BAYANGAN YANG HILANG.....
By : Mimin Yuni
Liyani ^_^
Kuroko no basuki only @ Tadatoshi
Fujimaki
Kuroko no Basuke sepenuhnya hanya
milik Tadatoshi Fujimaki.... J
Cast :
Kagami Taiga , Momoi , Kuroko Tetsuya, and others...
Cahaya mentari pagi masuk kedalam ruangan itu melalui celah
jendela. Sinarnya yang terang terasa sangat menyilaukan. Dikamar yang berukuran
sangat luas itu, seorang lelaki sedang memeluk seorang gadis yang masih
terlelap didadanya dengan sangat manis. Bahkan lelaki itu masih teringat
bagaimana dia bisa jatuh hati pada gadis itu. karena sikapnya dan
kepribadiannya yang manis, juga gadis yang selalu mendukung dan ada untuknya
disegala kondisi. Perlahan tangannya yang kekar membelai rambut gadis itu dan
menatapnya dalam-dalam.
“Ehmm, ,,” suara tak
jelas keluar dari mulut gadis itu sambil tersenyum manis.
“Kau sudah bangun,
Momoi?” tanya si lelaki yang tengah menatap gadis itu.
“Kagami-kun?” gadis
itu tersenyum. sepasang matanya menatap seluruh ruangan dengan dekorasi yang
sederhana tapi berkelas itu. Gadis itu terkejut ketika melihat jam yang
bertengger manis didinding menunjuk pukul 9 pagi.
“Omo... aku
terlambat!!!” teriaknya sambil mengikat rambutnya dengan sembarang. Rambut yang
acak-acakan itu justru terlihat semakin manis untuknya. Dia berlari menuju
kamar mandi secepat kilat, meninggalkan Kagami yang semalaman telah
menemaninya. Kagami meregangkan tubuhnya dan memijit bahu kirinya yang semalam
penuh digunakan untuk menopang kepala Momoi.
Kagami, pelatih dan pemain
basket yang terkenal dengan gaya serangan yang mematikan itu adalah pacar Yuuki
waktu SMA. Namun setelah beberapa tahun, Momoi meninggalkannya karena Kagami
tidak pernah memperhatikannya walaupun mereka berpacaran. Menurut Momoi, Kagami
hanya memikirkan tentang basket, basket, dan basket. Namun sekarang, pria
berambut merah maroon itu sudah beranjak dewasa dan menyadari bahwa hidupnya
tidak dihabiskan hanya untuk basket, dia juga harus memikirkan tentang
orang-orang disekitarnya terutama orang-orang yang selalu menyayanginya,
seperti Momoi. Saat dia menyadarinya, ternyata Momoi telah pergi
meninggalkannya jauh ke Amerika dimana dia melanjutkan sekolah seni untuk
meraih mimpinya.
Untuk beberapa saat,
Kagami merasa semuanya baik-baik saja, dengan atau tanpa Momoi disisinya,
semakin hari berlalu dia merasa harus baik-baik saja walaupun rasa
kehilangannya semakin terasa, hingga suatu hari Kagami merasa sudah diambang
batasnya. Dia sangat merindukan Momoi, senyum dan gelak tawa gadis bermata
indah itu selalu membayangi Kagami. Lelaki bertubuh tinggi itu akhirnya merasa
putus asa. Beruntungnya, teman satu tim basket yaitu Kuroko dan Kiyoshi-senpai
selalu menasehati dan mendengarkan keluh kesahnya. Dua orang itu memang
benar-benar kawan yang terbaik, terutama si Kuroko, lelaki berambut biru dengan
tubuh yang kecil.
Kenangan Kagami waktu itu
terputar lagi dikepalanya. Suatu hari dimusim semi....
Suara pantulan bola
basket memenuhi tempat latihan di SMA Seirin siang itu. Semua tim kelas satu,
dan dua berlatih dengan sekuat tenaga. Saat itu si pelatih Riko-chan sedang
memberikan menu latihan yang sama beratnya seperti yang pernah diterima oleh
kagami dan kawan-kawannya. Tapi sekarang, Kagami telah melewati masa-masa itu.
Dia, Kuroko, Kiyoshi-senpai, dan pacar pelatih Hyuga-senpai, hanya datang
sebagai kakak kelas yang ikut membantu jalannya latihan menjelang pertandingan
Winter-Cup tahun ini. Namun saat latihan, tiba-tiba saja Kagami meleset saat
melakukan dunk beberapa kali, dia juga tidak bisa menerima operan luar biasa
dari Kuroko yang selalu dapat membuatnya mencetak angka. Semua orang
bertanya-tanya, hingga akhirnya Riko-chan memutuskan.
“Kagami-kun!!!”
teriak gadis berambut pendek itu dengan kedua tangan berkacak pinggang.
Semuanya berhenti
secara serentak saat mendengar teriakan penuh amarah dari pelatih.
“Apa?!” teriak Kagami
dari bawah ring diujung lapangan.
“Kau keluar! Kuroko
juga!” teriak Riko-chan sambil meniup peluitnya.
“Apa? A aku juga
Riko-chan? Tapi kenapa??” tanya Kuroko dengan lugu.
“Harusnya kau lebih
tahu dan mengerti Kuroko!!” semua yang ada dilapangan basket terdiam.
Hyuga-senpai mendekati pacarnya dan mencoba menenangkannya.
“Tenanglah Riko-chan,
aku yakin Kagami bisa mengatasi masalahnya sendiri.” Hyuga berdiri dibelakang
Riko-chan sambil meletakkan tangan dibahunya, alih-alih untuk meredam suasana
hati Riko yang memanas.
“Kagami-kun, ikut
aku.” Kata Kuroko dengan percaya diri..
“Baka!!! Memangnya
kenapa aku harus mengikutimu?!!” tangan Kagami yang besar itu terus menerus
menekan kepala Kuroko seakan ingin memasukkan kepalanya kedalam organ dalamnya.
“Arrggghh!!” teriakan
Kagami ketika Kuroko menjatuhkan tinju tepat wajahnya.
“Sudah ikut saja
bodoh, dasar Bakagami!!!” balas Kuroko.
Semuanya tidak
terkejut dengan tingkah mereka berdua, Kiyoshi-senpai pemain point-guard tim
Seirin justru tersenyum dan cengar-cengir dengan aneh, membuat siapapun yang
melihat ingin memukulnya karena tersenyum tanpa alasan.
“Masa muda, masa yang
bahagia, akan lebih indah jika melaluinya dengan persahabatan. Marilah kita
menjalin persahabatan yang manis. Semanis kue dango yang warna warni!!” katanya
tidak jelas.
“Hei Kiyoshi, jangan
berbicara hal yang memalukan seperti itu!” teriak Hyuga setelah melemparkan
bola basket tepat ke kepala Kiyoshi.
“Ahahahahah
HAHAHAHAHA” suara tawa memenuhi lapangan basket.
Saat diatas atap
sekolah, dua orang pemain basket yang bertolak belakang itu berdiri dengan memunggungi satu sama lain. Sepi sekali.
Hanya hembusan angin dan kicauan burung yang sesekali lewat yang mengisi
kekosongan diantara mereka.
“Kagami-kun....” ucap
Kuroko pertama kali.
“Apa?!” Kagami sangat
keras. Dia adalah tipe lelaki yang sangat teguh pada pendapatnya atau biasa
dibilang keras kepala dan tidak suka mengalah sesuai dengan gayanya bermain
cepat dan mematikan saat basket, sangat berbeda dengan Kuroko yang tenang dan
dewasa.
“Momoi-chan....”
sebut Kuroko. Kagami yang mendengar Kuroko menyebut nama gadis itu berbalik menatap Kuroko.
“...kau
merindukannya????” lanjut Kuroko. Lelaki berambut biru itu tidak gentar
sedikitpun meskipun dihadapannya ada orang yang lebih tinggi 25cm darinya
sedang menatap tajam penuh amarah.
“Apa maksudmu,
Kuroko?!” ucap Kagami. Baginya, memalukan sekali jika orang seperti dirinya
menjadi lemah hanya karena merindukan gadis yang meninggalkannya.
“Dasar, Bakagami!!!”
Kuroko menjitak kepala Kagami meskipun harus susah payah karena masalah tinggi
badannya.
“Jangan sembarangan
mengganti nama orang, Baka!!” teriak Kagami, mencengkeram jaket Kuroko.
“Habisnya, kau bodoh
sekali Kagami-kun. Kau juga tidak bisa membohongiku, kau tahu itu kan?” Kagami
terdiam mendengar ucapaan Kuroko, dia termenung beberapa saat, bahkan akan
menghabiskan waktu yang lama jika Kuroko tidak cepat-cepat mengangkat suara.
“Apa kau masih suka
basket, Kagami-kun?” Kuroko menyandarkan tubuhnya di balkon atap sekolah.
“Kenapa memangnya?”
Kagami bertanya balik. Dia merasa harga dirinya akan runtuh perlahan-lahan jika
harus menjawab pertanyaan itu dengan terang-terangan. Huft, memang dasar
Bakagami ini, jual mahal sekali ya... J
“Kau pasti masih
menyukainya, aku yakin itu.”
“Percaya diri sekali
kau, Kuroko.” Kata Kagami dengan sinis.
“Ya. Karena aku
sangat yakin.” Kagami tercekat, tak bisa bicara apa-apa lagi. Dia memang tidak
pernah meragukan si Kuroko itu, tapi keyakinan Kuroko yang berlebihan terkadang
membuat Kagami merasa seperti orang bodoh.
“dan kau juga
merindukannya kan? Momoi-chan, pacarmu itu....” lanjut Kuroko. Kagami masih
terdiam, mengalihkan pandangan ke lapangan upacara yang terlihat jelas dari
atap sekolah.
“Karena aku yakin
itu, Kagami-kun. Kau sama seperti aku, sangat menyukai basket. Tapi cara kita
lah yang berbeda. Kalau kau menyukai basket karena kehebatanmu, aku menyukainya
karena aku ingin membuat diriku hebat saat barmain basket. Terdengar sama tapi
sangat berbeda kan?.......” Kagami menatap Kuroko dengan penuh tanda tanya.
“Apa maksudmu,
Kuroko?” tanyanya pada akhirnya.
“Karena aku adalah
bayangan, dan kau adalah cahaya yang menjadi penentu keberadaanku Kagami-kun. Sehebat apapun bayangan, dia
tidak akan menjadi apa-apa tanpa cahaya yang kuat. Karena cahaya yang kuat akan
menghasilkan bayangan yang kuat, jadi begitulah aku tergantung padamu...”
Kagami mengerutkan dahinya, mengangkat alis kirinya, lalu berganti alis yang
kanan. Dia lalu berjongkok dan berdiri lagi dengan tampang yang aneh, dia terus
melakukannya beberapa kali. Konyol sekali.
“Kuroko!! Sebenarnya
apa maksudmu itu?! apa hubungannya dengan semua ini!!” teriak Kagami kesal
karena sulit untuk mencerna apalagi memahami kata-kata Kuroko. Tentu saja.
Kagami kan lagi galau... J
“Sekarang ini, cahaya
yang kuat itu justru dibayangi kenangan masa lalu yang membuatnya selalu
menyesali apa yang terjadi. Bayangan itu meredupkanmu Kagami-kun.” Ucap Kuroko seolah tahu segalanya.
“Apa?” Kagami
terkejut.
“Permainan basket
kita kuat karena kerjasama antara cahaya dan bayangan, tetapi itu tidak berlaku
pada hubungan percintaanmu dengan Momoi-chan. Kau itu seperti orang yang
menyesal karena selalu mengacuhkannya dan bersikap tak acuh walaupun kalian
berpacaran selama 2 tahun. Penyesalanmu itulah yang menjadi bayangan gelap
bagimu, seakan-akan bayangan itu akan menelanmu setiap kali kau mengingatnya.
Itulah yang membuatmu kacau selama ini......” Kuroko menjelaskan, seperti biasa
dia bertingkah seperti orang dewasa yang tahu segalanya. Tapi memang seperti
itulah dia, Si Aquarius dengan golongan darah A. Kadang, semuanya merasa neruntung
ada orang seperti Kuroko dalam tim basket mereka karena sikap dan sifatnya.
“.... Tidakkah kau
ingat pertandingan minggu kemarin? Kau hampir mengacaukan segalanya kalau saja
Kiyoshi-senpai tidak berada didekatmu untuk melakukan Re-bound. Tetapi untunglah
semuanya baik-baik saja.” Kuroko menghembuskan nafas yang panjang, merasa lega.
Sedangkan Kagami hanya menundukkan kepalanya.
“Ku..roko..” setetes
air jatuh ke ubin tempat mereka berpijak. Kuroko terkejut bukan main, kalau
setetes air itu adalah air mata Kagami, yang terus menetes hingga Kagami harus
menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena tak bisa membendungnya
lagi. Ini adalah pemandangan yang mengejutkan bagi Kuroko, ternyata orang yang tak terkalahkan
saat bermain basket bisa meneteskan air mata karena hal seperti ini. ‘Apakah mungkin dia telah lama kesakitan?’ pikir
Kuroko.
“A a ku... Aku harus bagaimana Kuroko?!” teriak
Kagami histeris.
“Tenanglah
Kagami-kun. Momoi-chan tidak akan senang melihatmu seperti ini.” Kuroko mendekati
Kagami dan mencoba menenangkannya dengan meminjamkan bahunya pada Kagami. Itu
adalah pertama dan terakhir kalinya Kuroko meminjamkan bahunya sebagai tempat
bersandar Kagami. Setelah hari itu, Kuroko selalu mengeluh karena merasa keram
diseluruh bahunya. Tentu saja, karena Kagami lebih besar darinya, dan Kuroko
melakukan itu selama berjam-jam demi menenangkan sahabatnya itu. Aneh memang.
Hahahaha.. :D
Kagami kembali tersadar dari
lamunannya, ketika Momoi mencubit pipinya dengan keras....
“Kagami-kun?!” teriak
Momoi yang sudah berpakaian rapi seperti biasanya.
“Arrrgghh! Momoi,
sakit!” Kagami mengelus-ngelus bekas cubitan Momoi di pipinya. Wajahnya yang
keras terlihat semakin menyeramkan saat merasa kesal.
“Apa yang sedang kau
lakukan Kagami?! Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau tidak mengacuhkanku. Apa
kau ingin memperlakukanku sama seperti dulu??!” ucap Momoi dingin. Baru kali
ini Kagami mendengar Momoi berkata seterus terang itu dihadapannya. Tapi itu
justru lebih baik daripada mereka berdua harus selalu menjalin hubungan yang
penuh dengan salah paham.
“Kenapa kau hanya
memanggilku Kagami, Momoi-chan? Apa kau sedang marah padaku???” Kagami menarik
tangan Momoi dan menatapnya penuh arti.
“Baka! Kenapa kau
memanggilku Momoi-chan kalau biasanya saja kau hanya memanggilku Momoi!!” Momoi
menarik tangannya dari cengkeraman Kagami, tapi percuma saja dia kalah jauh
secara fisik.
“Hei,, tenanglah Momoi...”
Kagami berkata lembut pada Momoi, sama sekali tidak seperti Kagami yang
biasanya.
“ ... Aku hanya
mengingat masa di mana aku merasa sangat kacau saat kehilanganmu. Aku tidak
ingin hal itu terulang lagi hanya karena kebodohanku. Maafkan aku.” Momoi
terkejut bukan main. Sebelumnya Kagami tidak pernah meminta maaf untuk hal-hal
seperti ini, apakah benar yang dikatakan Kuroko-kun padanya kalau Kagami yang
sekarang telah berubah. Dia merasa tidak tega melihat Kagami yang sekarang,
apakah dia turut ambil bagian dalam membuat Kagami menderita seperti ini. Tapi
itu pasti akan sebanding jika dibandingkan dengan apa yang telah dialaminya
beberapa tahun yang lalu.
“Apa? Apa maksudmu
Kagami?” Momoi menahan air matanya, dia merasa terharu karena dulu dia pernah
menganggap Kagami itu orang yang hangat, dan itu terbukti saat ini. Saat mereka
telah terpisah dan dipertemukan kembali.
“Aku minta maaf. Maafkan
aku atas semua kebodohanku, atas ketidakpedulianku, dan keegoisanku yang hanya
memikirkan basket tanpa memahami bagaimana perasaanmu saat itu. aku minta maaf Momoi.
Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi.” Ucapnya tanpa keraguan sedikitpun.
Kagami yang sekarang adalah orang yang sangat dewasa. Apalagi dia tidak ingin
lagi terpisah dengan Momoi. Pertemuan ini adalah keberuntungan yang tidak akan
disia-siakan lagi olehnya. Dia ingin menebus semuanya hari ini juga sebelum
mereka akan terpisah lagi.
“Baka!! Bakagami!!!”
mata Momoi berkaca-kaca. Tapi dia tidak ingin, dan tidak akan menangis karena
telah berjanji pada dirinya sendiri.
Kagami hanya
tersenyum lega sambil menatap peri kecilnya, si penghibur laranya.
Kagami melepas
cengkeramannya dari tangan Momoi, betapa terkejutnya dia kalau cengkeramannya
itu telah meninggalkan bekas merah ditangan Momoi. Kagami merasa bersalah, dan
mengusap bekas cengkeramannya dengan lembut, membuat Momoi terenyuh melihatnya.
“Apa sakit??” tanya
Kagami penuh perhatian. Yuuki hanya menggelengkan kepalanya karena sudah tidak
mampu berkata apa-apa lagi untuk saat ini. Tanpa dia sadari Kagami telah
menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku.” Momoi
terkejut, tapi dia mencoba tersenyum bahagia, karena itulah yang dirasakannya
saat ini. Tak peduli riasannya akan rusak, atau baju-nya akan lusuh dia tetap
ingin berlama-lama dalam pelukan Kagami.
Dua hari selanjutnya, di Bandara
Internasional Tokyo....
Banyaknya orang yang
lalu lalang semakin meramaikan sore itu. Di bandara Internasional Tokyo, lelaki
dengan tinggi 190cm itu dengan santainya melewati pintu kedatangan. Sepertinya
penerbangan yang memakan waktu berjam-jam dari Amerika-Tokyo tidak lagi
membuatnya merasakan yang namanya jet-lag karena telah terbiasa. Kepergiannya
di Amerika untuk menyelesaikan kontrak kerja telah berakhir, dan kini saatnya
dia kembali ke negerinya. Kagami Taiga,
mantan pemain basket dari tim Kiseki no Sedai yang kini menjadi pelatih dan atlet
basket terkenal itu masih mempunyai aura yang berbeda. Untuk lawannya bermain
basket aura-nya sangat mengerikan, tapi untuk para penggemarnya yang jauh-jauh
menyambut kedatangannya aura-nya sangat mempesona terutama untuk para
gadis-gadis remaja yang tengah berteriak histeris untuk menyambutnya.
“Berisik sekali..”
katanya saat menurunkan koper dan tas ranselnya dari pengangkut barang.
Dia lalu berjalan
lagi menuju tempat parkir di bandara itu. “Apa tidak ada yang menyambutku
selain para gadis mengerikan itu? huft...” ucapnya lebih kepada diri sendiri.
“Aku sudah menunggumu
dari tadi.” Kata sebuah suara disampingnya.
“Arrrggghh! Sejak
kapan kau ada di sini?” teriak Kagami karena terkejut bukan main.
“Sudah dari tadi.”
Jawab suara itu.
“Walaupun sudah bertahun-tahun
bersamamu, tapiaku masih tidak bisa menyadari keberadanmu, Kuroko. Kau memang
luar biasa.” Ucap Kagami, lalu bersikap lebih normal dengan tampang keren-nya
itu.
“Apa perjalananmu
menyenangkan?” Kuroko mencoba membuka percakapan.
“Menyenangkan apanya,
aku hanya tidur sepanjang perjalanan.” Jawab Kagami sambil memasukkan kopernya
ke dalam bagasi mobil.
“Kau tidak berubah,
Bakagami.” Kata Kuroko dengan ekspresi datar.
“Apa katamu???!!!
Hoii, tapi sepertinya kau bertambah tinggi semenjak aku pergi ke Amerika.”
Kagami meletakkan telapak tangannya di atas kepala Kuroko dan membandingkan
dengan tubuhnya yang sudah jelas sangat tinggi.
“Ya, benar. Aku
bertambah 5cm.” Kuroko dengan percaya diri, langsung disambut dengan tawa
Kagami yang sangat keras.
“Apa? Hanya 5cm?!
Ahahahaha. . payah sekali kau Kuroko!” Kagami tidak berhenti tertawa.
“Kagami-kun?”
tiba-tiba suasana menjadi tenang.
“Heh??” Kagami berhenti tertawa, wajahnya lalu
diselimuti dengan awan mendung saat menatap wajah Kuroko yang sedang serius.
“Apa kau bertemu
dengan Momoi-chan?” tanya Kuroko penasaran. Dia berharap sesuatu yang baik
terjadi pada Kagami, apalagi Kagami telah berusaha sejauh ini menjadi orang yang
lebih baik hanya untuk Momoi-chan.
Suasana menjadi
dingin, dan tidak ada yang bersuara diantara mereka berdua.
Keesokan harinya, di lapangan
basket SMA Seirin.....
“Yo, Bakagami.. apa
kau pulang tanpa membawa gadismu, huh??” ucapan Hyuga yang selalu terdengar
pedas dan sinis itu seakan menjatuhkan Kagami ke jurang paling dalam.
‘Kuroko! Apa kau yang
menyebarkan cerita itu?’ batin Kagami.
“Maaf, akan lebih
baik kalau semuanya tahu yang sebenarnya.” Kagami terkejut saat Kuroko seperti
menjawab pertanyaan batinnya itu, rasanya ingin mati saja mendengar ucapan
sahabatnya yang seperti orang tak bersalah itu.
“Hah, hentikan! Aku
hanya tidak ingin menjadi penghambat untuknya. Biar bagaimanapun dia punya
mimpinya sendiri.” Kata Kagami dengan super tenang.
“Kau memang telah
berubah ya..” Kiyoshi-senpai ikut angkat suara.
Dilapangan basket
itu, tempat dimana mereka membanting tulang demi sebuah kemenangan menjadi
saksi bisu sebuah perkumpulan yang dirindukan dari masing-masing orang, tak
terkecuali Kagami. Sekarang mereka hanya bisa menghabiskan sedikit waktu untuk
berkumpul bersama karena telah memiliki profesi yang berbeda-beda walaupun
saling terikat. Hyuga-senpai membuka tempat pelatihan bersama pacarnya
Riko-chan, Kiyoshi-senpai bekerja sebagai pelatih dan penasehat di salah satu tim basket terbaik Jepang, Kuroko
menjadi pelatih hebat sekaligus pemilik dari gedung Olahraga ternama di Tokyo.
Dan yang paling beruntung adalah Kagami, karena dia masih bisa mengenang tempat
ini setiap waktu, dia adalah pelatih tim basket SMA Seirin, tim basket terbaik
di Jepang, selain itu dia juga seorang atlet basket nasional yang sedang diburu
oleh pelatih-pelatih tim basket dari Amerika karena bakatnya. Semuanya memiliki
profesi yang saling terikat. Entah mereka sadari atau tidak, basket telah menyatukan
mereka hingga sejauh ini.
“Kagami-kun, aku
dengar SMA Seirin akan memiliki manager tim basket yang baru, apakah benar?”
tanya Riko-chan.
“Heh? Apa iya.” jawab
Kagami datar. Seakan tidak tertarik dengan berita itu.
“Dasar kau, Bakagami!
Serius dikit napa?!!” Riko menjatuhkan tinjunya kewajah Kagami.
“Oiihh, aku ini kan
bukan muridmu lagi, pelatih!!” protes Kagami, tidak disangka tubuhnya yang
besar itu justru bersembunyi dibalik tubuh kecil sahabatnya, Kuroko. Riko
memang orang yang sangat tegas dan menakutkan, tapi dia adalah pelatih terbaik
dan paling perhatian bagi para muridnya yang tidak lain adalah teman
seangkatannya. Riko dipilih menjadi pelatih karena kehebatannya dalam menilai
kekuatan fisik seseorang hanya dengan melihat tubuhnya, selain itu dia juga
putri dari pelatih terkenal yang mencetak atlet-atlet profesional. Sampai saat
ini pu Riko masih senang menjalani profesi sebagai pelatih, tentunya bersama
Hyuga pacarnya.
“Bukankah Seirin juga
akan mempunyai guru musik baru minggu ini?” ucap Kiyoshi, pembawaannya yang
tenang selalu membuatnya lebih terlihat menonjol, apalagi dia adalah pemain
paling tampan di tim basket SMA Seirin dulu.
“Apa? Guru musik
juga? Wahh Seirin sekarang mengalami kemajuan yang pesat juga. Aku kira itu
tidak akan terjadi tanpa murid sepertiku ini.” Celoteh Hyuga, yang langsung
ditanggapi aneh oleh yang lainnya.
“Hyaa! Senpai! Kau
ini percaya diri sekali.” Cela Kagami yang tadinya tak peduli merasa sedikit
tertarik dengan bahan perbincangan mereka.
“Kagami-kun, aku
dengar orang baru ini dari Amerika juga.” Kata Kuroko.
Hati Kagami berdesir,
seiring dengan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
“Terserahlah. Aku
pergi dulu.” Kagami bergegas meninggalkan kawan-kawannya. Kepulangannya dari
Amerika seakan tidak menumbuhkan semangatnya walaupun hubungannya dengan Momoi
telah membaik. Dia merasa sangat merindukan gadis itu.
“Aku harus
menahannya. Aku yakin tidak apa-apa seperti ini.” Kagami menghembuskan nafas
panjang, gaya berjalannya itu selalu menjadi ciri khas-nya, membuatnya semakin
terlihat mempesona.
“Apa maksudmu?” ucap
sebuah suara.
“Hiyyaa!! Sejak kapan
kau ada disitu?!” teriaknya karena terkejut, lagi-lagi dia dikejutkan dengan
hawa keberadaan Kuroko yang sangat tipis.
“Sudah dari tadi.”
Jawabnya singkat.
“Ah sudahlah, mati
saja.” Kagami melemparkan tinjunya, tapi tidak berhasil menghantam wajah
Kuroko.
“Kagami-kun.” Kata
Kuroko.
“Apa?!”
“Bukankah hubunganmu
sudah membaik, kenapa kau terlihat sangat sangat sangat murung setiap saat?”
Kuroko dengan wajah polosnya terlihat sangat imut dan manis, ingin sekali
Kagami mengatakan ‘Kawai!’ kepada Kuroko tapi itu tidak akan pernah
dilakukannya karena hanya akan merusak image-nya yang keren itu.
“Kenapa banyak sekali
kata ‘sangat’, Baka?!” Kagami
menggelengkan kepalanya dan berlalu begitu saja.
“Kau masih menyesal?”
tanya Kuroko lagi. Mereka tepat berhenti di persimpangan jalan, lampu yang
berwarna merah membuat mereka harus menunggu beberapa menit.
“Tidak, aku sudah
tidak menyesalinya.” Jawabnya dengan wajah datar. Kuroko merasa heran, kenapa
sebenarnya si Bakagami ini, tapi dengan sabar dia tetap mencoba mengerti
keadaannya.
“Long Distance
Relationship itu memang tidak mudah ya...” Kagami tiba-tiba bersuara. Matanya
menatap jauh ke depan.
“...bayangan yang
dulunya akan memakanku setiap saat sudah menghilang, tapi kerinduan yang tak
bisa kubendung justru lebih menakutkan.” Kagami menundukkan kepalanya.
“Kau hanya perlu
bersabar. Pasti akan ada hari dimana kalian akan bersatu lagi.” Kuroko
meletakkan tangannya dibahu Kagami, mencoba menenangkannya.
“Tentu saja. Aku
sangat menantikan datangnya hari itu.” akhirnya, Kagami tersenyum untuk pertama
kalinya setelah kembali dari Amerika. Dunia percintaan memang rumit, dan
melelahkan. Tapi walau bagaimanapun itu akan berjalan sesuai dengan takdir,
dimana yang telah lama berpisah dapat dipertemukan kembali atau justru
sebaliknya yang harus terpisah dan merasakan kepedihan yang mendalam. Apapun
itu, kita harus tetap berjalan maju, jangan sampai penyesalan di masa lalu
menghambat atau bahkan menghentikan hidup kita. Karena esok pasti kan bahagia,
selama kita selalu berusaha melakukan yang terbaik.
Se-minggu kemudian, di koridor
sekolah.....
Lelaki itu baru saja
datang beberapa menit yang lalu. Aktivitas kesehariannya seakan menjadi hal
yang menyenangkan selama dia melakukannya di sekolahnya dulu. Karena hari sudah
menjelang siang, sepertinya dia akan terlambat lagi untuk mengawasi latihan
hari ini. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika telinganya mendengar suara
tuts-tuts piano sedang dimainkan mengalunkan salah satu lagu favoritnya ‘melody
of the night’ dia berhenti untuk beberapa saat dan mencoba mendengarkan dengan
lebih jelas. Setelah beberapa saat, akhirnya dia menemukan sumber suara itu, di
ruang musik. Tangannya baru saja akan memutar kenop pintu, sebelum akhirnya
salah satu muridnya memanggilnya.
“Pelatih! Anda sudah
datang ternyata. Kami sudah latihan sejak tiga puluh menit yang lalu.” Kata
seorang murid berkaca-mata yang memakai seragam kebanggaan tim basket SMA
Seirin.
“Oh, benarkah? Maaf
aku ada urusan sebentar tadi. Ayo kita lanjutkan latihannya.”
Kagami meninggalkan
koridor sekolah bersama rasa penasarannya. Sepertinya, alunan piano itu telah
menarik perhatiannya.
Keesokan harinya, dilapangan
basket....
Seuara peluit yang
menggantung di leher Kagami seperti tak mau berhenti bersuara. Dengan smemegang
stopwacht ditangan kanannya, Kagami terus mengawasi jalannya latihan hari itu.
latihan yang di terapkannya memang lebih berat dari pada apa yang pernah dia
rasakan sebelumnya. Tapi hal ini tidak lain hanya untuk membuat tim basket SMA
Seirin terus mempertahankan kedudukannya di tingkat nasional.
“Pelatih!” teriak
sebuah suara dari pintu masuk.
Kagami menghampiri
suara itu yang merupakan suara dari wakil kepala sekolah Seirin.
“Ada apa Pak Katsumoto?”
tanyanya setelah memberi hormat.
“Hari ini tim basket
akan mendapat manager baru, aku ingin kau menjadi pembimbingnya selama dia
menjadi manager disini.” Wakil kepsek itu lalu memanggil seseorang yang
dimaksudnya itu.
Kagami menjatuhkan
Stopwatch yang sedari tadi dipegangnya, tubuhnya seakan ingin meledak dan
berhamburan keluar. Otot-otot kakinya, terasa sangat lemas, hingga dia harus
berpegang pada dinding diampingnya.
“Kagami! Kau
baik-baik saja?” tanya wakil Kepsek penuh khawatir.
“I ... I..yaa..”
jawab Kagami terputus-putus.
Apakah ini yang
menjawab kegelisahan hatinya hari ini, ini adalah jawaban atas apa yang
dirasakan hatinya yang tak berhenti berdebar sejak pagi tadi.
“Apa kabar,
Kagami-kun??” suara itu masih sama, dengan senyum manis yang selalu terkenang.
“Momoi...” Kagami
merasa seperti sedang meleleh. Sementara Momoi hanya memandangnya penuh
kerinduan dengan senyuman manisnya.
“Kenapa kau tidak
memberitahuku kalau kau akan pulang ke Jepang?” tanya Kagami setelah akhirnya
punya waktu untuk mereka berdua.
“Aku hanya ingin
memberimu kejutan Kagami-kun.” Jawab Momoi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Huhh, selamat. Kau
berhasil Momoi-chan.” Kagami mendekati Momoi, seakan ingin memeluknya. Tapi
dengan sigap Momoi menghindar darinya. Dia tidak ingin membuat murid-murid
Kagami bertanya-tanya nantinya.
“Oh, baiklah.
Sepertinya kau harus memperkenalkan dirimu terlebih dahulu.” Kagami membimbing Momoi
untuk mengikutinya bertemu para muridnya.
“Hei Kalian!!
Dengarkan baik-baik, kita punya manager baru disini!”
Momoi lalu
memperkenalkan dirinya tanpa rasa canggung sedikitpun. Sesekali dia juga
menjawab pertanyaan dari para murid itu dengan tenang. Untuk ukuran seorang
manager baru, Momoi telah berhasil merebut hati para pemain. Tentu saja, siapa
yang bisa menolak pesona gadis seperti dia. Kagami yang tengah melihatnya dari
samping merasa beruntung telah mengambil hati gadis itu kembali.
“Momoi-san, mengapa kau
ingin menjadi manager dari tim basket?” tanya salah satu pemain yang dari tadi
sangat aktif bertanya.
“Aku? Emm,
karena....”Momoi menatap Kagami beberapa saat, membuat lelaki itu semakin
tertarik untuk mendengar jawaban dari mulutnya secara langsung.
“...karena aku ingin
terikat dengan seseorang. Melalui basket aku bisa terus berada di dekatnya, dan
bisa melihatnya kapanpun aku mau. Karena dia sangat menyukai basket, karena itu
aku ingin sekali mempunyai profesi yang dekat dengannya. Aku menyukai apa yang
dia sukai, seperti itu. baiklah, pertanyaan terakhir?” Kagami merasa tersentuh,
bibirnya mengukir senyum yang sangat tulus.
“Apa profesi orang
itu?” tanya salah satu dari mereka.
Momoi terdiam
sejenak. Menatap wajah para pemain satu per satu secara bergantian.
“Dia, pelatih
basket.” Jawabnya. Lalu tiba-tiba Kagami telah berada dihadapannya dan menarik
tubuh Momoi ke dalam pelukannya.
“Kagami-kun! Kenapa
kau selalu tiba-tiba memelukku seenaknya?!!!” Momoi merengek, dan marah bukan
main, saat dipeluk oleh Kagami didepan para pemain tim basket SMA Seirin.
“Aku hanya ingin
memberimu kejutan.” Kata Kagami dengan tenang.
Pemandangan itu
membuat para pemain berteriak histeris karena merasa itu adalah tontonan yang
sangat menarik. Ternyata manager baru mereka adalah pacar dari pelatih mereka
yang berkepribadian keras dan tegas itu.
“Salah kalau tadi aku
berpikir bisa menarik hatinya.” Kata kapten tim basket.
“Heii! Apa kau mau
mati?!!!” teriak Kagami, menunjukkan tatapan iblisnya kepada para pemain.
Mereka semua sontak berteriak histeris, karena ketakutan.
“Lari sprint 100
kali!!!!” perintah Kagami sambil meniup peluit kesayangannya.
“Arrgggghh lari..!!”
kata mereka serentak.
‘Dasar Bakagami!’
kata Momoi dalam hati.
“Aku bisa mendengarmu
Momoi-chan.” Kagami tersenyum tipis.
“Apa?! Memangnya aku
bicara apa?” Momoi menahan senyumnya, dan bersandar pada Kagami yang masih
tersenyum bahagia. Tak disangka kalau ini adalah jalan baru yang harus mereka
tempuh. Mereka sudah pernah merasakan sakit karena sebuah hubungan, dan
sekarang waktunya mereka memetik hasil dari usaha mereka karena telah berusaha
selama ini. Kebersamaan menjadi satu-satunya hal yang mereka inginkan.
“Permainan piano-mu
sepertinya sudah sangat baik..”ucap Kagami.
“Kau mendengarnya?
Kapan??” Momoi penasaran.
“Itu rahasia.” Jawab
Kagami, yang telah mengetahui jawaban dari semua rasa penasarannya waktu itu.
Walaupun banyak orang bisa melakukannya, tapi belum pernah ada orang yang
memainkan lagu favoritnya sebaik Momoi memainkannya, karena dia tahu bahwa Momoi
selalu mengingat lagu favoritnya dan memainkannya dengan sepenuh hati.
Momoi memang pernah
menjadi kenangan masa lalu yang menyakitkan karena membuatnya harus mengingat
kesalahan setiap saat. Itulah yang membuat penyesalan di hati Kagami menguasai
dirinya dan membuatnya kacau, seperti bayangan yang menelan cahaya. Tapi
sekarang, Bayangan itu justru telah menguatkannya. Bayangan kelam yang hilang,
dan membawa Kagami menjadi dirinya yang lebih baik. Tentunya dengan adanya Momoi
di sampingnya.




