Salahkah???
Cerpen
oleh : Mimin Yuni Liyani
Suara
deru mobil menambah kebisingan di sebuah terminal bus dimana aku sedang duduk
menunggu seseorang. Sesuai dengan irama kumainkan kakiku dengan tempo lambat
mengikuti alunan lagu dari mp3 playerku. Pemandangan tampak begitu kontras
disini. Beberapa orang sedang menunggu, beberapa lainnya sedang sibuk
mengotak-atik ponsel mereka, ada beberapa juga yang mengobrol dan bertanya satu
sama lain. Tak jauh kulihat seorang ibu yang mungkin hampir setengah abad
menjajakan barang dagangannya, bermandikan keringat tanpa menggunakan alas
kaki. aku bahkan melihat banyak kakek-kakek maupun anak-anak yang masih dibawah
umur membanting tulang mereka hanya untuk sesuap nasi. Miris sekali aku
melihatnya. Berbanding terbalik dengan apa yang kumiliki. Bahkan aku merasa
ditampar dengan perbedaan yang teramat jauh itu.
“Non,
silahkan dibeli jajanan Ibu.” Tawar seorang ibu yang tiba-tiba berada
disampingku.
“Oh...
ada apa aja bu?” tanyaku tampak berminat.
“Ada
nasi pecel, tahu goreng, kacang, sama jajanan lainnya Non, silahkan
dilihat-lihat dulu.” Ibu itu menurunkan nampan yang sedari tadi diangkatnya
mengitari terminal ini. Walaupun aku tidak lapar, aku tetap saja ingin membeli
dagangan ibu ini. Belum lama aku memilih, ibu ini sedang bergumam tentang
kehidupan sekarang yang serba susah. Aku juga mendengar ibu ini adalah seorang
janda dengan tiga anak yang harus menghidupi mereka seorang diri dengan
berjualan dagangan yang penghasilannya tidak pernah tetap.
“Ini
berapa ya Bu?” aku mengambil tiga bungkus nasi pecel, lima bungkus tahu goreng
dan tiga buah air mineral.
“Ya
allah, ini buat Non sendiri? Banyak bener.” Ucap ibu itu heran. Aku hanya
tersenyum simpul.
“Udah
bu, dibungkus aja..” kataku. Aku lalu mengeluarkan uang seratus ribuan dari
dompet biru dongker-ku.
“Aduh
Non, ini ibu belum ada uang kembaliannya. Gimana ibu tukar dulu ya?”
“Ngga
usah bu, kembaliannya buat ibu aja.” Kataku lalu pergi meninggalkan ibu yang
terus mengucapkan kata syukur dan terima kasih.
Mungkin
uang itu tidak seberapa, bahkan terbilang sangat kecil, namun bagi orang-orang
seperti mereka itu merupakan hal yang sangat berharga.
Aku
terus berjalan sampai tiba didepan pertokoan yang terlihat ramai oleh
orang-orang yang sedang bercengkerama. Tepat dibawah pohon jambu didekat
pertokoan itu aku berhenti untuk melakukan sesuatu.
“Hallo
adek, lagi ngapain?” sapaku. Terlihat raut wajah lelah dibalik ekspresi itu.
dia tampak bingung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memperlihatkan gigi
yang berderet tak rapi.
“I
ini lagi ngitung duit hasil nyemir sepatu kak.” Katanya. Anak laki-laki itu
mungkin berumur sepuluh sampai dua belas tahun. Badannya kurus dan hitam legam
diselimuti dengan debu-debu yang terus menyapanya setiap hari.
“Kamu
siapa namanya? terus rumahnya dimana?” tanyaku, lalu duduk tepat disampingnya.
“Dede
kak. Ngga punya rumah kak, udah dijual sama almarhum bapak buat berobat.”
Hatiku berdesir. Kelu rasanya. Semakin kesini, semakin banyak pertanyaan yang
bermunculan dikepalaku. Ya allah, kasihan
sekali anak ini. Seandainya saja ada yang bisa kuperbuat untuk membuatnya
tersenyum bahagia walau hanya sedetik.
“Kamu
tinggalnya sama siapa?”
Anak
laki-laki bernama Dede itu mengerjapkan matanya perlahan. Tangannya yang mungil
seperti membuat gerakan-gerakan aneh.
“Sama
temen-temen kak. Kita biasanya tidur diemperan kalau nggak digudang pabrik yang
udah tutup disitu.” Jari telunjuknya mengarah ke seberang jalan dimana dulunya
adalah sebuah pabrik tekstil yang sudah lama tutup. Terenyuh sekali rasanya
hati ini. Ternyata diluar sana banyak sekali orang yang mengalami hal serupa
seperti Dede.
“De,
mau nasi pecel ngga? Ini tadi kakak beli tapi kebanyakan.” Kataku membuka
bungkus plastik berwarna hitam, lalu menyodorkan nasi yang dibungkus daun
pisang.
“Mau
kak, mau.” Jawabnya antusias. Tak lupa aku berikan satu bungkus tahu goreng
yang isinya mungkin ada lima buah dan sebotol air mineral.
Entah
karena apa, rasanya nikmat sekali makan bersama Dede, walaupun suara suara yang
bising mengelilingi kami. Melihatnya makan dengan lahap membuatku sadar, bahwa
terkadang orang seperti Dede atau yang lainnya hanya membutuhkan sedikit
perhatian dan kasih sayang. Mungkin sedikit perhatian itu bisa menguatkannya
melintasi jalan hidup yang berliku-liku dan penuh hambatan.
“Ini
masih ada satu bungkus lagi sama tahu gorengnya, kamu bawa pulang ya buat makan
nanti.” Aku tersenyum. senyum yang benar-benar tulus dari hati.
“Yeee!
Asyik dapet nasi lagi. Makasih ya kak.” Katanya girang. Luar biasa. Hanya
dengan sebungkus nasi saja senangnya bukan main. Tanpa sepengetahuannya
kuselipkan sejumlah uang yang mungin bisa untuk uang jajannya kedalam kantong
plastik itu.
“Iya
sama-sama Dede. Kakak pergi dulu ya.” Aku berbalik setelah membersihkan
celanaku yang kotor karena duduk di atas gundukan tanah tadi.
“Kakak
kakak! Namanya siapa?” teriak suara dibelakangku. Aku berhenti untuk berbalik
dan meletakkan kedua tanganku disisi mulutku.
“Rara!”
teriakku, dari kejauhan.
Aku
tersenyum lega, dan terharu. Menyadari betapa beragamnya kita semua. Menyadari
betapa sulitnya untuk orang-orang tertentu bertahan dalam hidupnya, sementara
sebagian orang menghabiskan sisa waktunya dengan sia-sia tanpa sadar betapa
beruntungnya mereka.
Ketika
kembali ke terminal, aku mencari tempat duduk sekiranya tidak terlalu ramai
orang disitu. Sejenak kupejamkan mataku dan tanpa sadar air mata sudah
dipelupuk mata. Ya Allah, salahkah
hambamu jika ingin menangis walau hanya sebentar saja? Salahkah jika hamba
hanya ingin ikut merasakan sedikit kesulitan yang mereka alami? Hamba tahu mungkin
ini belum cukup, tapi setidaknya hamba hanya ingin membuat mereka tersenyum dan
merasakan kebahagiaan walau hanya sesaat, walau hanya dengan hal yang sepele,
dan bahkan mungkin kurang begitu berarti.
Saat
aku menundukkan kepalaku, kulihat sepasang sepatu yang tidak asing dan
seseorang yang berdiri dihadapanku. Aku mendongakkan kepala, melihat wajah itu
sedang menunjukkan kekhawatirannya.
“Kenapa
setiap kali kamu berbuat hal mulia, kamu selalu menangis pada akhirnya?” tanya
suara serak itu. dengan lembut dia menghapus sisa-sisa air mata diwajahku,
membuatku tersenyum lirih.
“Karena
tidak semua perbuatan mulia berakhir tawa dan bahagia. Terkadang harus ada air
mata yang mengalir.” Jawabku ringan.
Ekspresi
lelaki itu berubah sendu saat duduk disampingku.
“Sangat
mengerti.” Senyumnya terlihat sangat tulus, dan aku tahu hal itu. dengan jail
tangannya mengacak-acak rambutku yang tergerai panjang. Mengacaukan suasana
dramatis yang baru saja dimulai.
“Hentikan
Rama!” teriakku kesal. Tentu saja itu tidak membuatnya berhenti begitu saja.
Itulah
Rama, sahabat sekaligus orang yang kucintai. Selalu tahu dan selalu mengerti.
Selalu mendukung apa yang aku lakukan dan orang yang selalu menjadi inspirasi
bagiku dalam melakukan sesuatu yang membuat orang lain bahagia.
“Sholat
dulu yuk, ntar lanjut jalan lagi.” Ajaknya ketika suara adzan bergema
dimana-mana.
“Siap
abang!” jawabku penuh semangat.
Dengan
bergandengan tangan, kami dua orang muda-mudi menjalani hidup dengan penuh
keyakinan. Satu prinsip dan satu tujuan. Membuat orang lain bahagia.
Tidak
semua orang diberi keberuntungan untuk merasakan apa itu ‘bahagia’, mungkin
saja bahagia itu tidak berasal dari hal yang luar biasa, namun cukup dengan hal
kecil, sesuatu dengan sentuhan kepedulian dan sedikit perhatian. Karena tidak
semua orang menyadari betapa pentingnya hal itu. Sekarang semua ada ditangan
kita. Tanyakan saja pada diri sendiri, salahkah jika kita merasa peduli?
Salahkah jika kita meluangkan waktu, hati, dan pikiran hanya untuk memikirkan
mereka? Atau mungkin kita hanya perlu duduk diam dan pura-pura tidak tahu?
Bahkan
seegois apapun orang itu tidak akan mau dan merasa malu jika harus bertanya
pada rumput yang bergoyang. Karena dia tahu jawabannya. Jawabannya ada disini.
Terbungkus rapi didalam tubuh kita. J


