Jumat, 27 Desember 2013

AMBISIUS Vs PERFEKSIONIS

AMBISIUS Vs PERFEKSIONIS
Karya : Mimin Yuni Liyani

Disebuah tempat disudut pusat kota Tokyo, berdiri bangunan tua yang menyimpan sejuta inspirasi dan keindahan didalamnya. Bertolak belakang dengan kesan pertama saat melihat bangunan itu, didalamnya adalah tempat menuangkan segala macam ide-ide luar biasa dan sumber motivasi hidup gadis itu. Bangunan bergaya klasik itu bagaikan ‘paradise’ untuknya.
          ‘KRIIIIINGG!! KRIIIINGGG….!’ Suara dari jam beker itu sudah berbunyi lebih dari tiga kali pagi ini, walaupun begitu tak sedikitpun mengusik mimpi gadis itu. Hingga dering yang kelima kalinya yang mampu membuatnya menyadari bahwa mentari pagi sudah bergeser menjelang siang hari. Tangan mungilnya mencoba meraih benda perak dipinggir meja kamarnya. Untuk sekilas bola matanya menatap jarum-jarum kecil yang mengelilingi benda itu, sebelum mengembalikan ketempat semula. Namun, setelah beberapa detik, gadis itu kembali mengambil benda itu dan terkejut bukan main menyadari jam berapa sekarang ini.
          “Ya TUHAN! Aku terlambat!” tubuhnya melesat secepat kilat menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari dimana dia harus mengikuti wawancara disebuah perusahaan. Lima menit kemudian gadis itu keluar dari kamar mandi dengan rambut berantakan dan hanya mengenakan sebuah handuk. Diacak-acaknya isi lemari, mencari pakaian yang dirasanya pantas untuk dikenakan. Dia berusaha keras untuk memasukkan kancing kemejanya dengan satu tangan dan mengotak-atik ponselnya dengan tangan lainnya.
          “Ayoo, angkatlah” gumamya.
          “Hallo? Bisakah kau menjemputku sekarang. Aku ada wawancara dan aku sudah terlambat pagi ini. Aku mohon, tolonglah ?” ucapnya setelah suara diseberang mulai terdengar.
          “Oh, terimakasih. Kutunggu kau didepan rumahku, OK?” gadis itu merasa beruntung, walaupun sudah tahu bahwa keberuntungan tak berpihak padanya hari ini.

          Di pekarangan rumahnya gadis itu menghentak-hentakkan sepatunya ke tanah karena lama menunggu. Sebuah mobil sedan memasuki pekarangannya, membuat gadis itu berlari mengikuti mobil itu.
          “Kenapa lama sekali?” katanya setelah memasuki mobil itu.
          “Aku hanya memakan waktu perjalanan selama sepuluh menit, Alice.” Seorang pria membela dirinya.
          “Dan itu menentukan nasibku sekarang ini Arashi. Tapi, terima kasih sudah mau menjemputku.” Tutur gadis itu.
          “Tidak masalah.”
          Mobil sedan itu melaju dengan kencang menyusuri jalanan ditengah terik matahari. Sesampainya ditempat tujuan, Alice melangkahkan kakinya keluar dari mobil sahabatnya itu. D-Style adalah satu dari sekian banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang fashion di Jepang dan mempunyai citra mengagumkan. Semua barang atau produk keluaran D-Style selalu diburu oleh para penggila fashion. Alice merasa memiliki kebanggaan tersendiri bisa mendapat kesempatan untuk wawancara ditempatnya ingin bekerja sedari dulu. Sesampainya di Lobi, matanya terkagum-kagum menikmati gaya arsitektur yang dimiliki perusahaan ini. Banyak orang yang lalu lalang, sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Matanya mengelilingi lobi, hingga tertuju pada seorang receptionist yang memandanginya. Tanpa pikir panjang Alice segera menghampiri receptionist itu.
          “Permisi, ada yang bisa saya bantu?”tanya receptionist itu dengan ramahnya.
          “Saya kemari untuk melakukan wawancara sebagai assisten manager.”jawab Alice santun.
          “Sepertinya anda terlambat, karena wawancara sudah dimulai 1 jam yang lalu.”tutur receptionist itu dengan tenang.
          “Benarkah?”Alice terkejut.
          “Ya. Silahkan ikuti koridor itu, ruangannya ada diujung koridor”
          “Baiklah terimakasih” Alice tersenyum, lalu segera berjalan mengikuti petunjuk dari receptionist itu.
Sesampainya didepan pintu, seorang pria super modis keluar dari dalam ruangan. Alice terpana melihat pria yang menawan seperti model profesional itu. Tapi penglihatannya tak membuyarkan pikiran Alice tentang tujuan utamanya datang kemari. Kakinya melangkah memasuki ruangan itu, dan duduk seorang pria berkacamata dengan papan bertuliskan Mr.Hitosi Arayaka didepannya.
          “Permisi, saya kemari untuk melakukan wawancara.”kata Alice santun
          “Wawancara sudah selesai 10menit yang lalu. Kau bisa datang lain waktu.”kata Mr.Andi tanpa mengalihkan pandangan pada setumpuk kertas ditangannya.
          “ Benarkah? Tapi bukankah hari ini adalah wawancara terakhir?”
          “Benar sekali”
          “Maaf, apakah saya tidak mempunyai kesempatan untuk wawancara? Sebentar saja, saya mohon.”pinta Alice. Tergambar keputus asaan diwajah Alice. Dalam hati dia berdoa semoga saja Tuhan memberikan keberuntungan padanya.
          “Sayang sekali. Designer yang mencari assisten sudah keluar sedari tadi karena merasa tidak ada yang pantas dengan pekerjaan ini.” Alice terperanjat mendengarkan ucapan Mr.Hitoshi.
          “Tidak bisakah anda memberikan kesempatan untuk saya? Saya mohon, kali ini saja.” Permohonan Alice nampaknya tak diacuhkan oleh Mr.Hitoshi, walaupun begitu Alice terus memohon hingga akhirnya pria berkepala empat itu merasa terketuk pintu hatinya karena gadis ini begitu bersemangat untuk mendapatkan pekerjaan ini.
          “Hmm, baiklah. Aku tidak bisa melakukannya untukmu, karena aku hanya sebagai pendamping disini. Sebaiknya kau menemui Daniel, karena dia sendiri yang akan memilih calon asistennya.” Jelasnya pada Alice.
          “Apa Daniel adalah designer itu? Lalu bagaimana aku bisa menemuinya?” Alice begitu antusias karena merasa masih memiliki kesempatan.
          “Benar. Jika kau beruntung, kau bisa mencari diruangannya kalau dia belum keluar untuk makan siang.”
          “Dimana?”
          “Lantai 6, ujung koridor sebelah kiri.”
          Tanpa basa-basi Alice langsung pergi meninggalkan ruangan dengan langkah seribu. Setelah beberapa meter diluar ruangan, dia merasa melupakan sesuatu hingga membuatnya untuk kembali ke ruangan tadi.
          “Aku hampir lupa, tapi terimakasih banyakTuan Hitoshi.” Alice membuatnya terkejut dan menggelengkan kepala melihat tingkah gadis yang menarik perhatiannya itu.
          Alice berlari menaiki tangga satu per satu karena tidak sabar untuk menunggu lift yang memakan waktunya. Dia sangat bersemangat hingga tanpa sengaja mematahkan hak sepatunya.
          “Oh,, sial. Kenapa harus saat ini!” keluhnya sebal. Alice kemudian melepas sepasang sepatunya, kembali berlari menuju lantai enam. Dengan nafas berat, akhirnya dia sampai ditujuan. Dia memakai sepatunya, mencoba berjalan senyaman mungkin tapi sepertinya sangat mustahil. Pelan-pelan dia mengetuk pintu dihadapannya, tetapi tak ada respon. Dia memutuskan untuk masuk keruangan itu. Nampak seorang pria duduk bersandar dengan bertumpang kakidi sofa merah maroon itu. Selembar kertas dan pensil berada digenggamannya, sepertinya dia sedang tertidur karena bola matanya tertutup rapat.
          “Permisi.”sapa Alice perlahan. Tiba-tiba kedua bola mata itu menatap tajam kearahnya. Alice baru menyadari kalau ternyata dia adalah pria modis yang dilihatnya tadi.
          “Tidak bisakah kau mengetuk pintu! Siapa kau ini?”pria itu ternyata membuat Alice takut.
          “Maaf. Aku sudah mengetuk pintu tadi, tapi tidak ada yang merespon.”Jawab Alice ragu-ragu.
          “Apa maumu?”
          “Aku kemari untuk melakukan wawancara. Bukankah kau yang membutuhkan asisten baru?”
          “Wawancara sudah selesai 30menit yang lalu.”jawab pria itu tak peduli.
          “Tidak bisakah kau memberiku kesempatan?”
          “Tidak.” Pria itu benar-benar menyebalkan bagi Alice.
          Alice menundukkan kepalanya. Seakan merasa sudah tidak ada harapan untuknya. Dia merasa sangat kecewa, terutama pada dirinya sendiri yang tidak bisa bangun tepat waktu karena menjaga ibunya semalaman. Dengan langkah tak berdaya dia mencoba keluar dari tempat itu, tapi sepertinya dia harus mencoba sekali lagi untuk mendapatkan pekerjaan yang selalu dimimpikan olehnya. Untuk yang terakhir kalinya. Dia berbalik, menghampiri pria itu dan menatapnya dengan hasrat dan percaya diri yang tinggi.
          “Aku mohon padamu, paling tidak biarkan aku mencoba. Sekali saja. Aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini.”
          “Kau benar-benar menyita waktuku!” pria itu mendekati Alice dan memberikan selembar kertas dan pensil kepadanya.
          “Buatkan aku sebuah desain untuk fashion showku minggu depan.”perintah pria itu.
          “Desain?” kata Alice tak percaya. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya.

Pikiran Alice sedang menerawang jauh, mencari sesuatu yang bisa menginspirasinya. Beberapa menit berlalu, tetapi dia masih belum menggoreskan sesuatu dikertas itu.
Matanya masih memandang jauh kedepan hingga akhirnya dia mulai menggerakkan jari-jarinya menorehkan pola-pola yang mengagumkan. Sebuah desain gaun yang terlihat anggun dan mempesona tergambar dikertas itu. Pria itu terkejut melihat apa yang ada dihadapannya itu, dia begitu mengagumi goresan Alice.
          “Siapa namamu?” tanyanya pada Alice.
          “Alicia Ayugai.”jawabnya singkat. Penasaran bagaimana reaksi pria ini melihat hasil karyanya.
          “Baiklah Alice, kau harus datang lagi besok pukul 8 pagi” kata pria itu.
          “Apa aku diterima bekerja?”
          “Belum, kau hanya magang disini untuk sementara. Jika kau bekerja keras dan menunjukkan hasil kerja yang maksimal, mungkin aku akan memperkerjakanmu.”jelas pria itu. Kepala Alice menggangguk-angguk, perasaannya kini 180 derajat lebih bahagia dari sebelumnya walaupun masih menjadi karyawan magang. ‘tidak buruk’ pikirnya.
          “Terimakasih, terimakasih banyak.” Kata Alice tak henti-hentinya membukukkan badan pada pria itu. Dengan perasaan luar biasa dia melenggang keluar dari ruangan itu, tapi suara itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
          “Aku harap kau tidak berpenampilan seperti itu lagi.” Pria itu menatap kaki Alice. Alice tersipu malu, meninggalkan sang desainer dalam kesendiriannya.
Keluar dari perusahaan itu, senyumnya terus saja menghiasi wajah cantiknya. Dalam hati, dia bertekad untuk tetap semangat dan berusaha keras memberikan yang terbaik agar bisa diterima bekerja sebagai karyawan tetap ditempat yang diidam-idamkannya itu.

* * *


Gadis itu menyusuri jalanan menuju perusahaan, setelah keluar dari jalur Yamanote  salah satu tempat pemberhentian kereta api di Tokyo. Semua mata tertuju padanya, karena dia begitu memukau hari ini. Saat memasuki perusahaan, dia melihat jam tangan yang masih menunjukkan pukul 7.50. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk menunggu calon atasannya dilobi. Wajahnya masih diselimuti kebahagiaan hari ini. Semua orang yang menatapnya disapanya dengan ramah. Namun waktu terasa begitu lama baginya. Dilihatnya satu per satu orang yang lalu lalang, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda kedatangan calon atasannya itu. Dia baru akan menghampiri receptionist yang kemarin ditemuinya, sampai dia melihat orang yang ditunggu sedari tadi. Dia mengembangkan senyum manis pada pria itu, tetapi tak diacuhkan olehnya. Karena tidak mendapat respon, dia memutuskan untuk mengikuti pria itu. Sesampainya didepan lift, Alice merasa ragu untuk mengikuti pria itu. Saat pintu lift hampir tertutup dia baru berani melangkahkan kakinya bersama pria itu.
          “Ohayo gozaimasu.”sapa Alice pada pria itu. Tetapi tetap saja tak ada respon.
          “Daniel kan? Nama anda Daniel kan?”tanyanya pada pria yang berdiri tepat disampingnya.
          “Menurutmu?” ucap pria itu. Alice merasa takut kalau dia salah menyebut nama karena dia begitu tidak peduli.
          “Maaf tuan,” kata Alice pelan.
          “Panggil saja aku Daniel, dan jangan memanggilku dengan sebutan tuan.” Kata pria itu.
          “Baiklah. Maafkan saya.”
          “Kau tidak perlu terpaksa memakai bahasa formal saat dikantor.”kata Daniel dengan angkuhnya.
Alice menghembuskan nafas lega walaupun merasa sebal, karena ternyata dia tidak harus bersusah payah bicara dengan bahasa formal padanya.
          Keduanya keluar dari dalam lift, Alice mengikuti Daniel dari belakang menuju keruangannya. Tidak seperti hari kemarin, sekarang ada dua meja kerja diruangan Daniel.
          “Mejamu sebelah sana.”Daniel menunjuk meja kerja yang berada dipinggir jendela.
          “kalau kau ingin lama berada disini kau harus mengikuti peraturan yang sudah kubuat.”
          “Apa peraturannya?”tanya Alice, mendekatkan dirinya pada Daniel.
          “Pertama, kau harus selalu membawakan aku 1 cup cappucino setiap pagi, membersihkan ruangan ini, dan jangan sampai kau datang terlambat,, ” Daniel menarik nafas panjang.
          “Kedua, jangan pernah menyentuh barang-barangku atau memindahkannya dari tempat semula..“
          “Ketiga, kerapian adalah prioritas utama bagiku. Kau juga harus tampil rapi dan jangan berpakaian seperti gadis biasa karena kau adalah asisten seorang designer terkenal..”
          “dan yang terakhir, dilarang keras bertingkah bodoh atau konyol saat bersamaku.” Wajah Daniel kini berada 5 cm didepan wajah Alice, membuatnya bergidik karena merasa ngeri.
          “Hanya itu?” Tanya Alice mencoba untuk tetap tenang.
          “Ya. Tapi tidak akan mudah dilakukan oleh gadis sepertimu.”katanya meremehkan.
          “Baiklah, aku sanggup melakukan semua itu.” Alice menuju meja kerjanya. Mengecek semua berkas yang kini ada diatas mejanya, dengan gesit. Tapi mata itu terus menatap tajam kearahnya. Alice menyadari sesuatu dan segera beranjak dari duduknya, keluar dari ruangan itu.


          Dia berjalan cepat menuju kantor, setelah 1 cappucino dan 1 hot chocolate berada ditangannya. Dia ternyata berada dalam satu lift dengan Mr. Andi.
          “Ohayo gozaimasu.” sapa Alice. Tuan Hitoshi menjawab dengan senyuman.
          “Bagaimana pagimu?” tanya Tuan Hitoshi.
          “Tidak buruk,Tuan.”Kata Alice.
          “Ini baru permulaan Alice.”
          “Anda tahu namaku?” ekspresi heran dan terkejut tergambar diwajah Alice.
          “Tentu saja, siapa yang tidak tahu dirimu dikantor ini. Kau harus terus berusaha dan bersabar menjadi asisten Daniel. Kau tahu? Dia adalah seorang yang paling perfeksionis disini.”jelasnya. Alice membenarkan kata-kata terakhir dari Tuan Hitoshi tadi.
          “Terimakasih Tuan atas sarannya.”Alice tersenyum ramah.

          Daniel sedang sibuk dengan kertas-kertasnya saat Alice memasuki ruangan. Diberikannya cappucino itu pada Daniel.
          “Bagaimana menurutmu?” Daniel menunjukkan satu desainnya pada Alice. Dia tersenyum melihat desain itu.
Ii desu ne1.”kata Alice.
“Kalau begitu ambilkan aku barang-barang yang yang ada dikertas ini.” Daniel menyerahkan secarik kertas pada Alice. Disitu tertulis alat dan bahan yang biasa digunakan untuk membuat pakaian.
“Sebanyak ini? Sendiri?”tanya Alice ragu.
“Ya.” Daniel meneguk cappucinonya. Alice mengerutkan dahinya, dan mengetuk-ngetukkan jari dibirnya.
“Emm, sepertinya kau harus cepat, karena aku akan mengerjakannya satu jam lagi.”
“Apa?” alice terkejut bukan main. Diambilnya tas dan ponsel diatas meja lalu melesit keluar dari ruangan itu.

Sekarang Alice benar-benar kerepotan membawa barang sebanyak ini. Keluar dari toko perlengkapan, tas-tas ditangannya dijatuhkan ketanah.
“Hahh, menyebalkan sekali. Kenapa sebanyak ini.” Keluhnya kesal. Dia menoleh kekanan dan kekiri. Mencari taksi yang masih kosong karena tidak mungkin dia berjalan kaki dengan banyak bawaan seperti ini. Setelah menunggu selama lima belas menit, sebuah taksi berhenti dedepannya. dengan susah payah dimasukkannya barang itu satu per satu dan kini Alice bisa duduk dengan tenang. Untuk saat ini.

Saat Alice membuka pintu, seorang wanita sexy sedang berbicara pada Daniel dengan mesranya. Karena terkejut dengan pemandangan itu, Alice menjatuhkan barangnya dan membuatnya berserakan dimana-mana. Melihat kejadian itu, mata Daniel memancarkan amarah kepada Alice. Menyadari akan hal itu, segera Alice mengumpulkan barang yang berjatuhan tadi.
“Siapa itu?”tanya wanita itu.
“Hanya asisten magang.”jawab Daniel meremehkan. Wanita itu memicingkan matanya kearah Alice.
“Aku harap dia tidak mencoba menarik perhatianmu seperti yang dilakukan asistenmu terdahlu.” 
“Tenang saja. Aku tidak akan tertarik dengan gadis seperti itu. Lagipula, dia tidak akan bertahan lama disini.” Keduanya tertawa dengan lepas. Menertawakan Alice yang terlihat menyedihkan. Dalam hati, Alice menahan amarahnya karena merasa diremehkan oleh mereka. Kini dia bertekad akan membuktikan kepada semua orang terutama mereka berdua bahwa Alice bukanlah gadis biasa yang hanya bisa diam ketika seseorang meremehkannya. Suatu saat nanti dia akan membuktikan bahwa dia bisa menjadi seorang designer yang terkenal, tetapi tidak mau menjadi seseorang yang angkuh dan sombong seperti Daniel.

          Saat jam makan siang, Alice menghabiskan waktunya ditaman dengan segelas hot chocolate kesukaannya. Dia sedang berfikir, dan menenangkan diri setelah setengah hari bekerja keras.
“Hei, karyawan magang ya?” tanya seorang pria yang sedang bertumpu siku dibangku tempat Alice duduk.
“Iya.”
“Apa aku boleh duduk?”
“Silahkan.” Kata Alice. Merasa ketenangannya terusik, dia memutuskan untuk beranjak dari tempat itu.
“Mau kemana kau, apa aku mengganggumu?”
“Tidak, aku hanya ingin ketoilet sekarang.”jawab Alice berbohong.
“Oo baiklah. Aku Dai hiroyuki, Siapa  namamu?”pria itu melambaikan tangannya.
“Alice.” Jawabnya singkat.
“Senang berkenalan denganmu Alice.” Pria itu melemparkan senyumnya pada Alice dan Alice membalas dengan senyuman.
Dia memang pria yang ramah dan terlihat baik. Sangat berbeda dengan Daniel.

Dari balkon ruangannya ternyata Daniel diam-diam sedang memperhatikan Alice. Entah apa, tapi dia merasa kalau gadis itu berbeda dengan gadis lain.
Dering ponsel mengalihkan dirinya yang sedari tadi hanya tertuju pada Alice.
“Hallo?”jawabnya setelah mengangkat telepon itu.
“Apa! Dimajukan? Kenapa sangat mendadak, aku tidak mungkin menyelesaikannya dalam waktu dua hari!” Daniel terlihat sangat gelisah.
“Baiklah. Nanti aku kabari.”
Pria itu melangkahkan kaki keluar dari ruangannya dan bertemu dengan Alice saat dilantai dasar.
“Ikut aku.” Daniel menarik tangan Alice. Betapa terkejutnya Alice yang tiba-tiba saja dikagetkan oleh orang yang sempat memberikan tekanan baginya tadi.
“Kemana?”Pertanyaan Alice tak diacuhkan oleh Daniel. Alice kini termenung sedang memikirkan apa yang akan terjadi padanya. ‘apa aku melakukan kesalahan lagi?’ tanyanya dalam hati.
          Daniel memacu mobil sportnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Alice merasa ketakutan.
“Tidak bisakah kau mengurangi kecepatan berkendaramu?”Alice berteriak.
Daniel menatap tajam kearah Alice dan menambah kecepatan mobilnya. Alice hanya bisa menahan agar tidak mual saat ini, dan rasa bencinya pada Daniel semakin bertambah sekarang.
Daniel bergegas meninggalkan mobilnya saat sampai didepan sebuah apartemen. Dengan lunglai Alice mengikutinya dari belakang.
“Kenapa kita kesini?”tanya Alice.
“Tidak bisakah kau diam?!” Daniel berteriak.
Mereka berdua sampai didepan pintu sebuah apartemen dan Daniel memasukkan kunci dilubang pintu itu. Satu set tempat tidur besar dan berbagai lukisan menggantung indah didinding tempat itu. Daniel membuka sebuah lemari besar dan mengeluarkan barang yang dibutuhkannya.
“Ini apartemenmu?”lagi-lagi Alice bertanya.
“Bantu aku membawa ini.” Daniel tak menjawab pertanyaan Alice tetapi malah menyuruhnya.
“Ha? Lagi?? Bukankah aku sudah membelinya tadi.”Alice mengeluh. Daniel mengambil tas besar dan memasukkan barangnya. Dengan terpaksa Alice membawa gulungan-gulungan kain yang berat itu sendiri. Sungguh melelahkan baginya.
          “Fashion show dimajukan dua hari lagi.”kata Daniel memecahkan keheningan diantara mereka. Alice menoleh pada Daniel.
“Secepat itukah?”
“Ya. Dan tidak mungkin bagian produksi mampu menyelesaikan semua pakaian dalam waktu secepat itu.”Daniel mencoba untuk tetap tenang walaupun adrenalinnya sedang terpacu saat ini.
“Jadi,kita akan membuat pakaian itu juga?”Alice tidak percaya. Akan semakin berat tugasnya kini.
“Benar.”
“Semuanya?”Alice semakin menaikkan nada bicaranya.
“Tidak. Hanya yang paling terbaik saja yang akan kita buat. Aku sudah memutuskan untuk menampilkan masterpiece-kusaat fashion show besok.”Daniel merasa antusias tapi juga terlihat panik, sementara Alice hanya memandanginya dengan wajah pasrah.


* * *

Alice sedang membuat pola hiasan untuk memperindah gaun ketika Daniel sedang sibuk menentukan measurement2 modelnya. Matanya sesekali menatap tajam pada dua orang yang sering memandang rendah dirinya, hingga tangannya tertusuk jarum yang sedari tadi dimainkannya.
“Aku harap kau tidak merusak karyaku.”ucap Daniel yang kemudian berjalan kearah Alice dan melihat hasil kerjanya.
“Aku sudah melakukan yang terbaik.”
“Kau bilang yang terbaik? Kau bahkan tidak mengikat jahitannya.” Daniel mendekatkan hiasan pada Alice setelah mengamatinya. Alice tidak menyangka kalau Daniel sedetail itu memperhatikan setiap jahitan dan pola yang ada.
“Apa kau mau makan siang bersama?” tanya model itu yang kemudian bergelayut mesra pada Daniel.
“Oh maafkan aku Marissa, tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Mungkin lain kali.”
“Baiklah, jika itu maumu.” Model yang ternyata bernama Marissa itu beranjak pergi dan melemparkan tatapan tajam pada Alice sebelum meninggalkan ruangan.
Daniel tidak hanya sekedar designer yang terkenal, dia juga profesional dalam setiap pekerjaannya. Apalagi disaat-saat seperti ini, yang mengharuskannya untuk terus bekerja mengingat waktunya hanya tinggal satu hari menjelang fashion show.
Dengan hati-hati dan ketelitian yang tinggi dijahitnya pola-pola sesuai dengan ukuran modelnya. Ruangan kerjanya sekarang dipenuhi dengan kain dan pernak-pernik  yang berserakan dimana-mana. Itu membuat pekerjaan Alice semakin melelahkan sekarang.


Kini, kedua orang itu sedang duduk berhadapan disebuah cafe didekat perusahaan. Tak sedikitpun kata keluar dari mereka selain suara dari orang-orang yang juga sedang makan siang.
Alice memperhatikan bagaimana Daniel menyantap makan siangnya. Sangat taratur, rapi dan bersih. ‘Begitu menggelikan’ pikir Alice, melihat seorang pria sangat memperhatikan setiap detail akan sesuatu. Seperti orang dihadapannya ini.
“Apa kau sudah selesai?”Daniel membuka suara.
“Ya.” Alice meneguk hot chocolatenya.
“Kalau begitu kita harus segera menuju ke tempat fashion show untuk menyiapkan segalanya.”jelas Daniel yang hanya ditanggapi dengan anggukan oleh gadis itu.


Sesampainya disana, mata Alice terkagum-kagum melihat betapa megahnya panggung itu. Baru kali ini dia melihat secara langsung panggung yang biasa digunakan untuk fashion show perusahaan D-style selain diTelevisi.
“Luar biasa.”katanya takjub
“Dasar. Ini belum apa-apa bodoh.”sahut Daniel. Seketika itu pula kekaguman Alice sirna ketika mendengar ucapan Daniel.
Daniel memimpin jalan menuju keruangan dibelakang panggung. Disitu terlihat berbagai macam orang dengan profesi yang berbeda-beda. Dalam hati, Alice tahu bahwa mereka adalah sekumpulan orang yang terkenal dari berbagai penjuru dunia. Banyak model yang luar biasa cantiknya sedang berlatih berjalan diatas catwork. Ada juga model pria yang sangat sexy dan membuat Alice terpana melihatnya. ‘sangat perfect’ batin Alice.
“Buatkan aku proposal dan susunan acara fashion show untuk besok.”ucap Daniel ketika duduk disebuah kursi diruangan itu.
“Baiklah. Apa saja yang diperlukan untuk besok?”tanya Alice, sambil mengeluarkan catatan kecilnya.
“Ini bukan fashion show biasa, karena para pengusaha dan orang-orang penting diJepang akan berdatangan menyaksikan fashion show ini. Jadi kau harus membuatnya semenarik mungkin.”
“Begitu ya. Bagaimana kalau kita mengambil tema malam berbintang? Dan aku pikir akan lebih menarik jika kita mendatangkan penyanyi atau musisi terkenal untuk mengiringi para model ketika sedang berjalan diatas catwalk.” Alice menopangkan bolpoin didagunya dengan mata menatap jauh. Daniel merasa tertarik dengan ide itu, dia menyetujui konsep yang dijelaskan oleh Alice.
“Ingat. Jangan sampai kau mengacaukannya besok. Kau bisa meminta orang kantor untuk untuk membantumu.”
“Aku mengerti.” Jawab Alice tenang.


Seampainya dikantor, Alice menyusun semua konsepnya secara matang. Dia sudah meminta bantuan Mr.Andi untuk menghubungi penyanyi yang akan tampil besok malam. Sekarang ini, dia sedang menuju ke ruangan direktur perusahaan untuk memintakan tanda tangan terhadap perlengkapan yang dibutuhkannya besok.
Alice mengetuk pintu dengan pelan dan memasuki ruangan.
“Permisi Tuan Tatsuya,” Alice memberikan hormat.
“Iya, silahkan duduk.”
“Saya kemari untuk ini.” Alice menyerahkan berkasnya diatas meja.
“Wow, sebanyak ini. Bukankah kita hanya akan mengadakan fashion show?”
“Benar Tuan, tapi saya sebagai asisten magang disini ingin memberikan nuansa yang berbeda saat fashion show besok. Saya harap Tuan mau mendukung jalannya acara ini dengan memberikan semua perlengkapan yang saya butuhkan.” Alice menjelaskan dengan sopan. Dia benar-benar berharap akan kebaikan hati Tuan Tatsuya ini.
“Baiklah.”Tuan Tatsuya menorehkan tanda tangannya diberkas itu.
“Terimakasih banyak Tuan.” Kata Alice.
“Sama-sama. Berjuanglah, apalagi kau bekerja dengan seorang Daniel yang angkuh itu.”Tuan Tatsuya menyunggingkan senyum diwajah rentanya.
Ternyata Tuan Tatsuya juga menyadari bahwa Daniel adalah seorang designer yang angkuh. Alice merasa mendapat rekan yang sependapat dengannya.

Alice masih sibuk dengan proposalnya ketika Daniel beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7.50 dan kantor sudah sepi sekarang. Dia membereskan mejanya dan mengambil tas untuk kembali pulang.
Ternyata sedang hujan deras diluar sana. Alice terpaksa harus menunggu hingga hujannya berhenti didepan kantor.
“Hei, kau lagi. Baru pulang?”tanya seorang pria yang dua tahun lebih tua darinya. Dia adalah Dai.
“Iya.”Alice menyunggingkan senyum.
“Sungguh melelahkan bukan, bekerja dengan Daniel?”
“Menurutmu?”
“Sepertinya kau juga merasa begitu. Aku sangat kerepotan menyiapkan semua properti yang dibutuhkan untuk fashion show besok.” Dai meregangkan otot-otot punggungnya.
“Eee, sebenarnya aku yang mengusulkan itu, bukan Daniel.” Alice meralat ucapan Dai.
“Benarkah? Maaf kalau begitu.”
“Tidak masalah, harusnya aku yang minta maaf karena telah menyusahkanmu.” Alice menundukkan kepala padanya.
Melihat Alice yang sepertinya kedinginan, Dai melepas jasnya dan memakaikannya pada Alice.
“Oh, tidak usah. Aku tidak mau merepotkanmu.”Alice menepis tangan pria itu.
“Tidak apa. Kau lebih membutuhkan daripada aku. Aku tidak mau melihatmu pingsan kedinginan. Itu lebih merepotkan bukan?” pria itu tertawa pelan.
“Terima kasih.” Alice ikut tertawa.
“Kau tahu, aku merasa kalau kau sangat berbeda.”
“Maksudmu?”Alice tak mengerti arah pembicaraan mereka.
“Ya, kau berbeda. Berbeda dari gadis lainnya, kau lebih istimewa.” Dai menatap dalam kemata Alice, gadis itu menjadi salah tingkah dibuatnya.


Orang-orang sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Daniel sangat panik mengetahui bahwa asisten magangnya belum datang disaat-saat denting seperti ini.
“Oh, maaf aku terlambat.” Alice datang dengan nafas terengah-engah.
“Darimana saja kau! Kau bisa mengacaukan semuanya.” Daniel terlihat sangat marah.
“Maafkan aku, aku harus kedokter karena tidak enak badan hari ini.”
“Dasar bodoh!” Daniel berlalu meninggalkan Alice.
Gadis itu tidak tinggal diam walaupun kondisi badannya sedang tidak mendukung. Dia turut serta membantu karyawan-karyawan bagian properti menyusun semua perlengkapan dan semua yang dibutuhkan. Alice berlari kesana kemari membawa lampu-lampu berbentuk bintang dan merapikan kursi penonton, dia juga memberi pengarahan kepada bagian pencahayaan dan musik instrumen agar saat fashion show nanti malam semuanya berjalan lancar.


Jam menunjukkan pukul 7 malam ketika Tuan Tatsuya membuka acara malam ini. Setelah acara pembukaan, para model berlenggang dengan solois Yui yang menyanyikan Goodbye Day’s mengiringi langkah mereka. Acara dilanjutkan oleh artis lainnya hingga dipenghujung acara, yang kemudian ditutup oleh penampilan desainer Daniel S’bastian yang menggandeng model terkenal Marissa kitagawa dengan pakaian karya terindahnya malam ini. Suara tepuk tangan mengiringi langkah mereka berdua.
Dari belakang panggung dimeja Daniel, Alice mengetahui betapa luar biasanya mereka. Tidak sia-sia dia bekerja keras dan mendapat teguran menyakitkan dari Daniel. Tetapi tubuh Alice sekarang sangat lemah dan sakit karena terlalu memaksakan diri. Suhu badannya sangat tinggi dan pandangannya mulai gelap hingga dia tak sadarkan diri.


* * *

Alice terbangun setelah hampir setengah hari tak sadarkan diri. Dilihatnya sekeliling, tapi tak seorangpun dia jumpai. Alice merasa sudah tak asing lagi dengan tempat ini, apartemen Daniel.
Kakinya menuruni tempat tidur dan berkeliling kamar untuk sekedar jalan-jalan. Matanya teralihkan oleh lemari yang berisi buku-buku, dan mengamatinya sebentar sebelum menuju kesebuah ruangan yang sedikit tersembunyi. Ternyata disitu berisi pakaian dan segala perlengkapan yang dipakai Daniel setiap hari, ada sepatu, dasi, topi, jas dan baju kasual lainnya.
Alice terkejut ketika tiba-tiba pintu itu terbuka.
“Kau sudah sadar?” Daniel meletakkan kantong plastik diatas meja. Alice sedikit asing dengan Daniel yang ada dihadapannya, dia sangat kasual seperti pria pada umumnya yang membuat dia tampak lebih keren dimatanya.
“Ya. Apa yang terjadi? Dan kenapa aku bisa disini?” alice menyandarkan tubuhnya disofa.
“Kau tidak ingat sama sekali?” Daniel membuka kantong plastik dan menyodorkan sekotak makanan kepada Alice.
“Emm, aku hanya ingat ketika aku duduk ditempatmu karena lelah.”
“Kau pingsan. Dan itu sangat merepotkan semua orang terutama diriku.”tegas Daniel.
“Kau yang membawaku kemari? Aku kira kau malah akan membiarkanku begitu saja.” Alice bicara sangat ketus hingga membuat Daniel menatap tajam kearahnya.
“Apa aku terlihat seperti orang yang sangat kejam, huh?!”Daniel sedikit berteriak.
“Tentu saja.” Alice begitu santai berbicara, sedangkan Daniel merasa mati gaya sekarang.
Daniel beranjak dari duduknya, menuju meja disudut ruangan dan kembali dengan menyerahkan sebuah dokumen kepada Alice.
“Tanda tangan disini.”
“Apa ini?”Alice penasaran.
“Kau menerimaku sebagai asistenmu? Karyawan tetap? Haha, Aku benar-benar tak percaya.” Alice dengan semangat yang menggebu menandatangani kontrak itu.
“Ini karena kau telah bekerja keras kemarin.” Daniel meneguk minuman ringannya. Karena sangat senang Alice dengan spontan memeluk Daniel.
“Oh, maafkan aku. Tapi terimakasih banyak.” Alice merasa kikuk.
“Jangan berlebihan.”protes Daniel.
Alice menundukkan kepalanya karena malu. Ingat kalau dia belum makan dan perutnya keroncongan, dengan lahap Alice menghabiskan makanan itu. Tanpa sepengetahuan Alice, Daniel terus mengamatinya dan tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu.
“Oh ya, apa kau selalu sedetail itu dalam apapun?”tanya Alice setelah meneguk minumannya.
“Maksudmu?”Daniel tak berpaling dari majalah ditangannya.
“Emm itu, kau memperhatikan setiap detail dalam menyusun atau mengerjakan sesuatu. Seperti kau menyusun buku-buku itu dari abjadnya dan ketika kau menempatkan setiap pakaianmu sesuai dengan warna dan kualitas bahannya. Walaupun kau terlihat keras, tapi ternyata mengoleksi komik adalah hobbymu.” Alice menjelaskan dan tersenyum dengan ucapannya sendiri.
“Apa yang kau lakukan tadi? Apa kau mengacak-acak kamarku?” daniel mendekatkan wajahnya pada Alice, membuat gadis itu ketakutan.
“A aku hanya melihat-lihat tadi. Maafkan aku.”
“Jangan pernah sekali-kali kau meyentuh barangku.” Daniel memperingatkan.
Alice hanya menganggukkan kepala tanpa berani menatap kearahnya. Dia sangat tidak memahami Daniel, si ‘untouchable man’ baginya.


* * *

Wanita paruh baya itu sedang terbaring lemah diranjangnya. Alice yang belum sempat ganti baju, sedang tertidur ditepi ranjang ibunya.
“Alice, kau belum pulang?” suara parau itu membangunkan Alice.
“Belum bu, aku masih ingin menemani ibu.” Tangannya membelai lembut wajah wanita itu.
“Bagaimana pekerjaanmu?”
“Baik bu, aku bahkan sudah menjadi asisten designer tetap disana.” Alice memancarkan rona bahagia.
“Syukurlah, kau harus terus berjuang agar semua mimpimu bisa terwujud Alice. Pulanglah, kau bisa datang lagi besok.” Wanita itu menggenggam tangan Alice.
“Aku masih ingin menemani ibu. Oh ya, hari ini kan hari ulang tahun ayah. Benar kan bu?” perkataan Alice itu membuat ibunya terharu.
“Kau masih mengingatnya? Padahal sudah terlalu lama kita hidup tanpa ayahmu.” Alice tertegun.
“Tentu saja. Dia tetap ayahku.” Alice menundukkan kepalanya.
“Pulanglah. Kau tidak boleh bangun kesiangan lagi karena semalaman menjaga ibu.”
“Baiklah bu, aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik.” Kecupan Alice mendarat dikening wanita itu.
Alice keluar dari rumah sakit. Gerimis sedang melanda daerah ini, tapi tak mencegah gadis itu untuk menembusnya dikegelapan malam.
Saat sampai dipertigaan jalan, sebuah mobil BMW berhenti tepat disampingnya. Seorang pria yang sudah tak asing lagi baginya keluar dari mobil dan menghampiri Alice.
“Dai?” Alice mengerutkan dahinya.
“Hei Alice, dari mana kau? Ayo kuantar pulang.” Pria itu heran melihat Alice berjalan sendirian.
“Oh, tidak, terimakasih. Aku akan menunggu bus disana.” Tangan Alice menunjuk sebuah halte yang tak jauh dari mereka.
“Ditengah hujan seperti ini? Ayolah, aku tak mau kau jatuh pingsan lagi.” Pinta Dai.
Alice masih menimang-nimang antara mau atau tidak. Dengan memikirkan kondisi tubuhnya dan cuaca malam ini, dia akhirnya menuruti ajakan pria itu.
Dai membukakan pintu untuk Alice. Didalam mobil, suasana begitu hening. Pria itu memutuskan untuk menyalakan mp3 agar tidak membuat kondisi semakin canggung diantara mereka berdua.
“Dari mana kau?” Dai menatap sebentar kepada Alice.
“Rumah sakit.” Alice menggosokkan telapak tangannya karena kedinginan.
“Apa kau sakit.” Dai meletakkan punggung tangannya didahi Alice.
“Wou, kau kedinginan. Pakailah.” Pria itu melepaskan jaketnya dan memberikannya pada gadis disampingnya.
“Lagi-lagi kau sangat baik padaku. Terimakasih.” Ucap Alice.
Alice merasa ada yang berbeda dengan pria disampingnya. Dia lebih hangat, dan penuh perhatian. Sepertinya dia mampu mencuri perhatian Alice. Dalam diam, Alice memperhatikan Dai, tapi gadis itu melemparkan pandangannya saat pria itu menatapnya.
Mobil itu tidak langsung menuju kerumah Alice, tetapi berhenti di pedagang makanan pinggir jalan.
“Apa kau lapar? Aku akan membeli ramen, kau mau?” pria itu meletakkan tangannya diatas punggung tangan Alice, membuat wajahnya menjadi merah merona.
“baiklah” jawab Alice.
Dimalam yang disertai rintikan air hujan, dua orang itu sedang menikmati santapannya ditengahhawa dingin yang menusuk tulang. Mata mereka saling beradu pandang. Tak segan-segan, mereka saling melempar senyum manis.
“Emm, bagaimana pekerjaanmu?” Dai memulai pembicaraan.
“Lumayan.” Alice memakan ramennya dengan lahap.
“Lumayan? Hanya itu?” Pria itu memandangi Alice sambil tertawa.
Alice pun mengerutkan dahinya, dan menghabiskan suapan terakhirnya.
“Ya. Apa ada lagi? Menurutmu.”
“Aku kira kau menjadi frustasi bekerja dengan orang seperti Daniel. “ Dai menimang-nimang lagi ucapannya. “Oh, jangan-jangan kau malah terpesona dibuatnya, benarkan?” pria itu menunjukkan sumpitnya tepat diwajah Alice yang membuatnya menjaga jarak.
“Kau gila ya! Mana mungkin orang seperti itu bisa membuatku terpesona. Aku juga tidak merasa frustasi bekerja dengannya. Kau tahu? Jika kau bersungguh-sungguh dan menyukai apa yang kau kerjakan, kau pasti akan diberi kemudahan walaupun kau berada dikondisi yang sangat sulit sekalipun.” Gaya bicara Alice seperti orang bijak kebanyakan. Membuat pria didepannya menahan tawa.
“Baiklah, aku mengerti. Kau memang gadis yang sulit ditaklukkan, bahkan oleh manusia sempurna seperti Daniel. Kuhargai itu.” Gemuruh petir dilangit membuat Alice merinding karena dingin dan ketakutan. Tapi pria itu mampu menjadi penenang disaat-saat seperti ini.
“Tidak ada yang sempurna didunia ini. Bahkan para dewa sekalipun.” Tutur Alice, melipat kedua tangannya diatas meja, meneguk sake3-nya.
“Ya. Tapi apa kau tidak tahu kalau banyak gadis yang tergila-gila dan ditaklukkan olehnya?” Dai penasaran.
“Tidak, dan aku tidak peduli.” Alice sama sekali tak memberi respon dengan ucapan Dai, karena sedikitpun dia tidak merasa tertarik dengan orang seperti Daniel yang selalu meremehkannya. Hal ini membuat pria dihadapannya itu tertegun akan keteguhan hati dan semangat juang gadis itu.

* * *

Suasana kantor masih sepi. Alice sengaja datang lebih pagi dan duduk ditaman tempatnya biasa menyendiri. Dengan 1 cup cappucino disampingnya, Alice meneguk hot chocolate yang ada digenggamannya. Dia tak peduli kalau minuman wajib Daniel setiap pagi itu akan dingin karena terlalu lama dibiarkan.
“Apa kau selalu bersembunyi disini saat suasana hatimu buruk?” suara itu membuatnya tersedak karena hot chocolatenya.
“Apa yang kau lakukan disini?” Alice balik bertanya. Daniel mengambil cappucinonya  dan duduk disebelah Alice. alice menjadi gusar dalam duduknya karena kehadiran makhluk tak diundang itu.
“Hanya minum cappucino.” Daniel meneguk minumannya dengan santainya. ‘pertanyaan bodoh’ batin Alice.
Alice tak bisa berkutik karena kehadiran Daniel disampingnya. Entah salah tingkah atau merasa tidak nyaman, gadis itu tidak bisa tenang.
“Apa kau merasa grogi aku duduk disampingmu?” pria itu memutar-mutar gelas plastik ditangannya.
“A Apa? Tentu saja tidak.” Alice menundukkan kepalanya.
“Benarkah?” Daniel mendekatkan wajahnya kepada Alice dengan tatapan mautnya. Bahkan sangat dekat hingga membuat Alice berteriak.
“Kyaa! Apa yang kau lakukan, bodoh?!” suara Alice membuat semua orang yang lalu lalang menoleh kearah mereka berdua. Ternyata Daniel hanya ingin mengusap sisa hot chocolate yang ada diujung bibir Alice.
“Kau bisa terlihat memalukan karena ini.” begitu kata Daniel sambil menunjukkan ujung jari telunjukknya. Adegan itu membuat jantung Alice berdetak dua kali lebih cepat. Diat terus memandangi pria yang berjalan meninggalkannya, tanpa disadari wajahnya menjadi merah.

Mata Daniel terus menatap kearah gadis yang sedang di make-up itu tanpa memperhatikan sekitarnya. Ruangan ini kini dipenuhi oleh orang-orang yang ingin  memuaskan rasa penasarannya.
“Kenapa harus aku?” Alice merengek dengan wajah menyedihkan. Mendengar perkataan Alice yang sudah berkali-kali diucapkannya itu, dia hanya menghela nafas panjang.
“Kau hanya perlu berpose dan tersenyum pada kamera. Tidakkah itu mudah?” Daniel menaikkan nada bicaranya.
“Mudah katamu? Aku bahkan tidak pernah melakukannya, dasar bodoh!” teriakan Alice membuat penata rias itu menjaga jarak darinya karena takut.
“Berhenti memanggilku seperti itu. Jika bukan karena model kita yang tak ada kabar, kau juga tidak akan seperti ini.” Pria itu mendengus sebal.
Diantara kerumunan itu, seorang asisten penata rias dan cameraman sedang asyik membicarakan mereka berdua.
“bukankah mereka terlihat seperti pasangan yang serasi?” tanya Ass. Penata rias itu.
“Huh? Emm, entahlah. Tapi mereka seperti anjing dan kucing saja. Kau tahu? Gadis itu begitu mengagumkan, sangat cocok menjadi seorang model. Jika aku jadi pria itu, aku akan langsung mengajaknya untuk menikah denganku.” Tanpa disangka ternyata obrolan mereka berdua menarik perhatian Daniel. Dia yang mendengarnya menatap orang itu seperti seseorang yang berkata ‘mau mati kau ya!’ sepertidifilm-film action. :D

Ini sudah baju keempat yang dipakai Alice. Dia menunjukkan bakat terpendamnya setelah mendapat bertubi-tubi teguran yang menyakitkan dari Daniel. Saat Alice sedang sibuk dengan pose-nya, tiba-tiba saja seseorang datang dan menariknya keluar dari tempat itu.
“Apa yang kau lakukan gadis sialan!” wanita itu menjatuhkan tamparannya dipipi Alice yang membuatnya terbakar emosi.
“Hei! Apa kau gila?” Alice tidak terima dengan perlakuan wanita itu. Tanpa kompromi, wanita itu mengacak-acak rambut Alice dengan kasarnya.
“Tak seharusnya kau merebutnya dariku. Hanya aku yang bisa melakukan ini, dasar  gadis sialan!”
“Hentikan!” Alice berteriak, tapi wanita itu malah semakin menjadi dan terus memberikan pukulan pada Alice.
Daniel yang melihat asistennya diperlakukan seperti itu merasa tidak terima dan mendorong Marissa untuk menjauh.
“Apa yang kau lakukan ,huh?” Pria itu menjauhkan Alice darinya.
“Aku yang harusnya bertanya. Tak seharusnya kau menggantikanku dengan gadis murahan seperti itu!.” Daniel tidak terima dengan ucapan Marissa. Wanita itu terus menyerang Alice. Membuat semua orang mengerumuni mereka. Ini seperti tontonan menarik bagi mereka semua.
“Kau yang tidak tahu diri! Sudah untung dia mau menggantikan posisimu karena kau tidak memberi kabar saat kuhubungi.” Wanita itu tak bergeming. Dia merasa sangat bodoh sekarang.
“Lihat akibat perbuatanmu. Kau mengacaukan semuanya. Aku bisa saja menggantikanmu untuk selamanya. Ingat itu!.”
“Lakukan saja!” tantang wanita itu.
“Dasar wanita jalang!” Daniel menampar wanita itu dengan kerasnya.
Pertengkaran antara mereka terus saja memuncak. Mereka berdua sama-sama keras kepala dan egois. Alice yang sudah tidak tahan dengan kondisi itu, memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka dengan bercucuran air mata diwajahnya.

Ini merupakan pukulan berat bagi Alice. Baru kali ini dia diperlakukan seperti itu,  bahkan ibunya tak pernah seperti itu terhadapnya. Dibangku taman yang sepi ini, dia menangis sejadi-jadinya. Tak peduli riasannya akan luntur atau apapun, dia hanya ingin menumpahkan semua yang mengganjal dihatinya. Toh, wajahnya sudah berantakan karena perlakuan wanita gila tadi.
Untuk sesaat, semua beban dihatinya serasa menghilang begitu saja. Selalu disaat yang seperti ini, sosok itu hadir disamping Alice. memberikan ketenangan dan pelukan hangat untuk dirinya. Dipelukan pria itulah Alice merasa lebih baik walaupun masih menangis tersedu-sedu.
“Tenanglah. Keluarkan apa yang ingin kau keluarkan. Menangislah jika itu membuatmu tenang.” Kata pria itu, membuat tangis Alice semakin menjadi-jadi.
Tampak dikejauhan, Daniel merasa sangat bersalah dan menyesal karena tak bisa berada disamping Alice disaat dia terpukul karena kesalahannya. Dia merasa bodoh, membiarkan orang lain selalu hadir saat dirinya tak bisa menjadi pelipur lara bagi gadis itu. Kini, dia hanya bisa menatap Alice dari kejauhan menangis dipelukan pria lain.

* * *

Burung-burung bernyanyi melantunkan lagu bahagia. Gadis itu mencoba membuka matanya dengan sekuat tenaga. Diregangkannya otot-otot tubuhnya dan berdiri didepan jendela kamar. Dalam-dalam,dihirupnya udara segar pagi itu. Jam dinding masih menunjukkan pukul 6.30, masih banyak waktu sebelum dia menghabiskan waktunya untuk bekerja dikantor. Tepat saat dia mengedarkan pandangannya dipekarangan depan rumah, sesuatu mengganggu panglihatannya. Sebuah mobil sport merah terparkir elegan dengan seorang pria tampan didalamnya.
“Huh? Apa yang dilakukannya disini?” gadis itu bertanya seolah ada yang diajak bicara.
Dengan langkah pelan, dia menuju kepekarangan.
“Hei, sedang apa kau?” gadis itu menguap lebar.
Entah terkejut atau apa, Daniel heran dengan penampilan Alice. Dilepaskan kacamatanya dan dilihatnya gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Apa kau Alice?” tanyanya heran. Dia keluar dari mobil, memandangi gadis itu lagi dan lagi.
“Memangnya siapa lagi? Darimana kau tahu rumahku?” Alice bersandar dimobil itu.
“Justru aneh jika aku tidak tahu alamatmu, dasar bodoh!” pria itu meluncurkan ujung jarinya dengan keras kekepala Alice.
Suasana senyaman itu, mampu membuat pria itu lupa akan masalah duniawi dan karirnya. Dia menikmati tempat ini. Ditempat yang sangat sejuk dan jauh dari kebisingan yang setiap hari mengganggunya. Matanya memandangi pekarangan disekitarnya, dan juga rumah tua yang tidak jauh darinya.
“Kau tidak mengajakku masuk?” Daniel menunjuk rumah tua itu.
“Untuk apa?”
“Hei, aku ini atasanmu. Setidaknya kau menawari aku untuk minum teh.”
“Kau kan tidak suka teh.” Jawab Alice dengan santainya. Dia memang enggan mengajak pria itu untuk masuk kerumahnya, bisa-bisa dia berbuat yang tidak-tidak terhadap Alice.
Mendengar ucapan itu, Daniel merasa konyol. Walaupun begitu, dia tetap mengikuti pemilik rumah itu saat dia menuju kedalam rumahnya.
“Kau sangat tidak mencerminkan seorang asisten desainer terkenal dengan pakaian dan wajah seperti itu.” Ejek pria itu, menunjuk pakaian Alice.
“Apa aku harus mengenakan pakaian mahal seperti saat dikantor, bahkan saat tidur? Aku juga manusia biasa Daniel.” Gadis itu membuka semua jendela dirumahnya dan menuju kedapur untuk membuatkan kopi.
Udara segar dipagi hari memenuhi seluruh ruangan. Daniel berkeliling rumah dan mencoba memahami pribadi seorang Alice dari rumahnya.
“Kau punya gaya yang unik.” Daniel tersenyum saat mengatahui betapa mengagumkannya tata letak dirumah Alice.
“Itu belum apa-apa. Kau akan lebih terkejut jika tahu kamarku.” Alice memasukkan gula kedalam cangkir dan mengaduknya.
“Kalau begitu ayo.” Daniel bercanda dengan mendekati Alice, mendekatkan wajahnya dengan tatapan penuh harap dan memegang tangan Alice. Dengan sengaja Alice menyodorkan cangkir pada Daniel dengan kasar hingga menyebabkan kopinya tumpah terkena kemeja Daniel.
“Jangan bodoh!” ucap Alice.
“Lihatlah perbuatanmu, kau mengotori kemejaku.” Daniel mengusapkan tisu dibekas tumpahan kopinya.
“Itu bukan salahku.”
Alice masuk kedalam kamar, dipandanginya pantulan dari cermin itu. Betapa buruknya dirinya saat ini. Pantas saja Daniel berkata seperti itu tadi.
Dia menggapai handuknya dan meluncur kekamar mandi. Tidak sampai satu jam, gadis itu sudah turun dari tangga dengan penampilan yang bertolak belakang dari penampilannya tadi pagi.
Dia lebih cantik, bahkan semakin cantik dari hari ke hari menurut pria yang sedang bersandar disofa itu.
“Begitu lebih baik.” Kata Daniel.
“Apanya?” Alice mengenakan sepasang sepatunya.
“Sudahlah lupakan saja. Itu lumayan untuk orang yang akan berkencan.” Daniel memasangkan tali sepatu Alice yang sebelah, membuatnya terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu.
“Apa? Berkencan?”
“Sempurna. Ayo.” Daniel menarik tangan Alice. menuntunnya menuju mobil. Gadis itu hanya diam tak berdaya dengan tingkah aneh pria itu. ‘Benar-benar sulit dipahami’, gumam Alice.


Ditempat makan didaerah Urayasu, berbagai masakan khas rumahan tersaji didepan mata Alice. Sudah lama sekali dia tidak makan masakan yang biasa dimasak ibunya untukknya.
“Jadi, kita benar-benar bebas dari pekerjaan hari ini?” gadis itu menambahkan aburage kedalam sup-nya.
“Iya. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena telah membuatmu sakit hati kemarin.” Alice berhenti makan, memandang kearah pria dihadapannya.
“Ooo.” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya saat ini. Dia masih merasakan sakitnya, bahkan bekas tamparan dipipinya seperti timbul kembali.
“Aku minta maaf.” Daniel menatap dalam kemata Alice.
“Hehe, Orang sepertimu bisa mengucap kata maaf ternyata. Sudahlah, lupakan saja. Itu Cuma batu sandungan dalam perjalanan karierku.” Gadis itu mencomot sushi yang dari tadi dibiarkan dipiring Daniel. Tidak sopan memang.
“Begitulah jika kau ingin mewujudkan sebuah mimpimu. Kau tidak akan selamanya berjalan dijalan yang lancar. Kau juga terkadang harus terjatuh dan meneteskan air mata dan keringat untuk mewujudkan semua itu.” Pria itu memakan makanannya.
Seorang pelayan muda, datang kemeja mereka membawakan dashimaki-tamago dan sushi gulung dengan ramahnya.
“Jadi begitu, kau bisa menjadi seperti ini?”
“Tentu saja. Walaupun selalu digelimangi dengan harta, aku memilih jalanku sendiri dan meninggalkan itu semua untuk menyusun masa depanku. Tidak mudah saat kau harus memulai semua dari bawah bermodalkan tekad saja. Tapi karena berusaha, aku mampu meraihnya sedikit demi sedikit hingga seperti ini.” Alice kagum terhadapnya, ternyata Daniel tidak seburuk pemikirannya selama ini. Perjalanan dan kerasnya kehidupanlah yang membuatnya selalu ingin menjadi yang terbaik bahkan dalam setiap inchi kehidupannya.


Daniel mengajak Alice mencoba wahana permainan Disneyland Tokyoyang ada diUrayasu, Prefektur Chiba. Gadis itu nampaknya sangat menikmatinya, karena tertawa bahagia setiap menuruni wahana permainan yang dicobanya. Aneh memang, orang-orang dewasa seperti mereka bermain ditempat seperti ini. Walaupun begitu, tak masalah bagi Daniel asalkan dia bisa mengembalikan senyum gadis itu lagi. Alice memimpin langkah mereka, berkeliling ditempat itu. Tangan kanannya menggenggam es krim dan menikmatinya sambil berjalan. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti, membuat Daniel menabraknya tanpa sengaja.
“Kenapa?” Daniel mengikuti arah pandangan Alice.
“Huh? Tidak. Tidak ada.” Alice memaksakan senyum diwajahnya, menggandeng tangan Daniel dengan tangannya yang lain dan melanjutkan perjalanan. Daniel tidak mengerti apa yang dilakukan gadis ini, hingga dia menyadari ternyata pandangan Alice tertuju pada seseorang yang tak jauh dihadapannya.
“Oh, hei Alice. kita bertemu disini.”Dai tersenyum ceria. Seorang gadis sedang menggandeng tangan kekarnya dengan manja.
“I Iya, kau tidak bekerja?” tanya Alice kikuk. Matanya menatap kearah gadis yang sedari tadi menempel pada Dai.
Daniel tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Alice. Selama ini dia selalu memperhatikannya, dan tahu kalau Alice menyimpan perasaan terhadap lelaki itu.
“Kebetulan aku diijinkan untuk libur hari ini. Kau sendiri?.” Pria itu bicara seperti tanpa dosa, karena membuat Alice berharap lebih padanya. Dan ternyata, apa yang sebenarnya terjadi? Dia bahkan sudah mempunyai kekasih yang setia disampingnya.
“Kita juga libur, tepatnya aku yang meminta cuti. Dan kesempatan ini kami gunakan untuk berkencan, benarkan Alice?” Daniel tiba-tiba mengangkat suara. Alice dibuat bingung olehnya, tapi apa boleh buat. Diapun meneruskan sandiwara ini.
“Iya benar. Apa itu pacarmu?” Alice menguatkan genggamannya pada Daniel.
“Oh, ini. Emm, namanya Aiko. Kami sudah bersama selama kurang lebih tiga tahun.” Hati Alice serasa disayat, ternyata dia salah telah menaruh hati pada Dai. Walaupun begitu dia tetap menyapa gadis itu dengan ramah dan tetap tersenyum dengan tulus.
Daniel tak mengalihkan pandangannya pada gadis yang rapuh itu, yang mencoba tetap tegar menyaksikan kedua sejoli yang sangat serasi didepan mereka. 
“Aku rasa kami harus pergi.” Daniel memutuskan untuk meninggalkan mereka.
“Sampai jumpa.” Kata Dai tersenyum ramah.
Alice terdiam menikmati pemandangan kota Tokyo dari gedung ini. Hembusan angin menyejukkan hatinya yang masih terbakar cemburu dan rasa sakit. Ingin sekali rasanya dia berteriak.
“Kau baik-baik saja?” daniel memberikan segelas hot chocolate pada Alice.
“Iya. Maaf soal tadi, tapi terimakasih telah menolongku.” Dia menatap Daniel.
“Tidak masalah.”
Alice tersungkur duduk dipinggiran balkon itu. Dia merasa tidak sanggup, bahkan untuk berdiri dengan kakinya sendiri.
“Aku pernah mengalami yang lebih dari ini, tapi entah mengapa ini membuatku sangat sakit disini.” Alice meletakkan sebelah tangannya diatas dadanya. Daniel mengamatinya, mencoba terus memahami yang dirasakan oleh gadis itu.
“Dulu, aku benar-benar merasakan betapa indahnya hidup dengan orang yang selalu ada dan mencintaiku. Tapi ternyata Tuhan tidak mengijinkan kami untuk bersama. Dia lebih memilih wanita lain daripada aku. . “ gadis itu meneguk minumannya, sedangkan Daniel duduk disampingnya.
“..dan dua bulan setelah kami resmi berpisah, terdengar kabar bahwa dia telah menikah dengan gadis pilihannya. Tapi ternyata..” matanya berkaca-kaca. Mengingat kembali kenangan yang sempat dikubur dalam-dalam olehnya.
“..ternyata dia meninggal dunia karena penyakit kanker dihatinya. Aku sungguh tidak percaya dia seperti itu, dan meninggalkanku tanpa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.” Alice menghela nafas, mengusap air mata yang mengalir diwajahnya.
Untuk saat ini, Daniel hanya perlu mendengarkannya dan menjadi sapu tangan untuk menghapus kesedihannya walaupun itu sulit dilakukan. Dengan pelan dia menggenggam tangan Alice, mencoba untuk membuatnya tetap kuat menjalani pedihnya kehidupan ini.
“Sampai suatu ketika aku pindah kesini, dan bertemu dengan seseorang yang mampu menghidupkan lagi perasaanku yang sempat membeku. Dan ternyata....” alice menangis sejadi-jadinya. Dengan cepat, Daniel menenggelamkan gadis itu dalam pelukannya dan membelai lembut rambut indahnya.
“Masih ada aku disini. Jangan khawatir, aku akan selalu ada disampingmu.”
Dari sinilah, kedekatan diantara mereka mulai muncul. Dibalik sifatnya yang keras, Alice tahu kalau Daniel adalah orang yang baik dan peduli terhadapnya.

* * *
Hari ini tepat empat bulan Alice bekerja sebagai asisten manager di perusahaan D-Style. Minggu ini adalah minggu terberat bagi dirinya karena harus sering bolak-balik kantor dan rumah sakit karena kondisi ibunya yang semakin parah. Daniel yang tidak tahu masalah sebenarnya, merasa kecewa dengan hasil kerja Alice yang semakin menurun.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Alice?” Daniel mondar-mandir dan ekspresi kecewa yang sangat terpancar diwajahnya.
“Maafkan aku, tapi aku akan lebih berusaha.”
“Berusaha kau bilang! Kemana Alice yang dulu? Gadis yang selalu bersemangat disetiap pekerjaan yang menghampirinya. Kalau begini terus kita akan kehilangan kepercayaan dari pelanggan.” Daniel memukul meja itu dengan kepalan tangannya.
“Aku hanya perlu bernafas sejenak, Daniel. Kumohon, beri aku kesempatan lagi.” Alice menggenggam tangan Daniel, mencoba meluluhkan hati pria itu.
“Hmmm, Baiklah.” Alice tersenyum, begitupun dengan pria itu.

Tiga hari berturut-turut Alice selalu terlambat datang kekantor. Setiap kali datang, dia selalu dalam kondisi yang sangat buruk. Tidak seperti biasanya. Daniel juga sering terbakar cemburu melihat Alice selalu diantar jemput oleh pria yang tidak dikenalnya. Walaupun hubungan diantara mereka hanya sekedar rekan kerja, tapi mereka berdua sama-sama tahu perasaan antara satu dengan yang lainnya.
Saat sedang mengerjakan proposalnya, ponsel Alice berdering.
 “Hallo? Ada yang bisa saya bantu?” ucap Alice ketika menjawab panggilan telepon diponselnya.
“Apa? Sekarang?” alice mulai panik. Daniel yang mendengar pembicaraan itu, sudah mengira apa yang akan terjadi.
“Kenapa tiba-tiba? Aku sangat sibuk saat ini.” Katanya coba menjelaskan.
“Baiklah aku akan segera kesana.” Alice menutup ponselnya. Di membereskan mejanya dan menghampiri Daniel yang tak jauh darinya.
“Daniel, aku akan pergi sebentar. Ini sangat mendadak.” Tanpa menunggu jawaban pria itu, Alice melangkah keluar.
“Apa pria itu lagi, huh?” suara itu membuat Alice berbalik.
“Apa? Apa maksudmu?” Alice sama sekali tak mengerti dengan ucapan Daniel.
“Pria itu. Dia kan yang selalu membuatmu meninggalkan semua pekerjaanmu? Dia juga yang sudah mengacaukanmu seperti ini. “
“Apa maksudmu?” Alice menaikkan suaranya.
“Jangan pura-pura bodoh.” Daniel tersenyum meremehkan. Ketegangan semakin menajam diantara mereka.
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan, maaf aku harus pergi sekarang.” Alice kembali melangkah.
“Kalau kau benar-benar melewati pintu itu, maka kau juga akan kehilangan pekerjaanmu.” Perkataan Daniel membuat gadis itu terpaku sejenak. Tapi tak beberapa lama kemudian, dia tetap bersikera untuk meninggalkan tempat itu.
Daniel yang melihat betapa keras kepalanya Alice melemparkan semua berkas dan alat tulis yang ada dimejanya. Dia merasa sangat tidak dihargai oleh gadis itu.
“Ada apa ini? Apa sang putri melarikan diri lagi?” tanya Tuan Hitoshi yang tiba-tiba masuk keruangan Daniel.
“Tanyakan saja pada gadis bodoh itu.” Ucapnya geram.
“Kadang-kadang, pria lah yang harus mengerti kondisi yang menimpa seorang gadis. Kau juga harus seperti itu jika tak ingin keadaan semakin memburuk.” Nasehat dari Tuan Hitoshi itu seperti angin berlalu baginya. Tak dihiraukan sama sekali.

Hingga pukul 8 malam, Daniel masih berada dikantor. Berharap gadis itu akan kembali kesini dan meminta maaf. Tapi ternyata apa yang diharapkannya itu hanya sia-sia. Dia sudah terlanjur sakit hati dibuatnya.
Dengan kencang dia memacu kendaraannya. Berhenti ditempat yang sepi dan keluar dari mobilnya.
“Arrrgghhhh!!! Kenapa kau seperti itu ,HUH!!?” Pria itu berteriak sekencang-kencangnya. 
“Apa kau tidak menyadari kehadiranku?!!! Kenapa kau tak sedikitpun memandang kearahku, dasar bodoh!!” Daniel meninju sebuah tiang listrik dengan tangan kosong berkali-kali. Darah segar mengalir dijari-jarinya, walaupun begitu dia tidak merasakan sakit sedikitpun karena sakit itu hanya ada didalam hatinya.

Dengan tangan yang belum dibalut perban, pria itu menyetir mobilnya. Menuju kerumah Alice, dan berharap bisa menemuinya.
Berkali-kali dia mengetuk pintu rumah Alice, tapi tak ada jawaban. Rumah itu pun  terlihat sangat sepi seperti tidak ada yang menghuninya. Karena merasa dipermainkan dia memutuskan untuk kembali keapartement-nya.

Diterpa asa raga ini terdiam untuk menanti,
Didalam kehampaan yang selalu haus akan hadirmu
Berharap hangatnya jemarimu akan menopang kembali akar yang telah merapuh
Menyirami lagi kegersangan hati, yang enggan untuk kau singgahi
Membasuh luka yang sempat kau goreskan disini,
Walau didera kesakitan yang menghujam jantungku
Aku tetap akan selalu disini,
Selalu ada untuk menunggumu dan memberikan ruang dihatiku
Tapi, apakah selamanya akan seperti ini?
Sulitkah bagimu untuk sejenak menghentikan langkah,
Berbalik dan menyadari akan kehadiranku?
Mungkin memang aku tidak pantas untuk seseorang sepertimu,
Tapi jika Takdir Tuhan yang memutuskan,
Aku hanya ingin kau memandang kearahku, walau hanya sekejap saja


* * *

Diruangan itu, Daniel merasa seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Dia duduk dikursi gadis yang dirindukannya. Meletakkan kepalanya diatas meja dengan pikiran melayang memikirkan gadis itu.
“Kenapa kau belum juga kembali? Aku sudah mulai gila karena tingkahmu itu.” Gumamnya.
“Pria sepertimu ternyata juga bisa kehilangan semangat hidup ya?” Dai berdiri bersandar didepan pintu.
“Apa maumu?” Daniel kembali ketempat duduknya.
“Aku hanya ingin melihat, apa benar Alice sudah meninggalkan tempat ini?” tanyanya
“Entahlah. Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya.” Daniel bersikap tak peduli sama sekali. Ditengah suasana hatinya yang sedang memburuk, dia masih bisa berpura-pura seperti itu.
“Aku kira hubungan kalian sungguhan, kenapa kau seperti itu. Aku dengar kau yang mengusirnya pergi dari sini, benarkah itu?” pria itu duduk dihadapan Daniel.
“Bukan urusanmu!”
“Wow, baiklah. Tapi aku sarankan padamu, sebaiknya kau meminta maaf padanya sebelum kau menyesal.” Dai pergi meninggalkan Daniel dalam kehampaan yang semakin mendalam. Pikirannya sekarang sedang bertempur, beradu pendapat. Mana yang lebih baik untuk dilakukan. Dia tidak ingin menyesal karena kehilangan Alice begitu saja, tapi disisi lain dia juga tidak ingin dianggap sebagai pria pengecut yang tidak konsisten dengan ucapannya.


Ditengah hujan yang mengguyur daerah tempat tinggal Alice, Daniel sedang menunggunya dengan cemas. Rumahnya masih sangat sepi dari pagi tadi. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu, dia bahkan tak menceritakan yang sebenarnya kepada Daniel.
Daniel tertidur saat suara deru mobil itu masuk kepekarangan Alice. dengan sigap, dia mengawasi mobil itu. Seorang pria seumuran Alice keluar dari mobil itu dan masuk kedalam rumah Alice. Karena penasaran, Daniel memutuskan untuk menghampirinya.
Hampir 10 menit Daniel membiarkan tubuhnya diguyur hujan, menunggu munculnya pria itu keluar dari rumah. Dia sedang membawa tas berukuran sedang ketika kelua dari rumah. Betapa terkejutnya dia, tiba-tiba saja Daniel memojokkannya didinding dan berlaku kasar padanya.
“Dimana Alice?” Daniel mencengkeram pria itu.
“Tenang bung, siapa kau ini? Apa yang kau lakukan, huh?” pria itu membela dirinya.
“Aku yang seharusnya bertanya. Siapa kau, apa yang kau lakukan dirumah Alice?” Daniel menjatuhkan tinju dimuka pria itu. Adegan itu terus berlanjut hingga Daniel terjatuh.
“Aku Sahabatnya, apa urusanmu?!” Dia mengambil tas yang jatuh tadi, dan menuju mobil.
“Katakan padaku, dimana Alice?” Daniel mencengkeram lengan lelaki itu.
“Siapa kau?” tanya pria itu.
“Aku orang yang mencintainya. Tolong katakan dimana Alice.” Daniel memohon.
“Seharusnya kau tahu, kalau kau benar-benar mencintainya. Ibunya sedang sekarat dirumah sakit. Kau tahu? Dia rela mengorbankan pekerjaannya hanya untuk menemani ibunya yang sudah tidak lama lagi akan meninggalkannya.” Pria itu menundukkan kepalanya. Bersedih akan jalan hidup yang dihadapi sahabat karibnya.
“Apa? Benarkah itu?”
“Terserah padamu jika tak percaya.” Pria itu, menghidupkan mesin mobilnya. Tak disangkanya, Daniel tiba-tiba masuk kedalam mobil dan duduk disampingnya.
“Aku ikut denganmu.” Ucap Daniel.
Ketegangan semakin mengikat mereka berdua. Kedua orang yang sama-sama berarti dalam hidup Alice. Sahabat yang selalu setia dan orang yang selalu peduli padanya.
Derasnya hujan tak menyurutkan keberanian pria itu untuk terus menambah kecepatan mobilnya. Daniel merasa sangat bodoh karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap gadis itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Alice tak pernah mengatakan apapun padaku.” Daniel bertanya pada pria disampingnya.
“Tidakkah kau bertanya padanya? Kau harusnya tahu, dengan kondisinya yang semakin memburuk setiap hari.” Tanpa mengalihkan pandangan, pria itu menjelaskan kepada Daniel dengan tenang.
“Harusnya itu yang kulakukan, aku benar-benar bodoh.” Daniel menenggelamkan wajahnya ditelapak tangannya.
“Ibunya terkena penyakit tumor otak. Karena sistem rumah sakit yang kurang memadai diIndonesia, Alice pindah kesini untuk kesembuhan ibunya dan tinggal dirumah neneknya.“ Daniel menyimak baik-baik apa yang dikatakan oleh pria itu.
“Dengan usaha dan kerja kerasnya dia mampu membiayai pengobatan ibunya itu selama hampir satu tahun. Dia menjadi tulang punggung keluarga saat ibunya sudah tak mampu bekerja, ayahnya sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu.”
“Seberat itukah kehidupannya.” Daniel tak percaya betapa pedihnya kehidupan Alice.
“Begitulah, tapi aku selalu takjub dibuatnya. Dia sama seperti gadis kebanyakan, tapi dia lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Dia juga selalu yakin akan mimpinya, akan semua cita-citanya yang pasti akan diwujudkannya suatu hari nanti.” Tanpa sadar, mata pria itu berkaca-kaca oleh ucapannya sendiri.
“Kau tahu?Dia bukan sekedar gadis biasa.” Daniel menambahkan.
Semakin dekat, semakin banyak yang tidak diketahuinya tentang Alice. dia memang gadis yang menyimpan sejuta rahasia dibalik senyum yang selalu mewarnai hari-harinya itu. Daniel masih bersyukur tidak mengalami hal seperti Alice, walaupun dia  hanya memiliki seorang ayah yang tidak peduli padanya.

Pria itu berjalan tepat didepan Daniel. Dengan langkah gontai Daniel mengikutinya dari belakang. Semangatnya untuk bertemu gadis itu terus menggebu, tetapi kakinya justru tak mampu untuk menopang tubuhnya. Dia terjatuh. Entah karena apa, tapi dia berusaha untuk terus melangkah.
Pria itu telah memasuki ruangan ICU. Daniel dengan ragu, melangkahkankan kaki kedalam juga.
“Arashi?” Derai air mata membasahi wajah Alice. Pria itu terkejut, melihat wanita paruh baya yang akrab dipanggilnya bibi itu ditutup dengan kain dari ujung rambut hingga ujung kaki.
 Daniel yang ikut masuk merasa iba melihat suasana itu. Dengan langkah seribu dia menghampiri Alice, mengusap air mata dan memeluknya dengan erat dalam tubuh yang basah.
“Maaf. Maafkan aku.” Daniel mengusap air matanya dan semakin erat memeluk Alice.
Arashi yang sedari tadi membisu, tersungkur dilantai dan ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh sahabatnya itu.
Alice masih tak percaya akan secepat ini. Ibunya meninggalkannya sendiri, dengan kepedihan yang mendalam.
‘Kepergian akan orang terdekat atau orang yang kita sayangi akan menyisakan satu kenangan pahit yang akan terus ada hingga maut merenggutnya. Tapi walaupun begitu, itu merupakan sebuah pilihan bagi kita untuk membiarkannya menghantui kita selama-lamanya atau menjadikannya pelajaran hidup yang membuat kita menjadi orang yang lebih baik lagi dalam menata kehidupan. Kenangan pahit tak selamanya harus mengisi loker yang terabaikan dan terkubur dalam-dalam, kenangan seperti itulah yang harusnya menjadi pedoman untuk kita. Menjadi suatu hal yang terus menguatkan kita agar menjadi orang yang tegar dan selalu tersenyum menjalani hidup. Menjadi sebuah motivasi bagi kita untuk tetap mewujudkan mimpi-mimpi dan membuat orang yang kita sayangi bahagia melihat kita meraih apa yang kita inginkan.’

* * *

Ini adalah hari terakhir Alice bekerja sebagai asisten desainer di perusahaan D-Style. Seperti biasa, kebiasaan orang-orang Jepang yang selalu mengadakan pesta perusahaan setiap ada karyawan baru atau pesta perpisahan pergantian karyawan. Tapi kali ini Alice menolak mentah-mentah kebaikan Tuan Hitoshi dan rekan-rekan lain untuk mengadakan pesta dihari terakhirnya. Walaupun begitu, Alice tidak ingin mengecewakan mereka. Dia hanya bisa mengundang rekan-rekannya untuk makan malam bersama dirumahnya, karena masih dalam suasana berkabung.
“Kau benar-benar akan pergi?”tanya Daniel yang datang lebih awal dirumah Alice, untuk membantunya menyiapkan makan malam.
Bau sedap memenuhi ruangan dapur dirumah Alice. Dia gadis yang pandai memasak makanan jepang. Malam ini dia juga membuat salah satu masakan Indonesia yang digemarinya.
“Tentu saja, masih ada urusan yang harus kuselesaikan disana.” Tangannya memotong-motong lobak dengan lincah.
“Aku harap kau akan segera kembali begitu urusanmu sudah selesai, Alice.” Daniel mengambilkan mangkok besar untuknya.
Alice berhenti beraktivitas. Dia tidak bisa menentukan kapan dia akan kembali. Dia bahkan tidak tahu apakah dia akan kembali keJepang atau tidak.
Dia menatap kedua bola mata Daniel, terlihat wajah sendu dari orang dihadapannya itu.
“Entahlah, aku tidak tahu.”begitu katanya, melanjutkan kembali kegiatannya.


Rumah Alice sangat ramai dari biasanya. Orang-orang penting dikantor yang sangat dekat dengannya menyempatkan diri untuk bisa bertemu dengan Alice dikesempatan yang terakhir kalinya.
“Kau sangat pandai memasak Alice, tidak salah orang itu menaruh hati padamu.” Tuan Hitoshi menatap kearah Daniel. Semua orang diruangan ikut tertawa mendengar ucapannya yang tidak direspon oleh Daniel.
“Anda terlalu berlebihan, Tuan.” Alice tersenyum manis.
“Oh ya, kapan kau akan kembali lagi?” Dai meneguk sake-nya.
“Aku tidak tahu.” Dia mengedarkan pandangannya kesemua orang dan tertawa kecil.
“Hei Alice, kau bisa saja naik pangkat jika tetap disini untuk beberapa bulan kedepan.” Wanita yang sering kupanggil Aneko itu ikut angkat suara.
“Naik pangkat? Itu tidak mungkin.” Jawab Alice bergurau.
“Lalu apa rencanamu selanjutnya?”
“Emmm, aku akan mengurus sebuah panti asuhan yang ditinggalkan oleh ibuku. Mungkin aku akan membuka sebuah butik dengan keterampilan yang kudapatkan selama bekerja disini.” Jelas Alice padanya. Sejenak dialihkan pandangannya ketempat duduk Daniel, tetapi tak ada dirinya disana. ‘Kemana dia’ batin Alice.
“Kau memang pekerja keras, Alice.” Puji mereka padanya yang sibuk mencari sosok itu. Perbincangan itu terus berlanjut hingga mereka selsai makan.

Acara makan malam ini, sangat berkesan bagi Alice terutama dihari terakhirnya disini. Diamengumpulkan botol-botol bekas minuman kedalam kantong plastik, membereskan peralatan makan dan menaruhnya ditempat pencuci piring.
Saat dia akan kembali kemeja makan. Tiba-tiba saja Daniel berdiri tepat didepan matanya.
“Hei! Kau membuatku kaget. Kemana sa..” belum selesai dia mengucapkan kalimat itu, Daniel mengecup bibir Alice dengan lembutnya. Membuat jantung gadis itu berhenti berdetak.
“Aishiteru.” Daniel membelai wajahnya. Sungguh diluar pemikiran Alice, bahwa dia akan melakukannya. Mata mereka saling menatap untuk waktu yang cukup lama. Hingga gadis itu kembali tersadar.
“Bodoh!” Alice menjitak kepala pria itu sebelum akhirnya memeluknya.



Tepat pada pukul 8.30 pagi ini, pesawat yang ditumpangi Alice akan lepas landas. Di Bandar Udara Internasional Tokyo ini, seorang gadis yang datang tepat satu tahun yang lalu harus melepas mimpinya untuk berada dinegara impiannya lebih lama lagi. Berat hatinya, untuk pergi dari sini. Tapi negeri tempatnya dilahirkan sudah menanti disana. Suasana berbeda dengan orang yang berbeda lah yang akan mengiringi hidupnya.  Dia sendirian, hanya seorang sopir taksi yang mengantarnya. Tentu saja, karena pria yang sangat ingin mengantarnya harus mendatangi meeting dengan salah satu klien penting dari New York.
Dia tetap akan mewujudkan mimpinya walaupun ditempat yang berbeda. Sebuahtempat tidak akan menentukan keberhasilan kita tanpa usaha yang berarti, begitu pemikiran gadis berusia 21 tahun ini.
“Hei, Alice!!” seorang pria melambaikan tangan padanya.
“Arashi!.” Sahabatnya itu berlari menghampirinya.
“Maaf aku hampir terlambat, hanya ingin mengucapkan selamat tinggal.” Nafasnya masih tersengal-sengal. Dia memeluk Alice.
“Oh, Kau akan merusak make-up ku karena membuatku menangis, Arashi.” Mereka tertawa.
“Benar, kau tidak akan kembali lagi?” tanyanya setelah melepaskan tubuh Alice dari pelukannya.
“Aku rasa begitu. Berkunjunglah saat kau punya kesempatan untuk berlibur. Aku akan sering mengirim e-mail padamu.”
“Hmm, baiklah. Aku ingatkan padamu, jangan pernah mengubah sahabatku Alice yang selalu berambisi dalam mengejar mimpinya itu.” Arashi menahan tawa.
“Siap, Tuan muda!” Alice menenteng kopernya, dan untuk terakhirnya memeluk kembali sahabat terbaiknya selama disini.
“Aku akan merindukanmu.”
“Aku juga.” Alice menitikkan air matanya. Perpisahan yang menyedihkan, meninggalkan orang-orang yang peduli dan selalu ada untuknya.
Gadis itu meninggalkan Arashi yang terus memandanginya dari kejauhan. Saat ini dia harus yakin dengan apa yang dilakukannya. Ini demi ibunya, demi membuat ibunya tenang bersama Tuhan disana.


Ditempat yang berbeda, Daniel menuju ruangan kerjanya setelah menjalani meeting penting. Secarik surat tampak diatas meja kerjanya. Dilonggarkan ikatan dasinya dan bersandar ditempat duduk. Sebuah foto terjatuh dari dalam amplop ketika dia mencoba untuk mengeluarkan suratnya. Itu adalah foto dimana dia dan Alice sedang berlibur dan menghabiskan waktu bersama diwahana permainan Disneyland Tokyo beberapa bulan yang lalu. Alice tampak cantik dan sangat bahagia disitu. Mereka berdua memakai bando berbentuk telinga kelinci dikepalanya. Daniel tersenyum mengingat kejadian waktu itu. Pelan-pelan dia membuka surat itu.

‘aku tidak akan pernah berhenti mengejar apa yang kuinginkan. Begitupun dengan dirimu. Ketika semuanya berubah, tentu akan menyisakan perbedaan yang menggores hati. Aku meninggalkan orang-orang yang peduli padaku, orang yang menyayangi, dan juga orang yang mencintaiku. Sesungguhnya berat rasanya hati ini kala mengetahui kau tak lagi hadir dalam hidupku. Tak lagi bisa melihat pria angkuh yang selalu menindasku setiap saat.Kau tahu? Aku akan merindukanmu dibelahan dunia lain ini.Disini,ditempat yang menjadi tempatku untuk memulai semuanya dari awal lagi.
Begitu mudah Tuhan menjalankan kehidupan setiap makhluk-Nya. Jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, jarak dan waktu tak akan menjadi penghalang cinta kita. Dan akan mempertemukan kita lagi disaat kita telah meraih semua mimpi-mimpi kita. Percayalah, hati ini sudah ada untukmu sedari dulu, tepat disaat kita pertama kali bertemu, dan akan tetap ada untukmu disaat kita dipertemukan lagi nantinya.
Aku harap, tidak adanya diriku disisimu tak merubah sedikitpun bagian dari dirimu. Termasuk sisi idealismu itu.’


“Aku akan lebih merindukanmu” senyum bahagia dan kesedihan tergambar jelas diwajah Daniel.