Minggu, 19 Oktober 2014

jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang :D

Salahkah???
Cerpen oleh : Mimin Yuni Liyani

Suara deru mobil menambah kebisingan di sebuah terminal bus dimana aku sedang duduk menunggu seseorang. Sesuai dengan irama kumainkan kakiku dengan tempo lambat mengikuti alunan lagu dari mp3 playerku. Pemandangan tampak begitu kontras disini. Beberapa orang sedang menunggu, beberapa lainnya sedang sibuk mengotak-atik ponsel mereka, ada beberapa juga yang mengobrol dan bertanya satu sama lain. Tak jauh kulihat seorang ibu yang mungkin hampir setengah abad menjajakan barang dagangannya, bermandikan keringat tanpa menggunakan alas kaki. aku bahkan melihat banyak kakek-kakek maupun anak-anak yang masih dibawah umur membanting tulang mereka hanya untuk sesuap nasi. Miris sekali aku melihatnya. Berbanding terbalik dengan apa yang kumiliki. Bahkan aku merasa ditampar dengan perbedaan yang teramat jauh itu.
“Non, silahkan dibeli jajanan Ibu.” Tawar seorang ibu yang tiba-tiba berada disampingku.
“Oh... ada apa aja bu?” tanyaku tampak berminat.
“Ada nasi pecel, tahu goreng, kacang, sama jajanan lainnya Non, silahkan dilihat-lihat dulu.” Ibu itu menurunkan nampan yang sedari tadi diangkatnya mengitari terminal ini. Walaupun aku tidak lapar, aku tetap saja ingin membeli dagangan ibu ini. Belum lama aku memilih, ibu ini sedang bergumam tentang kehidupan sekarang yang serba susah. Aku juga mendengar ibu ini adalah seorang janda dengan tiga anak yang harus menghidupi mereka seorang diri dengan berjualan dagangan yang penghasilannya tidak pernah tetap.
“Ini berapa ya Bu?” aku mengambil tiga bungkus nasi pecel, lima bungkus tahu goreng dan tiga buah air mineral.
“Ya allah, ini buat Non sendiri? Banyak bener.” Ucap ibu itu heran. Aku hanya tersenyum simpul.
“Udah bu, dibungkus aja..” kataku. Aku lalu mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompet biru dongker-ku.
“Aduh Non, ini ibu belum ada uang kembaliannya. Gimana ibu tukar dulu ya?”
“Ngga usah bu, kembaliannya buat ibu aja.” Kataku lalu pergi meninggalkan ibu yang terus mengucapkan kata syukur dan terima kasih.
Mungkin uang itu tidak seberapa, bahkan terbilang sangat kecil, namun bagi orang-orang seperti mereka itu merupakan hal yang sangat berharga.
Aku terus berjalan sampai tiba didepan pertokoan yang terlihat ramai oleh orang-orang yang sedang bercengkerama. Tepat dibawah pohon jambu didekat pertokoan itu aku berhenti untuk melakukan sesuatu.
“Hallo adek, lagi ngapain?” sapaku. Terlihat raut wajah lelah dibalik ekspresi itu. dia tampak bingung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memperlihatkan gigi yang berderet tak rapi.
“I ini lagi ngitung duit hasil nyemir sepatu kak.” Katanya. Anak laki-laki itu mungkin berumur sepuluh sampai dua belas tahun. Badannya kurus dan hitam legam diselimuti dengan debu-debu yang terus menyapanya setiap hari.
“Kamu siapa namanya? terus rumahnya dimana?” tanyaku, lalu duduk tepat disampingnya.
“Dede kak. Ngga punya rumah kak, udah dijual sama almarhum bapak buat berobat.” Hatiku berdesir. Kelu rasanya. Semakin kesini, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan dikepalaku. Ya allah, kasihan sekali anak ini. Seandainya saja ada yang bisa kuperbuat untuk membuatnya tersenyum bahagia walau hanya sedetik.
“Kamu tinggalnya sama siapa?”
Anak laki-laki bernama Dede itu mengerjapkan matanya perlahan. Tangannya yang mungil seperti membuat gerakan-gerakan aneh.
“Sama temen-temen kak. Kita biasanya tidur diemperan kalau nggak digudang pabrik yang udah tutup disitu.” Jari telunjuknya mengarah ke seberang jalan dimana dulunya adalah sebuah pabrik tekstil yang sudah lama tutup. Terenyuh sekali rasanya hati ini. Ternyata diluar sana banyak sekali orang yang mengalami hal serupa seperti Dede.
“De, mau nasi pecel ngga? Ini tadi kakak beli tapi kebanyakan.” Kataku membuka bungkus plastik berwarna hitam, lalu menyodorkan nasi yang dibungkus daun pisang.
“Mau kak, mau.” Jawabnya antusias. Tak lupa aku berikan satu bungkus tahu goreng yang isinya mungkin ada lima buah dan sebotol air mineral.
Entah karena apa, rasanya nikmat sekali makan bersama Dede, walaupun suara suara yang bising mengelilingi kami. Melihatnya makan dengan lahap membuatku sadar, bahwa terkadang orang seperti Dede atau yang lainnya hanya membutuhkan sedikit perhatian dan kasih sayang. Mungkin sedikit perhatian itu bisa menguatkannya melintasi jalan hidup yang berliku-liku dan penuh hambatan.
“Ini masih ada satu bungkus lagi sama tahu gorengnya, kamu bawa pulang ya buat makan nanti.” Aku tersenyum. senyum yang benar-benar tulus dari hati.
“Yeee! Asyik dapet nasi lagi. Makasih ya kak.” Katanya girang. Luar biasa. Hanya dengan sebungkus nasi saja senangnya bukan main. Tanpa sepengetahuannya kuselipkan sejumlah uang yang mungin bisa untuk uang jajannya kedalam kantong plastik itu.
“Iya sama-sama Dede. Kakak pergi dulu ya.” Aku berbalik setelah membersihkan celanaku yang kotor karena duduk di atas gundukan tanah tadi.
“Kakak kakak! Namanya siapa?” teriak suara dibelakangku. Aku berhenti untuk berbalik dan meletakkan kedua tanganku disisi mulutku.
“Rara!” teriakku, dari kejauhan.
Aku tersenyum lega, dan terharu. Menyadari betapa beragamnya kita semua. Menyadari betapa sulitnya untuk orang-orang tertentu bertahan dalam hidupnya, sementara sebagian orang menghabiskan sisa waktunya dengan sia-sia tanpa sadar betapa beruntungnya mereka.
Ketika kembali ke terminal, aku mencari tempat duduk sekiranya tidak terlalu ramai orang disitu. Sejenak kupejamkan mataku dan tanpa sadar air mata sudah dipelupuk mata. Ya Allah, salahkah hambamu jika ingin menangis walau hanya sebentar saja? Salahkah jika hamba hanya ingin ikut merasakan sedikit kesulitan yang mereka alami? Hamba tahu mungkin ini belum cukup, tapi setidaknya hamba hanya ingin membuat mereka tersenyum dan merasakan kebahagiaan walau hanya sesaat, walau hanya dengan hal yang sepele, dan bahkan mungkin kurang begitu berarti.

Saat aku menundukkan kepalaku, kulihat sepasang sepatu yang tidak asing dan seseorang yang berdiri dihadapanku. Aku mendongakkan kepala, melihat wajah itu sedang menunjukkan kekhawatirannya.  
“Kenapa setiap kali kamu berbuat hal mulia, kamu selalu menangis pada akhirnya?” tanya suara serak itu. dengan lembut dia menghapus sisa-sisa air mata diwajahku, membuatku tersenyum lirih.
“Karena tidak semua perbuatan mulia berakhir tawa dan bahagia. Terkadang harus ada air mata yang mengalir.” Jawabku ringan.
Ekspresi lelaki itu berubah sendu saat duduk disampingku.
“Sangat mengerti.” Senyumnya terlihat sangat tulus, dan aku tahu hal itu. dengan jail tangannya mengacak-acak rambutku yang tergerai panjang. Mengacaukan suasana dramatis yang baru saja dimulai.
“Hentikan Rama!” teriakku kesal. Tentu saja itu tidak membuatnya berhenti begitu saja.
Itulah Rama, sahabat sekaligus orang yang kucintai. Selalu tahu dan selalu mengerti. Selalu mendukung apa yang aku lakukan dan orang yang selalu menjadi inspirasi bagiku dalam melakukan sesuatu yang membuat orang lain bahagia.
“Sholat dulu yuk, ntar lanjut jalan lagi.” Ajaknya ketika suara adzan bergema dimana-mana.
“Siap abang!” jawabku penuh semangat.
Dengan bergandengan tangan, kami dua orang muda-mudi menjalani hidup dengan penuh keyakinan. Satu prinsip dan satu tujuan. Membuat orang lain bahagia.
Tidak semua orang diberi keberuntungan untuk merasakan apa itu ‘bahagia’, mungkin saja bahagia itu tidak berasal dari hal yang luar biasa, namun cukup dengan hal kecil, sesuatu dengan sentuhan kepedulian dan sedikit perhatian. Karena tidak semua orang menyadari betapa pentingnya hal itu. Sekarang semua ada ditangan kita. Tanyakan saja pada diri sendiri, salahkah jika kita merasa peduli? Salahkah jika kita meluangkan waktu, hati, dan pikiran hanya untuk memikirkan mereka? Atau mungkin kita hanya perlu duduk diam dan pura-pura tidak tahu?

Bahkan seegois apapun orang itu tidak akan mau dan merasa malu jika harus bertanya pada rumput yang bergoyang. Karena dia tahu jawabannya. Jawabannya ada disini. Terbungkus rapi didalam tubuh kita. J