa
lemas dan ‘pusing’ yang tadi Cuma pura-pura kini menjadi nyata menyerang
sebagian besar kepalaku. Pelan-pelan aku memutar pandangan, mencari tempat
berteduh. Dan terlihatlah bangunan perpustakaan tidak jauh dariku. Aku berlari
secepat yang kubisa. Dan untunglah seragamku hanya basah sedikit terkena air
hujan.
Tak
jauh dariku, seseorang sedang berlari menuju tempatku berteduh. Dengan baju
olahraganya, cowok itu terlihat semakin mempesona dari sini. Jantungku
berdetak. ‘Ya Tuhan. Kevin.’ Batinku. Nafasnya masih memburu karena berlari
dengan cepat. Aku mencoba untuk tidak peduli, walaupun sebenarnya sangat senang
bisa bersamanya disini. Kudengarkan dia mengeluh karena hujan deras yang
mengacaukan latihannya disaat pertandingan olahraga tinggal menghitung hari.
“Hei,
ngapain disini, Nunggu hujan juga ya?” dia bersandar pada dinding
dibelakangnya.
“Emm,
iya nih.” Jawabku, salah tingkah.
“Emang
mau kemana? Bukannya masih jam pelajaran ya.” Kini dia merubah posisinya.
Mencondongkan tubuh dengan kedua tangan memegangi lututnya.
“Ng
Mau ke UKS. Kamu sendiri?”
“kenapa,
sakit? Aku baru aja mau kelapangan. Tadi habis ketoilet.”
“Emm
gitu.” Aku tak menjawab pertanyaannya. Memeluk tubuhku dengan melipat kedua
tanganku. Dingin ternyata. Rasa pusing yang tadinya tidak begitu terasa kini
seakan menggerogoti sebagian kepalaku. Aku sudah sering seperti ini. Terutama
saat terkena hujan. Migran lebih menyakitkan dibandingkan sakit kepala biasa.
Perasaan ditusuk-tusuk dan seperti dihantam tepat mengenai setiap milimeter
saraf otot kepalaku. Ini bisa membuatku memukul kepala atau menyakiti diri sendiri
jika sakitnya sudah tidak tertahankan. Aku berjongkok, membenamkan kepalaku.
“Eh,
kamu kenapa?” kevin tampak cemas. Menyentuh bahuku, tapi aku tidak bergeming.
Lalu
terdengar suara langkah kaki menjauh. Hilang. Tapi tangan yang kuat itu
tiba-tiba menarikku untuk berdiri beberapa saat kemudian.
“Ayo!
Muka kamu pucet banget, ntar kalau pingsan gimana.” Dia membuka payung biru
muda bermotif bunga itu. Menggandeng tanganku.
“Aku
ngga papa kok.” Kataku pelan. Tiba-tiba, badanku serasa gemetar dan semuanya
terlihat seperti bayangan yang kabur. Suara yang memikat itu terdengar mulai
panik ditelingaku. Tubuhku terguncang. Dan tiba-tiba... Bagai ditelan bumi, semua menghilang dari
pandanganku digantikan oleh pekatnya kegelapan.
Hal
pertama yang kulihat saat membuka mata adalah wajah ceria Indri sahabatku. Dia tersenyum
ketika melihatku. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi
dengan warna putih dan lemari tempat penyimpanan obat.
“Hei
Ra, akhirnya sadar juga. Kamu ngga papa kan?” tanyanya.
“Sejak
kapan aku disini In? Bukannya tadi aku...” aku kembali mengingat kejadian yang
serasa seperti mimpi itu. Saat aku didepan perpustakaan, dan saat semuanya
tiba-tiba menjadi gelap. Barulah aku menyadari kalau aku tadi pingsan.
“Udah
inget? Beruntung banget kamu Ra digendong sama kapten basket.” Indri tersenyum
penuh arti.
“Hah?
Maksudnya?” dia lalu menjelaskan dengan rinci bagaimana peristiwa yang terjadi.
Saat Kevin sendiri yang menggendongku, lalu melapor keguru piket. Dia juga yang
menungguiku sebelum Agni dan Indri datang kemari. Aku mengerjapkan mata berulang kali. Tak bisa
membayangkan terlalu jauh bagaimana seorang Kevin rela berlari dengan nafas
memburu ditengah derasnya hujan dengan seorang gadis dalam gendongannya. Ada
perasaan bahagia yang tersembunyi dibalikknya. Paling tidak, ini membuatku lupa
akan rasa sakit itu.
“Oh
ya. Agni kemana?” aku mencoba untuk duduk, tapi kepalaku kembali bereaksi
dengan hebat.
“Tiduran
aja Ra, Agni lagi keluar sama Alex. Ngga tahu kemana. Eh, tuh mereka udah
balik” Indri melihat kearah pintu ketika dua orang itu memasuki ruangan.
‘Ngapain
dia disini’ pikirku ketika melihat cowok yang bersama Agni. Agni tampak membawa
kantong plastik putih ditangannya, bertuliskan nama apotek yang tak jauh dari
sini.
“Hei
Ra, Kamu ngga papa kan?” wajahnya tampak khawatir.
“Nggapapa
kok Ni.” Aku melihat Alex dengan sekilas. Dia sedang bersandar didinding dengan
tangan kanannya yang dimasukkan kedalam saku celana. Tersenyum padaku.
“Nih,
minum obat dulu. Disini ngga ada obat yang biasa kamu minum kalau lagi kumat,
makanya aku tadi keluar sama Alex buat nyari ini. Untung aja aku tahu obat apa
yang sering kamu minum.” dia mengambilkan aku air mineral dan menyuruhku
meminumnya. Dalam hati aku sangat berterimakasih dengan kebaikan hati dan
perhatian mereka. Terutama pada Agni yang selalu memahamiku dan tahu setiap
kebutuhan khususku. Ngga lucu kan kalau dia memberiku obat cacing?
“Makasih
ya. Oh ya. Kamu sama Alex....” aku hendak bertanya tapi Agni tiba-tiba saja
memotong ucapanku.
“Ya
engga lah. Mana mau dia sama aku. Hihihi.” Ternyata dia tahu apa yang mau
kuucapkan. Kami semua ikut tertawa mendengar reaksinya yang terlalu
blak-blakan.
Akhirnya
aku pulang diantar oleh Alex. Hari ini dia membawa motor, jadi terpaksa
mengantarku menggunakan taksi karena tidak mau aku pingsan lagi nantinya.
Sebenarnya aku bisa saja menelpon Kak Dika, tapi aku lupa membawa ponselku dan
kedua sahabatku itu memaksaku agar mau diantar oleh Alex.
“Udah
mendingan Ra?” suaranya yang dalam terdengar begitu pelan.
“Udah
kok.” Beberapa detik berlalu dan Kami kembali berdiam diri lagi. Tenggelam
dalam pikirang masing-masing. Kupandangi hujan yang samar-samar dari jendela. Aku
berharap agar hujannya segera reda, supaya aku tak perlu berada dipayung yang
sama bersama Alex lagi.
Sesampainya
dirumah, Alex mengantarku hingga didepan pintu rumah. Bajunya setengah basah
karena memayungiku tadi. Kak Dika yang membukakan pintu terlihat senang dan
menyuruhnya untuk masuk setelah memastikan aku hanya butuh istirahat saat ini.
Aku langsung menuju kamarku, dan tak lupa mengucapkan terimakasih padanya.
Kuhempaskan tubuhku diranjang dan terlelap tanpa mengganti seragamku yang
lembab.
Lima,,,
Normal POV
Dimeja
makan hanya terdengar suara gesekan antara sendok dengan piring. Hening. Rara
melahap nasi goreng telurnya dengan lesu. Dia merasa kurang sehat hari ini.
Walaupun Mamanya menyuruhnya untuk istirahat dirumah, dia tetap ingin masuk
sekolah. Terutama karena alasan ulangan matematika yang menanti hari ini dan dia
tidak mau ikut ulangan susulan.
“Kok
malah tambah panas? Semalem kan ngga gini.” Kak Dika memegangi dahi Rara dengan
punggung tangannya. Mamanya yang sedang menuangkan jus memberi isyarat untuk
tidak mengganggu Rara.
“Nanti
kakak anter aja dek” Rara tidak bersuara. Dia sedang mencoba mengingat-ngingat
semua rumus yang dipelajarinya selama dua minggu terakhir dengan susah payah.
Mencoba untuk tetap tenang walau tidak ada persiapan yang matang menghadapi
ulangan. Baginya, nilai harian dan ulangan adalah hal yang sangat penting
karena merupakan 60% dari nilai yang tercantum diraport. Tapi dia tidak hanya
mengejar ataupun menganggap nilai sebagai prioritas utamanya. Tujuannya adalah
belajar dan memahami semua ilmu yang disampaikan oleh guru setiap harinya, dan
nilai hanya menjadi acuan seberapa besar dia dapat memahami ilmu tersebut.
“Ayo
kak, berangkat sekarang.” Baru saja kakaknya menyuapkan sendok pertama kedalam
mulutnya, tapi Rara sudah berdiri merapikan kembali seragamnya.
“Baru
juga jam 6 kurang dek.” Keluhnya.
Rara
mencium tangan mamanya. Dia sebenarnya tidak mempermasalahkan apakah kakaknya
akan mengantarnya atau tidak. Dia hanya ingin sampai disekolah lebih pagi agar
bisa belajar nantinya.
“Eh
eh eh. Kok buru-buru banget sih. Tungguin depan! Kakak ambil kunci mobil dulu.”
Kak Dika berlari menaiki tangga setelah melihat Rara keluar dari pintu.
Sebenarnya dia tidak tega melihat adiknya sakit seringan apapun. Ini sudah
menjadi sifat bawaannya dari kecil. Lagipula hari ini dia tidak ada jadwal
kuliah, jadi dia menyempatkan diri untuk
mengantar adiknya yang sedang kurang sehat.
Sekolah
masih sepi karena baru jam 6 lebih lima menit. Berkat usahanya untuk menyuruh
kakaknya berhenti mengajaknya bicara, Rara berhasil menghafal sebagian rumus
yang akan dimunculkan disoal nanti.
“Makasih
Kak.” Kata Rara dengan senyum sumringah diikuti dengan lambaian kearah mobil
yang akan melaju.
Tanpa
basa basi, dia menuju ke gedung paling atas sekolahnya. Tempatnya menenangkan
diri juga bisa sewaktu-waktu menjadi tempat paling tenang untuk berkonsentrasi.
Dengan catatan matematika ditangannya, dia menerawang dan mengucapkan
rumus-rumus bangun dimensi tiga. Sesekali juga dia mengerjakan soal latihan dan
mencocokkan jawabannya. Jarum jam dipergelangan tangannya sedang menunjuk
keangka 6 dan 11. Dia membereskan bukunya dan berdiri memandangi sekolahnya
dari atas sini. Sosok itu menghentikan matanya yang sedang mengedarkan
pandangan. Cowok yang sedang berjalan itu, menyibak orang-orang dijalanan hanya
dengan tatapan matanya. Tampak juga gerombolan murid yang sedang kasak-kusuk
dan tertawa girang karena melihatnya. Kebanyakan dari murid-murid itu adalah
cewek, dan hampir semuanya. Rara hanya diam, dalam hati dia berkata ‘Haduh,
parah banget. Cowok kayak gitu banyak yang suka ternyata.’ Dia hanya mendengar
teman-temannya sering membicarakan Alex yang selalu menjadi pusat perhatian
para cewek. Tak sedikit pula dari mereka yang menyimpan perasaan pada Alex. Dan
baru kali ini dia bisa memastikan hal itu benar adanya.
Bel
tanda masuk berbunyi. Dan semakin membuat telinganya sakit karena posisinya
yang tak jauh dari pengeras suara. Cepat-cepat Rara meninggalkan tempat itu.
Dia menuruni tangga dengan cepat dan berharap tidak akan terjatuh. Beruntung Bu
Frida guru matematikanya belum sampai ketika dia memasuki ruang kelasnya.
Bisa
dibilang dia murid yang datang terakhir dikelas itu. Dengan sempoyongan dia
menuju tempat duduknya. Meletakkan tas diatas meja dengan nafas yang masih
memburu.
“Gila!
Tumben banget baru datang Ra!” Agni melirik jam yang bertengger manis
ditangannya. Dengan susah payah Rara mengatur nafasnya agar lebih tenang.
“Habis
belajar.”jawabnya singkat. Jemarinya yang elok mengusap sedikit keringat yang
mulai meluncur dari dahinya setelah berlari tadi.
“Di
tempat biasa?” sudah jelas Agni tahu maksud Rara. Walaupun dia dan Indri jarang
ikut bersamanya, tapi dia tahu tempat dimana Rara sangat senang menghabiskan
waktunya disana. Termasuk saat dia belum belajar dan datang pagi-pagi untuk
belajar disana.
“Yep!”
Rara menjentikkan jarinya.
Alex
terus memperhatikan Rara, cewek yang sudah membuat rasa penasaran bertumbuh
dengan pesat dihatinya. ‘Di tempat biasa?’ itu kata yang sedang ada dalam
pikirannya. Yang sedang mencari-cari apakah tempat biasa yang dimaksud oleh
mereka adalah tempat dimana dia melihat Rara saat pertama kali. Namun pikiran
itu harus dialihkan untuk sementara waktu karena Bu Frida sudah muncul dari balik
pintu.
Diperpustakaan
ini Rara sedang larut dalam bacaannya. Dia sedang tidak ingin pergi kekantin
dengan teman-temannya dan memilih menghabiskan waktu istirahat diperpustakaan.
Cowok yang tiba-tiba duduk dihadapannya mengganggu konsentrasinya.
Sebelum Rara beranjak
dari duduknya, cowok itu sudah membuka mulutnya terlebih dahulu.
“Ada
juga ya tempat sepi disini.”
“Hah?”
dahi Rara mengukir kerutan-kerutan diatasnya.
“Hehe,
enggak papa.” Kata cowok itu. Dia berdiri, berjalan menuju deretan buku yang
tersusun dengan rapi.
“Ngapain
kamu ke perpus?” pertanyaan bodoh. Rara juga menyadari betapa bodohnya kata
yang terlontar dari mulutnya itu.
“Baca.”
Katanya cuek. Tapi terlihat kedua ujung bibirnya melengking keatas. Dengan
senyum yang masih terlihat jelas dia menambahkan “Sebenernya, males aja jadi
pusat perhatian cewek-cewek genit itu.”
“Bukannya
malah suka ya jadi pusat perhatian?” dengan cepat Rara berkata sekaligus
sedikit menyindir cowok yang sedang membaca komik Conan didepannya itu. Dia
sama sekali tidak heran melihat cowok seumurannya yang suka membaca komik,
karena kakaknya sendiri yang lebih tua darinya suka mengoleksi banyak komik dan
beragam film anime.
“H-hh,
suka?? Yang ada justru ngga akan ada lagi ketenangan.” Kata-katanya begitu
sederhana, tapi mampu membuat Rara tak percaya.
‘Jadi
dia suka ketenangan ya? Apa dia juga suka menyendiri kayak aku?’ rasa penasaran
sedikit menggoyahkan hati Rara. Namun tiba-tiba kepala yang mengintip dari rak
buku lain itu membuat Rara terkejut. Dengan cepat Agni dan Indri menghampiri
meja mereka.
“Ciyee!
Berdua aja.” Goda salah satu diantara mereka. Rara tampak gusar. Lalu tanda
tanya besar muncul dikepalanya. Seketika itu pula Agni dan Indri memasang
kuda-kuda untuk menjelaskan mengapa mereka sampai masuk ketempat yang merupakan
pantangan bagi mereka berdua.
“Eh,
Ra kamu harus dengerin. Ini ngga baik banget.”
“Sumpah
Ra! Pokoknya kamu harus dengerin kita.” Indri menambahkan. Rara hanya
geleng-geleng kepala.
“Apaan
sihh?” tanya Rara penasaran. Wajah sahabatnya tampak memancarkan sebuah
kekhawatiran. Alex yang masih diam disitu ikut mendengarkan walaupun tidak
mengalihkan pandangannya dari komik ditangannya.
“Kamu
ingat waktu kamu pingsan ngga?” Agni mencoba menggugah kembali ingatan Rara.
“Iya,
kenapa?”
“Kayaknya
kamu bakal kena masalah deh.” Agni geleng-geleng kepala. Menatap kembali kepada
Indri dan Rara bergantian.
“Ihhh,
udah aku aja yang cerita. Kebanyakan basa-basi kamu Ni. Jadi gini Ra, ..” indri
menghela nafas, melihat sekitarnya.
“..kemarin
ada yang ngga sengaja lihat kamu digendong sama Kevin waktu kamu pingsan. Dan
parahnya yang ngelihat itu kelas tiga, temennya Putri.” Indri memelankan
suaranya saat menyebut nama yang anggun itu. Alex menutup komiknya dan ikut
menyimak dalam diam.
“Terus?”
dengan wajah penuh tanda tanya Rara ingin memastikan apa yang sebenarnya
terjadi.
“Ihh,
kayaknya kamu bakal kena masalah deh. Putri pacar Kevin, sekarang dia udah tahu
kalau kamu kemarin digendong sama Kevin. Dan dia merasa ngga terima kalau cewek
lain berusaha ngedeketin Kevin. Dia pikir kamu kemarin Cuma pura-pura pingsan
buat deketin pacarnya itu Ra. Kamu tahu sendiri kan Putri orangnya kayak
gimana?” Indri mengakhiri perkataannya dengan nada yang agak tinggi. Terlihat
Agni sedang menggigit bibir bawahnya sendiri.
“Ooo,
gitu..” dengan lemas Rara berkata. “Tapi nggapapa lagi, aku kan ngga bermaksud buat
ngedeketin Kevin. Lagian kemarin ketemunya juga ngga sengaja, terus Cuma ada
dia waktu aku pingsan. Jadi semuanya Cuma kebetulan aja.” Rara menjelaskan
dengan mencoba untuk tetap tenang.
“Bener
tuh, aku juga bakal nganggep itu Cuma kebetulan aja kalau jadi Kevin.” Alex
yang semula diam ikut angkat suara.
“I
yaa siihh, tapi beda lagi ceritanya kalau udah berurusan sama Putri.” Sambung
Agni.
Mereka
semua terdiam, tidak mencoba membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja
terjadi. Rara hanya menganggap semua hanya kesalahpahaman belaka dan mencoba
untuk tidak memikirkannya, walaupun merasa sedikit gentar jika mendengar nama
orang yang dulu pernah mengerjainya habis-habisan.
Putri
adalah ketua kelompok cheerleader disekolah mereka. Orangnya yang aktif dan
wajah yang cantik membuatnya menjadi sosok yang populer dikalangan mereka.
Walaupun sebagian besar anak tahu kalau dia adalah orang yang tidak suka
tersaingi oleh siapapun dan sikapnya yang seenaknya membuatnya bercitra buruk
dimata anak-anak cewek disini.
*
* *
Keesokan
harinya tepat saat jam istirahat, Rara dan Joe mendapat tugas untuk meminjam
buku paket diperpustakaan. Tapi karena Joe sedang rapat OSIS , Alex yang
menggantikannya ikut bersama Rara.
Suasana
perpustakaan sangat ramai dibandingkan hari biasanya. Anak-anak kelas satu
tampak memenuhi tempat disudut ruangan, mata mereka terus memandangi kedua
kakak kelas mereka.
“Permisi
Bu, saya disuruh Bu Ani buat pinjam buku” dengan sopan Rara meminta ijin pada
penjaga perpustakaan yang memakai jilbab warna putih tulang itu.
“Oh,
Silahkan ambil sendiri, nanti dicek disini kalau sudah semuanya.” Jelasnya.
“Iya,
makasih Bu.” Rara berlalu meninggalkan penjaga perpustakaan, diikuti Alex
dibelakangnya.
Perpustakaan
sekolah ini cukup luas dan lumayan lengkap buku yang terpajang disetiap raknya.
Rara menuju rak ditengah-tengah ruangan diikuti Alex dibelakangnya.
“Bukunya
yang mana Ra?” Alex memecah kecanggungan yang sedari tadi menyelimuti mereka.
“Ngga
tahu nih, coba aku lihat dulu.” Tangannya yang mungil merogoh saku seragamnya
dan mengeluarkan secarik kertas. Matanya kemudian menyusuri setiap inci rak
tersebut, hingga tepat pada buku yang berjejer dengan judul yang sama.
“Ini
nih bukunya, ambil 40 ya.” Katanya.
“Oke
bos!” suara Alex yang terdengar aneh membuat Rara melotot dan tertawa ringan,
membuatnya mendapat teguran dari penjaga perpustakaan.
Mereka
pun mengambil buku yang dibutuhkan dan tentunya Alex yang membawa lebih banyak
buku. Setelah mengisi jurnal peminjaman buku, Rara membawa buku-buku itu menuju
kelasnya. Alex masih dibelakang karena ibu penjaga menyuruhnya untuk mengangat
kardus buku yang tidak mampu diangkat olehnya.
Suara
tawa yang membahana terdengar tidak jauh dari Rara. Tiba-tiba saja sebuah
hantaman yang keras membuatnya tersentak. BRUUUKKK!!!!
“Aww!!
Kalau jalan pake mata dong!!!” suara teriakan itu membuat semua orang yang lalu
lalang menoleh pada mereka.
Rara
terperanjat, segera berdiri masih dengan ekspresi terkejutnya dia meminta maaf
pada cewek itu.
“Duhh
maaf banget, aku ngga sengaja.” Rara menundukkan kepalanya, sedikit menatap
sorot mata yang mengiris keberanian itu.
“Eh,
Rara Put! Yang itu lho...” terdengar temannya membisikkan sesuatu ketelinga
cewek itu.
“OO,
jadi kamu yang namanya Rara?” cewek itu berkacak pinggang, semakin membuat Rara
tersudut.
“I
Iyaa kak.”
“Jadi
kamu yang berani ngedeketin pacar ku?! Huh?!” Rara tak bergeming, dengan
sedikit keberanian dia menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya dia
masih trauma dengan cewek kejam yang satu ini.
“Alahh,
alasan! Jangan macam-macam kamu ya! Apalagi sama Kevin, ngga usah sok cari
perhatian!” cewek yang bernama Putri itu terus berkata dengan nada tinggi,
“Apaan
sih? Kan udah aku jelasin kalau yang kemarin itu Cuma kebetulan. Suka banget
cari gara-gara.” Kata itu meluncur begitu saja, dengan dibubuhi sedikit emosi.
“Apa?
Ngga salah denger? Kamu tuh yang cari gara-gara! Dasar cewek gatel!!” dengan
keras Putri mendorong tubuh Rara hingga terjatuh. Hal itu tentu saja membuat
semua yang melihat menganggapnya hal yang sangat menarik. Tapi justru menjadi
hal yang memalukan untuk mereka. Dengan kesal Putri menginjak semua buku yang
jatuh dilantai dan terus menghujam Rara dengan ucapan yang menyakitkan. Rara
yang sudah terbakar emosinya, melawannya. Memegang kaki yang mulus itu dengan
sekuat tenaga, menyingkirkannya dari tumpukan buku yang sudah mulai sobek
sampul depan dan kotor itu.
“Dasar
cewek ngga tahu malu!”
“Kamu
tuh yang ngga tahu malu. Kakak kelas tapi ngga bermoral!. Masih banyak yang
ngga bisa belajar diluar sana yang butuh buku kayak gini, jangan
mentang-mentang anak orang kaya kamu seenaknya aja!” Rara memunguti buku-buku
itu. Menumpuknya menjadi satu bagian. Namun, dengan telak sebuah telapak tangan
berhasil membuat capnya dipipi Rara.
“Hei!!!
Apa-apaan kamu?!” tangan Putri kini dicengkeram dengan kuat. Membuatnya
meringis kesakitan.
“Auww!
Sakit Lepasin!” dia masih menahan sakit yang menjalar ditangannya.
“Lepasin
ngga?!!”
“Jangan
macam-macam kamu ya! Mentang-mentang kakak kelas seenaknya aja sama adik
kelasnya.” Suara lantang itu dengan berani membentak Putri hingga meringkuk
ketakutan.
“Lepasin
dia!” tak jauh dibelakang mereka, seorang cowok datang dan memukul Alex tepat
diwajahnya. Suasana semakin mencekam, walaupun Alex sudah melepaskan tangan
Putri dia masih saja dihujami dengan pukulan.
“STOPP!!”
Seketika itu pula mereka berhenti. Wajah marah Rara membuat suasana menjadi
hening sejenak. “Kalian tuh kayak anak kecil tahu ngga!! Ngga malu apa udah
pake seragam abu-abu tapi kelakuan kayak anak SD!!” dia mendekat pada Alex,
meraih tubuhnya yang sedikit memar. Kevin yang masih ingat betul wajah cewek
yang ditolongnya itu, merasa terkejut melihat bekas tamparan yang ada dipipi
kirinya. Matanya yang coklat menatap tajam pada Putri.
“Kamu
ngga papa kan?” tanyanya seraya melihat wajah Alex yang sudah dialiri darah
segar disudut bibirnya. Dia menggelengkan kepalanya. Memunguti buku yang
berserakan lalu mengajak Rara untuk kembali kekelas.
Untuk terakhir kalinya
Alex menatap tajam pada Kevin, “Ini semua gara-gara cewek gila itu!!” ucapnya
pedas. Rara menundukkan kepalanya. Takut jika pertengkaran itu akan berlanjut.
“Kok
kamu diem aja sih dipukulin gitu?” Rara membuka kotak obat, yang ada diruang
UKS. Dengan pengalamannya yang pernah menjadi anggota PMR, dia meneteskan obat
merah diatas kapas dan dengan pelan mengobati luka Alex.
“Aww,
Aww, sakit Ra!” keluhnya, lalu menarik kapas dari tangan Rara.
“Makanya
diem aja. Jangan kebanyakan gerak.” Rara mengambil kapas itu lagi dan kini
dengan lembut, menempelkannya di luka Alex.
“Hussf,
Aww.. ya mau gimana lagi, aku kan ngga mau bikin semuanya tambah kacau. Lagian
kamu juga udah nyelamatin aku kan.”
“Bukan
aku, tapi kamu Lex.” Alex membisu mendengar suara Rara yang manis itu.
Membuatnya ingin menghentikan waktu yang terus berputar. Sesekali dia menatap kedalam
mata Rara yang teduh, ingin sekali dia terbang diatas awan. Bersama pencuri
hatinya yang membuat harinya seperti malam bertabur bintang dan menari dalam
indahnya gemerlap malam.
Sentuhan
terakhir Rara, membuatnya tersadar dari khayalan yang memabukkan itu.
Dengan
cepat Rara membereskan obat-obatan kedalam kotaknya dan mengembalikan ketempat
semula.
“Udah
ngga papa kan? Aku balik dulu ya.” Rara berdiri memperhatikan wajah Alex,
melihat bekas lukanya yang kemerahan.
“Oh,
Iya Ra. Aku juga mau balik kok. Makasih ya.” Senyum Alex mengembang.
“Enggak,
aku yang harusnya bilang makasih. Makasih udah nolongin aku. Yuk masuk kelas.!”
Ajaknya. Rambutnya yang panjang bergoyang-goyang dengan gemulai.
Alex
mengikutinya dari belakang. Tersenyum sendiri dengan tingkahnya.
Enam,,,
Rara’S POV
Hari-hariku
kini selalu dipenuhi dengan Putri yang selalu mencoba mencari masalah denganku.
Walaupun aku selalu diam saat dia bertingkah, bukan berarti aku takut
kepadanya. Aku hanya tak ingin memperkeruh suasana. Apalagi berhubungan dengan
Putri yang bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
Kemarin,
tepat saat jam istirahat dia bahkan sudah berani menyiramku dengan air. Dia
juga mempermalukan dan mengolok-ngolokku didepan teman-temannya. Cewek yang
satu itu memang ngga pernah kapok-kapoknya membuat orang lain menderita,
Walaupun hubungannya dengan Kevin sudah diujung tandu. Menurut kabar burung dan
berdasarkan cerita dari sahabatku, Kevin tidak suka dengan sifat Putri yang
kekanakan dan ingin menang sendiri. Sudah seminggu ini hubungan mereka
menggantung. Aku sebenarnya berharap mereka akan segera putus. Disamping Putri
yang sudah tidak menggangguku lagi, aku juga akan merasa lebih lega jika Kevin
mendapatkan cewek yang lebih baik dari Putri.
Aku
sedang duduk santai menyaksikan salah satu acara diTelevisi Swasta ketika suara
bel pintu berdentang sebanyak tiga kali. Dengan terburu-buru aku berlari menuju
pintu depan. Betapa terkejutnya diriku ketika mengetahui siapa yang ada didepan
mataku.
“Hei,
Ra.” Suara yang sudah tak asing itu menyapaku dengan senyum yang ramah.
“Alex?
Ngapain kesini?” aku masih berdiri, memegangi gagang pintu.
“Kak
Dika ada?” Alex mencoba untuk dapat melihat kedalam dengan melemparkan
pandangannya melalui bahuku.
“Oh,
ada kok. Masuk aja dulu.” Aku melangkah masuk kedalam rumah, mempersilahkan
dirinya untuk duduk diruang tamu.
“Bentar
ya, aku panggilin dulu.” Kakiku melangkah menuju tangga. Memanggil kak Dika
dengan keras, karena dia tidak akan mendengarku jika sedang asyik dengan komik
dan film animenya. Sama seperti saat ini. Dengan gusar, dia menuruni tangga
yang berkelok panjang itu. Ini hari minggu, rumah akan terasa seperti milik
kami berdua karena Mama dan Papa selalu bepergian untuk belanja dan melakukan
kegiatan lainnya.
“Hei!
Udah lama Lex?” dia menepuk bahu Alex yang sedang duduk disofa putih itu.
“Ngga
kok, baru aja. Nganterin titipannya Kak Alice, dia lagi sibuk soalnya.” Suara
mereka masih terdengar dari tempatku menonton TV. Alice? apa dia kakaknya? Alex
dan Alice. Hmmt, bagus juga. Sepertinya orang tua mereka mempunyai huruf
favorit untuk anak-anaknya.
Beberapa
menit berlalu, suara mereka sudah tak terdengar lagi setelah sebelumnya sedang
membicarakan salah satu buku komik terbaru. Mungkin kak Dika mengajaknya untuk
naik kekamarnya. Biasanya teman kak Dika langsung menuju kamarnya tiap kali
datang kesini, kecuali cewek! J
“Dek,
titip Alex bentar ya. Kakak mau beli makanan dulu didepan.” Suara cemprengnya
kak Dika mengagetkanku, kakinya yang panjang itu menuruni tangga seperti
melompat saja. Aku masih belum mengerti apa yang dia katakan, ketika Alex
tiba-tiba muncul dan duduk bersamaku. Barulah, aku mengerti.
“Emang
aku baby sitter apa?!” keluhku. Dia hanya tertawa dan menghilang dibalik pintu.
Hening.
Hanya suara riuh dari TV yang memenuhi ruangan. Menurutku Alex memang bukan
seperti dugaanku, bahkan dia sangat baik untuk seorang teman yang baru kenal
dua bulan lamanya. Walaupun segala macam dugaanku tentangnya yang bersifat
negatif seperti si manja kaya raya dan tukang cari perhatian itu tidak benar,
terkadang aku masih berpikiran kalau dia terlihat seperti itu. Namun dua bulan
ini sedikit menyadarkanku kalau Alex adalah cowok mandiri yang bertanggung
jawab dan berjiwa sosial tinggi. Ini jelas terbukti ketika aku dan teman-teman
lainnya diajaknya untuk mengadakan penggalangan dana untuk korban banjir
disekitar tempat tinggal kami. Dan dari situ aku tahu kalau dibalik sosoknya
yang terlihat angkuh itu dia adalah orang yang lembut dan penuh perhatian,
terutama ketika dia yang paling antusias dan bekerja paling keras diantara kami
semua.
“Kok,
diem aja Ra?” Alex menyelonjorkan kakinya, mencolek bahuku dengan jahilnya.
“Ihh,
apaan sih Lex?” kataku sewot. Dia terus mengulangi perbuatannya, aku pun ikut
membalasnya hingga tawa kami menggelegar karena aksi kejar-kejaran didalam
rumah.
“Haduhh,
capek tauk!” nafasku terengah-engah, aku mengepalkan tangan kananku dan memukul
bahu kiri Alex.
“Auuww!
Haha, ngga bosen apa Ra weekend kok dirumah aja.” Dia menjatuhkan tubuhnya disofa
dengan mudahnya.
“Ya,
mau gimana lagi. Lagi males kemana-mana, pengen nyantai dirumah.” Aku mengambil
biskuit dalam toples dan mengginggitnya. Kak Dika sudah tiga puluh menit keluar
dan belum menunjukkan batang hidungnya sampai sekarang. Membuatku merasa salah
tingkah bersama Alex, walaupun aku hanya menganggapnya sebagai teman.
“Ngga
seru ah. Jalan-jalan kek.” Dia mendorongku lagi. Sudah satu bulan ini kami
selalu bersama saat ngumpul disekolah. Aku, Agni, Indri, Alex, Anton dan Joe.
Sekumpulan anak dengan pribadi yang sangat berbeda, yang menghabiskan waktu
senggang mereka bersama-sama.
“Gitar-gitaran
aja yuk. Kamu bisa ngga?” seperti mendapat asupan semangat lebih, mataku
berbinar saat mengatakan padanya.
“Wah,
asyik tuh. Udah lama juga aku ngga pegang gitar. Emang kamu punya gitar?”
dahinya berkerut, kuakui Alex memang lebih menawan saat sedang seperti itu.
“Punya
dong! Yuk.” Ajakku. Aku melangkah naik kekamarku yang berada disamping kamar
Kak Dika. Sekilas terlihat kamar kak Dika yang terbuka, dengan buku komik
bertebaran diatas tempat tidurnya. Kurasa aku tahu apa yang mereka lakukan
tadi.
Kupegang
gagang pintu kamarku dan menekannya dengan kencang. Lalu semuanya menjadi serba
biru putih seperti lautan awan yang terbentang luas dilangit.
“Kamar
kamu Ra? Keren juga.” Alex masih mengekor dibelakangku. Masuk dan mengedarkan
pandangannya kepenjuru ruangan yang lebarnya sekitar 5 X 6 meter ini. Aku
meraih leher gitar yang kugantungkan diatas tempat tidurku. Saat aku turun dari
sana, kulihat Alex sedang mengamati foto-foto yang kutempel didekat meja
belajarku. Aku langsung menarik lengannya.
“Eh,
Eh. Itu pacar kamu ya? Kok fotonya banyak banget dikamar kamu” dia menunjuk ke
foto yang dipandanginya tadi.
“Bukan!!”
aku berteriak, dan aku rasa dia langsung diam seketika.
Kakiku
melangkah perlahan menuju taman, dibawah pepohonan terdapat bangku dan tempat
yang biasa kupakai untuk berkumpul atau main dengan teman-temanku dulu. Udara
yang sejuk menyambut kedatangan kami.
Kuhempaskan
tubuhku kebangku taman itu, lalu menghirup nafas dalam-dalam.
“Sejuk
ya. Hemmmt.” Alex memejamkan matanya. Gitar yang tadi dipegang kini ikut
bersandar dibangku taman ini. Aku mulai bernyanyi dengan pelan. Menyanyi dengan
asal-asalan. Walaupun begitu aku tetap menikmatinya, merasa lepas dan bebas
jika melakukan apa yang kita senangi walaupun hanya bernyanyi asal-asalan.
Jari-jari
panjang Alex mulai memetik senar dengan perlahan tapi pasti, melody yang
dimainkannya membuatku serasa melayang. Sepertinya dia sangat mahir memainkan
gitar. Aku terkagum dibuatnya. Suaraku yang lumayan merdu mengalun dengan
sendirinya. Seakan menyuruhnya untuk mengiriku, dia lalu mengira-ngira nada dan
kunci yang akan digunakan agar terdengar pas dengan nada suaraku. Hingga
beberapa saat kemudian, nada-nada yang dihasilkan oleh pita suaraku dan petikan
gitar Alex membuat sore ini menjadi lebih indah.
Ku coba untuk melawan hati
Tapi hampa terasa di sini tanpamu
Bagiku semua sangat berarti lagi
Bagiku semua sangat berarti lagi
Kuingin kau disini
Tepiskan sepiku bersamamu
Lagu Hingga akhir waktu dari nineball, mambuatku
membayangkan saat-saat bersamaku dulu. Saat aku merasa waktu berhenti berputar
ketika aku bersama sahabat sekaligus orang yang aku sayangi. Saat kami selalu
tertawa, bercanda, dan bersedih bersama-sama. Ini lagu kenangan untuk kami.
Semakin aku memejamkan mata, semakin jelas putaran memory itu dikepalaku.
Setitik air mata menetes. Aku menikmati alirannya dipipiku.
Tepiskan sepiku bersamamu
Tak kan pernah ada yg lain disisi
Segenap jiwa hanya untukmu
Dan tak kan mungkin ada yg lain disisi
Ku ingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu
Segenap jiwa hanya untukmu
Dan tak kan mungkin ada yg lain disisi
Ku ingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu
Hingga akhir waktu ...
Aku tersenyum diakhir lagu, dengan tulus
tersenyum mengingat semua tentang kita.
“Udah
lama kita ngga nyanyi bareng kaya gini Raka.” Aku tertawa dengan ringan,
mengusap air mata dipelupuk mataku.
“Hah,
Raka??” suara dengan nada terkejut itu membuang jauh-jauh khayalanku. Alex
menatapku dengan heran. Aku lalu tertawa menyadari kebodohanku. Aku sedang
bersamanya, bukan Raka! Kenapa aku malah memikirkan orang yang belum tentu
memikirkanku.
“Haduhh,
sorry Lex. Hahaha” tanganku menepuk kakiku dengan keras, terlihat dia masih
bingung dengan tingkahku.
“Pacar
kamu yang tadi itu ya? Raka?” dia mengangkat jari telunjuknya keudara, menunjuk
kearah kamarku. Aku lalu menggelengkan kepalaku. Tawaku musnah seketika,
berganti dengan awan mendung yang memenuhi hati dan pikiran ini.
Belum
juga aku mengeluarkan suara, air dari langit menetes dengan diameter yang cukup
besar, menandakan akan hujan deras. Kami bergegas masuk kedalam rumah, dengan
bekas tetesan air hujan yang menempel dibaju kami.
“Lhoh,
kalian dari mana?” kak Dika menoleh melihat kami yang masuk dari pintu samping.
Berbagai cemilan dan makanan ringan tersebar dimeja depan TV.
“Dari
taman kak, aku masuk kamar dulu ya.” Kataku, melihat Alex dan Kak Dika lalu
naik keatas.
Aku
mengganti pakaianku yang terasa lembab dan dingin. Sejenak kuamati foto-foto
yang memberi tanda tanya pada Alex. Gambarku dan Raka yang tercetak terlihat
bahagia saat difoto itu. Sudah berbulan-bulan dan aku belum mengganti gambar
yang tertempel disitu. Naluriku mengatakan untuk mengambil sebuah buku biru dan
memutuskan untuk merangkai kata didalamnya.
Tetesan
air langit seakan menemani kesendirianku
Setitik
air mata sudah diujung pelupuk
Ingin
sekali kutanyakan ‘bagaimana kabarmu’
Tapi
apakah itu akan terbalas olehmu?
Kau
bahkan tak disini
Sangat
jauh disana, dengan hati untuk orang lain
Tapi
mengapa aku masih berharap untuk terus merasakannya
Ataukah
aku hanya merasa kesepian semata karena tak mempunyai selain dirimu?
Bukan
aku orang yang bisa menjawab ini semua
Aku
memang bodoh, padahal aku tahu hatimu telah kau tutup untuk yang lebih pasti
Kau juga
membawanya jauh bersamamu, dibelahan tempat
yang berbeda
Sejujurnya
aku ..
Aku...
sungguh tak bisa berkata-kata
Merangkai
kalimat pun seperti hal yang tabu saat ini
Tapi ini
yang paling tulus dari lubuk hatiku
‘Aku
Merindukanmu’ bahkan sangat merindukanmu
Semoga
kau baik-baik saja disana, bersama potongan hati yang baru
Aku
mencoba untuk tetap tersenyum walaupun tak begitu berusaha dengan keras
Tujuh,,,
Normal POV
Derap
langkah kaki sepertinya tak membuatnya gentar untuk melangkah lebih pasti.
Keputusannya sudah bulat, bahkan sebelum hubungannya telah kandas. Entah resiko
apa yang akan menghadang jalannya, dia tak pernah berhenti melangkah dan
memutuskan untuk berbalik. Dia sudah yakin, apapun hasil yang didapatnya nanti.
Dua minggu yang panjang sudah dijalaninya dengan mendekatkan diri untuk membuka
mata sekaligus hati gadis yang telah mencuri perhatiannya. Walaupun gadis itu
mencoba untuk biasa saja, tapi menurutnya dia juga menyimpan sebuah perasaan
untuknya. Dan inilah saatnya mencari jawaban dari hatinya.
Lapangan
basket sudah mulai sepi. Ratusan penonton yang menyaksikan jalannya
pertandingan sudah mulai beranjak dari duduknya dan pergi melalui pintu keluar.
Wajah kemenangan dan bahagia terpampang jelas diwajah para pemain SMA Merpati
dan segenap pendukungnya. Sekumpulan murid yang menyebut mereka sebagai
‘Crayon’ masih duduk dengan manis dikursi penonton. Menyempatkan diri untuk
mengucapkan selamat pada teman mereka yang telah berusaha dengan keras. Seorang
pemain yang menyandang gelar kapten basket, berjalan menuju kursi penonton
dengan percaya diri. Meninggalkan kerumunan teman-teman dan terdengar sorakan
penuh semangat dari kawan satu timnya. Sekilas matanya menatap ke tempat
gadis-gadis yang memakai baju warna-warni dan pom-pom ditangannya. Tatapan itu
mendapat balasan yang lebih tajam dari seorang cewek yang pernah menjalin tali
melebihi sebuah pertemanan dengannya. Tapi, dia tak ragu lagi untuk terus melangkah.
“Heii,
selamat ya Vin. Kamu keren banget tadi.” Kata salah satu gadis disitu, Rara.
Teman-temannya juga tak mau kalah memberi ucapan selamat pada Kevin. Mereka tertawa
bersama.
“Makasih
semua. Makasih Ra.” Matanya berhenti pada Rara, dan tersenyum simpul.
“Ciiyyyyeee
..!!!” sorakan teman-temannya membuat Rara tersipu malu.
Alex
yang ada disampingnya, merasa tidaak nyaman namun tetap tertawa bersama mereka.
“Ra,
emm ada yang mau aku omongin sama kamu.” Semua mata yang ada disitu saling
menatap curiga.
“Ngomongin
apa?”
Hening.
Kevin merasa kikuk berada disitu, pandangannya berkeliling dan tangan kanannya
menggenggam dengan kuat.
“Emm,
kamu.. kamu mau ngga ngasih izin buat aku? Buat jadi pengisi hati kamu?”
wajahnya merah padam, namun merasa lega untuk sementara.
Kasak-kusuk
semakin jelas diantara mereka, Agni dan Indri menyenggol lengan Rara. Semua
yang ada disitu menantikan reaksi seperti apa yang akan diberikan Rara, kecuali
satu. Alex. Kakinya yang terbalut sepatu keds menghentakkan irama drum
dilantai, dengan tidak tenang.
“Hahh??
Maksud kamu?” Rara tampak terkejut, dan semakin bingung. Dia memang menyukai
Kevin, tapi tak pernah terpikir olehnya akan mendapat momen seperti ini dalam
hidupnya.
“Yaa,
kamu. . kamu mau ngga jadi pacar aku?” jelasnya sekali lagi.
Hening.
Usulan dari para temannya meminta Rara untuk menerima permintaan Kevin.
“Emm,
gimana ya?” bola matanya memutar sekali. Bingung merasuki perasaan Rara.
Kevin
berbalik kearah teman satu timnya yang masih setia menantinya lalu meminta agar
salah satu diantara mereka melemparkan bola basket kepadanya. Dengan mudah,
bola orange kecoklatan itu ditangkap oleh kedua lengannya yang berotot.
“Kalau
kamu mau, kamu peluk bola ini. Tapi kalau kamu nolak, kamu boleh lempar bola
ini.” Kevin memperagakan gerakan melempar itu pada Rara, seperti mengajari anak
SD bermain basket.
Rara
memandang teman-temannya, dan terpaku lama pada Alex yang seperti tidak peduli.
Sejenak dia berpikir, keputusan mana yang harus dia pilih agar tak menyakiti
orang lain. Putri dengan sorotan matanya yang tajam memandang penuh kebencian
pada Rara, yang kemudian memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
Akhirnya
Rara mengambil bola itu dengan perlahan, dan masih dengan pikiran yang bimbang.
Karena satu keputusan yang salah akan menyakiti pihak lain.
Alex
yang melihatnya pergi meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan Rara.
* * *
Kantuk
masih menghiasi wajah mereka. Dipagi yang dingin ini, seseorang sedang meratapi
nasibnya diam-diam.
“Emang
kamu kemarin kemana Lex, kok ngilang gitu aja?” tanya Joe yang memainkan rubik
dengan cepat.
“Ngga
kemana-mana kok.” Jawabnya singkat. Cowok yang baru datang langsung bergabung
dengan kedua temannya.
“Lagi
ngapain sih?” tanya cowok yang biasa dipanggil Anton itu.
“Lagi
nanya Alex pergi kemana, habis pertandingan kemarin.” Joe yang tak berpaling
dari permainannya menjawab dengan lesu.
“Oh,,
kasihan Rara kemarin pulang naik taksi sendirian gara-gara kamu ngilang Lex.”
Cetus Anton, yang kemudian menarik kursi untuk merapat pada mereka.
“Emang
pacarnya ngga nganterin apa?!” suara Alex sedikit meninggi mendengar Rara yang
ternyata pulang sendirian. Kalau saja dia menahan diri untuk tidak pergi pasti
Rara tak akan pulang sendirian dimalam yang dingin itu.
“Pacarnya
kan kamu! Gimana sih?” Joe berkata dengan suara cemprengnya yang tinggi,
mendapat anggukan dari Anton tanda setuju. Alex semakin berkerut dahinya,
semakin rupawan wajahnya.
“Lhoh??
Maksudku Kevin! Yang kemarin nembak dia.” Alex mengangkat bahu, kedua temannya
tertawa dengan keras. Membuat anak-anak yang sudah datang memusatkan perhatian
pada mereka.
“Bukannya
Rara nolak dia gara-gara udah punya kamu Lex?” Anton menahan tawanya.
Semakin
bingung pikiran Alex, tak tahu kemana ini akan berujung.
“Aku
kan ngga jadian sama Rara. Dia beneran nolak Kevin? Kapten basket yang keren
itu?” kedua temannya memandanginya dengan tatapan kasihan.
“Kamu
sih, ngilang gitu aja. Andai kamu lihat ekspresinya Kevin. Hahaha.” Joe tertawa
lagi, diikuti dengan Anton yang membayangkan kembali peristiwa malam kemarin.
“Aku
pikir Rara bakal nerima dia waktu ngambil bolanya dari Kevin.” Ungkap Alex.
“Yahh,
emang sih Rara ngambil bolanya. Tapi begitu tahu kamu udah ngga ada
disampingnya dia ngelempar bola kelapangan. Katanya dia lebih milih buat jadi
temen Kevin dari pada jadi pacarnya.” Anton menjelaskan dengan perlahan.
Seperti menyadarkan Alex dari mimpi panjangnya. Mimpi buruk yang akhirnya
berakhir, berganti dengan perasaan lega sekaligus terkesan.
Tiga sekawan itu sedang duduk bersama dibangku
Rara. Suara tawa dan bisik-bisik memenuhi batas area mereka yang membuat
anak-anak lain tertarik untuk melihat lebih dekat. Wajah terkagum-kagum tampak
diantara mereka yang telah memenuhi rasa penasarannya.
“Wahh,
romantis juga si Kevin Ra. Kenapa ngga kamu terima aja kemarin?” tanya Agni
yang memegang seikat bunga mawar merah ditangan kanannya. Harum. Bunga itu
sudah ada diloker meja Rara sebelum dia memasukkan tas kedalamnya. Sekotak
coklat juga tampak membuat cewek-cewek lain diruangan itu gigit jari karena
merasa Rara adalah cewek yang beruntung.
“Aku
kan Cuma nganggep dia temen Ni, ngga lebih.” Ungkapnya. Rara tampak tak terlalu
senang dengan perlakuan Kevin terhadapnya, dia tidak pernah ingin mengikat
sebuah hubungan yang melebihi pertemanan dengan Kevin walapun dia mengagumi
sosoknya.
“Wahh,
dari siapa Ra?” celetuk Anton yang belakang cewek-cewek yang bergerombol
disitu. Anton mengangat kepalanya agar bisa melihat Rara.
“Dari
mantan calon pacar!” teriak Indri kepadanya. Kini Anton hanya ber-‘wow’ dan ber
oo panjang. Dia yang merasa cowok pasti tidak akan melakukan hal romantis
seperti kepada orang yang telah menolak cintanya.
Anton
kembali ketempat duduknya bersama Alex dan Joe, dan menceritakan hal itu pada
kedua sahabatnya itu.
“Jangan-jangan
dia ngga suka sama cowok lagi!?” bisik Joe menimpali cerita Anton yang langsung
disambut jitakan oleh Alex.
“Gila!
Kalau ngomong hati-hati Joe.” Tawa pun meledak diantara mereka.
Jauh
dari topik Anton angkat bicara tentang hal yang mengganjal isi hatinya selama
ini.
“Jujur
deh Lex, kamu beneran ngga jadian sama Rara?” tanyanya dengan suara super
pelan, seperti akan ada pukulan keras terhadapnya jika berbicara melebihi volume
itu.
“Hah?
Jadian dari hongkong!?” balas Alex.
“Ehh
eh, tapi aku juga mikirnya gitu semenjak kalian berdua jadi akrab banget. Kamu
juga sering diem-diem merhatiin dia kan Lex? Jujur deh. Kamu suka kan sama
dia?!” Joe yang sudah tahu persis seluk beluk teman sebangkunya dengan yakin
menjatuhkan vonis yang membuat Alex mati gaya diantara mereka.
“Ehh?
Ya.. ya enggak lah. Mana mungkin aku suka sama cewek kaya Rara. hahaha” hampir
saja wajah Alex akan memerah seperti kepiting rebus kalau dia tidak menahan
luapan rasa malunya itu. Dia bisa bernafas sedikit lebih lega. Paling tidak,
untuk saat ini.
“jadi
kamu ngga tertarik sama cewek kaya Rara? Jangan-jangan kamu juga ngga suka sama
cewek! hahahaha” Joe merasa temannya sangat bodoh karena berkata dia tidak tertarik
sama Rara.
“Iya,
udah pinter, cantik, baik lagi. Oh ya, anaknya juga suka banget sama musik
kan?? Coba kamu bayangin cowok kaya kamu, punya pacar kaya Rara. Bakal jadi the
best couple, Lex!” seru Anton tak mau kalahnya.
Alex
hanya geleng-geleng kepala sambil menunduk dalam-dalam mendengar suara tawa
temannya. Baginya untuk saat ini, lebih baik membohongi perasaannya dari pada
merusak kebahagiaan Rara mendapat pengagum baru yang selalu memperhatikannya.
Walau menurutnya tak jelas apakah Rara juga menyukai pengagumnya atau tidak.
Tapi mendengar bahwa Rara menolak Kevin karena melihatnya tidak ada disana
waktu itu, sedikit membuat tanda tanya dikepalanya. Apa yang membuat Rara
menolak cowok perfect seperti Kevin?
Entahlah,
baginya bisa melihat senyum Rara setiap hari adalah hal terindah yang selalu
ingin dia nikmati. Untuk kesekian kalinya Alex mencuri pandang ke meja peri
kecilnya dari tempatnya duduk, melihat rambut indahnya yang meliuk-liuk karena
gerakan si pemiliknya yang sedang tertawa dengan lepas. Sekali lagi rasa yang
menggelitik membuat hatinya bergetar dan menyunggingkan segaris senyum
diwajahnya.
Delapan,,,
Rara’S POV
“Dari
siapa kak?” tanyaku
“Nggak
tahu dek, yang nganter paketnya juga ngga tahu siapa pengirimnya.” Kak Dika
berbalik dan hilang dari pandanganku.
Hmmmt,
sekotak kado misterius? Entahlah, aku masih terlalu lelah untuk memikirkan
kemungkinan yang terjadi. Kembali kurebahkan badanku ditempat tidur setelah
meletakkan kotak besar itu diatas meja rias. Masih terlalu awal untuk mengawali
pagi dihari minggu ini. Aku juga terkejut ketika mendapati Kak Dika sudah
bangun. Kutarik selimut tebal hingga membungkus semua tubuhku. Tak berapa lama
aku sudah terlelap kembali, ketika jeritan ponsel itu mengusik tidurku. Lagu
‘Nightmare’ dari Avenged Sevenfold cukup membuatku sport jantung saat mendengar
scream dari vokalisnya M.Shadows. Banyak dari anggota keluargaku dan
teman-teman cewekku yang memaksa untuk mengubah dering ponselku karena bisa membuat
kepala mereka pusing mencerna lagu-lagu heavy metal seperti itu. Tapi, aku tak
menghiraukan mereka karena menurutku itu merupakan selera yang unik untuk
seorang cewek yang juga seorang kutu buku sepertiku.
Sambil meraba-raba, kuraih ponsel yang tak
jauh dari tempatku tidur.
“Ha
..Halo?” kataku sembari menahan diri untuk tidak menguap. Tapi tetap saja,
usaha itu sia-sia karena virus kantukku telah meledak dengan cepat.
“Haduhh,
baru bangun tidur Neng?” kata suara diseberang. Suaranya yang sudah familier
dan sesekali mampir dimimpiku itu membuat segaris senyum diwajahku.
“Hehe,
iya Bang. Ada apa nih? Ngganggu tidur aja!” kataku berpura-pura sebal.
Terdengar tawa dari seberang sana.
“Yaelahh,
mana ada cewek jam segini baru bangun tidur? Kaya kebo aja kamu! Hahaha.”
“Masbuloh?!
Ngapain sih Lex?” masalah buat elo
adalah kalimat favorit kami saat sedang berkumpul atau nongkrong bareng,
sekedar untuk seru-seruan semata. Biasanya kami menyingkatnya dengan
‘masbuloh’, dan ‘masbuge’ yang merupakan kepanjangan dari masalah buat gue.
“Eng
Anu.. Anak-anak semalem bilang kalau hari ini mereka mau ngajak jalan bareng.
Gimana kamu bisa ngga?” suara Alex terdengar ragu ditelingaku.
“Emm
gimana ya, aku lagi pengen dirumah soalnya. Tapi ngga papa lah kalau Cuma nongkrong
aja. Emang mau jalan kemana sih?” sekuat tenaga aku memaksa tubuhku untuk
bangun dari tidur. Butuh waktu cukup lama agar mataku bisa benar-benar ‘on’ .
“Gini
Ra, berhubung Senin kan libur nih, mereka ngajakin buat camping gitu sekalian
refreshing. Tapi berhubung cuaca lagi ngga mendukung, aku nawarin buat nginep
divilla keluarga aku aja. Gimana ikut ya?!” satu, dua, tiga, empat, ,, dst.
Butuh waktu lama untuk berpikir. Aku benar-benar tak punya pikiran ingin
berlama-lama diluar rumah, apalagi sampai menginap. Hening.
“Ra?”
ucap suara diseberang sana.
“Eh,
i iya Lex? Emm gimana ya, aku Cuma males keluar aja. Belum tentu dapet izin
dari papa mama.” Kataku dengan penuh sesal. Aku berharap dia membiarkan diriku
absen dari rencana itu.
“Udahh,
itu mah gampang Ra. Ntar aku jemput kamu, emm sekitar satu jam lagi. Kamu bawa
pakaian, sama barang yang kamu perluin dua hari besok ya. Dont worry, ntar aku
yang bilang sama tante Ane. OK? See you later.” Dan begitulah akhirnya dia
memutus percakapan kami.
Lima
belas menit lagi Alex akan sampai dirumahku. Terpaksa aku harus mengiyakan
ajakannya, karena setelah kupikir-pikir aku tidak mau mengecewakan
teman-temanku yang begitu antusias dengan rencana ini. Dengan pelan, kusisir
rambutku yang tergerai hingga punggung. Setelah memasukkan barang-barang
kedalam tas, aku memutuskan untuk memakai T-shirt keren warna merah dengan syal
yang menggantung dileherku. Aku cukup nyaman memakai jeans kesayanganku dan tak
lupa sepatu keds yang serasi dengan atasannya.
“Dek,
ditungguin tuh!” aku melompat tinggi, dengan tangan yang kuletakkan erat diatas
jantungku. Lalu secepat kilat yang berbahaya kulemparkan sisirku hingga
mengenai kepala kak Dika.
“Awww!!
Sakiitt dek!” teriaknya. Tangannya memegangi kepala berambut landak itu.
“Kak
Dika!!! Udah dibilangin kalau mau masuk ketuk pintu dulu! Bikin aku sport
jantung aja.” Teriakku tak kalah kencangnya. Aku yakin mamaku akan langsung
berlari menuju kamarku jika mendengar suara ribut dari kami berdua.
“Hehe,
sory lupa. Ditungguin Alex tuh. Tadi juga udah kakak izinin sama mama waktu dia
mau pergi. Jadi ya, kamu jaga diri ya, jangan macem-macem.” Dengan menunjukkan
wajah skeptis, dia menggerak-gerakkan jari telunjuknya seperti menggelengkan
kepala.
“Iya
Iya, makasih ya kak.”
Aku
turun dengan tas ransel disebelah bahuku. Sementara tangan kananku sibuk
memakai jam tangan dan aksesoris, kakiku menuruni tangga dengan perlahan tapi
pasti. Alex tampak sedang duduk disofa dengan buku ditangannya. Namun, setelah
lebih dekat, ternyata yang dipegangnya adalah komik keluaran terbaru yang
sempat diidam-idamkan oleh kakakku. SPTB (seperti biasa). Aku tersenyum
kepadanya, dan dia beranjak dari duduknya dengan kecepatan super.
“Eh,
udah siap Ra?” katanya, sambil memandangiku dari ujung rambut hingga ujung
kaki. Jujur, aku kurang nyaman dengan caranya memandangku.
“Udah.
Yang lain mana?” tanyaku mencoba mengalihkan tatapan matanya yang setajam pisau
belati.
“Yang
lain ntar setengah jam lagi baru ngumpul dirumahku. Yuk berangkat. Kita mampir
diswalayan dulu buat beli makanan.” Ajaknya, terlihat benar-benar siap untuk
pergi.
Keren.
Mungkin itu satu dari banyak kata yang menurutku pas untuk Alex setelah
menyadari penampilannya. Dan bisa dijamin, dia mendapatkan kata yang lebih dari
sekedar keren dari cewek-cewek lain.
Kami
memutari halaman depan rumah Alex yang membentuk jalan mobil seperti lingkaran.
Ternyata butuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk membeli semua bahan
makanan yang kami butuhkan, hingga membuat wajah teman-teman kami suntuk karena
menunggu terlalu lama.
Setelah
pertemuan yang singkat dan kami mengatur rencana, semuanya pergi dengan menggunakan
mobil sebagai transportasi. Aku, Alex, Joe dan Agni berada dalam mobil Alex
yang tentunya lebih sesak dengan barang dan bawaan dibanding mobil yang satunya.
Sedangkan Anton, Indri, Kevin, Dany, dan salah satu sepupu Kevin yang kalau
tidak salah bernama Keke, ada dimobil Kevin. Sudah sejak kejadian penolakanku
beberapa waktu yang lalu, Kevin memutuskan untuk menerima keputusanku menjalani
hubungan sebagai teman dengannya dan dia juga ikut bergabung bersama kelompok
kami. Dan tentu saja Dany yang sebenarnya adalah sahabat dekat dan teman satu
tim basket Kevin ikut dengannya untuk menjalin pertemanan dengan kami.
Sepanjang
perjalanan, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol, bernyanyi dan tak
henti-hentinya mengucapkan ‘Woow’, ‘Widihh’, ‘Keren’ dan sederet kata yang
mengungkapkan kekaguman ketika menjumpai pemandangan indah yang jarang kami
temui.
“Emangnya
ngga ada yang tinggal divilla kamu ya Lex?” cetus Agni dibelakang kursiku.
“Emm,
ngga kok. Villanya Cuma dipakai kalau ada acara keluarga aja. Paling Cuma aku
sama kak Alice yang sering kesitu buat refreshing sesekali.” Jelasnya. Matanya
tak berpaling dari jalanan.
A bersaudara
batinku. Alice dan Alex. Nama yang membuatku terkagum-kagum, apalagi setelah
mendengar nama lengkapnya dari Alex. Suatu hari dia pernah bercerita tentang
dia dan saudaranya yang hampir mirip itu. Walaupun beda umur mereka sama dengan
beda umurku dengan Kak Dika, tapi Alex berkata banyak yang bilang kalau mereka
itu seperti saudara kembar yang memiliki wajah yang mirip. Saat aku
membayangkan Alex versi wanita, aku pasti akan menganggapnya gadis tercantik
yang pernah kutemui. :D
Setelah
hampir satu setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai disebuah rumah besar
yang klasik dan dikeliingi oleh taman yang terlihat sangat asri. Kalau
dibanding dengan halamanku yang tak kalah asrinya, ini adalah versi super
besarnya.
Kami masuk dengan mulut menganga, karena
kagum. Alex memang benar-benar anak orang kaya ya? Aku turun membawa ransel dan
banyak kantong plastik berisi makanan yang dengan begitu saja diacuhkan oleh
teman-temanku, kecuali kalau sudah siap untuk dikonsumsi.
Seluruh
penjuru ruangan dipenuhi oleh suara anak-anak yang sedang berkumpul. Suasana
yang cukup ricuh, tapi seru dan mengasyikkan. Kami bermain-main sepanjang hari.
Berbagi cerita dan pengalaman, makan, ngemil, main games, bernyanyi bersama
dengan gitaris baru kita ‘Alex’ yang ternyata adalah mantan anak band. :D Senang rasanya saat berada disuasana yang
mengharapkan waktu untuk berhenti sejenak agar tak menghapus kesenangan yang
indah ini. Tapi waktu tetaplah harus berputar, layaknya hidup yang terus
berjalan seperti roda yang berputar. Senjapun menyapa kami yang kebanyakan (hampir
semua) belum ingin mandi. Akhirnya dengan keengganan yang teramat sangat, kami
bubar untuk kekamar masing-masing yang sudah diatur oleh Alex.
“Andai
aja tiap hari kaya gini.”gumamku. kami sedang menikmati hangatnya api unggun
menerpa tubuh kami dihalaman belakang rumah.
“Kamu
bahagia?” tanya Alex, setengah berbisik dan hanya kujawab dengan anggukan pelan.
Sulit untuk kupungkiri kalau suaranya yang khas itu mampu menggetarkan jiwa.
Tapi cepat-cepat kutangkis perasaan aneh , yang kutahu akan mengakibatkan efek
negatif bagiku dan hubungan pertemanan kami.
“Hei
guys! Emmm, minta perhatiannya sebentar dong.” Kevin berdiri didekat api
unggun, memecah keributan diantara kami. Suara bisik-bisik pun timbul dari
teman-temanku. Indri yang duduk disebelahku menyenggol lenganku. Maksudnya? :0
“Aku
mau nyanyi buat seseorang , ..” ucapan Kevin terputus karena sorakan dari
anak-anak.
“Husst,
emm semoga aja salah satu dari kalian tahu siapa yang aku maksud. Lagu ini buat
kamu, pencuri hatiku.” Segaris senyum tergambar jelas diwajah orang yang sempat
mejadi sosok yang kukagumi itu. Tampan. Aku baru sadar kalau semua mata tertuju
padaku dengan pandangan menyelidik. Arggh! Aku hanya bisa geleng-geleng kepala,
meyakinkan mereka kalau yang dia maksud bukanlah aku. Ya, walaupun Kevin
terkadang selalu perhatian padaku.
Dan
mengalunlah lagu falling in love-nya J-Rocks yang juga merupakan band favoritku
dari mulut Kevin.
Kurasakan ku
jatuh cinta
Sejak
pertama berjumpa
Senyumanmu
yang selalu menghiasi hariku
Kau
ciptaan-Nya yang terindah
Yang
menghanyutkan hatiku
Semua telah terjadi
Semua telah terjadi
Aku tak bisa
berhenti memikirkanmu
Dan kuharapkan engkau tau...
Dan kuharapkan engkau tau...
Mataku terpejam, suara tepuk tangan temanku-temanku
mengiringi suara Kevin. Aku membayangkan apakah ini yang sedang kurasakan? Ah,
sepertinya tidak. Dan aku harap memang tidak semudah itu untuk menyimpulkan apa
yang sedang kurasakan.
..Iam
falling in love
Im falling in love with you..
Im falling in love with you..
Jarum
jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 10.30. teman-temanku mungkin sudah
terlelap karena kelelahan. Sedangkan aku disini masih berdiri memeluk tubuhku,
memandangi gemerlapnya malam dari balkon lantai dua.
“Belum
tidur?” kata suara dibelakangku. Aku mengira itu adalah Kak Dika yang suka
mengagetkanku, tapi ternyata hanya ada Alex. Ingin sekali aku meninjunya jika saja
aku tidak mampu menahan diri karena terkejut. Melihat ekspresi wajahku, Alex
buru-buru meminta maaf.
“Eh
Sorry, kaget ya?” katanya lalu berdiri disampingku.
Aku
masih diam, meredam keterkejutanku.
“Indah
ya Lex.” Ucapku, sambil menengadah menatap pekatnya langit malam yang seperti
dihiasi oleh ratusan juta lampu neon diangkasa.
“Iya
Ra. Sama indahnya waktu nglihat senyum kamu.”
“Hah?”
dahiku berkerut. Apa dia bilang? Apa aku ngga salah denger?
“Udah
lupain aja.” Katanya enteng. Meninggalkan tanda tanya besar dikepalaku.
Tiba-tiba
saja, sebuah jaket sudah melekat ditubuhku, dengan perlahan Alex membenarkan
posisinya agar bisa menutupi tubuhku dari angin malam.
“Nanti
bisa masuk angin kalau Cuma pake kaos gini.” Katanya penuh perhatian membuatku
mengulas senyum. Jadi ingat sama papa yang suka perhatian sama aku. Semoga aja
waktu pulang nanti aku ngga diinterogasi habis-habisan. Yah walaupun Papa buka
tipe orang posesif, tapi beliau cukup protektif dan senang mendengar cerita
ataupun curhatan dari anak-anaknya.
“Makasih
Lex.” Ucapku pelan, yang hanya dibalas tatapan olehnya. SPTB(seperti biasa).
Entah kapan dia akan menghentikan kebiasaan menatapnya yang tajam juga
menghanyutkan itu padaku.
“Pernah
nonton crazy little thing called love ngga
Ra?”aku mengingat-ngingat judul film yang disebutkannya itu. Tapi nihil, Aku
hanya menggelengkan kepala.
“Disitu,
ada yang bilang kalau kita bisa memenangkan hati orang yang kita cintai dengan
menghubungkan bintang-bintang itu membentuk inisial namanya.” jarinya menunjuk
kelangit, dan menghubungkan titik demi titik membentuk sebuah huruf yang aku
tidak tahu apa yang telah dibentuknya.
Tanda
tanya lagi. Apa dia baru mengukir inisial pacarnya? Tapi setahuku dia tidak
pernah dekat dengan cewek lain. Yah, setidaknya aku tahu itu saat kita
nongkrong bersama. Mungkin dia sedang mengukir inisial cewek yang disukainya.
Entahlah.
Dia
pun masuk kedalam setelah menyuruhku untuk segera tidur. Beberapa menit sebelum
aku melangkah kedalam ruangan, insting dan naluriku berkata untuk menggerakkan
jariku. Menghubungkan satu titik ketitik lainnya. Dan terbentuklah, sebuah
inisial yang membuatku ingin menumpahkan air mata.
Malam yang terlalu indah untuk menitikkan air mata,
Ini semua karena ‘dia’ yang membuatku mengukir namamu
diantara bintang-bintang
Apakah memang masuk akal?
Aku mengukir namamu, berharap bisa mencuri hatimu
Karena demikian yang ‘dia’ katakan,
Haruskah aku menyalahkannya? Apa justru diriku
yang terlalu bodoh?
Yah, mungkin memang diriku yang terlalu bodoh,
Kalau bukan karena diriku sendiri, kau pasti
tidak akan membiarkan air mata mengalir dipipiku
Aku yakin itu, karena kau memang selalu begitu
“R”
Sembilan,,,
Rara’S POV
Hari ini aku merasa sangat lelah.
Terlalu banyak kegiatan disekolah membuatku selalu menantikan hari libur.
Memang seharusnya hari libur kemarin aku istirahat dirumah, bukannya menginap
dengan teman-temanku divilla Alex. Meskipun begitu aku tak menyesal. Justru
sangat berterimakasih pada mereka, terutama Alex.
Aku berjalan kaki menuju rumah setelah
mengucapkan terimakasih(untuk kesekian kalinya) pada Alex karena selalu berbaik
hati mengantarku pulang.
Tampak sebuah motor cowok yang
terparkir dihalaman depan, yang aku sendiri tidak tahu motor siapa itu. Mungkin
milik teman kakakku yang sedang berkunjung.
Dan benar saja, ketika aku memasuki
ruang tamu tampak seorang cowok yang harus kuakui terlihat, ehmm misterius?
Yap, misterius. Itu yang kutangkap dari dirinya yang sedang duduk berbincang
dengan Kak Dika.
“Itu dia baru pulang. Ra! Sini bentar.”
Suara Kak Dika membuatku berhenti dan membalikkan badan menghadap mereka
berdua.
“Ada apa kak?” tanyaku. Wow, wajah
cowok itu terlihat lebih jelas. Dia hanya melihat kearahku, tanpa senyum
sedikitpun. Baru kali ini ada cowok yang tidak mau memberikan senyumnya saat
kuperhatikan. Mungkin dia sedikit cuek? Bukan mungkin lagi, tapi memang iya.
Hal itu terlihat dari bahasa tubuhnya dan caranya melihatku.
“ Ini yang kakak ceritain waktu itu.
Temen kakak yang juga guru les musik. Ingat ngga?” kak Dika mencoba membuatku
mengingat ceritanya yang sudah lebih dari berbulan-bulan dimemory otakku.
Aku Cuma nyengir kuda. Benar-benar
lupa. Hanya gelengan kepala yang kuberikan untuk menjawabnya.
“Ngga kaget deh...” katanya skeptis.
Lalu menceritakan lagi tentang temannya yang terlihat cuek binti sangar itu.
“YUDA.” Dia mengulurkan tangannya untuk
berkenalan denganku. Kusambut tangannya, dan kurasakan genggamannya yang sangat
kuat dan tegas.
“Rara.” Kataku anggun, dan tersenyum
simpul.
Coba bayangkan seorang cowok yang
tinggi dengan rambut cepak dan kelihatan
seperti personil band rock/metal (yang satu ini, ngga pake baju robek-robek
sama anting yang ngga jelas, alias versi kerennya). Celana jeans, jaket kulit
hitam. Laki banget. Dan kelihatan macho banget :3 gigit jari deh kalau sudah lihat
yang kayak gini. Ini nih tipe seorang Rara : cowok cuek, cakep, tinggi, macho,
pemusik pula. :D lengkap sudah buat dijadiin cowok idaman. Nilainya 80 dari
100. Bisa bertambah atau berkurang seiring berjalannya waktu.
“Masih berminat buat les musik?”
tanyanya. Suaranya ng-bass. Tambah laki dah, hahaha. Haduh Rara udah mulai
miring nih, ngga baik! Bisa-bisa terbang ke awan nantinya.
“Yep! Aku sih pengen banget bisa main
musik, tapi ngga punya banyak waktu buat ikutan les yang jadwalnya selalu
nabrak sama jadwal sekolah aku.” Tuturku. Biarin aja kalau dibilang cerewet.
Emang dari dulu aku pengen banget bisa main musik, tapi ngga punya waktu buat
mengasah bakat aja.
“Gitu ya, tapi kamu bisa kok ambil
les-nya setelah pulang sekolah atau malam hari.”
“Serius? Murid yang lainnya gimana
dong?” tanyaku,
“Udah lah dek, ngga usah dipikirin.
Yang penting kan kamu bisa ikut les tanpa mengganggu proses belajar kamu.” Kak
Dika ikut memberikan pendapatnya.
“Ihh, ya ngga boleh egois juga dong
Kak.” Cetusku. Dia langsung diam, lalu menyenggol lengan temannya.
“Yah, karena Dika sahabat aku, kamu
boleh kok ikut les kapan aja. Maksudnya kalau kamu sama aku lagi free. Gimana?”
Oo o o, ternyata karena kak Dika. Yah,
kalau gini sama aja dia terpaksa ngasih penawarannya. Tapi nggapapa lah, kapan
lagi dapat kesempatan kayak gini. Jarang-jarang.
“Oke deh. Aku ikut.” Kataku mantap.
“Gitu dong!” seru kak Dika. Kakak yang
super ajaib. Walau bagaimanapun, aku tidak akan mendapatkan penawaran seperti
ini kalau bukan karena kak Dika. Love you so much my brother! :*
“Minat sama alat musik apa?” tanya Kak
Yuda. Melihat umurnya yang kira-kira seumuran dengan kak Dika, mungkin cowok
ini pantas untuk kupanggil ‘kak’ juga.
“Emm, pengen bisa semua sih. Gitar,
piano, pengen bisa ng-drum juga.” Jawabku dengan senyum lebar. Alisnya sedikit
terangkat, mendengar jawabanku. Kenapa, apa ada yang salah?
“Eh, tahu ngga dek, kalau Yuda waktu
SMA dulu sering main piano setiap ada acara-acara penting disekolah. Bener kan
Yud? Cewek-cewek aja jadi klepek-klepek kalau lihat kamu.” Tawa pun membeluncah
disekitarku.
Oh, jadi kak Yuda juga satu SMA sama
kak Dika ya. Tapi aku kok baru lihat sekarang ya, mengingat lamanya mereka
berteman.
Kami akhirnya memutuskan jadwal lesku.
Dua kali seminggu setiap jam lima sore pada hari Rabu dan jam enam malam tiap
hari sabtu.
Setelah berbincang untuk beberapa saat,
kak Yuda pamit untuk pulang. Berdasarkan hal yang kutangkap dari pembicaraan
mereka, kak Yuda sudah tiga jam berada disini. Andai saja aku pulang lebih awal
pasti bisa lebih lama menghabiskan waktu mengobrol dengannya. Terlalu berharap
memang.
Aku dan kak Dika mengantarnya sampai
pintu depan. Salah satu dari sopan santun yang diajarkan kedua orang tua kami
agar memperlakukan tamu dengan baik dan sopan.
“Dia Jomblo!” bisik kak Dika padaku.
Aku hampir tidak mendengar yang diucapkannya.
“Maksudnya?” aku sontak berkacak
pinggang dan memicingkan mataku kearahnya. Kak Dika tertawa melihat diriku.
“Ya, kali aja kamu naksir dek. Dia kan
tipe kamu banget.” Kak Dika berlalu dari pintu, menuju kamarnya.
“Kakak sok tahu ah.” Bantahku. Pipiku
bersemu merah. Malu. Kak Dika memang kakak yang paling mengerti diriku.
“Emang kenyataannya gitu! Hahaha”
suaranya membuatku semakin memerah.
Aku tidak suka ada orang yang tahu
kalau diriku diam-diam suka pada seseorang, dan mencoba untuk menutupi
perasaanku itu. Aku mungkin bisa mengelak jika orang lain yang mengatakannya.
Katakanlah kedua sahabatku, Indri dan Agni. Aku selalu bisa mengelak dari
mereka jika merasa tersudut, tapi tidak dengan Kak Dika.
* * *
Selesai makan malam bersama keluarga,
aku langsung menuju kamar untuk mengerjakan PR yang mulai menumpuk seperti
gundukan tanah. Bukan anak sekolah kalau tidak ada PR (pekerjaan rumah) yang
selalu menanti dimeja belajar untuk segera dikerjakan. Mau tidak mau aku pun
harus menjalani susah senang menjadi pelajar dengan senang hati, karena aku
tahu ini adalah tugas seorang pelajar yang menjadi generasi penerus bangsa
Indonesia ini.
Setelah tiga puluh menit berlalu,
terdengar ketukan dipintu kamarku. Aku yang sedang serius malas untuk
membukakan pintu itu, karena aku pikir paling Kak Dika atau Mama yang ada
disana.
“Masuk!” seruku, tanpa mengalihkan
pandangan dari buku biologi.
“Ra.. ?” panggil suara itu. Aku sontak
berbalik menyadari kalau itu bukan suara Mama, apalagi Kak Dika. Dan ternyata
itu adalah suara Indri yang sedang menutup pintu kamarku.
“Indri!! Kok ngga bilang-bilang kalau
mau datang?” tanyaku, girang sekaligus terkejut. Dia hanya tersenyum simpul.
Setelah kuperhatikan lebih seksama, ini bukanlah pribadi seorang Indri yang
selalu ceria.
“Ada apa In?” tanyaku cemas. Indri
malah nyengir kuda melihat kekhawatiranku.
“Emm, Ra. Aku mau.. emm ngomong sesuatu
sama kamu. Emm, tapi.. tapi kamu jangan , , jangan marah ya..?” ucapnya,
mencengkeram lenganku layaknya anak kecil yang minta dibelikan mainan oleh
ibunya.
“Kamu kenapa sih? Udah cerita aja In,
nggapapa kok!” bujukku lalu mengajaknya untuk duduk ditempat tidurku. Aku
menarik kursi dan duduk dihadapannya.
Indri mulai menceritakan semuanya,
tentu saja dengan perasaan harap-harap cemas. Aku bisa melihatnya dari bahasa
tubuh dan sorot matanya. Dan setelah dia mengakhiri ceritanya yang lumayan
panjang dikali lebar itu, aku tertawa dengan keras. Baru kali ini aku tertawa
keras, dan lepas, tanpa meperhatikan sopan santun. Uppss. :D
“Ohh, jadi kamu jadian sama Kevin??”
lagi-lagi aku tertawa, melihat ekspresi Indri.
“I Iya Ra, aku takut kamu marah. Kok
kamu malah ketawa girang gitu sih Ra?!” indri spontan menempelkan punggung
tangannya didahiku.
“Enggak, lucu aja. Kenapa aku harus
marah In? Aku ikut senang kamu jadian sama Kevin.” Kataku, benar-benar tulus
dari hati.
“Masalahnya bukan gitu Ra, ini , emm..
kamu kan juga suka sama Kevin dari dulu. Iya kan Ra?” aku terkesiap. Diam
beberapa saat, sebelum tersenyum tipis.
“Mungkin waktu itu bukan suka seperti
cinta yang aku rasain sama Kevin In, aku Cuma kagum aja sama dia. Makanya
kenapa aku terang-terangan nolak dia waktu dia nembak aku. Sekarang perasaanku
sama dia hanya sebatas rasa suka sebagai teman.” Tanganku meraih jemarinya,
mencoba meyakinkannya. Aku memang suka sama Kevin, tapi itu dulu. Sebelum dia
nembak aku. Setelah aku lumayan dekat dengannya, ternyata aku tahu kalau dia
itu merupakan sosok yang aku kagumi, bukan sosok yang aku cintai. Dan rasa
kagumku itu semakin pudar seiring berjalannya waktu karena telah terbiasa.
“Kamu yakin Ra? Aku ngga mau gara-gara
masalah ini, persahabatan kita jadi ngga seharmonis dulu.” Ungkapnya, Indri
benar-benar khawatir. Wajahnya terlihat sendu. Sedalam itukah kekhawatirannya
terhadap persahabatan kami, yang memang sudah terjalin sejak SMP.
“Yakin kok. 100% yakin. Kamu tenang
aja, persahabatan kita ngga akan ternodai dengan hadirnya seorang cowok.
Kalaupun aku masih suka sama Kevin, aku ngga akan merusak persahabatan kita
waktu kamu jadian sama dia In. Kamu jauh lebih baik buat dia daripada Putri
yang suka cari gara-gara itu.” Aku lalu terkikik, kenapa juga membandingkan
Putri (mantan Kevin yang jail abis) sama sahabatku Indri yang baik hati, tidak
sombong dan.. (tambah sendiri kriterianya :D)
Kami
tertawa bersama. Inilah kekuatan persahabatan. Selalu menerima kekurangan satu
sama lain, saling percaya, dan saling terbuka. Sama halnya dengan menjalin
hubungan yang spesial.
“Makasih Ra. Ngga salah aku milih kamu
jadi sahabat aku.” Katanya lirih. Aku merasa terharu, dan terlalu mendramatisir
suasana hingga mataku berkaca-kaca. Andai saja ada Agni juga, lengkap sudah
tiga sahabat ini.
“Eh, Agni udah tahu?” tanyaku.
Indri menggelengkan kepala. “Baru kamu
yang tahu Ra, ini juga aku masih takut soalnya Kevin juga pernah suka sama kamu
kan.” Akhirnya keluar juga hal yang mengusik hatinya. Aku tahu dia akan berkata
demikian, karena itu juga yang kukhawatirkan.
“Udahlah In, itu kan masa lalu. Jangan
pesimis gitu dong. Kalian cocok kok, banget malah.” Aku tersenyum lebar. Lalu teringat akan sesuatu. “Berarti, waktu
dia nyanyi divilla waktu itu buat kamu?” aku tertawa lagi, melihat wajah Indri
berangsur merona.
“Ihh, jangan diketawain dong. Aku juga
ngga nyangka dia bakal se-nekad itu, yah walaupun ngga terlalu nekad kayak
waktu dia nembak kamu dulu. Sebelum acara itu, dia udah bilang kalau suka sama
aku, tapi aku cuekin gitu aja.” Begitulah Indri, tapi aku bahagia dia menemukan
cowok seperti Kevin. Walaupun aku yang jadi perantaranya secara tidak langsung.
Kami mengobrol tentang hal-hal yang
selalu jadi topik pembicaraan cewek. Wajar. Hingga Indri mengeluarkan
pertanyaan yang benar-benar membuatku terdiam.
“Emm, aku boleh nanya ngga Ra?” katanya
“Apaan? Ngga soal Putri lagi kan,
tenang aja dia ngga bakal nyakitin kamu kok.” Tegasku.
“Bukan, Ini soal Alex. Kamu ngga ada
perasaan gitu sama dia?” indri mengucapkan sangat pelan bagian terakhir.
Dahiku
berkerut dan alisku terangakat sebelah, untuk waktu yang cukup lama. Aku
berpikir keras. Aku menyadari kalau aku dan Alex sangat dekat. Bisa dibilang
akulah cewek disekolah yang paling dekat dengan Alex.
“Ngga tahu. Kok tiba-tiba tanya gitu
sih?”
“Ya gimana lagi. Ini tuh udah jadi pembicaraan
anak-anak waktu ngumpul kalau ngga ada kalian. Dan kami semua merasa kalau
kalian tuh saling suka satu sama lain Ra.” Indri bicara setegas mungkin.
“Aku ngga kepikiran In, ya mau gimana
lagi, kamu kan tahu aku kesepian sejak ngga ada Raka yang selalu ada disisi
aku.” Terangku, merasa sangat sedih.
“Dan Alex jadi pelarian kamu gitu?”
tanyanya. Mataku sontak melotot karena tak percaya cewek didepanku ini akan
berkata begitu.
“Kok kamu...” ingin sekali aku
berteriak kenapa dia bisa menarik kesimpulan seperti itu. Tapi itu semua
teredam ketika dia menenangkanku.
“Ra, bukan maksud aku ngomong gitu. Aku
melihatnya kamu itu menganggap Alex sebagai Raka. Tapi kamu ngga boleh gitu Ra.
Alex ya Alex, Raka ya Raka. Mereka itu dua orang yang berbeda Ra. Kamu ngga
boleh terus terbayang-bayang sama Raka, yang akhirnya membuat kamu menganggap
orang yang deket sama kamu itu dia.” Aku langsung terhenyak dari keterpurukanku
selama ini. Benarkah demikian? Sejahat itukah diriku? Apa benar yang dikatakan
Indri kalau aku selama ini tidak adil memperlakukan Alex yang kuanggap sebagai
pengganti Raka?
Air mata mengalir deras dipipiku. Aku
menangis, menangis dipelukan sahabatku.
“Aku jahat ya In?” tanyaku
tersedu-sedu.
“Enggak Ra, kamu ngga jahat. Kamu Cuma
belum menyadarinya aja. Aku tahu kamu sayang banget sama Raka, tapi kamu juga
harus melihat Alex dalam hidup kamu Ra. Sebagai Alex yang sesungguhnya, bukan
Alex yang kamu anggap seperti Raka.” Indri mengelus rambutku dengan lembut.
Ucapannya semakin menyadarkanku. Bayangan
masa-masa ketika aku bersama Alex terputar dikepalaku, berbaur dengan masa
ketika aku bersama Raka. Seperti telah melihat film yang sedang diputar, aku
tersadar kalau mereka memang dua orang yang berbeda dan memiliki kepribadian
yang sangat berbeda.
Harusnya aku tahu kalau Raka tidak akan
memperlakukanku seperti apa yang telah dilakukan oleh Alex. Tapi kenanganku
bersama Raka telah membutakan mata hatiku tentang seorang Alex yang sangat
perhatian denganku.
“Aku baru tahu In, kalau dia berbeda.”
ucapku. Kuusap air mata yang belum juga berhenti dengan telapak tanganku.
Indri hanya tersenyum.
Ya, mungkin itu satu-satunya jawaban
yang kuharapkan darinya, karena aku tak ingin berpikir lebih dalam lagi.
Kehadiran Indri memberikan kejutan dan
sebuah pencerahan bagi seseorang yang terpuruk dengan satu orang sepertiku. Aku
sangat berterimakasih padanya yang berusaha membuka mata hatiku. Masih ada
orang yang memperhatikan diriku lebih dari seorang Raka. Masih ada orang yang
mampu menekan perasaannya demi membuatku tersenyum, seperti Alex.
Lantas kenapa Alex tak pernah
mengucapkan sepatah kata pun tentang perasaannya terhadapku? Apa dia takut,
atau aku yang terlalu ke-GR-an?
“Mungkin dia takut kehilangan kamu.”
Begitu kata Indri, seperti tahu apa yang aku pikirkan. Ya, itu mungkin saja.
Tapi mungkin juga tidak. Entahlah. Hidup ini seperti berisi ribuan balok tanda
tanya yang membuat kita untuk mencari sendiri jawabannya.
Aku melepas kepulangan Indri dengan
berat hati. Dia telah berbaik hati padaku malam ini. Tapi jam dinding sudah
menunjukkan pukul 9 malam. Karena datang sendiri, aku memohon pada Kak Dika
agar mau mengantarkan Indri pulang. Alih-alih rasa terimakasihku padanya yang
telah membuka pintu kesadaranku.
Sepuluh,,,
Rara’S POV
Kamarku
dibobol maling!
Itulah
yang terlihat dari kamarku yang semula rapi, setelah diobrak-abrik oleh kedua
sahabatku. Seperti habis kemalingan. Mau tidak mau aku hanya bisa mengelus
dada.
“Apaan
nih?!” seru Agni dari tempat tidur.
Oh,
kotak besar itu. Belum kusentuh sama sekali.
“Wow,
Besar banget Ni. Dari siapa Ra? Kok ngga dibuka?” sambung Indri yang tiba-tiba
saja sudah ada didekat Agni.
“Oh,,
emm itu aku juga belum tahu dari siapa.” Lalu kuambil kotak itu dari mereka dan
kuletakkan dalam lemariku.
“Kok
diambil sih! Dibuka dong Ra!” teriak Agni. Setelah memaksa dan merayuku, mereka
akhirnya mampu meluluhkan hatiku agar mau membuka kotak itu didepan mereka.
“Wahh,
KEREN!!” ucap mereka hampir bersamaan. Sepasang boneka lumba-lumba yang indah
yang diletakkan bersama dengan puluhan burung-burung kertas warna-warni.
Rasanya seperti menggali harta karun ditumpukan pasir.
“Gila!
Kamu dapat penggemar rahasia lagi Ra?”
Entah.
Kugali-gali tumpukan burung yang menutupi boneka itu untuk mencari sesuatu yang
bisa memberiku informasi.
“Ngga
tahu.” Jawabku setelah akhirnya tidak menemukan apa-apa.
“Eh
lihat, ini kok ukurannya super banget ya.” Kata Indri sambil mengangkat burung
kertas yang sangat besar. Lampu diotakku langsung ‘on’ begitu melihatnya.
Kuambil benda itu dari tangan Indri dan kubuka lipatan-lipatan kertas itu.
Benar saja, ada surat didalamnya.
Sekilas
kupandangi surat itu tapi tidak ada nama yang tertera didalamnya, hanya sebuah
inisial. Kuputuskan untuk menyimpan surat yang belum kubaca dibuku biru
dongker-ku.
“Kok
ngga dibaca sih Ra?” celetus Agni dengan ekspresi kecewa.
“Percuma,
ngga ada nama pengirimnya.”jawabku tak acuh. Biarkan saja mereka ngedumel dalam
hati. Aku tidak pernah suka membaca surat-surat seperti itu didepan siapapun.
Dan aku rasa mereka sudah tahu hal itu, apalagi mereka bukan lagi teman biasa
buatku.
“Husst,
udah jangan dipaksa. Ntar manyun lagi si Rara.” Suara Indri terdengar riang.
Kami semua tertawa dibuatnya.
Ketika
beres-beres ruangan kamarku, aku berpikir siapa yang telah mengirim kado itu.
Ini bukan hari ulang tahunku. Bahkan masih berbulan-bulan lagi.
Dan
yang menjadi tanda tanya besar adalah, kenapa lumba-lumba dan burung kertas? Aku
tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau aku sangat menyukai dua hewan itu.
Maksudku bukan dalam arti suka yang sebenarnya. Aku suka lumba-lumba karena
menurutku lumba-lumba suka berpindah-pindah mengarungi lautan. Hal ini
kuartikan sebagai manusia yang juga berpindah-pindah dari satu hati ke hati
yang lain hingga menemukan hati yang memang merupakan potongan dari hatinya
sendiri (soulmate). Sedangkan burung itu sendiri lebih kuartikan sebagai
kebebasan menjalani hidup, dan kebebasan mencari jati diri.
Aku
terus berpikir, tapi hanya ada jalan buntu. Aku tak pernah mengatakan hal itu
pada siapapun. Pasti orang yang telah mengirim itu adalah orang yang telah
mengenalku dengan sangat, sangat baik.
*
* *
Aku
sedang menyirami tanaman depan ketika mobil Kak Dika memasuki pekarangan. Wajahnya
terlihat ceria sore ini. Wajar saja, setiap pulang jalan dengan Kak Shinta dia
selalu punya cerita yang menarik seputar kencannya yang siap untuk dibagikan
padaku. Cowok memang tidak suka mencurahkan isi hatinya pada seseorang terutama
lawan jenis, tapi entah mengapa kakakku yang satu ini malah selalu berbagi
denganku. Hampir tidak ada rahasia diantara kami, mungkin karena pertalian
darah?
“Ada
yang lagi bahagia nih!” seruku tanpa mengalihkan pandangan.
“Hehe
tahu aja. Oh ya, hari ini ada les kan sama si Yuda?” oh iya, aku hampir saja
lupa. Kulihat jam ditanganku, lalu akhirnya bersyukur jam masih menunjukkan
pukul 16.00. masih satu jam lagi.
“Iya,
dianterin ngga nih? Aku kan ngga tahu rumahnya kak Yuda.” Ucapku memelas.
“Iya
gampang. Si Shadow scream lagi tuh!”
katanya setiap kali mendengar dering ponselku.
Aku
menuju keteras depan untuk mengambil ponselku, dan terdiam ketika mendapati
nama si penelpon.
“Em
hallo?” kataku. Sikapku sedikit berubah setiap kali bertemu atau berbincang
dengan Alex. Aneh memang, setelah sekian lama kita baru menyadari kalau kita
menaruh hati pada seseorang, walaupun aku sendiri belum yakin akan perasaan itu.
Secara tidak langsung itu akan mempengaruhi cara kita memperlakukannya.
“Hei,
pinjem catatan Matematika dong Non!” katanya tanpa basa-basi.
“Boleh.
Kapan perlunya?”
“Emm,
kalau bisa sih hari ini. Kamu dirumah kan?”
“Iya.
tapi bentar lagi aku mau berangkat les. Sekitar satu jam lagi, atau mau nanti
malam aja ngambilnya?” tawarku.
“Yaudah,
bentar lagi aku kesitu. Oke?” tanyanya lagi.
“Oke.”
Jawabku singkat. Alex menutup teleponnya, tanpa berpikir panjang, akupun masuk
kedalam rumah dan bersiap untuk pergi kerumah Kak Yuda.
“Sorry
ya Ra, ngrepotin kamu terus.” Kata Alex ketika menerima buku catatanku, dengan
senyumannya yang mempesona.
“Santai
aja lagi Lex, apa gunanya teman?” ucapku seolah kami berdua adalah teman dari
dulu. Alex hanya memicingkan sebelah matanya, dan tersenyum nakal.
“Makasih
ya. Mau pergi kemana sih?” tanyanya setelah melihat penampilanku yang sedikit
rapi.
“Mau
les musik, sama temannya Kak Dika.” Aku tersenyum
“Ohh,
aku mau nganterin kok kalau dibolehin sama kamu.” Maunya sih gitu Alex batinku, tapi segera kusingkirkan pikiran yang
terlihat berharap itu.
“Ngga
usah makasih, ada kak Dika yang siap antar. Lagian aku juga belum tahu
tempatnya kok.” Jawabku, mencoba tetap tersenyum. Beberapa detik, suasana kikuk
menyelimuti kami berdua.
“Oh
yaudah, aku balik dulu ya. Sekali lagi makasih.” Setelah memandangku untuk
terakhir kalinya, Alex berbalik menjauh dariku. Secepat dia datang, secepat itu
pula dia pergi meninggalkan pekarangan rumah dengan motornya.
Kami
berada didepan pintu sebuah rumah yang terlihat bersih dan asri. Kak Dika yang
sedari tadi didepanku mengetuk pintu kayu yang besar itu beberapa kali. Setelah
menunggu beberapa saat, keluarlah seseorang yang terkesan misterius itu.
“Eh,
udah sampai?” sapanya dengan senyum yang hemat.
“Hei
Yud. Iya nih, aku langsung balik dulu ya. Nih, Cuma nganterin Rara doang.” Kata
kak Dika tanpa basa-basi.
“Oke,
hati-hati ya.” Ucapnya sambil memberi tepukan dibahu Kak Dika. Aku hanya
nyengir kuda melihat kak Dika yang tega membiarkanku sendirian secepat ini.
“Tenang
aja, nanti pulangnya kakak jemput.” Seakan tahu akan perasaanku, dia mencoba
untuk membuatku menjadi lebih berani.
“Oke.”
Jawabku. Mengamati kak Dika yang sedang memutar mobilnya, aku tidak beranjak
sedikitpun dari tempatku sejak kedatanganku kemari. Hingga saat cowok yang
lebih tua dariku itu mengajakku untuk masuk kedalam.
“Duduk
dulu, aku kebelakang sebentar.” Ucap Kak Yuda sembari menunjuk sofa diruangan 5
x 6 meter ini. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan menatapnya berlalu melalui
pintu.
Ruangan
ini tidak terlalu besar, tetapi cukup rapi dan indah untuk ukuran seorang
cowok. Disudut ruangan tampak alat-alat musik bertengger dengan rapi dan sebuah
piano berada didekat tempatku duduk. Dindingnya dihiasi dengan beberapa bingkai
foto yang membuatku tertarik untuk mengamatinya lebih dekat lagi.
“Sorry
lama.” Suara kak Yuda membuatku berjingkat karena terkejut. Ditangannya sebuah
nampan berisi dua gelas minuman dan camilan yang menggugah selera. Aku jadi
ingat kalau belum sempat makan siang tadi.
“Oh,
ngga usah repot-repot kak.” Kataku sedikit tersipu lalu kembali kefoto ketiga
didinding itu.
“Itu
waktu aku masih SMA dulu.” Katanya dibelakang bahuku. Difoto itu tampak kak Yuda
sedang bermain piano disebuah panggung yang lumayan besar. Lengkap dengan
setelan jasnya dia menekan tuts-tuts piano seperti seorang profesional.
“Oh,
jadi kak Yuda sering ikut acara-acara musik kayak gini ya?” aku kembali duduk
disofa.
“E’em
lumayan lah.” Katanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Setelah
cukup lama berbasa-basi, kak Yuda akhirnya memulai pelajaran dihari pertama
ini. Dia menjelaskan tentang not balok dan nada-nada dasar. Aku sedikit
mengerti karena pernah belajar secara otodidak dulu, jadi hanya perlu
pengulangan untuk lebih jelasnya saja.
“Jari
telunjuk kamu kurang pas Ra.” Katanya dibalik piano besar itu. Aku masih
diposisi awalku, duduk disofa sambil memegang gitar dan mempraktikan kunci
gantung yang telah dia ajarkan.
“Gini
kak?” tanyaku tak lepas dari senar yang kutekan dengan jari-jariku.
“Masih
belum.” Jawabnya. Berkali-kali aku mengulang dan bertanya tapi masih belum
benar juga. Jariku sampai sakit dan lecet karena mencoba terlalu keras.
Saat
rasa putus asa-ku mulai memuncak, seketika itu pula kak Yuda dengan
kesabarannya yang lebih cocok diartikan dengan sifat cueknya menghampiriku.
Dibenarkannya posisi jari-jariku pada senar gitar dan memintaku untuk
memetiknya.
“Kalau
main musik jangan pakai emosi, harus pakai perasaan.” Begitu katanya, matanya
yang teduh menatapku dengan lembut, membuatku terpaku sejenak. Kak Yuda yang
tahu akan hal itu, menertawakanku dengan lepas. Aku baru tahu kalau dia punya
lesung pipi yang semakin menambah daya tariknya.
“Habis,
udah nyoba tapi ngga bisa-bisa.” Kataku manyun.
“Rara
tahu ngga kalau ngga ada yang instant? Mie instant aja ngga bisa langsung
dimakan kok, harus direbus dulu. Sama seperti belajar ilmu baru. Kamu harus
memahaminya, dan berusaha sedikit demi sedikit. Aku dulu juga ngga ngerti sama
sekali tentang musik, tapi karena aku mau, makanya aku mampu. Kamu juga harus
begitu Ra.” Jelasnya, membuatku terkagum-kagum.
“Ohh,
gitu ya.” Suaraku yang polos membuat kak Yuda menyapukan tangannya dikepalaku
lalu mengacak-ngacak rambutku dengan usil.
Hal
yang selalu membuatku bertanya-tanya. Apakah ada arti tersendiri dari gerakan
mengacak-ngacak rambut ini? terutama oleh cowok. Alex yang sering melakukan itu
padaku selalu tak acuh setiap kali aku bertanya kenapa dia dengan usil merusak
tatanan rambutku. Aku pun sudah sering bertanya pada diri sendiri tapi tak
pernah mampu mengartikannya. Selalu samar-samar arti yang terkandung dari
gerakan itu. Apakah itu berarti rasa ketertarikan? Atau rasa sayang? Atau hanya
sekedar iseng? Atau mungkin kak Yuda hanya sedang sebal padaku yang LOLA( loading lama ) menangkap
penjelasan darinya. :D
Aku
berdiri didepan pintu rumah kak Yuda. Setelah dua jam mendapat pelajaran dihari
pertama, aku mulai mengerti kalau kak Yuda adalah cowok cuek. Namun, dibalik sifatnya
itu, dia orang yang perhatian dan juga
sabar.
Aku
sedikit mencuri pandang dengannya ketika dia sedang berdiri bersandar didinding
dengan posisi kaki kiri menyilang dan tangan didalam saku celana. Entah
mengapa, semakin lama cowok itu semakin terlihat menarik. Namun, segera kuhapus
pikiran itu setelah mengingat akan perasaanku pada seseorang yang baru kusadari
akhir-akhir ini. Apalagi dia adalah guru les-ku dan juga teman dari kakakku, tidak baik menyukai orang yang seharusnya
kita hormati sebagai pengajar. Kagum boleh, tapi tidak boleh lebih dari itu.
Sadar akan hal itu, senyumku pudar bersamaan dengan rintikan air yang turun
dari langit.
“Masuk
dulu Ra, Dika-nya juga belum sampai.” Katanya terlihat kedinginan.
“Emm,
Kak Yuda masuk aja dulu. Aku nunggu disini aja. Bentar lagi kak Dika juga
sampai kok.” Dengan bimbang aku melirik jam tanganku, dan benar saja kak Dika
sudah molor lima belas menit dari janjinya menjemputku.
“Beneran
nggapapa?” tanya kak Yuda. Aku terdiam sejenak untuk berpikir.
“Ohh,
nggapapa lah kak. Aku nunggu disini aja.” Kataku gengsi, dan benar-benar merasa
tidak yakin. Semoga saja sisi gentleman kak Yuda tersentuh dan memilih untuk
menemaniku sampai kak Dika datang.
“Yaudah,
aku masuk dulu ya.” Katanya lalu beranjak dari tempatnya dan berlalu
meninggalkanku.
Aku
hanya tersenyum. tersenyum kaku lebih tepatnya. Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa aku
bisa dengan mudahnya termakan oleh rasa gengsi-ku. Sekarang aku harus menerima
akibatnya, menunggu sendirian didepan rumah orang yang baru-baru saja kukenal
dan ditengah hujan yang semakin deras.
“Yah,
kok beneran masuk sih.” Gumamku penuh kekecewaan.
Mataku
berkeliling keseluruh penjuru teras dan taman rumah kak Yuda. Gelap. Aku yang
sudah kedinginan merasa bulu kudukku berdiri karena merinding. Kutendang
pikiran naif dan konyolku yang selalu saja membuatku ingin berlari dan
berteriak sekuat tenaga sama seperti pemeran utama difilm-film horor. Dengan
perasaan takut, aku duduk disalah satu kursi didepan rumah Kak Yuda yang mulai
terasa lembab karena hujan. Beberapa menit aku menunggu, mencari kesibukan
dengan mengotak-atik ponselku walaupun jelas tidak ada pesan atau telepon
masuk. Melihat ponselku, aku teringat akan Alex. Ingin sekali aku menelponnya,
namun niat itu kuurungkan dan lebih memilih untuk menghubungi nomor kak Dika.
Pintu
rumah kak Yuda terbuka ketika dering kedua terdengar diponselku. Sosok yang
menarik itu muncul dari pintu itu dengan payung ditangannya. Kuamati kak Yuda
sudah berganti pakaian, terlihat lebih rapi.
“Percuma,
Dika lagi sibuk katanya. Jadi, ngga bisa jemput kamu.” Kata kak Yuda, sambil
menunjuk ponselku. Kenapa dia bisa tahu kalau aku menghubungi kak Dika? “Lah
terus? Aku pulangnya gimana dong?!” aku yakin terlihat seperti gadis manja
karena kak Yuda begitu heran melihat ekspresiku.
“Aku
yang nganterin kamu pulang.” Ucapnya, sambil membuka payung dan menarik
tanganku.
Aku
yang masih manyun, terkejut dengan sikap spontan kak Yuda. Dia menarik tanganku
untuk mendekat padanya. Benar-benar susah ditebak.
“Jalannya
hati-hati ya, mobilnya ada disamping rumah situ.” Jarinya yang bebas menunjuk
kearah yang dimaksud. Butuh sekitar delapan meter jauhnya untuk sampai disana.
Aku hanya menganggukkan kepala ketika kak Yuda sudah menuntunku menuju
mobilnya. Tangan kanannya merangkul bahuku dan mendekatkan tubuhku kepadanya.
Aku berpikir apakah kak Yuda sedang mencari kesempatan atau karena tidak ingin
aku kehujanan.
“Kalau
ngga gini, badan kamu bisa basah kena hujan.” Jelasnya, seolah tahu apa yang
aku pikirkan.
“Lhoh,
kok kak Yuda... kok bisa...” kataku terbata-bata. Sekilas terlihat dia
menyunggingkan senyumnya.
“Udah,
masuk gih.” Katanya seolah menyuruhku untuk berhenti bicara. Dia membukakan
pintu untukku, dan segera menuju kepintu pengemudi.
Sebelas,,,
Normal
POV
Sekumpulan
pelajar itu sedang bergurau dihalaman belakang rumah Rara. Dua diantara mereka
sedang saling mencuri pandang ketika membicarakan tentang program belajar yang
akan mereka terapkan untuk meningkatkan nilai mereka. Tiba-tiba saja salah satu
dari mereka angkat bicara.
“Eh
eh, kayaknya ada yang baru jadian nih!?” teriak Anton dari belakang bahu Alex.
Keributan mulai timbul dari suara kasak kusuk diantara mereka.
“Emang
siapa yang baru jadian? Kamu nton?” tanya Alex yang selalu kurang up to date tentang perkembangan asmara
teman-temannya.
“Siapa
lagi kalau bukan...” belum sempat Anton menyelesaikan kalimatnya, sebuah botol
minuman menghantam dirinya dari tempat para cewek duduk. Semua mata terkejut
melihat Indri melakukan hal itu.
“Lhoh,
kok pake acara nglempar segala sih In?! Santai dong, hahaha.” Ucap Anton sambil
bersiap menerima serangan kedua dari Indri.
“Ini
ada apa sih?” tanya Agni yang belum diberi tahu oleh Indri. Rara yang sudah
mengetahui akan hal itu memilih untuk menutup mulut dari pada harus menerima
timbukan dari Indri. Diam-diam dia memperhatikan cowok yang ada diseberangnya,
begitupun cowok yang sedang diperhatikan itu mencuri pandang dengannya.
“Udah,
biarin aja.” Kata Indri.
“Ini
pada ngomongin apa sih? Kok pada ngga jelas gini.” Keluh Agni yang terlihat
kesal. Indri merasa bersalah tidak memberitahunya, dia takut Agni akan marah
padanya.
“Sebenarnya,
aku baru jadian sama Indri.” Kata Kevin. Tak disangka-sangka pengakuannya
menimbulkan reaksi berlebihan dari sekumpulan anak disitu, kecuali Rara dan
Anton yang sudah tahu lebih dulu.
“Hahh?!!!
Kamu jadian sama dia In?! Aku kok bisa ngga tahu sih?” teriak Agni terkejut.
Dalam hatinya dia merasa dikhianati.
“Sorry
Ni, sebenarnya aku mau kasih tahu kemarin tapi aku belum yakin kalau Kevin
beneran serius sama aku. Dan aku pikir, kita lebih baik backstreet aja
pacarannya” Jelas Indri, menundukkan kepalanya. Gerakan saling sorot mata antara
anak cowok menandakan seolah akan ada perselisihan diantara mereka. Kevin yang
telah membuat pengakuan merasa bersalah membuat pacar barunya tersudut.
“Tapi
aku kan sahabat kamu In?! Ngga seharusnya aku tahu hal ini dari orang lain.
Kamu udah tahu Ra?!” tanya Agni berpaling kearah Rara dengan mata yang mulai
memerah menahan air mata.
Rara
yang tahu akan perasaan Agni menundukkan kepalanya semakin dalam selama
beberapa detik, sebelum dia menghampiri sahabatnya itu.
“Iya
Ni, lusa kemarin Indri ngasih tahu aku soal ini, tapi bukan berarti dia
melupakan kamu sebagai sahabatnya karena ngga ngasih tahu tentang hubungannya
sama Kevin. Dan kamu ngga tahu hal ini dari orang lain kok, kita semua kan
teman, ngga boleh mempermasalahkan hal sepele kayak gini.” Rara dengan sabarnya
meyakinkan Agni agar percaya padanya. Agni terdiam, ditampiknya tangan Rara yang
menyentuh bahu kanannya. Dengan jalan yang tegas dia menghampiri Indri, sorot
matanya yang tajam seolah membuat keberanian Indri merosot dari tempatnya.
Semua cowok disitu merasa khawatir, terutama Kevin.
Sejenak
dia berhenti didepan Indri, dan menatapnya dengan tajam. “Bodoh!!” teriaknya.
Semua
orang disitu terkejut dengan hal itu. Rara yang baru ingin mencegah Agni,
tiba-tiba berhenti ketika melihat sahabatnya itu memeluk Indri.
“Bodoh
banget sih kamu! Kenapa ngga bilang dari awal coba? Aku ngga bakal melarang
kamu kalau memang serius sama Kevin” perasaan lega merasuki semua orang yang
ada disitu. Tawa pun membeluncah diantara mereka. Para cowok yang sudah tahu
akan hal itu segera mencengkeram bahu Kevin untuk meminta traktiran darinya
sebagai pajak jadian. Kevin yang memang solidaritas antar kawan-nya tinggi
menyanggupi hal itu dan disambut sorakan dari anak-anak cowok.
“Eh
Kevin! Jangan sekali-kali nyakitin sahabatku ini! Kalau sampai bikin dia
nangis, kamu bakal berurusan sama aku.” Ancam Agni dengan tegas sambil mengepal
tinjunya menghadap Kevin. Rara yang tadinya berada diseberang, kini sudah
berada ditengah-tengah sahabatnya dan memeluk bahu mereka berdua.
“Sama
aku juga!!” teriak Rara tak mau kalah. Mereka semua kembali tertawa bersama-sama.
“Siap
ibu-ibu!” balas Kevin tak kalah konyolnya, yang disambut dengan lemparan
kerikil dari Agni dan Rara.
Sementara
Indri dan Kevin sedang pergi membeli makanan sebagai bentuk traktiran mereka,
Agni, Rara, Anton, Joe, Alex dan Danny sedang sibuk mengerjakan tugas
matematika dari bu Frida. Setiap kali mereka mendapat tugas kelompok, selalu
rumah Rara-lah yang menjadi tujuan utama karena udaranya yang sejuk dan asyik
untuk ngumpul. Mama Rara pun tak tanggung-tanggung menyediakan camilan lebih
dilemari es-nya untuk teman-teman Rara yang selalu senang belajar dirumahnya.
“Yang
ini gimana Ra?” tanya Alex sambil menyodorkan bukunya kearah Rara. Karena nilai
matematika Rara yang paling tinggi diantara mereka, dengan mudahnya dia
menjelaskan cara mengerjakan soal yang ditanyakan oleh Alex.
“Makasih
yah.” Kata Alex sembari mengacak-ngacak rambut Rara. Sebuah penghapus meluncur
kewajah Alex dengan telak.
“Ciyyeee!
Ciyye! Kayaknya ada yang mau nyusul Indri sama Kevin nih!” seru Joe yang duduk
disamping Alex. Rara manyun dan pura-pura tak peduli dengan ucapan temannya
itu.
“Apaan
sih!” ucap Alex, meninju bahu temannya. Joe kemudian membisu setelah menerima
peringatan dari Alex. Teman-temannya yang lain hanya terdiam, melihat hal itu.
Dalam hati mereka masing-masing semakin tahu kalau kedua temannya itu saling
menyimpan ketertarikan. Agni yang pura-pura serius menyembunyikan senyumannya
dibalik buku catatannya.
“Dek!
Ada yang nyariin nih.” Teriak kak Dika dari pintu belakang. Rara menoleh
kearahnya, dan kembali lagi ke soal seolah tidak peduli.
“Ra
Ra! Itu tuh Ra!” Agni yang sedari tadi diam menyenggol lengan Rara, dengan
gusar. Tampak kepanikan menyelimuti wajahnya yang manis.
“Apaan
sih Ni? Lagi serius nih.” Balas Rara yang tak berkutik.
Alex
memperhatikan seseorang yang sedang menuju tempat mereka dengan seksama,
ekspresi bingung dan penasaran tampak diwajahnya. Lalu dengan cepat dia melihat
kearah Rara berkutik dengan soal-soalnya.
“Siapa
Ra?” tanyanya.
“Apanya
yang siapa?” Rara yang tidak mengerti mendongakkan kepalanya menatap Alex,
dilihatnya cowok itu sedang menatap kearah lain. Rara terperanjat setelah
melihat orang itu. Tanpa sadar dicengkeramnya buku yang penuh soal-soal itu
hingga menimbulkan bekas lekukan. Mata Rara berkaca-kaca melihat orang yang sedang
tersenyum kepadanya. Ingin rasanya dia berlari kepelukan orang itu, namun rasa
sakit yang dia simpan justru menekan hasratnya untuk melakukan hal itu. Dengan
penuh perhatian digenggamnya tangan Rara oleh Agni yang tahu tentang perasaan
sahabatnya itu.
“Ra..Raka?”ucap
Rara. Suaranya parau karena menahan air mata. Lidahnya seakan kelu untuk
berkata-kata. Dilihatnya sekali lagi orang itu, dia bertanya-tanya apakah semua
ini nyata? Apakah orang yang ada dihadapannya benar-benar Raka? Kenapa dia baru
datang saat luka yang Rara rasakan berangsur sembuh? Kedatangan Raka seakan
membuka luka lama yang dipendam olehnya selama ini.
“Hei
Ra, apa kabar? Bisa bicara sebentar?” Raka menatap Rara dengan penuh perasaan,
dan baralih keteman-temannya secara bergantian. Melihat keadaan Rara yang
terlihat bahagia bersama teman-teman barunya, ada sedikit kelegaan dihati Raka.
Kekhawatirannya selama ini akhirnya sirna setelah melihat Rara secara langsung.
Rara
menganggukkan kepalanya dan berlalu kedalam rumah diikuti oleh Raka
dibelakangnya.
Didapur
rumahnya, Rara berhenti dan berbalik pada Raka. Air matanya sudah diujung
pelupuk, dan dia sudah tidak tahan untuk mencegahnya mengalir dipipinya.
“Ra..?”
ucap Raka terlihat khawatir. Didekatinya sahabat kecilnya yang paling disayangi
itu, namun tangan Rara mencegahnya untuk berjalan lebih dekat lagi.
“Kenapa
Ka? Kenapa tiba-tiba kamu datang setelah sekian lama ngga ada kabar? Kenapa?!” dengan
sekuat tenaga, dia menahan semua amarahnya yang mustahil sekali untuk dilakukan.
Semua rasa sakit dikeluarkannya perlahan-lahan melalui derai air matanya.
“Ra..
dengerin dulu..” ucapan Raka kembali dipotong dengan tangis Rara yang semakin
menjadi-jadi.
“Mungkin
aku emang ngga ada artinya buat kamu Ka, tapi ngga dengan perasaan aku ke kamu.
Sedikitpun kamu ngga mikirin persahabatan kita, harusnya aku tahu dari awal...”
“..
Kamu ngga tahu kan gimana keadaan aku selama kamu jauh disana? Apa kamu mikirin
aku Ka? Ngga! Kamu sama sekali ngga mikirin perasaan aku! Dan sekarang kamu
tiba-tiba datang gitu aja, apa susahnya sih ngasih kabar ke aku?!” Rara
menangis histeris, setelah menumpahkan kekesalannya selama ini.
“Dengerin
aku dulu Ra, please dengerin aku ngomong. Sekali ini aja Ra. Mungkin ini
kesempatan terakhir aku buat ngomong sama kamu.” Raka berkata pelan, seakan
takut hal yang akan diutarakannya akan lebih menyakiti Rara.
“Maksud
kamu?” Rara tersadar dari tangisnya.
Keheningan
menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Saat akan bicara, rasa sakit yang tak
tertahankan membuat Raka terbatuk-batuk. Dilihatnya telapak tangannya yang
ternodai dengan warna merah. Tubuhnya berkeringat dan Raka terbatuk kembali.
Rara yang melihat noda darah ditelapak tangan Raka mendekatinya dan dengan
wajah khawatir bertanya pada Raka.
“Ini
yang mau aku kasih tahu ke kamu. Hidup aku udah ngga lama lagi Ra.” Wajah Raka
tertunduk kemata gadis yang sangat mempengaruhi hidupnya selama ini.
“Apa
maksud kamu? Kamu kenapa Raka?” diperhatikan tubuh Raka yang terlihat jelas
menjadi lebih kurus. Matanya yang dulu indah, kini dikelilingi oleh bulatan
hitam seperti orang yang tidak tidur beberapa hari.
“Kamu
kenapa Ka?! Cerita sama aku, kamu kenapa?” Rara terus merajuk, seakan
mematahkan keinginan Raka untuk menceritakan tentang penyakitnya.
Raka
mendekat kearah Rara yang kebingungan, dia lalu memeluk orang yang sangat dia
sayangi itu.
“Aku
kena kanker Ra..” katanya lirih. Hati Rara seperti ingin meledak mendengarnya.
Dia yang tak percaya ucapan Raka, menatapnya seakan meminta Raka untuk
menjelaskan kejutan yang menyakitkan itu.
“Iya
Ra, aku kena kanker Paru-paru. Aku menderita ini sejak kelas tiga SMP. Waktu
aku pergi ke Surabaya, aku menjalani pengobatan serius disana karena dokterku
memvonis hidupku ngga akan bertahan lama Ra. Aku takut, aku takut mengatakan
yang sebenarnya sama kamu. Aku ngga akan sanggup Ra, kamu ngerti kan gimana
perasaan aku?” air mata Rara meleleh mendengar penjelasan Raka, dengan erat dia
memeluk tubuh Raka yang terasa sangat lemah. Dalam pelukan Raka, Rara menangis
tersedu-sedu seakan itu adalah hal yang wajar untuk saat ini.
“Kenapa
baru sekarang kamu bilang Ka? Kenapa?! Aku ngga mau kehilangan kamu Raka, aku
ngga mau!!”
“Maafin
aku Ra, maafin aku.” Ini untuk terakhir kalinya. Untuk terakhir kalinya Raka
bisa bertemu dengan Rara. Dengan sekuat tenaga, Raka menahan rasa sakit yang
semakin menggerogoti tubuhnya. Kini hanya semangatnya untuk bertemu orang yang
disayangi yang mampu menguatkannya.
“Kamu
udah baca suratku Ra?”suara Raka memecah keheningan.
“Surat?”tanya
Rara tak mengerti. Seperti tidak ingin menjawab pertanyaan Rara, Raka kembali
memeluknya dengan penuh kasih antara sahabat yang sudah lama tak bertemu.
Rara
kembali kehalaman belakang rumahnya bersama Raka. Diperkenalkannya Raka kepada
teman-temannya, terkecuali Indri dan Agni yang sudah lama mengenal Raka.
“Apa
kabar Ka? Kok sekarang kamu kurus banget sih? Wah, pasti gara-gara ngga ada
Rara yang perhatiin terus nih!”ucap Agni ceplas-ceplos. Raka tertawa pelan
mendengarnya.
“Ini
pacar kamu Ra?”tanya Anton, yang berusaha keras menahan rasa penasarannya,
namun gagal. Sekilas, Alex memperhatikan Raka dan Rara secara bergantian.
Perasaan bergemuruh dihatinya, membuat dirinya ingin pergi dari tempat itu.
Akan tetapi setelah beberapa saat, dia merasa kalau ada yang salah dengan Raka.
Raka mengingatkannya pada kakaknya dulu.
“Oo
bukan, aku sahabatnya Rara dari kecil. Pengennya sih dijadiin pacar bro, tapi
si Rara nolak terus sih.” Jawab Raka bergurau. Semua yang ada ditempat itu
tertawa mendengarnya. Setelah beberapa menit berlalu, kecanggungan diantara
mereka sirna karena Raka adalah anak
yang asyik diajak ngobrol tentang apapun.
“Kamu
habis nangis Ra?” bisik Alex sepelan mungkin. Rara menatapnya dengan sorotan
terkejut dan segera tersenyum kaku.
“Hah?
Enggak kok.” Katanya berbohong.
“Aku
tahu Ra.”ucap Alex, membuat Rara menatap penuh arti kepadanya. Raka yang sempat
melihat hal itu, merasa kalau Alex tahu semua tentang Rara.
“Eh
eh, Ada yang tertarik ikut les musik ngga?”kata Rara mencoba mengalihkan
perhatian Alex terhadapnya.
“Dimana
Ra?” tanya Kevin yang sedang duduk berdampingan dengan Indri. Nampaknya mereka
sedang diselimuti rasa bahagia setelah rahasia percintaannya diketahui oleh
semua yang ada disitu.
“Ditempatnya
teman kakak aku. Namanya Kak Yuda, satu kampus juga sama kak Dika.”jelas Rara.
Dia yang merasa kikuk saat harus les sendirian, menganggap ini adalah
kesempatan emas baginya untuk mencari teman saat les nanti.
“Dari
namanya keren tuh Ra. Orangnya keren juga ngga?” ceplos Agni lagi, yang
mendapat sorak-sorai dari anak-anak yang lain.
“Orangnya
sih keren Ni, tapi cuek gila. Walaupun gitu, dia orangnya baik kok.” Alex yang
mendengarnya, merasa bahwa nama guru les Rara sudah tidak asing baginya.
“Yang
cuek-cuek gitu bukannya tipe kamu ya Ra?” sambung Raka, yang mencoba terlihat
biasa saja walaupun sedang menahan sakitnya.
“Apaan
sih?!”balas Rara, dilemparnya kulit kacang kearah Raka.
“Lhoh,
Rara kan udah ada yang punya!” Indri yang tiba-tiba angkat suara mendapat
sorotan dari teman-temannya.
“Eng
ngga jadi deh.”katanya lagi. Semua mata kini melihat Rara dan Alex secara
bergantian.
“Ciyyee
ciyye!!” teriak Anton, Joe, Danny, dan Kevin secara bersamaan. Raka merasa penasaran
tentang siapa yang menyimpan rasa terhadap Rara. Bukan karena dia cemburu atau
merasa tersaingi, dia justru merasa senang karena ada yang memperhatikan Rara
mengingat betapa singkatnya sisa hidup yang dia miliki. Ini berarti dia akan
lebih lega jika harus pergi meninggalkan Rara. Karena terlalu serius berkutik
dengan pikirannya, Raka merasa dadanya seperti dililit dengan kuat. Dengan rasa
sakit yang teramat sangat, dia menahan agar bisa bertahan lebih lama lagi.
Namun ternyata semua itu sia-sia karena tak berselang lama, dia kembali batuk
dan muntah darah. Rara memberikan sapu tangannya kepada Raka, dengan cemas
menanyakan keadaan Raka.
“Aku
baik-baik aja kok Ra. Oh iya, aku balik dulu ya guys. Udah sore juga nih.” Raka
beranjak dari tempatnya dengan sempoyongan. Perasaan cemas menyelimuti semua
yang ada disitu, tak terkecuali Alex. Apa benar yang dipikirkannya tentang
Raka?
“Kamu
ngga papa sob?” tanya Joe sambil membantu Raka berdiri dan menepuk bahunya.
Raka
tersenyum simpul dan menatap sekelilingnya. “Ngga papa. Makasih buat obrolannya
ya, senang bisa ketemu kalian semua.” Rara terenyuh mendengar Raka, seakan itu
adalah salam perpisahan untuk mereka.
“Yoi,
kapan-kapan ngumpul bareng lagi ya.” Sahut anak cowok yang lainnya, yang hanya
dibalas senyuman oleh Raka. ‘kapanpun kalau Tuhan masih ngasih kesempatan buat
aku’ batin Raka.
Dengan
tangan menggandeng Raka, Rara mengantar sahabatnya untuk masuk kedalam rumah.
Dia menekan semua kesedihan dan ketakutannya tentang Raka yang semakin lemah
kondisinya. Ketika sudah berjalan beberapa meter, Raka meminta untuk berhenti
dan berbalik kearah teman-teman Rara yang menjadi teman barunya.
“Tolong
ya, bilangin sama yang suka Rara buat jaga dia. Aku titip Rara sama kalian
semua.”ucapan Raka membuat air mata meleleh dipipi Rara. Semua merasa bingung
dan terpaku dengan ucapan Raka.
“Maksudnya
apa?” tanya Agni, disusul oleh pertanyaan lainnya yang muncul dari Indri dan
Joe. Tanpa menjawab semua pertanyaan itu, mata Raka tertuju pada Alex yang
dibalas dengan anggukan olehnya.
Setelah
hari ini, dia akan merasa lebih lega. Setelah mengetahui semuanya, dia akan
merasa bahagia melihat sahabat kecilnya dikelilingi oleh orang-orang yang
peduli padanya. Beban yang dirasakannya selama ini seakan berkurang melalui
sebuah pengakuan. Dalam kesakitannya dia mencoba untuk terus tersenyum kepada
sahabat yang disayanginya. Berpikir kalau mungkin itu adalah senyuman terakhir
yang bisa diberikan olehnya. Dia berharap sahabatnya akan kuat menghadapi hidup
setelah hari ini, terutama setelah kepergiannya nanti. Seandainya saja Tuhan
masih memberikan sisa hidup yang panjang untuknya, akan dilakukan untuk membuat
hal yang tak terlupakan yang akan menjadi kenangan terindah untuknya dan
sahabatnya.
Namun
harapan hanya tinggal harapan. Dia harus tersadar dan menyadari kenyataan.
Kenyataan akan pahitnya sebuah kehidupan.
Dua
belas,,,
Rara’S
POV
Aku
berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit yang terasa sangat sepi. Sudah
hampir satu hari penuh aku tidak meninggalkan tempat ini. Kekhawatiranku akan
kondisi Raka sudah berada dipuncaknya. Kalau saja dia tidak memaksakan dirinya
untuk datang menemuiku, pasti kondisinya tidak akan semakin memburuk seperti
sekarang ini.
Setelah
membeli mie instan yang sebenarnya tidak dianjurkan oleh mamaku, aku duduk
dibangku taman rumah sakit. Tanpa nafsu makan sedikitpun aku memaksakan diriku
untuk bisa menelan makananku. Terkadang aku merasa sendirian adalah hal yang
paling menyenangkan, tetapi sendirian disaat seorang sahabat sedang
memperjuangkan hidupnya bukanlah hal yang ingin kurasakan. Tanpa kusadari air
mataku meleleh dengan sendirinya.
“Ra..?”
sebuah suara muncul dari sampingku, diikuti dengan tangan yang menyentuh
bahuku. Sejenak aku menatap sosok itu, sebelum akhirnya tenggelam dalam
tangisku.
“Sabar
Ra, kamu yang sabar.”katanya pelan, berusaha untuk menghiburku.
“Aku
takut Lex, aku takut dia bakalan ninggalin aku.” Kutenggelamkan wajahku dikedua
telapak tanganku. Alex yang entah dari mana tahu keberadaanku duduk disampingku
dan memeluk bahuku untuk membuatku tenang.
“Dia
ngga akan ninggalin kamu Ra, percaya sama aku. Sekarang kamu jangan nangis
lagi, kasihan Raka kalau harus melihat kamu menangisi dia.” Entah memang benar,
atau hanya ingin menghiburku aku percaya begitu saja dengan ucapan Alex. Kuusap
wajahku yang basah karena air mata.
“Nah
gitu dong. Kalau senyum kan tambah cantik.” Aku tersenyum mendengarnya.
“Kamu
darimana tahu aku disini?” tanyaku yang sedari tadi masih penasaran terhadap
Alex yang tiba-tiba datang.
“Insting,
kamu kan ngga bisa menghilang begitu aja dari radarku.” Katanya sambil tertawa
ringan. Membuatku meninggalkan tinjuku dilengan kanannya.
Aku
kembali keruangan dimana Raka dirawat. Ketika mendekati ruangannya, terlihat
banyak keluarga Raka yang sedang berkumpul disitu. Kepanikan terlihat menghiasi
wajah mereka. Aku yang melihat hal itu berlari mendekat dan bertanya apa yang
terjadi. Namun, tak satupun dari mereka memberitahuku yang sebenarnya. Tanpa
pikir panjang kubuka pintu kamar Raka, dan terkejut bukan main melihat
sahabatku yang telah terbujur kaku. Seperti granat yang akan meledak, hatiku
bergemuruh menahan sakit. Aku terpaku disudut kamar, tangis dari orang tua Raka
memenuhi ruangan hingga membuatku ikut merasakan sakitnya rasa kehilangan.
Kenapa secepat ini Tuhan? baru kemarin dia menemuiku, dan sekarang kau sudah
mengambilnya dari dunia ini. Apakah salah jika aku merasa marah? Apakah salah
jika aku berteriak karena ketidakadilan ini?
Aku
tersungkur ditempatku karena tak sanggup menopang tubuhku untuk berdiri.
Tangisku pun sudah pecah sedari tadi. Saat dokter dan para suster tiba diruangan,
aku masih belum bisa mengontrol diriku sendiri. Dengan sekuat tenaga aku
memaksa tubuhku untuk bergerak. Kudekati sahabatku yang sudah pergi dan menatap
wajahnya untuk yang terakhir kalinya. Mama Raka mendekati dan memelukku dengan
erat. Entah bagaimana sakitnya kehilangan anak yang paling disayangi, mungkin
eratnya pelukannya mampu menjelaskan kalau Beliau sangat kehilangan. Beliau
membisikkan sesuatu, yang membuatku merasa sangat bersalah. Andai saja aku
datang lebih cepat, atau andai saja aku tidak menuruti Mama Raka untuk membeli
makanan, aku pasti bisa memenuhi keinginan Raka untuk dapat melihatku sekali
lagi. Setidaknya sebelum dia benar-benar pergi.
“Ini
ada lagi Ra, katanya ada dimeja kamar Raka waktu mamanya bersihin
kamarnya.”suara kak Dika muncul, memasuki kamarku ketika aku sedang membaca
surat pertama Raka yang dikirim bersama boneka lumba-lumba dan burung kertas.
Seolah tahu betapa hancurnya hatiku, kak Dika memelukku dengan penuh simpati.
“Kamu
yang kuat ya, Raka pasti ngga mau nglihat sahabatnya jadi cengeng gini.”
Katanya sambil mengusap air mata yang mengalir dipipiku. Aku menganggukkan
kepalaku, seolah kata-kata adalah hal tersulit yang bisa kukeluarkan.
Untuk Rara,,,
Mentari ngga akan pernah pergi untuk meninggalkan bumi,
Dia ngga akan berhenti untuk memberikan sinarnya yang menghangatkan
jiwa.
Sama seperti aku, aku ngga akan meninggalkan kamu begitu aja
Aku juga ngga akan berhenti memberikan semangat untuk kamu,
Semangat agar kamu tetap kuat
menjalani hidup meski tanpa kehadiranku.
Ra, kalaupun aku udah ngga ada
didunia ini, aku ngga mau melihat kamu bersedih
Aku mau Rara tetap tersenyum,
aku mau Rara tetap tegar
Aku percaya, akan ada banyak orang yang sayang sama kamu,
akan ada yang selalu perhatian dan juga akan ada yang menggantikan
diriku dihidupmu,
saat semua itu terjadi, cukup ingat aku sesekali disaat kamu merasa
sendirian,
“R”
“Ngga
ada dan ngga akan pernah ada yang bisa menggantikan kamu Raka.” Begitu kubaca
surat terakhir dari Raka, kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Dorongan
mental diberikan oleh teman-temanku yang sangat terkejut dengan meninggalnya
Raka yang baru mereka temui, mereka mencoba menghiburku dan memberi motivasi
agar aku tetap kuat dan sabar. Aku bertanya-tanya, apakah mereka pernah merasakan
bagaimana sakitnya kehilangan orang yang disayangi? Mungkin mengatakan untuk
tetap kuat lebih mudah daripada menjalaninya. Perlahan, kupejamkan mata dalam
keheningan malam. Aku ingin terlelap secepat mungkin, berharap ini semua
hanyalah sebuah mimpi buruk saat aku terbangun nanti.
Apa
aku merasa baik-baik saja dan tabah setelah meninggalnya sahabat kecilku? Jujur
aku jauh dari kata ‘baik’, karena aku teramat sangat sedih dan terlihat
menyedihkan. Aku akui kebenarannya, betapa menyedihkannya diriku, tapi aku sama
sekali tidak bisa melakukan apapun. Semua manusia akan kembali kesisi-Nya,
begitupun aku dan semua yang ada disini. Hanya saja waktu yang menentukan siapa
yang terlebih dulu pergi untuk meninggalkan kesedihan bagi orang yang ditinggalkan.
Dan kali ini, Raka-lah yang harus pergi untuk bertemu dengan-Nya terlebih dulu.
“Aku
baik-baik aja kok.” Kataku menyunggingkan segaris senyum. Setidaknya ini
bisa membuat mereka tidak terlalu
berlebihan mengkhawatirkanku.
“Kamu
yakin Ra?” tanya Kevin yang sedang duduk disamping Indri.
Hal
tersulit adalah mengatakan kita baik-baik saja disaat kesakitan sedang menghujani
hati kita. Itu yang kurasakan saat ini, dan itu membuatku harus berbohong agar
tidak membebani teman-temanku.
“Ya
ampun Rara, lihat deh mata kamu sampai bengkak gitu masih bilang kamu baik-baik
aja. Kita semua khawatir sama kamu, apalagi mendadak Raka....”
“Husst,
udah deh. Jangan dibahas terus. Kasihan Rara, lagian dia udah bilang baik-baik
aja, kalian jangan pada lebay bisa ngga sih?.” Sahut Alex yang tiba-tiba
memotong ucapan Agni.
Setidaknya
dia bisa membuat semua orang terdiam. Tapi apakah dia secuek itu dengan
keadaanku, atau tidak ingin membuatku bersedih jika ada yang mengungkit
meninggalnya Raka?
Aku
menatapnya dengan tajam sekaligus berterimakasih dalam diam.
Seharian
aku merasa tidak tenang. Disekolah aku sedikitpun tidak menangkap pelajaran
karena terfokus pada kesedihanku. Dan
sekarang aku merasa terjebak ditengah kebahagiaan teman-temanku. Disini,
ditempat dimana kami sering menghabiskan waktu untuk nongkrong dan bermain, aku
merasa sangat sepi walaupun berada dalam keramaian. Aku tahu mereka mencoba
untuk menghiburku, tapi hati ini seakan tidak sependapat dengan ragaku untuk
duduk diantara mereka.
“...iya
kan Ra?” ucap seorang dari mereka. Sejenak aku masih berkutik dengan diriku,
hingga alam bawah sadarku memberontak untuk terbangun dari lamunanku.
“Hah?
Apa?” aku menatap keteman-temanku dengan linglung, yang langsung ditanggapi
dengan ekspresi kecewa dan kasihan oleh mereka.
“Kamu
ngga papa Ra? Jangan ngelamun terus dong. Kita jadi khawatir sama kamu.”
“Ah,
kalian apaan sih? Aku ngga papa kok, beneran. Tadi ngomongin apa sih?” kataku
dengan senyum mengembang.
Tak
butuh waktu lama aku akhirnya bisa membaur dalam pembicaraan mereka. Kami
bercanda, dan tertawa bersama. Namun sepasang mata itu tampak tak berpaling
dariku. Aku terus mendapatinya sedang memperhatikan setiap gerak-gerikku dengan
tatapan tanpa ekspresi.
“Ngga
usah dipaksain.” Katanya pelan, sambil menatap tajam kearahku. Aku bisa
menjamin, tak seorangpun mampu menangkap ucapannya dengan jelas termasuk diriku
yang duduk dihadapannya.
“Hah?
Kamu ngomong apa tadi?” tanyaku, spontan.
“Ngga
papa, lupain aja.”jawabnya.
Apa
aku tidak salah dengar? Apa dia baru saja berkata untuk tidak memaksakan? Tapi apa
maksudnya, memangnya apa yang sedang kupaksakan? Bahkan setelah mengatakan
sesuatu dengan sinisnya, dia tidak menganggapku ada ditempat itu dengan sikap
cueknya yang tidak peduli. Karena sudah merasa bosan dan tidak nyaman, aku
pamit untuk pulang terlebih dahulu. Mungkin dirumah akan lebih menenangkan,
apalagi aku harus datang kerumah Raka untuk ikut tahlilan bersama keluarganya.
Tiga
belas,,,
Normal
POV
Gadis
itu sedang termenung untuk kesekian kalinya ketika sepasang mata itu tak
berhenti menatapnya. Karena belum pernah merasakan pedihnya kehilangan, jiwanya
sangat terguncang walaupun terlihat tegar diluarnya. Teman-temannya yang
melihat Rara selalu tersenyum mengira dia telah bisa bangkit dan menerima
kenyataan atas perginya sahabat sedari kecilnya berhubung sudah lewat dari
tujuh hari.
Ketika
sedang istirahat disiang itu, segerombolan murid sedang menikmati makanan
mereka dikantin sekolah. Karena keseruan yang ditimbulkan dari perdebatan
diantara mereka mengenai mana yang lebih keren antar band mancanegara dan band
lokal dan juga antara kakak kelas yang lebih cantik dibanding Rara, membuat
tawa mereka memenuhi kawasan kantin itu. Rara terus dibuat sakit perut karena
tertawa oleh tingkah teman-temannya.
“Cukup
Ra!” teriak Alex yang kemudian berdiri. Dia menarik lengan Rara untuk menjauh
dari teman-temannya dengan paksa. Keterkejutan yang mereka rasakan membuat
mereka terpaku.
“Kamu
apaan sih Lex? Lepasin aku!” jerit Rara. Teman-teman mereka hanya bisa
tercengang tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Alex!
Ngapain sih? Kasihan Rara tuh.” Kata seorang teman cowok. Diikuti dengan
teriakan dari kedua sahabat Rara, Agni dan Indri.
Mungkin
ini pertama kalinya mereka mendapat tatapan super tajam dari Alex. Tatapan yang
menggambarkan betapa besar amarah yang sedang dirasakannya ketika dia menoleh.
Melihat itu, mereka hanya bisa berdiam diri.
“Lepasin!
Sakit Lex!” teriak Rara. Dia memohon pada cowok yang berdiri didepannya, matanya
yang tajam seakan ingin merobek mulutnya untuk berhenti berteriak.
“Cukup
Ra! Aku bilang cukup.” Ucapnya. Rara yang sama sekali tidak mengerti menatapnya
dengan penuh kebencian dihatinya.
“Apa
sih? Maksud kamu apa?!”
Seperti
mendapat tontonan seru, semua berkumpul disisi yang lain. Melihat orang yang
terlihat sangat serasi bertengkar hebat ditempat umum merupakan kebanggaan
tersendiri.
“Aku
bilang cukup! Berhenti bersandiwara. Berhenti pura-pura tegar! Aku tahu kamu
ngga sekuat itu Ra. ..” semakin lama semakin kuat cengkeramannya pada lengan
Rara. Gadis yang mulai menyadari maksudnya kini terdiam tak percaya, orang yang
mendapat perhatian lebih darinya berteriak dengan kasar didepan matanya.
“...
kemana Rara yang dulu? kemana Ra?! Ini semua Cuma topeng yang kamu pasang buat
menutupi semua kesedihan kamu. Semuanya palsu Ra, palsu!” nafas Alex memburu
secepat dia melontarkan kalimat itu. Dilihatnya mata gadis dihadapannya mulai
berkaca-kaca. Saat tetesan pertama jatuh mengalir dipipinya, saat itulah dia
sadar apa yang telah dilakukannya.
“Udah
Lex? Udah marah-marahnya? Udah puas kamu?!!” Alex melepaskan cengkeramannya
dari lengan Rara yang menimbulkan bekas kemerahan disana. Matanya terkejut
melihatnya, dan menatap Rara yang tampak tak bisa lagi menahan air matanya.
“Ra,,
bukan itu maksud aku.. dengerin aku...”
“STOP!
Aku memang ngga sekuat itu Lex! Aku memang pura-pura tegar dihadapan kalian
semua, Apa salah kalau aku mencoba untuk tegar?! Apa salah kalau aku ngga mau
membebani kalian?!” tumpah sudah semua kesedihan melalui air mata yang telah
lama dipendam olehnya. Hatinya terasa sangat sesak oleh semua ini. Alex yang
mencoba untuk minta maaf merasa sangat menyesal telah kehilangan kontrol. Dia
memang pernah kehilangan kakak sulungnya karena sebuah penyakit yang mematikan.
Itu membuatnya mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Rara.
“Aku
minta maaf Ra.” Ucapnya pelan.
“Aku
ngga butuh permintaan maaf kamu Alex!! Kamu ngga tahu kan gimana menderitanya
aku? Kamu ngga tahu, karena kamu memang ngga pernah merasakannya. Kamu bahkan
sedikitpun ngga peduli sama aku Lex. Apa salah kalau aku mencoba untuk tetap
tersenyum?!”
Alex
menatap tajam kearahnya, ingin sekali dia berteriak dan memukul orang
dihadapannya kalau saja dia bukan gadis yang telah mencuri hatinya.
“Kamu
salah Ra, aku Cuma ngga mau kamu menyimpan semua kesedihan kamu dan pura-pura
tersenyum dihadapan kami. Aku tahu kamu sedang berduka, tapi kamu tetap harus
ikhlas tanpa menjadi orang lain yang pura-pura tegar tapi rapuh didalamnya.”
Jelas Alex.
“Kamu
salah Lex. Coba aja kamu tahu gimana sakitnya kehilangan. Semudah itu Lex, tapi
menjalaninya ngga semudah apa yang kamu ucapakan!” Rara tersungkur ditanah. Teman-temannya
mendekat untuk membantunya berdiri namun dilarang keras olehnya.
“Aku
tahu Ra! Aku tahu gimana rasanya!” ucapan Alex seakan menampar dirinya,
teman-temannya juga bertanya apa maksud dari perkataan Alex itu, tapi tak
diacuhkan olehnya.
“Apa?!”
tanya Rara. Karena sudah muak dengan tingkah Rara yang kekanak-kanakan, Alex berbalik
dan berjalan menjauh sebelum akhirnya berhenti dan menatap Rara.
“Aku
tahu! Tapi aku ngga sebodoh apa kamu lakukan selama ini. Kamu harus rela Ra!
Hidup akan tetap berjalan, ngga berhenti di sini aja. Dan kamu harus menerima
kenyataan, jangan terpuruk terlalu lama dalam kesedihan. Itu sama aja kamu
menyakiti diri kamu sendiri Ra.”
Rara
tercengang, air matanya semakin deras mengalir dipipinya. Apa dia sebodoh apa
yang dikatakan Alex? Namun, pikiran itu tak sekuat apa yang dirasakannya pada
Alex saat ini. Pelan-pelan, rasa benci itu mulai tumbuh dihati Rara bersamaan
dengan perasaannya yang mulai memudar.
“Kamu
beneran ngga mau ngomong sama Alex?” tanya Indri yang terlihat jelas
kekhawatirannya.
“Buat
apa?” tanya Rara cuek. Ingin membalas perilaku Alex, kini dia merasa tidak
perlu peduli terhadapnya.
“Ra?”
ucap Agni yang harus berbagi tempat duduk dengan Indri. Rara yang berpaling
dari novel ditangannya, merasa ditekan oleh tatapan kedua sahabatnya itu.
“Iya
ngapain juga aku harus ngomong sama orang yang ngga peduli sama aku?!” ekspresi
tak percaya muncul diwajah Agni dan Indri. Mereka benar-benar tak percaya
dengan apa yang diucapkan oleh Rara, bahkan setelah melihat pertengkaran hari
itu.
“Kamu
tuh bego’ apa o’on sih Ra? Ngga peka banget jadi cewek.” Rara yang sedang
sensitiv merasa tidak terima dengan perkataan Agni yang ceplas ceplos.
“Kamu
tuh ngga nyadar ya kalau dia perhatian banget sama kamu? Coba deh kamu
pikir-pikir, selama ini dia udah perhatian tanpa kamu menyadarinya Ra.”
Tepat
ketika Rara ingin membalas perkataan Agni, beberapa cowok tampak memasuki ruang
kelas tak terkecuali Alex. Matanya saling bertautan dengan Rara yang segera
membuang muka tak peduli.
“Bodo
amat!” ucapnya lalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya dan Alex yang sedang
menatapnya berlalu melalui pintu.
Sejujurnya
dia merasa sangat terkejut melihat kelakuan Rara yang menjadi cuek dan tidak
peduli padanya beberapa hari ini. Rara juga sering menghindar setiap kali bertemu
atau bertatap muka dengannya. Hari-harinya mulai terasa hampa tanpa kehadiran
seorang Rara. Sering kali dia berpikir, apakah ini semua karena sikap tidak
pikir panjang yang dia lakukan terhadap Rara beberapa hari yang lalu. Akan
tetapi, itu tidak membuatnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya walaupun
dia merasa bersalah telah melakukannya. Begitupun dengan Rara, yang sama keras
kepalanya.
Pada
dasarnya, mereka berdua sama-sama bersalah dalam hal itu. Sikap tidak pikir
panjang Alex dan sikap kekanak-kanakan Rara setiap kali mendapat masalah atau
sedang sedih yang tidak mau berbagi kepada teman-temannya. Namun tidak satupun
dari mereka yang mengaku kalau itu adalah salahnya dan meminta maaf.
Anton,
Agni, Indri, dan Joe yang sekelas dengan Alex dan Rara sedang berdiskusi dimeja
paling belakang dikelasnya. Karena muak dengan sikap kedua teman mereka yang
hampir seminggu ini tidak saling bicara, mereka merencanakan sesuatu untuk
membuat suasana kembali mencair.
“Yakin?
Ntar kalau dia marah gimana?” tanya salah satu diantara mereka.
“Udah
nggapapa, optimis aja semuanya bakal lancar.”
“Jadi,
deal ya?” tanya Anton, menatap dengan penuh waspada ke ketiga temannya.
Semuanya mengangguk serempak walaupun masing-masing dari mereka merasa ragu
dengan ide gila itu. Seperti sedang dikejar waktu, adrenalin mereka terpacu
untuk terus maju.
Saat
bel masuk berbunyi, Rara kembali masuk kedalam kelas untuk mengambil baju ganti
olahraga didalam tasnya. Namun dia merasakan ada yang aneh. Kelas terasa tidak
seperti biasanya, tentu saja karena semua orang sepakat untuk keluar terlebih
dulu dari kelas sebelum Alex dan Rara masuk. Tepat ketika dia melangkah masuk,
matanya sudah dihadapkan dengan cowok yang membuatnya jengkel setengah mati.
Tanpa reaksi yang berarti dia berjalan menuju tempat duduknya dengan
malas-malasan. Saat sedang membuka resleting tas, dia mendengar suara pintu
tertutup dengan keras. Karena terkejut dia berteriak diikuti oleh Alex yang
tersentak dari duduknya. Rara berlari menuju pintu dan menarik gagang pintu
untuk membukanya, tetapi hasilnya nihil. Sekuat tenaga dia menarik bahkan
menendang pintu itu sambil berteriak untuk minta tolong pada siapapun yang ada
diluar agar mau membukakan pintunya.
“Woii!
Buka pintunya!!!” setelah sekian kali berusaha membuka dan berteriak secara
bersamaan dia merasa lelah. Tiba-tiba bahunya dipegang oleh Alex, yang
menyuruhnya untuk mundur. Alex terus mencoba untuk membuka pintu itu, tapi
tetap saja tidak bisa.
“Apa-apaan
nih? Pasti kamu kan yang punya niatan jahat kaya gini.” Belum juga bisa
membukanya, Alex sudah dihujani oleh perkataan pedas Rara. Darahnya serasa
mendidih dan sudah mencapai ubun-ubun. Rara yang melihat Alex mengepalkan
tangannya mundur selangkah dan berkata dengan tatapan mengejek.
“Kenapa?
Mau nampar? Apa mau ninju sekalian?!” suaranya yang terdengar menantang membuat
Alex jengah dan berusaha untuk tidak memperdulikannya walaupun tidak bisa.
“Kamu
tuh ya! Kenapa jadi kasar gini sih?!” teriak Alex. Rara sontak melotot karena
tidak terima. Baginya, Alex-lah yang membuatnya menjadi kasar seperti ini. Rara
mengangkat telapak tangannya dan hampir menjatuhkannya dipipi kiri Alex sebelum
ditampik olehnya. Namun dia tak menyerah sampai disitu, untuk melampiaskan
semua kekesalannya dia terus memukul tubuh Alex yang coba ditahan olehnya namun
akhirnya dibiarkan begitu saja. Mungkin Rara memang sangat kesal padanya hingga
kehilangan kendali seperti itu.
Namun,
perasaan itu seakan berhasil dikalahkan oleh perasaan lain yang sedang membara
dihati Alex. Perasaan yang rindu akan kehadiran Rara, akan senyum Rara yang
sudah tidak bisa dilihatnya lagi akhir-akhir ini. Perasaan itu begitu menggebu
hingga membuat dirinya untuk menarik Rara kedalam pelukannya dan melakukan hal
yang seharusnya tidak ia lakukan.
Rara
yang butuh waktu cukup lama untuk tersadar dari keterkejutannya atas sikap
spontan Alex menarik tubuhnya untuk menjauh dan membuat Alex terkejut. Alex
benar-benar kehilangan kendali. Bahkan bukan hanya Rara, tetapi juga dirinya. Perasaannya
telah membutakan mata hatinya, hingga mendorong hasratnya untuk mencium Rara.
‘PLAKKK!!’
suara tamparan itu benar-benar jatuh telak dipipi Alex, membuatnya tercengang.
Rara sungguh tidak terima dengan perbuatan Alex. Walaupun Rara pernah menaruh
hati pada Alex, bukan berarti dia bisa seenaknya menciumnya. Bahkan mencuri
ciuman pertama itu darinya.
“Kamu
keterlaluan Lex!” teriak Rara bersamaan dengan terbukanya pintu kelas dan
munculnya teman-teman yang memasang tampang kecemasan.
“Ra,
Aku ngga bermaksud buat gitu...” Rara berlari meninggalkan Alex yang dihantui
rasa penyesalan.
“Ra
tunggu, Ra!!” Alex berteriak dan mengejar Rara, tapi gadis itu sudah menghilang
dari pandangannya.
“Ini
semua gara-gara kalian!!” matanya menatap tajam pada keempat temannya. Wajah
bingung melanda mereka, yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ditempat
lain, Rara sedang menangis tersedu-sedu. Dia tidak bisa menahan rasa yang
bergejolak dihatinya. Dia bahkan heran kenapa hatinya serasa bergetar setelah
kejadian yang memalukan itu. Alex sungguh tidak bisa menghargai dirinya sebagai
perempuan. Rara tidak terima atas sikap
Alex yang begitu kurang ajar dimatanya. Kenapa dia melakukan itu sementara
beberapa hari yang lalu dia memarahi dan tidak peduli padanya. Rara merasa sedang
dipermainkan oleh Alex.
Empat
belas,,,
Rara’S
POV
Mentari
sore tak seterik biasanya. Angin yang terus berhembusan tak sedikitpun
membuatku merinding walau hanya mengenakan kaos oblong dan celana tiga
perempat. Berulang-ulang lagu yang sama terdengar dari earphone yang setia
menggantung ditelingaku. Aku tak sepenuhnya fokus pada jalan yang telah
kulalui, apalagi yang ada didepanku. Pikiranku serasa melayang-layang diudara
seperti sebuah plastik bekas yang dibuang oleh seseorang begitu saja. Sengaja
kuputar lagu ini berulang-ulang. Mungkin tubuhku terus melaju dengan sepeda
lipat yang kutunggangi, tapi tidak dengan pikiranku. Sama hal nya seperti Avril
yang mendendangkan lagu Hush Hush dengan penuh penjiwaan, pikiranku berada
dalam kediamanku. Terpaku, dan tidak ingin berkata apapun. Muak adalah
satu-satunya hal yang mampu ku ungkapkan dengan kondisiku. Aku merasa muak
dengan permainannya, aku merasa muak dengan sikapnya, dan aku merasa muak
dengan apapun yang berhubungan dengannya. Alex.
Namanya
yang melintas dipikiranku seakan membuat sisi emosionalku ditekan dan ingin
memberontak. Sekuat tenaga kukayuh sepeda dengan kecepatan maksimal. Aku tak
peduli jika akan menabrak tiang listrik didepan sana, atau tercebur ke dalam
got yang penuh dengan cairan hitam menjijikkan. Air mataku melebur tak
terkendali dari mata dan mengalir deras dipipi. Aku lepas kendali. Dan saat
tiba ditikungan menuju tempatku les, aku berteriak histeris karena sebuah mobil
tepat menyimpang dijalanku.
GUBBRRRAAAKKKKK!!!
Decitan rem mobil itu terlalu nyaring hingga memekakkan telinga siapa saja yang
mendengarnya. Aku terpental dari sepedaku yang telah bengkong roda depannya,
tubuhku berguling-guling dijalanan. Sakit yang kurasakan terlalu banyak.
Tajamnya aspal yang berserakan seperti jarum yang menusuk-nusuk saja. Ditambah
lagi benturan dikepalaku. Samar-samar masih bisa kulihat seseorang berlari
kearahku dan mengangkat tubuhku. Lalu kudengar dia berteriak, membuatku untuk
terus tersadar dengan mata melotot karena terkejut.
“RARA!!!
Ya amppun, kamu ngga papa kan?!” suara itu, wajah itu, dan kecemasannya
membuatku terdiam.
“Ayo
bangun! Kita kerumah sakit Ra.” Aku menggelengkan kepala, namun dia dengan
sigap mengangkat tubuhku. Aku berontak dan memukul tubuhnya.
“Jangan.
Ngga mau.” Dengan lemah aku bersuara.
“Tapi
aku ngga mau kamu kenapa-napa. Udah, pokoknya kita kerumah sakit sekarang!” aku
memberontak lagi, dan kali ini lebih keras hingga menjatuhkan diriku sendiri
ketempat dimana aku sempat berguling-guling diatasnya.
“RARA!
Oke oke kita ngga kerumah sakit. Haduhh! Kamu jangan gini dong. Ayo bangun.”
Aku kembali diangkatnya dan didudukkan tepat disampingnya.
*
* *
“AUWWW!!
Pelan-pelan dong!” teriakku. Dengan sabar kak Yuda menuruti perkataanku. Dia
begitu resah dan khawatir kalau terjadi sesuatu padaku. Tangannya
berulang-ulang mencelupkan handuk ke air hangat untuk membersihkan luka-lukaku.
Aku mendapat banyak kenang-kenangan dari kejadian tadi. Dahiku berdarah, kedua
siku dan tanganku terluka, kakiku lecet-lecet ditambah robekan dikaosku yang
membuatku khawatir akan ada luka dibalik kaos yang robek itu. Dan tanpa
kusadari, sepatu kesayanganku robek dibagian depannya. Aku kemudian berpikir
untuk tidak mengenakan kaos oblong dan celana tiga perempat saja saat bersepeda.
Sementara
kak Yuda dengan kesabarannya mengobatiku, mataku memandang jauh, sejauh
pikiranku yang melayang-layang. Sakitnya terasa disini. Semua ini karena dia.
Dia yang telah membuatku merasa marah dan benci.
“Kamu
kalau naik sepeda hati-hati Ra. Jangan ngebut-ngebutan kayak tadi. Untung aja
Cuma luka sama lecet dikit, gimana kalau...” belum juga kak Yuda menyelesaikan
ucapannya dia sudah terkejut mendapati diriku berlinangan air mata.
“Ra..Ra?
kamu jangan nangis dong, aku minta maaf udah bikin kamu kayk gini...” aku tak
menghiraukannya, justru tangisanku semakin histeris. Tangan kananku kuletakkan
diatas dada kiriku dan kutekan sekuat mungkin supaya rasa sakit itu tidak
terlalu menyesakkan. Aku tidak peduli lagi dengan kegusaran kak Yuda yang
bingung harus berbuat apa. Biar saja dia merana karena penyesalannya itu. Aku
terus sesengukan. Dan beberapa detik kemudian kak Yuda memegang kedua tanganku,
matanya memaksaku untuk menatapnya. Aku luluh sejenak, tangis yang tadi sempat
meledak kini seperti ditekan dengan kehangatan yang diberikan olehnya.
“Tenang
Ra. Kamu harus tenang.” Ucapannya yang lembut berhasil memberikan sugesti
padaku.
Kak
Yuda terus mengusap-usap kedua tanganku sebelum dia duduk disampingku dan
menyandarkan kepalaku dibahunya.
“Kamu
boleh cerita apa aja kalau udah merasa lebih baik. Oke?” aku hanya mengangguk
kecil. Kehangatan. Itu yang kurasakan dari sikap dewasa yang dilakukannya
padaku. Setelah hampir setengah jam terus membebani bahu kak Yuda aku akhirnya
memberanikan diri untuk bercerita semuanya dari awal. Aku menceritakn tentang
ketertarikanku, tentang meninggalnya sahabatku, dan tentang pertengkaran itu.
Kak Yuda dengan setia terus mendengarkan dan sesekali memberi respon atau
bertanya. Dia adalah pendengar yang tidak hanya bisa mendengar, tetapi juga
berusaha untuk mengerti apa yang kurasakan. Usaha yang bagus.
“Jadi
kamu udah beberapa hari ngga bicara sama dia?” tanyanya yang langsung kujawab
dengan sekali anggukan.
“Oke.
Jadi kesimpulannya kalian sama-sama suka, tapi kalian juga sama-sama keras
kepala.” Aku manyun melihat kak Yuda yang segamblang itu bisa menyimpulkan
kebenaran yang sulit ku pahami.
“Bener ngga? Iya kan? Kalau memang seperti
itu, harus ada salah satu dari kalian yang mengesampingkan ego masing-masing
dan minta maaf. Se-Simple itu kok” katanya lagi. Aku terdiam dan tak ingin
menjawab apalagi membetulkan pernyataannya itu. Cukup ku resapi saja apa yang
dikatakannya barusan.
“Ah
udah ah, jangan ngelamun terus. Mending kita jalan-jalan aja yuk.” Ajaknya
“Hah?
Dengan kondisi seperti ini, kak Yuda tega ngajak aku pergi. Kan kak Yuda juga
yang udah buat aku jadi gini.” Gerutuku kesal setengah mati. Tidak heran dan
memang sepantasnya aku berkata seperti itu karena badanku serasa dipukuli orang
satu kampung. Sakit disana-sini.
“Oke
deh, karena aku juga terlibat, kamu dapet kompensasi les gratis dirumah kamu.
Gimana?” mataku berbinar dan langsung mengiyakan penawaran itu.
*
* *
Apa
ini rasanya menjadi pusat perhatian?? Sejak aku turun dari mobil kak Dika semua
mata tertuju padaku. Tak sedikit juga yang bertanya kenapa aku seperti habis
diterkam hewan buas dan menyebabkan jalanku menjadi pincang dengan perban
disana-sini. Aku tidak suka mata-mata itu memandangiku dari ujung rambut hingga
ujung sepatuku seperti selebriti yang berlenggang di Red Carpet. Terlebih lagi
histeria yang timbul saat aku menginjakkan kaki dikelasku. Teriakan mereka,
pertanyaan, dan apapun yang ditimbulkan mereka membuatku ingin mengutuk didalam
hati dan memilih untuk ijin sekolah jika tahu akan diperlakukan seperti ini.
Aku memang tidak suka perhatian yang terlalu berlebihan apalagi dilakukan
hampir semua murid dikelasku, terkecuali satu orang yang hanya duduk tegang
dibangkunya. Sorot matanya seakan bertanya ‘apa yang terjadi?’. Aku tahu dia
khawatir, tapi kalau hanya feeling-ku saja tanpa bukti atau tindakan darinya
itu sama saja tidak ada artinya.
“Ya
ampun Rara! Kok bisa sampai gini sih?” ucap Agni. Indri membenahi kursi dan
membantuku duduk. Semuanya berkumpul dimejaku, membuatku harus menjawab
pertanyaan dan menjawabnya dengan jawaban yang sangat membosankan.
Jam
olahraga terpaksa aku tinggalkan. Semua murid sudah berhambur keluar untuk
segera melakukan pemanasan dilapangan. Tanpa sengaja aku menyenggol tempat
pensilku, isinya berhamburan dilantai. Menyebalkan. Dengan kondisi seperti ini
masih saja aku berbuat hal ceroboh. Dengan kerepotan aku mendorong mejaku agar
bisa berdiri tanpa mengenai luka-luka ku. Belum juga aku berdiri, seseorang
memunguti satu persatu alat tulisku. Hatiku bergetar, saat melihatnya
menyerahkan tempat pensilku beserta isinya. Dia berlalu dengan cepat, sebelum
aku sempat mengucapkan kata terima kasih.
Aku
tidak langsung pulang saat bel jam pelajaran terakhir habis. Sepuluh menit aku
tinggal didalam kelas dengan berbekal earphone ditelingaku, setidaknya jalanan
dan koridor-koridor sekolah sudah tidak
terlalu ramai karena aku takut jika seseorang menginjak kaki atau menyenggol
luka-lukaku. Setelah cukup yakin, aku berjalan lambat menuju gerbang sekolah. Aku
dikejutkan dengan lambaian tangan seorang lelaki yang kukenal. Dia lalu berlari
menghampiriku dengan tergesa-gesa.
“Hei..”
katanya. Senyum simpul terlihat sangat manis diwajahnya, membuatku menyadari
kalau dia punya sepasang lesung dipipinya. Aku terperangah kagum, baru kali ini
aku melihat kak Yuda tersenyum seperti itu. Dia yang tidak mendapat jawaban
dariku melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku.
“Oh,
Heii..” balasku gugup.
“Aku
antar pulang ya.” Tanpa menunggu jawaban dariku dia menggandeng tanganku hingga
sampai dimobilnya dengan sabar. Tak lupa, dia juga membukakan pintu mobil
untukku.
“Makasih.”
Kataku, yang hanya dijawab dengan senyuman mautnya.
Jantungku
berdegup cepat. Aku merasa wajahku memerah tanpa sebab. Mataku berpaling,
memperhatikan gerak lelaki yang juga berperan penting atas apa yang terjadi
padaku.
Tidak
hanya sekali, berhari-hari kak Yuda mengantar jemput seperti sopir pribadiku.
dan ini adalah hari keempatnya. Semua murid disekolah terus saja menggosipkan
tentang diriku yang beruntung mempunyai cowok yang perhatian seperti dia. Tapi
perlu digaris besar bahwa kak Yuda bukan pacarku. Aku pun tak ingin
mempermasalahkan hal itu, karena itu bukan masalah yang berarti. Biarkan saja
mereka bertanya dan menebak-nebak dan aku hanya tersenyum simpul menjawabnya.
“Sore
Non!” katanya sumringah. Kak Yuda ada didepan kelasku saat semuanya bubar
karena jam pelajaran telah habis. Lagi-lagi aku dibuat terkejut olehnya. Melihat
diriku yang belum sembuh benar, kak Yuda dengan sikap gentle-nya mengambil tas
dari tanganku dan membawakannya. Hal itu menimbulkan jeritan iri dari
murid-murid cewek yang melihat tindakannya.
“Sore
kak.” Balasku agak lamban.
“Yuk
pulang. Langsung pulang, apa mau jalan-jalan dulu?” tawarnya. Aku
menimang-nimang dan hanya memberikan anggukan padanya sebelum menggandeng
lengan kirinya. Entah mengapa dan bagaimana aku merasa sangat bahagia saat
berada didekat kak Yuda. Dia seperti kakak, tapi dia lebih dari sekedar kakak
buatku. Dia spesial.
“Ciyyyyeeee!!!
Yang mau kencan! Hahaha” terdengar sorakan dari sahabat-sahabatku yang berjalan
tepat dibelakangku. Aku menoleh dan tersenyum pada mereka.
“Bukan
kencan kok.” Kataku. Sekilas kulihat wajah Alex yang menggambarkan
ketidaksukaannya saat memandangku. Atau memandang kami berdua lebih tepatnya.
Aku
menceritakan itu pada kak Yuda saat sampai dimobil, tetapi dia hanya tersenyum
kecut tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“Kok
diem sih? Gimana kak?” rengekku, menarik-narik lengan kemejanya.
“Gimana
apanya?” dia lalu mengalihkan pembicaraan. Namun aku tidak sedikitpun
menghiraukannya, dan memilih menikmati pemandangan yang menjenuhkan.
“Yah,
dia ngambek lagi. Eh Ra?” aku tak bergeming.
“Itu
berarti dia cemburu ngelihat kamu jalan sama aku.” Jawab kak Yuda pada
akhirnya,
“Oh
Ya????” tanyaku antusias. Mataku berbinar-binar, seperti masih ada secercah
harapan. Walaupun aku tak tahu pasti apa yang masih bisa diharapkan.
Kami
akhirnya berhenti dialun-alun dan memesan beberapa makanan favoritku. Terkadang
aku bertanya-tanya mengapa kak Yuda begitu memanjakan diriku,apakah karena dia
merasa harus menebus kesalahan yang dibuatnya, atau ada alasan yang lain.
“Nih,
jagung bakar manisnya.” Kak Yuda menyodorkan jagung bakar padaku.
“Yummy,
enak nih. Hehehe”
“Itu
masih panas lho, hati-hati makannya.” Ucapnya sambil meniup-niup jagungnya.
“Emm,
kak? Kak Yuda kenapa sih perhatian banget sama aku? Kak Yuda memperlakukan aku
begitu baik, bukan karena kecelakaan waktu itu kan?” tanyaku
“Uhukk,
uhukk ehemm.” Kak Yuda tersedak, entah karena apa.
“Hah?
Masak kamu ngga tahu juga sih Ra? Selama ini kamu ngga tahu kenapa aku
perhatian sama kamu?” kak Yuda menggelengkan kepalanya berulang kali. Membuatku
merinding jika sewaktu-waktu anggota badan paling berharga itu terlepas dari
tempatnya.
“Kenapa?
Kak Yuda ngga mungkin suka kan sama aku?” tanyaku pada akhirnya.
“Kalau
iya kenapa?” aku tersedak mendengar itu.
“Hah?
Ngga mungkin! Cowok sekeren kak Yuda suka sama aku? Impossible!” kataku
keras-keras. Entah bagaimana, pernyataan polosku membuat kak Yuda tertawa
terpingkal-pingkal. Memangnya apa yang salah?
“Haha,
Oh jadi selama ini.. selama ini kamu nganggap kalau aku ini keren?!” dia
geleng-geleng kepala lagi. Ooppzz aku kelepasan bicara.
“Apaan
sih kak Yuda? Siapa bilang kak Yuda keren? Salah denger tuhhh, wheeeekkk!”
Tanpa
terasa sore itu berlalu begitu cepat. Kehangatan seorang kak Yuda mampu
mengalihkan perhatianku, paling tidak saat aku bersamanya. Dia seperti air
penyejuk jiwa yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit hati seseorang.
Termasuk penyakit hatiku sendiri. Tak jarang dia selalu siap dan sigap menjadi
tempat sampahku. Tempat dimana aku membuang kesedihan dan menceritakan segala
macam keluh kesahku.
Apakah
ini yang dinamakan soulmate? Atau belahan jiwa? Atau apalah itu. Aku merasa
sangat hidup dan menjadi diriku sendiri saat didekatnya. Aku berharap ini tidak
hanya sekali seumur hidupku. Karena aku juga butuh orang seperti dia dalam
hidupku. Orang yang mungkin adalah soulmate-ku, belahan jiwaku, atau mungkin
hanya selingan dalam perjalan cintaku.
Lima
belas,,,
Rara’S
POV
Rabu
menyebalkan. Suara gesekan sepatu anak-anak bergema memenuhi lapangan basket.
Pukul sebelas pagi sebenarnya bukanlah jam yang menyenangkan untuk melakukan aktivitas berat seperti yang kami
lakukan. Seiring dengan bertambahnya jumlah putaran yang kami lalui, peluh
terus berjatuhan dari kening para siswa. Tak terasa lima belas menit sudah kami
berlari ketika Pak Hendra meniup peluit yang selalu digantungkan dilehernya.
Akhirnya penderitaan kami berakhir untuk sementara.
“Anak-anak,
silahkan membentuk barisan 4 bersap!” teriakan beliau selalu saja menimbulkan
keluhan bagi para siswa yang belum genap beristirahat walau hanya sejenak.
“Iya
Pak!” sahut kami bersamaan. Empat puluh siswa bukanlah jumlah yang sedikit, dan
wajar saja itu menimbulkan sedikit keributan untuk membentuk barisan empat
ber-sap yang sempurna. Jujur saja, kami yang rata-rata berusia 17 tahun kecuali
aku, masih sulit membedakan bagaimana bentuk antara barisan empat ber-sap dan
empat berbanjar.
“Oke,
semuanya boleh duduk dengan tenang.” Ucap beliau. Pak Hendra adalah guru
olahraga paling muda disekolah kami. Beliau memiliki postur tubuh yang sangat
atletis. Tinggi dan juga punya mata cokelat yang indah. Aku selalu
menyama-nyamakannya dengan idolaku Mattew Shadow, karena beliau juga memiliki
potongan rambut sama dan juga sepasang lesung yang manis dipipinya. Tanpa
diketahui oleh siapapun termasuk dua sahabatku, aku diam-diam mengaguminya.
“Hari
ini kita akan latihan teknik-teknik bermain bola basket, dan setelah itu kita
akan melalukan penilaian.” Penjelasannya cukup menimbulkan suara riuh dan keluh
dari kami. Sebagian ada yang paling menyukai olahraga basket, namun bagi
sebagian lainnya menganggap ini adalah tantangan terbesar untuk mencapai nilai
B.
“Joe
dan Anton tolong ambil bola basket di gudang olahraga, sementara yang lainnya
membentuk pasangan dengan anak yang barisnya dibelakang kalian. Mengerti?”
teriaknya.
“Mengerti
Pak!” jawab kami tanpa semangat.
Aku
sedikit lega ketika mendengar penjelasan beliau, namun tidak lagi setelah aku
memutar tubuhku menghadap ke belakang dan disitulah seorang laki-laki yang akan
menjadi pasanganku.
“Emm,
maaf Pak. Boleh tukar pasangan ngga? Masa’ saya dipasangin sama cowok sih
pak?!” kataku saat Pak Hendra sedang sibuk mengabsen.
“Kamu
ini bikin ribet saja, Ra. Tidak apa-apa kalau pasangannya cowok. Sudahlah!”
“Ta..
Tapi pak..?” aku ingin sekali membantah namun sorot matanya yang tajam
membungkam mulutku begitu saja.
“Kamu
beneran pacaran sama guru les kamu?” tanyanya saat mem-passing bola padaku. Aku
sungguh tidak bersemangat ketika harus berhadapan dengan Alex disaa-saat
seperti ini.
“Memangnya
kenapa?” sekilas kulihat bola matanya yang membesar,
“Apa?!!
Jadi kamu beneran jadian sama dia? Aku bener-bener ngga nyangka.” Ucapnya lagi.
Alex melempar dengan keras bolanya padaku lalu menyapu rambutnya dengan tangan
kebelakang. Aku bisa melihat keringatnya yang bercipratan karena gerakan
tangannya itu. Sedetik aku terkesima.
“Bukan
urusan kamu!” teriakku. Sekuat tenaga aku melempar bola yang kupegang tepat ke
keningnya. DUUUNNKK. Aku bisa memastikan itu akan terasa sangat sakit karena
suara yang terdengar dari bola yang memantul. Namun, karena itu, aku tanpa
sengaja mencelakakan diri sendiri karena terjatuh dengan posisi kaki yang
berbahaya.
“
ARRGGGHH!” teriakku membuat anak-anak yang lain terkejut. Dan berlarian
kearahku.
“Rara!
Ya ampun Rara kamu kenapa?” tanya Indri dengan khawatir. Diikuti oleh Agni yang
membantuku untuk bangun.
“Auuww
Sakit Ni, Ndri. Kaki aku sakit!” rintihku kesakitan.
“Awas
awas!” suara itu datang bersamaan dengan sebuah tangan yang dengan sigap
menggendongku menuju UKS. Sendirian Alex membopongku dengan ekspresi penuh rasa
cemas. Aku bisa merasakan itu dengan jelas.
Perlahan
dia menurunkanku di ranjang yang ada dipojokan ruang UKS ini.
“Mana?
Mana yang sakit?” tanyanya.
“Kaki..
aduhhh sakit banget Lex...” teriakku ketika Alex melepas sepatuku dan melihat
kakiku.
“
Sebentar, tahan ya, ini bakal sakit.” Katanya ketika hampir menyentuh kakiku
dengan kedua tangannya.
“Enggak
mau! Sakit Lex, sakit!!” teriakku, Alex terlihat panik dan sangat bingung. Lalu
matanya teralihkan oleh Pak Hendra dan teman-teman yang datang untuk melihat
kondisiku.
“Ra,,
lihat aku Ra. Kamu baik-baik aja. Oke?” katanya meyakinkan.
“Gimana
bisa baik-baik aja?!” aku tak henti-hentinya merintih dan memukul-mukul tempat
tidur ini.
“Aku
sayang kamu Rara!” teriak Alex, membuatku terpana dan wajahku memerah karena
terkejut, lalu tanpa sadar dia melakukan satu gerakan untuk menyembuhkan kakiku
yang terkilir.
“ARRRGGGHH!
Gila kamu Lex!” teriakku lagi. Hah! tipuan macam apa itu?
*
* *
Kak
Yuda menahan tawa ketika menatapku, alisnya terangkat sebelah hingga
menimbulkan kerutan-kerutan didahinya.
“Apaan
sih?!!” ucapku kesal.
“HAHAHA
jadi semua yang ada disitu nyorakin kamu gara-gara kamu jadi diem waktu denger
Alex bilang ‘Aku sayang kamu’? GOKIL tau.” Katanya hingga tertawa
terpingkal-pingkal. Aku hanya memandang bungkus keripik yang berserakan dengan
tatapan kosong.
“Ngga
lucu tau!” kataku manyun. Lalu melemparnya dengan bantal yang sebelumnya ada
dipangkuanku.
“Yahh,
ngambek lagi. Iya-iya emang ngga lucu kok, tapi lucu banget. Hahaha” ejekan kak
Yuda membuatku ingin sekali marah, namun melihat wajahnya yang begitu lepas aku
tersenyum.
“Aku
ngga nyangka aja dia ngomong itu supaya aku mau diem dan ngga teriak-teriak
lagi. Eh tau nya kakiku malah mau dipatahin....” kak Yuda masih menyimak dan
mulutnya masih saja menyibukkan diri dengan melahap camilan yang tersaji
dimeja.
“Dia
ngga langsung pergi sih, habis itu dia ngambil kotak P3K buat ngobatin
lecet-lecet dikaki sama tangan aku. Aku ngga nyangka dia berbuat seperti sama
aku.” Terbayang ketika Alex dengan mata sendu nya menatapku lalu pergi begitu
saja setelah apa yang dilakukannya. Aku terus memandangi bayangnya dari
belakang. Karena dari belakang itulah aku bebas memandangnya tanpa perlu malu melihat
wajahnya.
“Coba
kalau ngga ada dia, , eh tapi itu juga gara-gara dia. Nyebelin nyebelin
nyebelin!”
“Hah?
Kenapah? Dia udah perhatian gitu masih aja kamu bilang nyebelin.” Sahut kak
Yuda. Tangannya kini sedang sibuk melipat kertas origami merah muda.
“Iya
lah, aku ngga bakal semarah itu dan ngga bakal ngelempar dia pake bola basket
kalau dia ngga nyebelin kaya tadi.” Kataku bersungut-sungut karena sisi
emosionalku yang meninggi.
“Hah?
Jadi kamu ngelempar dia pake bola?! Kamu gimana sih? Sekuat apapun cowok tetep
ngerasain gimana sakitnya dilempar pake bola kali Non!!” jemari kak Yuda dengan gemas menyentil dahiku.
“Auww!
Salah dia sendiri kenapa jadi nyebelin.”
“Kamu
udah tanya gimana keadaan dia? Kalau badan yang kena bola paling ngga sakitnya
bakal ada sampai 3 hari, kalau kena kaki bakal nyeri-nyeri sampai jalannya
pincang, kalau kena kepala...” kaka Yuda menggelengkan kepalanya dengan wajah
skeptis.
“..Ini
yang paling bahaya. Kalau kena kepala... dia bisa gegar otak, bisa amnesia,
atau bahkan bisa menyebabkan kematian.” Katanya pada akhirnya. Aku merinding.
Takut sekaligus khawatir pada apa yang telah kuperbuat.
“Kak
Yuda serius??? Haduuhh, gimana dong kak. Gimana kalau sampai Alex gegar otak?
Atau gimana kalau dia sampai amnesia? Dia bakal lupa sama kenangan-kenangan
kita waktu dulu dan dia juga bakal lupa sama aku, gimana dong kak??” tanyaku
histeris.
“HhAHAHAHA.
. segitu khawatirnya sama Alex. Ngga bakal segitunya juga kok, cowok kan
setrong. Hehehe” jawabnya jail.
“ahh
kak Yuda apaan sih. Lagian yang bener itu strong, bukan setrong..”
Gelak
tawa kami bergema memenuhi ruangan dimana aku selalu belajar musik bersamanya.
Tak terasa jam pembelajaran hari ini berlalu dengan sangat cepat dan aku harus
segera pulang karena mobil kak Dika terdengar memasuki pekarangan rumah kak
Yuda. Aku buru-buru pamit dengan kak Yuda tak lupa juga dengan mamanya yang
sedang sibuk mencoba resep baru didapurnya.
Suara
gemuruh dari televisi memenuhi ruang keluarga dimana aku dan kak Dika sedang
merebahkan diri di sofa. Kakinya menindih kakiku sementara tanganku dengan kuat
mencengkeram lengan bajunya. Kami sama-sama berada dipuncak ketegangan, sebelum
akhirnya penjaga gawang dari kesebelasan favoritnya kehilangan fokus hingga
kebobolan bola.
“ARRGGGGHHH!!!”
teriak kami bersamaan. Ekspresi kecewa terpampang jelas diwajah kakakku
satu-satunya itu. Aku yang melihat itu seakan tahu kekecewaan yang
dirasakannya.
“Tenang,
masih ada tambahan waktu lima menit kan kak? Keep calm!” ucapku memberi
semangat dengan tangan menggenggam keatas seperti orang yang berteriak
‘MERDEKA!’ saat hari-hari tujuh belasan.
“Kali
ini ngga boleh kebobolan lagi. . harus!” katanya tanpa berpaling dari layar
televisi.
Lima
menit kemudian tampang lusuh kami berdua berubah menjadi kegembiraan ketika
jagoan kak Dika unggul 2-1. Karena itu, sebagai imbalan menemaninya aku bisa
menikmati nasi goreng buatan kak Dika yang paling enak secara Cuma-Cuma.
Walaupun cowok kak Dika ini paling jago kalau masak nasi goreng. Rasanya
dijamin lebih enak dari buatan Mama, apalagi buatan abang-abang yang selalu
lewat didepan rumah. Tapi sayangnya, kak Dika jago kalau masak nasi goreng aja,
masakan lain dijamin ngga ada yang mau makan. Hahaha
“Cabe
nya yang banyak kak!!” teriakku dari ruang keluarga. Samar-samar terdengar
bunyi lumpang dan alu saling bertumbukan saat kak Dika meracik bumbu.
“Kamu
itu ya, kalau dibilangin suka bandel. Nanti kalau lambung kamu kumat gimana?”
balasnya sambil menjongokkan kepala dari dapur.
“Yaahh
kakak, please. Biar makannya banyak, jagoannya kan baru menang?!” rayuku. Dan
sambil menggelengkan kepala kak Dika tersenyum simpul. Rayuan sukses! J
Sambil menunggu santapan malam itu, aku
melihat-lihat CD film yang baru kubeli dua hari yang lalu. Setelah memilih, aku
memutuskan drama korea sebagai tontonan dimalam minggu ini. Untung saja Mama
dan Papa sedang kerumah nenek, jadi aku tidak perlu berbagi televisi dengan
mereka.
“Masih
lama ya kak? Laper nih!” keluhku.
“Sabar!
Yang ini paling spesial!” balasnya. Mataku lalu tertuju kembali memandangi
aktor tampan Seo in Guk yang sedang sibuk dengan berkas-berkas dimeja
kantornya. Wajah dinginnya membuatku mengulum senyum dan menjerit didalam hati.
Dia adalah aktor yang sedang kukagumi akhir-akhir ini, walaupun begitu aku
tetap pengagum setia Matthew Sadow dan akan seperti itu sampai aku atau dirinya
tiada kelak.
“Nih!
Porsi ekstra, ekstra cabai, ekstra cinta! Hehehe” begitu suara kak Dika
disertai dengan wajah gombalnya.
“Mulai
deh!” tanganku dengan jail mencubit pipi kirinya.
“Auuww!
Korea lagi dek?” tanyanya sambil mengelus-elus bekas cubitanku. Kakakku memang
tidak pernah suka dengan drama-drama romantis seperti drama korea, berbeda
dengan kesukaannya terhadap apapun yang berbau Jepang. Aku heran, padahal dua
Negara itu bertetangga dan tidak memiliki perbedaan yang terlalu ekstrem tapi
ternyata mempengaruhi selera masing-masing individu seperti kami.
“Udahlah
kak, yang ini filmnya bagus. Pesannya juga bagus kok.” Kataku penuh optimis
sambil menyantap nasgor dengan lahapnya.
“Terakhir
kali kamu bilang gitu, kamu nangis histeris sampai mata kamu sembab banget
waktu bangun tidur. Hahaha” yah, dan dia kakak yang paling mengertiku, walaupun
dia tidak suka tapi dia selalu menemaniku menonton drama korea dan yang
lainnya.
“Ihh,
kak Dika matanya juga berkaca-kaca kan? Coba aja ngga ada aku, pasti udah habis
tisu satu kotak! Hahaha” kami lalu saling ejek hingga sseporsi nasgor penuh
cinta adik kakak itu tinggal bersisa bekas-bekas minyak dipiringnya.
“Dek,
si Alex kok udah ngga pernah main sih?” celetuknya tiba-tiba. Hatiku terasa
bergetar dan berdetak lebih cepat mendengar nama itu disebut.
“Ngga
tahu.” Jawabku singkat. Kak Dika mengacak-acak rambutku dan mendorongku dengan
sikunya.
“Ah
kamu ini ditanya jawabnya gitu. Kalian berantem??!” mataku sontak membesar saat
melihatnya, dan kak Dika tertawa melihatku.
“Apaan
sih. Kami ngga berantem kok. Cuma jaga jarak aja.” Jelasku. Percuma saja jika
aku menyembunyikan hal se-sepele apapun padanya, lebih baik kuceritakan
semuanya agar lebih nyaman dan aku merasa sedikit lebih lega.
“Apa
bedanya? Huh?” tanyanya mendekatkan wajah padaku.
“Ya
jelas beda lah, kalau berantem itu pukul-pukulan atau jambak-jambakan atau
tusuk-tusukan. Kalau jaga jarak kan ngga gitu. Wheeeekkk.” Ejekku.
“Kamu
ini kapan gede sih? Kalau itu nenek-nenek ompong juga tahu. Kenapa sih mesti jaga jarak kalau hati kalian aja
sebenernya ngga mau dijauhin? Huh?” Oh My God. Itu realitanya, dan kak Dika
segamblang itu mengungkapkannya didepan mataku sendiri. Aku lalu terdiam.
Bukan, kami berdua yang terdiam. Kak Dika tahu dimana dia harus memberiku waktu
untuk berpikir dan menata hati. Film itu juga seakan menamparku ketika Seo In
Guk menekan egonya demi memperjuangkan hatinya.
“Ehmm,
kak Dika pernah ngga, emmm pernah gini ngga?” telunjuk kananku menyentuh
bibirku sembari melihat kak Dika dengan canggung. Lalu seketika aku menyesal
melakukannya.
“Hahhh?
Kamu udah gitu sama Alex? kok bisa? Kapan? Haduhh, ngga bener nih, ngga baik
dek!” tingkah kak Dika seperti orang yang sedang kebingungan harus berbuat apa.
“Ihh
ngga gitu. Jawab dulu dong kak. Pernah ngga cewek yang kakak cium itu marah
gara-gara kak Dika nyuri ciuman pertamanya? Terus gimana reaksi si cewek itu?”
aku memiringkan kepala dengan wajah sendu, dan kak Dika mengerti akan itu.
“Emmm,
ngga tahu kakak lupa.”
“Masa’
lupa sih? Pasti udah sering kan kayak gitu. Ih kak Dika juga sama aja seperti
cowok yang lain.”
“Ehh
ngga gitu. Tapi intinya kamu jangan sampai ngasih yang begituan sama cowok,
sekali dia gitu dia bakal minta terus sama kamu. Kalau dia minta lebih gimana?”
Aku
langsung menggeleng-gelengkan kepala.
“Ini
ngga seperti yang kak Dika pikirin. Dia spontan ngelakuin itu waktu kondisi
kita emang lagi renggang. Gimana dong kak? Aku bingung...” rengekku meminta
jawaban. Tangan kak Dika dengan lembut mengelus rambutku.
“Ooo
yang waktu kamu terpuruk ditinggal Raka itu, kalian berantem? kenapa?” tanyanya
penuh perhatian.
“Ngga
tahu, dia marah-marah gitu aja sama aku. Kak Dika kan tahu kalau aku paling
ngga suka ada orang yang bicara keras ataupun kasar sama aku tanpa bilang maaf
setelah kejadian itu.” Jelasku
“Mungkin
dia sebel lihat kamu, kamu perlu sadar diri dong dek gimana kelakuan kamu
setelah kejadian menyedihkan waktu itu. Kamu down, kamu bikin semuanya
khawatir. Mama, Papa, Aku sendiri dan bahkan temen-temen kamu juga khawatir
sama kondisi kamu. Ya wajar aja kalau Alex marah sama kamu, dia takut kamu ngga
bisa move on dan mungkin dia berbuat begitu demi kebaikan kamu.” Perbedaan usia
memang menjadi pembeda atara pemikiran yang sudah matang atau yang masih
mentah. Tapi terkadang dewasa-nya seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya
angka diusia mereka.
“Jadi
intinya, dia lebih memilih aku membencinya daripada dia harus melihat aku
terpuruk, seperti itukah?” simpulku pada akhirnya.
“Yappz,
dan mungkin dia mencuri ciuman pertamamu waktu itu karena dia tidak bisa
mengendalikan hasratnya. Menjaga jarak dengan orang yang kita sayangi itu
berat, apalagi kalau dia selalu terlihat dimanapun kita berada, kamu harus tahu
itu...”
Aku
menggelengkan kepala penuh kekaguman. “Waaoooww.”
“Apa
yang dilakukannya itu ngga mudah dek, bayangin aja kamu harus nahan apapun yang
ingin kamu lakukan, kamu harus rela dibenci demi kebaikan orang yang kamu
sayangi. Disisi lain kamu selalu ingin disampingnya, sementara dia menjaga
jarak sama kamu dan dia selalu ada dipandangan kamu dimanapun kamu berada.
Sakitnya itu disini sama disini.” Kata kak Dika menunjuk di dada bagian kiri
dan kepalanya.
“Tapi
dia sama sekali ngga bilang maaf.” Aku kembali mengerucutkan bibirku.
“Maaf?
Haha.. seharusnya kata maaf itu ngga ada dikamus orang yang saling menyayangi.
Tapi dia pasti punya alasan kuat tentang itu.” Mataku berbinar-binar. Kenapa
tiba-tiba aku merasa kak Dika sangat brilliant malam ini. Sejenak kami kembali
pada kesibukan menonton drama sebelum akhirnya aku tertawa ringan yang membuat
kak Dika memandangku.
“Aku
bener-bener ngga nyangka. Ternyata ada ya, aku kira hal seperti itu cuma ada di
drama-drama aja. Ternyata....” aku tertawa lagi, menggelengkan kepalaku lagi,
dan tertawa lagi.
“Kamu
jadi pemeran utamanya di drama kehidupan kamu.” Timpal kak Dika.
Aku
tersenyum, berkata pada diri sendiri dan memohon semoga dramaku seindah
drama-drama lain yang berakhir bahagia. J
Enam
belas,,,
Normal POV
“Ohh,
apa harus aku? Kenapa ngga pergi sama kak Dika aja sih?” kening Rara berkerut ketika berpikir sambil menggenggam
telepon ditelinganya.
“Ayolah,
kali ini aja Ra.. please?” suara kak Yuda terdengar sangat manis saat memohon
padanya. Rara terlihat menimang-nimang sejenak, mengetuk-ngetukkan jari
telunjuk diatas bibirnya.
“Oke,
,” jawabnya singkat.
“Yess!
Gitu dong. Aku jemput jam 7, dandan yang cantik ya, makasih sayang. Hehe” oh
Tuhan. Rara serasa ingin melayang ketika orang yang sedang dekat dengannya saat
ini memanggilnya seperti itu.
“Huh?
Sayang?? Awas kalau lama..!” ancamannya seperti tak dihiraukan oleh Kak Yuda
yang suasana hatinya sedang ceria. Tanpa menunggu jawaban, Rara langsung
menutup teleponnya dan merebahkan diri ditempat tidur dengan bebas.
Sepasang
bola mata itu menatap langit-langit kamarnya, pikirannya sedang meloncat-loncat
lalu sedetik kemudian dia berjingkat dan mengacak-acak isi lemarinya.
18.30
. Rara sedang memandangi bayangannya dari cermin riasnya. Perlahan-lahan dia
menata rambut panjangnya dengan alat pengeriting rambut Mama-nya. Tak biasanya
dia seperti ini. Dengan sabar dia meng-curly rambutnya hingga jatuh indah
dibahunya. Lima belas menit kemudian dia memoles wajahnya dengan make-up yang
tidak terlalu tebal tetapi tampak cantik dan sangat natural. Lipstik merah muda
menjadi sentuhan terakhir, membuat Rara tampak lebih segar dan semakin manis
saat tersenyum.
“Ciyee yang lagi dandan! Jangan lama-lama,
pacarnya udah nunggu dibawah..” suara kak Dika tiba-tiba saja muncul dibalik
pintu kayu kamar Rara. Karena terkejut, Rara refleks melempar sisirnya hingga
mengenai kepala kak Dika.
“Kak
Dika!! Ketuk pintu dulu! hobby banget bikin adeknya jantungan. Suruh nungguin
bentar.” Keluhnya sebal, hampir saja serangan panik tadi merusak mood Rara.
Namun setenang mungkin dia mengabaikan itu dan mengambil dress biru pastel-nya
yang jatuh cantik sampai di lutut. Secepat kilat dia berganti pakaian dan
meraih sepasang heels yang tampak sangat serasi dengan dress yang dikenakan.
Rara kembali bercermin.
“Oh!
Anting mana anting?!” tanyanya pada diri sendiri yang terkadang ceroboh menaruh
barang-barang pribadinya. Setelah yakin semuanya sudah beres, Rara kembali
bercermin dan menyambar tas tangan kesayangannya.
“Oh
No! I can’t breathe....” suara kak Yuda terdengar lirih ketika Rara berdiri
dihadapannya. Dia memandangi ujung rambut hingga ujung kaki gadis yang berdiri
didepannya.
“Alloo??!
Kak?!!” ucap Rara melambaikan tangan didepan wajah kak Yuda, membuatnya
tersadar dari khayalannya.
“Oh,
hehe. Kamu terlalu berlebihan deh Ra.” Ucapnya canggung.
“Huhh??
Kenapa? Make-up aku ketebelan ya, apa terlihat terlalu dewasa?” tanya Rara tanpa
jeda. Rara merasa kikuk mendengar pendapat kak Yuda.
“Enggak
gitu, kamu terlalu berlebihan cantiknya. Bikin sesak disini. Hehe.” Tangan
kanan kak Yuda menyentuh dadanya yang lapang.
“Awas
aja kalau berani macem-macem sama Rara, gue timpuk lu!” ancam kak Dika yang
membuat semuanya tertawa. Diperjalanan Rara duduk tenang didalam mobil,
sementara Yuda sedang berperang dengan hatinya, menyiapkan diri dengan apa yang
akan dihadapinya nanti.
Suasana
pesta reunian sekaligus perayaan ulang tahun salah satu alumni sekolah Rara
tampak sangat ramai. Disana sini terlihat kakak kelas Rara sekaligus teman dari
kakaknya yang masih dikenalinya. Rara merasa seperti orang asing yang terdampar
ditempat suatu suku didaerah pedalaman. Karena canggung dia menghentikan langkahnya,
membuat kak Yuda menyadari apa yang dirasakannya.
“Kenapa?
Udah ngga papa, santai aja.” Kak Yuda menggenggam tangan Rara dan tersenyum
padanya. Mereka berkeliling dan menyapa teman Kak Yuda. Mata Rara berhenti saat
melihat seorang gadis yang sedang berjalan dari pintu masuk. Dia memiliki paras
yang cantik dan sangat menawan. Namun, Rara merasa pernah melihat wajah itu
sebelumnya, wajah itu seperti mirip seseorang yang pernah ditemuinya tetapi
Rara sama sekali tidak bisa mengingat siapa itu.
“Waoow,
siapa dia?” bisik Rara pada kak Yuda ketika kakaknya bersama pasangannya yaitu
kak Shinta bergabung bersama mereka berdua.
“Itu
yang lagi ulang tahun.” Jawab Kak Yuda singkat lalu dengan jelas ekspresi
wajahnya berubah menjadi dingin.
“Kamu
ngga mau ketemu sama dia? Udah lama kan sejak kejadian waktu itu.” Ucap kak
Dika, sementara Rara sibuk mengobrol dengan kak Shinta yang sudah seperti
kakaknya sendiri. Jujur Rara tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, dan itu
membuat Rara merasa sangat penasaran.
“Itu
masa lalu, dan aku ngga mau kembali kemasa itu.” Sanggah kak Yuda.
“Tapi
kamu masih cinta kan sama dia?!” pertanyaan kak Dika seolah menyudutkan
dirinya, kak Yuda tidak menjawab malah mengambil dua gelas minuman yang tersaji
untuk Rara dan dirinya. Rara merasa kak Yuda bukanlah orang yang telah
dikenalnya. Dia seperti kak Yuda saat pertama kali mereka bertemu. Dingin dan
angkuh.
“Bukan
urusan kamu.” Jawab kak Yuda kesal.
Rara
berhenti memperhatikan mereka dan melihat kesekeliling ruangan hingga berhenti
disatu tujuan. dia sampai tersedak minumannya sendiri saat melihat orang itu.
“Alex?!
kok dia bisa disini?” tanyanya lebih pada diri sendiri.
“Iyalah,
namanya juga pesta ulang tahun kakaknya. Yang pakai gaun merah itu yang namanya
Alice, kakaknya Alex.” kak Dika menjelaskan
Rara
hanya ber-oo panjang. Pantas saja gadis itu mirip sekali dengan orang yang
kukenal, ternyata dia adalah kakak Alex yang sering dibilang kembarannya.
Pesta
kemudian berlalu sangat membosankan bagi Rara. Kak Yuda terus mengacuhkannya
dan sibuk dengan dirinya sendiri, duduk diam disamping Rara. Rara sangat kesal
mengingat kak Yuda lah yang merengek padanya supaya dia mau menemaninya kepesta
itu, namun dia justru mengacuhkannya.
“Kak?
Kapan pestanya selesai?” tanya Rara basa-basi, sekedar mencairkan suasana.
“Paling
bentar lagi.” Jawab kak Yuda dingin. Sontak Rara terkejut, dan ijin untuk pergi
kekamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi Rara tanpa sengaja menabrak
seseorang. Alex. mereka terkejut satu sama lain. Alex membantu Rara berdiri dan
menanyakan keadaannya.
“Ngga
papa kok. Oh ya, titip ucapan selamat ulang tahun buat kakak kamu.” Katanya
tanpa basa-basi,
“Kamu
kesini sama siapa? Ngga sama kak Dika kan?” Alex mengedarkan pandangannya, dan
menemukan kak Dika, tetapi dia ingin sekali memberontak ketika disitu juga ada
guru les Rara.
“Sama
dia juga?! Dia itu bukan orang yang baik buat kamu Ra.” Rara terkesiap,
memandang heran pada Alex.
“Maksud kamu apa sih Lex?” Rara berlalu namun Alex menarik tangannya.
“Maksud kamu apa sih Lex?” Rara berlalu namun Alex menarik tangannya.
“Dengerin
aku, dia itu Cuma mainin kamu. Kamu jangan semudah itu dong percaya sama dia.”
Alex memandang sendu kedalam mata Rara.
“Omong
kosong tahu ngga, terus emangnya kenapa kalau aku sampai beneran suka sama dia?
Bukan urusan kamu kan?!!” Rara memuncak, mood-nya sudah buruk karena perilaku
kak Yuda, kini dia harus bertengkar lagi dengan Alex.
“Itu
urusan aku! Kamu ngga tahu kan kalau dia itu...”
“Dia
apa? Kamu mau bilang kalau dia masih ada perasaan sama kakak kamu? Terus kenapa
aku harus peduli Lex?” belum sempat Alex menyelesaikan perkataannya dia sudah
memotongnya begitu saja.
“Hei,
ada apa sihh? Kamu nggapapa kan Ra?” kak Yuda tiba-tiba muncul dibelakang Rara.
“Peduli
apa sih kamu?! Urus aja diri kamu sendiri.” Celetuk Rara pada kak Yuda.
“Denger
ya Lex, dia mungkin emang mainin aku, tapi apa kamu ngga ngaca sama diri kamu
sendiri? Kamu lebih mainin perasaan aku dari pada apa yang dia lakuin ke aku.
Puas kamu?”
“Apa?!
Maksudnya aku?!! Kalian ngomongin apa sih?” tanya kak Yuda yang merasa
dipermainkan disitu.
“Diem
kamu! Dasar pengecut!” tantang Alex. kak Yuda merasa naik pitam dan hampir saja
meninju Rara yang menghalangi mereka berdua.
“Kamu
itu pengecut, kalau masih cinta kenapa ngga bilang aja, huh?! Jangan
berani-beraninya kamu mainin hatinya Rara!!”teriak Alex membuat semua perhatian
tertuju pada mereka bertiga.
“Aku
ngga pernah bermaksud mainin hatinya Rara, kalau ngomong dijaga dong!!” balas
Kak Yuda.
“Omong
kosong! Kalian itu bullshit tahu ngga?! Kaya anak kecil!!” itu adalah suara
terakhir Rara sebelum dia pergi meninggalkan mereka berdua.
Tanpa
disadari, Alice melihat pertikaian mereka bertiga. Ketika Rara keluar ruangan,
Alice mengejarnya dan memintanya untuk mengobrol sebentar.
“jadi
kamu orangnya? Ngga salah kalau dia selalu corat-coret dinding kamarnya sama
nama kamu.” Terang Alice.
“Jadi
kamu orangnya? Pantas aja kak Yuda tega nyuekin aku semaleman ini.” Ucap Rara
ketus. Alice hanya tersenyum. mereka kemudian mengobrol semalaman. Saat itulah
Rara tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya, dan saat itulah dia baru tahu
yang sesungguhnya tentang besarnya perasaan Alex pada dirinya. Dia lalu pamit
untuk meninggalkan pesta. Sendirian dia berjalan menuju jalan raya untuk
menunggu taksi.
Hampir
lima belas menit Rara menunggu namun tak ada taksi yang lewat, kalaupun ada
taksi itu sudah ada yang menumpangi.
“Ternyata
masih disini...” ucap suara dari samping Rara. Baju yang dikenakannya terlihat
sangat berantakan dan peluh berjatuhan dari keningnya.
“Ka..kamu?”
Rara merasa berdebar melihat dirinya. Apa benar semua yang diceritakan oleh
Alice padanya tadi. Semua itu membuat hatinya bergemuruh tak karuan. Antara
senang, takut, salah tingkah, dan juga penasaran bercampur menjadi satu.
“Kemana
aja kamu? Aku muter-muter nyari kamu. Tapi yang dicari ngga nyadar sama
sekali. Huft!” Alex berada lebih dekat
dimana Rara berdiri. Dia memegang lututnya sambil mengatur pernafasan.
“Bukan
salah aku kan?!” sangkal Rara, melepas sepasang heels-nya karena lelah berdiri
terlalu lama.
Alex
tersenyum tipis, memandang Rara penuh kasih. Hati Rara serasa ingin meledak
karena berdebar sangat kencang, tetapi rasa gengsi membuat dirinya mengacuhkan
Alex.
“Memang.
Semua salahku. Kenapa aku sampai jatuh cinta sama cewek kaya kamu.”
Oh
Tuhan, Rara ingin sekali terbang, melambung tinggi kelangit penuh bintang.
“Aku
bakal tetep maafin kamu walaupun kamu ngga bilang gitu. Jadi ngga usah bilang
omong kosong lagi.”
“Kapan
sih kamu ngerti kalau aku beneran sayang sama kamu??” Alex mendekat, memegang
kedua bahu Rara dengan tangannya. Tetapi Rara menepisnya. Alex terkejut bukan
main, rasanya seperti dirinya sudah tak berarti lagi bagi gadis itu.
“Ngga
akan, tanpa bukti yang berarti.” ucap Rara, melempar pandangannya melihat
padatnya kendaraan dimalam hari.
“Kenapa
aku harus ngasih bukti, sementara orang itu bisa dengan mudah dapetin perhatian
kamu?” sorot mata Alex menunjukkan keputusasaan. Rasa putus asa ketika Rara dengan
mudahnya menyukai kak Yuda sementara dirinya semakin dijauhi oleh Rara.
“Itu
beda. Aku sayang sama kak Yuda sebatas rasa sayang kakak dan adik, dan aku ngga
pernah mengharap lebih walaupun dia memperlakukanku dengan spesial.” Jelas
Rara,
“Aku
harus apa biar kamu percaya?” tanya Alex penuh harap. Apapun itu dia akan
melakukannya demi peri kecilnya itu, demi melihat kembali senyum Rara setiap
harinya.
“Kenapa
tanya aku? Harusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”
Alex
merogoh saku celananya, dan menggenggam sesuatu sebelum meraih tangan Rara dan
meletakkan barang itu ditelapak tangannya. Rara terkejut bukan main.
“Ini...
Ini yang waktu itu?” ingatan Rara kembali saat dia sedang pergi mencari hadiah
untuk pacar kakaknya dan sangat menginginkan benda yang ada ditangannya itu.
Sebuah gantungan yang dirancang untuk pasangan. Disitu terukir nama Alex love
Rara dengan tinta emas. Rara sungguh tidak menyangka akan mendapatkan itu dari
Alex.
“Aku
udah suka sama kamu sejak pertama kali kita bertemu. Sejak pertama kali aku
ngelihat kamu sendirian diatas gedung sekolah. Sejak pertama kali kamu jutek
sama aku. ..” mata Rara berkaca-kaca. Sejauh itu kah? Sedalam itukah? Dan
selama itukah Alex telah memperhatikan dirinya? Alex semakin erat menggenggam
tangan Rara yang bergetar pada saat itu.
“..sejak
saat itu aku merasa kalau kamu butuh seseorang yang bisa bikin kamu tertawa
seperti biasanya. Dan aku ingin jadi orang itu. Sekarang udah cukup lama aku
nahan perasaan itu. Kamu mau jadi pacar aku?” Alex mencetuskan pertanyaan itu
dengan berat, seperti itu adalah kata-kata terakhir yang ingin dikatakannya.
“Ehh,
emm aku.. akuu ngga bisa. Maaf aku ngga bisa.” Jawab Rara tanpa berpikir
panjang. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali dan melepas pegangan Alex.
“Ngga
bisa?! Kenapa Ra??” alex merasa dilempar dari langit ketujuh dan jatuh telak
dibumi dengan keras. Dadanya seakan butuh perisai yang mampu melindunginya agar
tidak hancur berantakan.
“Aku
ngga bisa aja. Belum waktunya.” Kata Rara tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Lalu
kapan Ra? Paling ngga kamu bilang dong alasannya ke aku.” Paksa Alex, terus
menyudutkan Rara.
“Aku
ngga suka diikat sama sebuah status yang namanya pacaran. Kenapa harus pacaran
kalau jadi sahabat aja kita bisa
menyayangi satu sama lain? Aku Cuma ngga mau semuanya berubah jadi lebih buruk
dari yang sekarang. Jalani aja dulu. Mungkin kalau udah waktunya, kamu bakal
jadi yang terakhir dalam hidupku.” Terang Rara dengan sangat tenang. Alex
tercengang mendengar perkataan peri kecilnya yang bisa berpikir se-dewasa itu.
“Jadi?”
suara Alex terdengar berat ditelinga Rara.
“Jadi,,
kita jalani aja dulu. walaupun sebuah hubungan tanpa ikatan, tapi kalau kita
sama-sama tahu perasaan masing-masing, sama-sama tahu ngga ada yang mau
kehilangan satu sama lain, bukankah itu sudah cukup??” Rara menatap dalam ke mata
Alex, mencari jawaban dari sinar matanya. Lalu Alex tersenyum dengan sangat
tulus.
Alex
memeluk Rara dengan sangat erat. Beberapa detik kemudian dia melepasnya dan
mendekatkan wajahnya pada Rara. Semakin dekat, Alex memejamkan matanya dan
menyetuh jari telunjuk Rara yang telah mengunci bibirnya.
“Ini
bukan apa yang aku inginkan.” Kata Rara tanpa sungkan.
Alex
tersenyum lagi, menangkis jari Rara dan menjatuhkan ciumannya di kening gadis
itu dengan penuh kasih sayang. Rara tersenyum, senyum termanis yang pernah dia
lukiskan diwajahnya. Dan itu karena ada Alex didekatnya. Selalu saja Alex,
selalu saja karena Alex, dan selalu hanya ada Alex.
Sungguh
sayang cuaca malam itu sangat tak mendukung karena tak lama kemudian langit
menjatuhkan air mata bahagianya dengan penuh suka cita. Mengguyur deras daerah
itu dan membuat sepasang muda-mudi itu basah kuyup. Tawa masih terdengar ketika
mereka berlari mencari tempat berteduh.
Hingga
pada akhirnya, sepasang muda-mudi itu terus bersama-sama. Terus bergandengan
tangan, dan terus melangkah bersamaan mengarungi dunia mereka yang dulu sulit
untuk dicapai. Kini dengan cinta, persahabatan, dan harapan yang menuntun untuk
meraih sebuah mimpi, hidup bisa lebih bahagia, lebih bermakna, dan juga lebih
berwarna yang warnanya mengalahkan indahnya warna pelangi. Hidup mereka, dan
hidup kita juga. J


