Sabtu, 03 Mei 2014

Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi??

Kalau bukan kita, siapa lagi?
By : Mimin Yuni Liyani


Hamparan rerumputan menari-nari mengikuti laju angin. Dibawah rindangnya pohon, sepasang sahabat sedang duduk menikmati sejuknya udara disore hari. Suara nyanyian dari penyanyi mancanegara yang terdengar begitu indah, membuat mereka ikut terbawa suasana.
“Ini lagu favoritku” ucap seorang gadis. Lawan bicaranya hanya memandang sekilas sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Kalau ini lagu favoritku.” Katanya. Dan sebuah lagu daerah yang sudah tidak asing mengalahkan suara dari penyanyi mancanegara.
Rasa Sayange ?” dengan wajah polos, dahi gadis itu berkerut seakan menggambarkan ekspresi bingung.
“Iya. ini lagu favoritku, Embun.” Jawabnya tenang. Gadis itu menahan tawanya, namun gagal yang akhirnya membuat dirinya kehilangan kendali hingga tertawa terbahak-bahak.
“Awan, Awan! Kau sungguh lucu. Apa tidak ada yang lebih bagus dari itu?” ledeknya. Embun tidak berhenti tertawa, sedangkan Awan hanya diam memperhatikan sahabat kecilnya itu. Setelah Embun mulai tenang, barulah dia beranjak untuk mendekatinya.
“Selera kita memang berbeda. Tapi, apakah salah jika aku lebih menyukai lagu daerah yang sekarang hampir hilang ditelan masa??” Awan menatap dalam ke mata Embun. Seperti habis ditampar, wajah Embun memerah. Dia terhenyak dari tempatnya dan menyadari betapa bodoh dirinya yang tidak bisa menghargai budayanya sendiri. Mereka memang sudah bersahabat dari kecil. Dan dia tahu antara dirinya dan Awan mempunyai selera yang bertolak belakang. Dia memang lebih suka tentang budaya negara lain dibandingkan sahabatnya itu. Tetapi, dia juga tidak mempermasalahkan tentang Awan yang selalu menjunjung tinggi budaya Indonesia. Dan setelah sekian lama bersahabat,  baru kali ini dia merasa tersadarkan mendengar perkataan Awan.
“Untuk apa kita menyukai hal-hal seperti itu. Negara kita saja membiarkan budaya kita diklaim oleh negara lain!” Embun berdiri dan membelakangi Awan dengan berkacak pinggang.
“Hei, jangan salahkan Negara-nya, tapi salahkan diri kita yang kurang menghargai   budaya kita sendiri.” Sanggah Awan. Suasana semakin menegang, mengingat baru kali ini mereka berselisih paham tentang selera dan budaya yang mereka sukai.
Embun menundukkan kepalanya, dalam diam dia merenung dan membenarkan ucapan Awan.
“Lalu bagaimana dengan kebudayaan yang diklaim oleh negara lain itu?” tanyanya.
Awan tersenyum lagi, sebelum meletakkan kedua tangannya dibahu Embun. Dengan penuh keyakinan dia berkata  “Itu tidak akan terjadi selama kita mau mengakui dan melestarikannya. Cintai dari sekarang, atau tidak sama sekali!”
“Begitukah?” kata Embun dengan wajah polosnya. Matanya berbinar-binar menatap Awan.
“Ya! Memang harus begitu. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menyelamatkan budaya kita sendiri?” ucap Awan.
“Baiklah.” Embun berlari meninggalkan Awan sendirian. Dengan sangat cepat dia terus berlari menuju rumahnya dan mencari sesuatu dilemari tua Ibunya. Setelah mendapat apa yang dia cari, Embun kembali menuju ketempat dimana dia meninggalkan Awan.
Awan merasa seperti orang bodoh, setelah melihat sahabatnya berlari menghampirinya dengan memakai baju batik yang berukuran besar dan sebuah selendang yang juga bermotif batik.
“Kalu bukan kita, Siapa lagi?!” teriak Embun, membuat Awan tertawa melihat tingkahnya.