Rabu, 13 Mei 2015

^Fan_Fict^... Mencoba hal baru :)

BAYANGAN YANG HILANG.....
By : Mimin Yuni Liyani  ^_^
Kuroko no basuki only @ Tadatoshi Fujimaki
Kuroko no Basuke sepenuhnya hanya milik Tadatoshi Fujimaki.... J

Cast :
Kagami Taiga  ,  Momoi  , Kuroko Tetsuya, and others... 
    




 


















Cahaya mentari pagi masuk kedalam ruangan itu melalui celah jendela. Sinarnya yang terang terasa sangat menyilaukan. Dikamar yang berukuran sangat luas itu, seorang lelaki sedang memeluk seorang gadis yang masih terlelap didadanya dengan sangat manis. Bahkan lelaki itu masih teringat bagaimana dia bisa jatuh hati pada gadis itu. karena sikapnya dan kepribadiannya yang manis, juga gadis yang selalu mendukung dan ada untuknya disegala kondisi. Perlahan tangannya yang kekar membelai rambut gadis itu dan menatapnya dalam-dalam.
“Ehmm, ,,” suara tak jelas keluar dari mulut gadis itu sambil tersenyum manis.
“Kau sudah bangun, Momoi?” tanya si lelaki yang tengah menatap gadis itu.
“Kagami-kun?” gadis itu tersenyum. sepasang matanya menatap seluruh ruangan dengan dekorasi yang sederhana tapi berkelas itu. Gadis itu terkejut ketika melihat jam yang bertengger manis didinding menunjuk pukul 9 pagi.
“Omo... aku terlambat!!!” teriaknya sambil mengikat rambutnya dengan sembarang. Rambut yang acak-acakan itu justru terlihat semakin manis untuknya. Dia berlari menuju kamar mandi secepat kilat, meninggalkan Kagami yang semalaman telah menemaninya. Kagami meregangkan tubuhnya dan memijit bahu kirinya yang semalam penuh digunakan untuk menopang kepala Momoi.
Kagami, pelatih dan pemain basket yang terkenal dengan gaya serangan yang mematikan itu adalah pacar Yuuki waktu SMA. Namun setelah beberapa tahun, Momoi meninggalkannya karena Kagami tidak pernah memperhatikannya walaupun mereka berpacaran. Menurut Momoi, Kagami hanya memikirkan tentang basket, basket, dan basket. Namun sekarang, pria berambut merah maroon itu sudah beranjak dewasa dan menyadari bahwa hidupnya tidak dihabiskan hanya untuk basket, dia juga harus memikirkan tentang orang-orang disekitarnya terutama orang-orang yang selalu menyayanginya, seperti Momoi. Saat dia menyadarinya, ternyata Momoi telah pergi meninggalkannya jauh ke Amerika dimana dia melanjutkan sekolah seni untuk meraih mimpinya.
Untuk beberapa saat, Kagami merasa semuanya baik-baik saja, dengan atau tanpa Momoi disisinya, semakin hari berlalu dia merasa harus baik-baik saja walaupun rasa kehilangannya semakin terasa, hingga suatu hari Kagami merasa sudah diambang batasnya. Dia sangat merindukan Momoi, senyum dan gelak tawa gadis bermata indah itu selalu membayangi Kagami. Lelaki bertubuh tinggi itu akhirnya merasa putus asa. Beruntungnya, teman satu tim basket yaitu Kuroko dan Kiyoshi-senpai selalu menasehati dan mendengarkan keluh kesahnya. Dua orang itu memang benar-benar kawan yang terbaik, terutama si Kuroko, lelaki berambut biru dengan tubuh yang kecil.


Kenangan Kagami waktu itu terputar lagi dikepalanya. Suatu hari dimusim semi....
Suara pantulan bola basket memenuhi tempat latihan di SMA Seirin siang itu. Semua tim kelas satu, dan dua berlatih dengan sekuat tenaga. Saat itu si pelatih Riko-chan sedang memberikan menu latihan yang sama beratnya seperti yang pernah diterima oleh kagami dan kawan-kawannya. Tapi sekarang, Kagami telah melewati masa-masa itu. Dia, Kuroko, Kiyoshi-senpai, dan pacar pelatih Hyuga-senpai, hanya datang sebagai kakak kelas yang ikut membantu jalannya latihan menjelang pertandingan Winter-Cup tahun ini. Namun saat latihan, tiba-tiba saja Kagami meleset saat melakukan dunk beberapa kali, dia juga tidak bisa menerima operan luar biasa dari Kuroko yang selalu dapat membuatnya mencetak angka. Semua orang bertanya-tanya, hingga akhirnya Riko-chan memutuskan.
“Kagami-kun!!!” teriak gadis berambut pendek itu dengan kedua tangan berkacak pinggang.
Semuanya berhenti secara serentak saat mendengar teriakan penuh amarah dari pelatih.
“Apa?!” teriak Kagami dari bawah ring diujung lapangan.
“Kau keluar! Kuroko juga!” teriak Riko-chan sambil meniup peluitnya.
“Apa? A aku juga Riko-chan? Tapi kenapa??” tanya Kuroko dengan lugu.
“Harusnya kau lebih tahu dan mengerti Kuroko!!” semua yang ada dilapangan basket terdiam. Hyuga-senpai mendekati pacarnya dan mencoba menenangkannya.
“Tenanglah Riko-chan, aku yakin Kagami bisa mengatasi masalahnya sendiri.” Hyuga berdiri dibelakang Riko-chan sambil meletakkan tangan dibahunya, alih-alih untuk meredam suasana hati Riko yang memanas.
“Kagami-kun, ikut aku.” Kata Kuroko dengan percaya diri..
“Baka!!! Memangnya kenapa aku harus mengikutimu?!!” tangan Kagami yang besar itu terus menerus menekan kepala Kuroko seakan ingin memasukkan kepalanya kedalam organ dalamnya.
“Arrggghh!!” teriakan Kagami ketika Kuroko menjatuhkan tinju tepat wajahnya.
“Sudah ikut saja bodoh, dasar Bakagami!!!” balas Kuroko.
Semuanya tidak terkejut dengan tingkah mereka berdua, Kiyoshi-senpai pemain point-guard tim Seirin justru tersenyum dan cengar-cengir dengan aneh, membuat siapapun yang melihat ingin memukulnya karena tersenyum tanpa alasan.
“Masa muda, masa yang bahagia, akan lebih indah jika melaluinya dengan persahabatan. Marilah kita menjalin persahabatan yang manis. Semanis kue dango yang warna warni!!” katanya tidak jelas.
“Hei Kiyoshi, jangan berbicara hal yang memalukan seperti itu!” teriak Hyuga setelah melemparkan bola basket tepat ke kepala Kiyoshi.
“Ahahahahah HAHAHAHAHA” suara tawa memenuhi lapangan basket.
Saat diatas atap sekolah, dua orang pemain basket yang bertolak belakang itu  berdiri dengan  memunggungi satu sama lain. Sepi sekali. Hanya hembusan angin dan kicauan burung yang sesekali lewat yang mengisi kekosongan diantara mereka.
“Kagami-kun....” ucap Kuroko pertama kali.
“Apa?!” Kagami sangat keras. Dia adalah tipe lelaki yang sangat teguh pada pendapatnya atau biasa dibilang keras kepala dan tidak suka mengalah sesuai dengan gayanya bermain cepat dan mematikan saat basket, sangat berbeda dengan Kuroko yang tenang dan dewasa.
“Momoi-chan....” sebut Kuroko. Kagami yang mendengar Kuroko menyebut nama gadis itu  berbalik menatap Kuroko.
“...kau merindukannya????” lanjut Kuroko. Lelaki berambut biru itu tidak gentar sedikitpun meskipun dihadapannya ada orang yang lebih tinggi 25cm darinya sedang menatap tajam penuh amarah.
“Apa maksudmu, Kuroko?!” ucap Kagami. Baginya, memalukan sekali jika orang seperti dirinya menjadi lemah hanya karena merindukan gadis yang meninggalkannya.
“Dasar, Bakagami!!!” Kuroko menjitak kepala Kagami meskipun harus susah payah karena masalah tinggi badannya.
“Jangan sembarangan mengganti nama orang, Baka!!” teriak Kagami, mencengkeram jaket Kuroko.
“Habisnya, kau bodoh sekali Kagami-kun. Kau juga tidak bisa membohongiku, kau tahu itu kan?” Kagami terdiam mendengar ucapaan Kuroko, dia termenung beberapa saat, bahkan akan menghabiskan waktu yang lama jika Kuroko tidak cepat-cepat mengangkat suara.
“Apa kau masih suka basket, Kagami-kun?” Kuroko menyandarkan tubuhnya di balkon atap sekolah.
“Kenapa memangnya?” Kagami bertanya balik. Dia merasa harga dirinya akan runtuh perlahan-lahan jika harus menjawab pertanyaan itu dengan terang-terangan. Huft, memang dasar Bakagami ini, jual mahal sekali ya... J
“Kau pasti masih menyukainya, aku yakin itu.”
“Percaya diri sekali kau, Kuroko.” Kata Kagami dengan sinis.
“Ya. Karena aku sangat yakin.” Kagami tercekat, tak bisa bicara apa-apa lagi. Dia memang tidak pernah meragukan si Kuroko itu, tapi keyakinan Kuroko yang berlebihan terkadang membuat Kagami merasa seperti orang bodoh.
“dan kau juga merindukannya kan? Momoi-chan, pacarmu itu....” lanjut Kuroko. Kagami masih terdiam, mengalihkan pandangan ke lapangan upacara yang terlihat jelas dari atap sekolah.
“Karena aku yakin itu, Kagami-kun. Kau sama seperti aku, sangat menyukai basket. Tapi cara kita lah yang berbeda. Kalau kau menyukai basket karena kehebatanmu, aku menyukainya karena aku ingin membuat diriku hebat saat barmain basket. Terdengar sama tapi sangat berbeda kan?.......” Kagami menatap Kuroko dengan penuh tanda tanya.
“Apa maksudmu, Kuroko?” tanyanya pada akhirnya.
“Karena aku adalah bayangan, dan kau adalah cahaya yang menjadi penentu keberadaanku  Kagami-kun. Sehebat apapun bayangan, dia tidak akan menjadi apa-apa tanpa cahaya yang kuat. Karena cahaya yang kuat akan menghasilkan bayangan yang kuat, jadi begitulah aku tergantung padamu...” Kagami mengerutkan dahinya, mengangkat alis kirinya, lalu berganti alis yang kanan. Dia lalu berjongkok dan berdiri lagi dengan tampang yang aneh, dia terus melakukannya beberapa kali. Konyol sekali. 
“Kuroko!! Sebenarnya apa maksudmu itu?! apa hubungannya dengan semua ini!!” teriak Kagami kesal karena sulit untuk mencerna apalagi memahami kata-kata Kuroko. Tentu saja. Kagami kan lagi galau... J
“Sekarang ini, cahaya yang kuat itu justru dibayangi kenangan masa lalu yang membuatnya selalu menyesali apa yang terjadi. Bayangan itu meredupkanmu Kagami-kun.”  Ucap Kuroko seolah tahu segalanya.
“Apa?” Kagami terkejut.
“Permainan basket kita kuat karena kerjasama antara cahaya dan bayangan, tetapi itu tidak berlaku pada hubungan percintaanmu dengan Momoi-chan. Kau itu seperti orang yang menyesal karena selalu mengacuhkannya dan bersikap tak acuh walaupun kalian berpacaran selama 2 tahun. Penyesalanmu itulah yang menjadi bayangan gelap bagimu, seakan-akan bayangan itu akan menelanmu setiap kali kau mengingatnya. Itulah yang membuatmu kacau selama ini......” Kuroko menjelaskan, seperti biasa dia bertingkah seperti orang dewasa yang tahu segalanya. Tapi memang seperti itulah dia, Si Aquarius dengan golongan darah A. Kadang, semuanya merasa neruntung ada orang seperti Kuroko dalam tim basket mereka karena sikap dan sifatnya.
“.... Tidakkah kau ingat pertandingan minggu kemarin? Kau hampir mengacaukan segalanya kalau saja Kiyoshi-senpai tidak berada didekatmu untuk melakukan Re-bound. Tetapi untunglah semuanya baik-baik saja.” Kuroko menghembuskan nafas yang panjang, merasa lega. Sedangkan Kagami hanya menundukkan kepalanya.
“Ku..roko..” setetes air jatuh ke ubin tempat mereka berpijak. Kuroko terkejut bukan main, kalau setetes air itu adalah air mata Kagami, yang terus menetes hingga Kagami harus menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena tak bisa membendungnya lagi. Ini adalah pemandangan yang mengejutkan bagi  Kuroko, ternyata orang yang tak terkalahkan saat bermain basket bisa meneteskan air mata karena hal seperti ini. ‘Apakah mungkin dia telah lama kesakitan?’ pikir Kuroko.
“A  a ku... Aku harus bagaimana Kuroko?!” teriak Kagami histeris.
“Tenanglah Kagami-kun. Momoi-chan tidak akan senang melihatmu seperti ini.” Kuroko mendekati Kagami dan mencoba menenangkannya dengan meminjamkan bahunya pada Kagami. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya Kuroko meminjamkan bahunya sebagai tempat bersandar Kagami. Setelah hari itu, Kuroko selalu mengeluh karena merasa keram diseluruh bahunya. Tentu saja, karena Kagami lebih besar darinya, dan Kuroko melakukan itu selama berjam-jam demi menenangkan sahabatnya itu. Aneh memang. Hahahaha.. :D


Kagami kembali tersadar dari lamunannya, ketika Momoi mencubit pipinya dengan keras....
“Kagami-kun?!” teriak Momoi yang sudah berpakaian rapi seperti biasanya.
“Arrrgghh! Momoi, sakit!” Kagami mengelus-ngelus bekas cubitan Momoi di pipinya. Wajahnya yang keras terlihat semakin menyeramkan saat merasa kesal.
“Apa yang sedang kau lakukan Kagami?! Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau tidak mengacuhkanku. Apa kau ingin memperlakukanku sama seperti dulu??!” ucap Momoi dingin. Baru kali ini Kagami mendengar Momoi berkata seterus terang itu dihadapannya. Tapi itu justru lebih baik daripada mereka berdua harus selalu menjalin hubungan yang penuh dengan salah paham.
“Kenapa kau hanya memanggilku Kagami, Momoi-chan? Apa kau sedang marah padaku???” Kagami menarik tangan Momoi dan menatapnya penuh arti.
“Baka! Kenapa kau memanggilku Momoi-chan kalau biasanya saja kau hanya memanggilku Momoi!!” Momoi menarik tangannya dari cengkeraman Kagami, tapi percuma saja dia kalah jauh secara fisik.
“Hei,, tenanglah Momoi...” Kagami berkata lembut pada Momoi, sama sekali tidak seperti Kagami yang biasanya.
“ ... Aku hanya mengingat masa di mana aku merasa sangat kacau saat kehilanganmu. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi hanya karena kebodohanku. Maafkan aku.” Momoi terkejut bukan main. Sebelumnya Kagami tidak pernah meminta maaf untuk hal-hal seperti ini, apakah benar yang dikatakan Kuroko-kun padanya kalau Kagami yang sekarang telah berubah. Dia merasa tidak tega melihat Kagami yang sekarang, apakah dia turut ambil bagian dalam membuat Kagami menderita seperti ini. Tapi itu pasti akan sebanding jika dibandingkan dengan apa yang telah dialaminya beberapa tahun yang lalu.
“Apa? Apa maksudmu Kagami?” Momoi menahan air matanya, dia merasa terharu karena dulu dia pernah menganggap Kagami itu orang yang hangat, dan itu terbukti saat ini. Saat mereka telah terpisah dan dipertemukan kembali.
“Aku minta maaf. Maafkan aku atas semua kebodohanku, atas ketidakpedulianku, dan keegoisanku yang hanya memikirkan basket tanpa memahami bagaimana perasaanmu saat itu. aku minta maaf Momoi. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi.” Ucapnya tanpa keraguan sedikitpun. Kagami yang sekarang adalah orang yang sangat dewasa. Apalagi dia tidak ingin lagi terpisah dengan Momoi. Pertemuan ini adalah keberuntungan yang tidak akan disia-siakan lagi olehnya. Dia ingin menebus semuanya hari ini juga sebelum mereka akan terpisah lagi.
“Baka!! Bakagami!!!” mata Momoi berkaca-kaca. Tapi dia tidak ingin, dan tidak akan menangis karena telah berjanji pada dirinya sendiri.
Kagami hanya tersenyum lega sambil menatap peri kecilnya, si penghibur laranya.
Kagami melepas cengkeramannya dari tangan Momoi, betapa terkejutnya dia kalau cengkeramannya itu telah meninggalkan bekas merah ditangan Momoi. Kagami merasa bersalah, dan mengusap bekas cengkeramannya dengan lembut, membuat Momoi terenyuh melihatnya.
“Apa sakit??” tanya Kagami penuh perhatian. Yuuki hanya menggelengkan kepalanya karena sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi untuk saat ini. Tanpa dia sadari Kagami telah menarik tubuhnya  ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku.” Momoi terkejut, tapi dia mencoba tersenyum bahagia, karena itulah yang dirasakannya saat ini. Tak peduli riasannya akan rusak, atau baju-nya akan lusuh dia tetap ingin berlama-lama dalam pelukan Kagami.


Dua hari selanjutnya, di Bandara Internasional Tokyo....
Banyaknya orang yang lalu lalang semakin meramaikan sore itu. Di bandara Internasional Tokyo, lelaki dengan tinggi 190cm itu dengan santainya melewati pintu kedatangan. Sepertinya penerbangan yang memakan waktu berjam-jam dari Amerika-Tokyo tidak lagi membuatnya merasakan yang namanya jet-lag karena telah terbiasa. Kepergiannya di Amerika untuk menyelesaikan kontrak kerja telah berakhir, dan kini saatnya dia kembali ke negerinya.  Kagami Taiga, mantan pemain basket dari tim Kiseki no Sedai yang kini menjadi pelatih dan atlet basket terkenal itu masih mempunyai aura yang berbeda. Untuk lawannya bermain basket aura-nya sangat mengerikan, tapi untuk para penggemarnya yang jauh-jauh menyambut kedatangannya aura-nya sangat mempesona terutama untuk para gadis-gadis remaja yang tengah berteriak histeris untuk menyambutnya.
“Berisik sekali..” katanya saat menurunkan koper dan tas ranselnya dari pengangkut barang.
Dia lalu berjalan lagi menuju tempat parkir di bandara itu. “Apa tidak ada yang menyambutku selain para gadis mengerikan itu? huft...” ucapnya lebih kepada diri sendiri.
“Aku sudah menunggumu dari tadi.” Kata sebuah suara disampingnya.
“Arrrggghh! Sejak kapan kau ada di sini?” teriak Kagami karena terkejut bukan main.
“Sudah dari tadi.” Jawab suara itu.
“Walaupun sudah bertahun-tahun bersamamu, tapiaku masih tidak bisa menyadari keberadanmu, Kuroko. Kau memang luar biasa.” Ucap Kagami, lalu bersikap lebih normal dengan tampang keren-nya itu.
“Apa perjalananmu menyenangkan?” Kuroko mencoba membuka percakapan.
“Menyenangkan apanya, aku hanya tidur sepanjang perjalanan.” Jawab Kagami sambil memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.
“Kau tidak berubah, Bakagami.” Kata Kuroko dengan ekspresi datar.
“Apa katamu???!!! Hoii, tapi sepertinya kau bertambah tinggi semenjak aku pergi ke Amerika.” Kagami meletakkan telapak tangannya di atas kepala Kuroko dan membandingkan dengan tubuhnya yang sudah jelas sangat tinggi.
“Ya, benar. Aku bertambah 5cm.” Kuroko dengan percaya diri, langsung disambut dengan tawa Kagami yang sangat keras.
“Apa? Hanya 5cm?! Ahahahaha. . payah sekali kau Kuroko!” Kagami tidak berhenti tertawa.
“Kagami-kun?” tiba-tiba suasana menjadi tenang.
“Heh??”  Kagami berhenti tertawa, wajahnya lalu diselimuti dengan awan mendung saat menatap wajah Kuroko yang sedang serius.
“Apa kau bertemu dengan Momoi-chan?” tanya Kuroko penasaran. Dia berharap sesuatu yang baik terjadi pada Kagami, apalagi Kagami telah berusaha sejauh ini menjadi orang yang lebih baik hanya untuk Momoi-chan.
Suasana menjadi dingin, dan tidak ada yang bersuara diantara mereka berdua.


Keesokan harinya, di lapangan basket SMA Seirin.....
“Yo, Bakagami.. apa kau pulang tanpa membawa gadismu, huh??” ucapan Hyuga yang selalu terdengar pedas dan sinis itu seakan menjatuhkan Kagami ke jurang paling dalam.
‘Kuroko! Apa kau yang menyebarkan cerita itu?’ batin Kagami.
“Maaf, akan lebih baik kalau semuanya tahu yang sebenarnya.” Kagami terkejut saat Kuroko seperti menjawab pertanyaan batinnya itu, rasanya ingin mati saja mendengar ucapan sahabatnya yang seperti orang tak bersalah itu.
“Hah, hentikan! Aku hanya tidak ingin menjadi penghambat untuknya. Biar bagaimanapun dia punya mimpinya sendiri.” Kata Kagami dengan super tenang.
“Kau memang telah berubah ya..” Kiyoshi-senpai ikut angkat suara.
Dilapangan basket itu, tempat dimana mereka membanting tulang demi sebuah kemenangan menjadi saksi bisu sebuah perkumpulan yang dirindukan dari masing-masing orang, tak terkecuali Kagami. Sekarang mereka hanya bisa menghabiskan sedikit waktu untuk berkumpul bersama karena telah memiliki profesi yang berbeda-beda walaupun saling terikat. Hyuga-senpai membuka tempat pelatihan bersama pacarnya Riko-chan, Kiyoshi-senpai bekerja sebagai pelatih dan penasehat  di salah satu tim basket terbaik Jepang, Kuroko menjadi pelatih hebat sekaligus pemilik dari gedung Olahraga ternama di Tokyo. Dan yang paling beruntung adalah Kagami, karena dia masih bisa mengenang tempat ini setiap waktu, dia adalah pelatih tim basket SMA Seirin, tim basket terbaik di Jepang, selain itu dia juga seorang atlet basket nasional yang sedang diburu oleh pelatih-pelatih tim basket dari Amerika karena bakatnya. Semuanya memiliki profesi yang saling terikat. Entah mereka sadari atau tidak, basket telah menyatukan mereka hingga sejauh ini.

“Kagami-kun, aku dengar SMA Seirin akan memiliki manager tim basket yang baru, apakah benar?” tanya Riko-chan.
“Heh? Apa iya.” jawab Kagami datar. Seakan tidak tertarik dengan berita itu.
“Dasar kau, Bakagami! Serius dikit napa?!!” Riko menjatuhkan tinjunya kewajah Kagami.
“Oiihh, aku ini kan bukan muridmu lagi, pelatih!!” protes Kagami, tidak disangka tubuhnya yang besar itu justru bersembunyi dibalik tubuh kecil sahabatnya, Kuroko. Riko memang orang yang sangat tegas dan menakutkan, tapi dia adalah pelatih terbaik dan paling perhatian bagi para muridnya yang tidak lain adalah teman seangkatannya. Riko dipilih menjadi pelatih karena kehebatannya dalam menilai kekuatan fisik seseorang hanya dengan melihat tubuhnya, selain itu dia juga putri dari pelatih terkenal yang mencetak atlet-atlet profesional. Sampai saat ini pu Riko masih senang menjalani profesi sebagai pelatih, tentunya bersama Hyuga pacarnya.
“Bukankah Seirin juga akan mempunyai guru musik baru minggu ini?” ucap Kiyoshi, pembawaannya yang tenang selalu membuatnya lebih terlihat menonjol, apalagi dia adalah pemain paling tampan di tim basket SMA Seirin dulu.
“Apa? Guru musik juga? Wahh Seirin sekarang mengalami kemajuan yang pesat juga. Aku kira itu tidak akan terjadi tanpa murid sepertiku ini.” Celoteh Hyuga, yang langsung ditanggapi aneh oleh yang lainnya.
“Hyaa! Senpai! Kau ini percaya diri sekali.” Cela Kagami yang tadinya tak peduli merasa sedikit tertarik dengan bahan perbincangan mereka.
“Kagami-kun, aku dengar orang baru ini dari Amerika juga.” Kata Kuroko.
Hati Kagami berdesir, seiring dengan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
“Terserahlah. Aku pergi dulu.” Kagami bergegas meninggalkan kawan-kawannya. Kepulangannya dari Amerika seakan tidak menumbuhkan semangatnya walaupun hubungannya dengan Momoi telah membaik. Dia merasa sangat merindukan gadis itu.
“Aku harus menahannya. Aku yakin tidak apa-apa seperti ini.” Kagami menghembuskan nafas panjang, gaya berjalannya itu selalu menjadi ciri khas-nya, membuatnya semakin terlihat mempesona.
“Apa maksudmu?” ucap sebuah suara.
“Hiyyaa!! Sejak kapan kau ada disitu?!” teriaknya karena terkejut, lagi-lagi dia dikejutkan dengan hawa keberadaan Kuroko yang sangat tipis.
“Sudah dari tadi.” Jawabnya singkat.
“Ah sudahlah, mati saja.” Kagami melemparkan tinjunya, tapi tidak berhasil menghantam wajah Kuroko.
“Kagami-kun.” Kata Kuroko.
“Apa?!”
“Bukankah hubunganmu sudah membaik, kenapa kau terlihat sangat sangat sangat murung setiap saat?” Kuroko dengan wajah polosnya terlihat sangat imut dan manis, ingin sekali Kagami mengatakan ‘Kawai!’ kepada Kuroko tapi itu tidak akan pernah dilakukannya karena hanya akan merusak image-nya yang keren itu.
“Kenapa banyak sekali kata ‘sangat’, Baka?!”  Kagami menggelengkan kepalanya dan berlalu begitu saja.
“Kau masih menyesal?” tanya Kuroko lagi. Mereka tepat berhenti di persimpangan jalan, lampu yang berwarna merah membuat mereka harus menunggu beberapa menit.
“Tidak, aku sudah tidak menyesalinya.” Jawabnya dengan wajah datar. Kuroko merasa heran, kenapa sebenarnya si Bakagami ini, tapi dengan sabar dia tetap mencoba mengerti keadaannya.
“Long Distance Relationship itu memang tidak mudah ya...” Kagami tiba-tiba bersuara. Matanya menatap jauh ke depan.
“...bayangan yang dulunya akan memakanku setiap saat sudah menghilang, tapi kerinduan yang tak bisa kubendung justru lebih menakutkan.” Kagami menundukkan kepalanya.
“Kau hanya perlu bersabar. Pasti akan ada hari dimana kalian akan bersatu lagi.” Kuroko meletakkan tangannya dibahu Kagami, mencoba menenangkannya.
“Tentu saja. Aku sangat menantikan datangnya hari itu.” akhirnya, Kagami tersenyum untuk pertama kalinya setelah kembali dari Amerika. Dunia percintaan memang rumit, dan melelahkan. Tapi walau bagaimanapun itu akan berjalan sesuai dengan takdir, dimana yang telah lama berpisah dapat dipertemukan kembali atau justru sebaliknya yang harus terpisah dan merasakan kepedihan yang mendalam. Apapun itu, kita harus tetap berjalan maju, jangan sampai penyesalan di masa lalu menghambat atau bahkan menghentikan hidup kita. Karena esok pasti kan bahagia, selama kita selalu berusaha melakukan yang terbaik.




Se-minggu kemudian, di koridor sekolah.....
Lelaki itu baru saja datang beberapa menit yang lalu. Aktivitas kesehariannya seakan menjadi hal yang menyenangkan selama dia melakukannya di sekolahnya dulu. Karena hari sudah menjelang siang, sepertinya dia akan terlambat lagi untuk mengawasi latihan hari ini. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika telinganya mendengar suara tuts-tuts piano sedang dimainkan mengalunkan salah satu lagu favoritnya ‘melody of the night’ dia berhenti untuk beberapa saat dan mencoba mendengarkan dengan lebih jelas. Setelah beberapa saat, akhirnya dia menemukan sumber suara itu, di ruang musik. Tangannya baru saja akan memutar kenop pintu, sebelum akhirnya salah satu muridnya memanggilnya.
“Pelatih! Anda sudah datang ternyata. Kami sudah latihan sejak tiga puluh menit yang lalu.” Kata seorang murid berkaca-mata yang memakai seragam kebanggaan tim basket SMA Seirin.
“Oh, benarkah? Maaf aku ada urusan sebentar tadi. Ayo kita lanjutkan latihannya.”
Kagami meninggalkan koridor sekolah bersama rasa penasarannya. Sepertinya, alunan piano itu telah menarik perhatiannya.


Keesokan harinya, dilapangan basket....
Seuara peluit yang menggantung di leher Kagami seperti tak mau berhenti bersuara. Dengan smemegang stopwacht ditangan kanannya, Kagami terus mengawasi jalannya latihan hari itu. latihan yang di terapkannya memang lebih berat dari pada apa yang pernah dia rasakan sebelumnya. Tapi hal ini tidak lain hanya untuk membuat tim basket SMA Seirin terus mempertahankan kedudukannya di tingkat nasional.
“Pelatih!” teriak sebuah suara dari pintu masuk.
Kagami menghampiri suara itu yang merupakan suara dari wakil kepala sekolah Seirin.
“Ada apa Pak Katsumoto?” tanyanya setelah memberi hormat.
“Hari ini tim basket akan mendapat manager baru, aku ingin kau menjadi pembimbingnya selama dia menjadi manager disini.” Wakil kepsek itu lalu memanggil seseorang yang dimaksudnya itu.
Kagami menjatuhkan Stopwatch yang sedari tadi dipegangnya, tubuhnya seakan ingin meledak dan berhamburan keluar. Otot-otot kakinya, terasa sangat lemas, hingga dia harus berpegang pada dinding diampingnya.
“Kagami! Kau baik-baik saja?” tanya wakil Kepsek penuh khawatir.
“I ... I..yaa..” jawab Kagami terputus-putus.
Apakah ini yang menjawab kegelisahan hatinya hari ini, ini adalah jawaban atas apa yang dirasakan hatinya yang tak berhenti berdebar sejak pagi tadi.
“Apa kabar, Kagami-kun??” suara itu masih sama, dengan senyum manis yang selalu terkenang.
“Momoi...” Kagami merasa seperti sedang meleleh. Sementara Momoi hanya memandangnya penuh kerinduan dengan senyuman manisnya.


“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan pulang ke Jepang?” tanya Kagami setelah akhirnya punya waktu untuk mereka berdua.
“Aku hanya ingin memberimu kejutan Kagami-kun.” Jawab Momoi tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Huhh, selamat. Kau berhasil Momoi-chan.” Kagami mendekati Momoi, seakan ingin memeluknya. Tapi dengan sigap Momoi menghindar darinya. Dia tidak ingin membuat murid-murid Kagami bertanya-tanya nantinya.
“Oh, baiklah. Sepertinya kau harus memperkenalkan dirimu terlebih dahulu.” Kagami membimbing Momoi untuk mengikutinya bertemu para muridnya.
“Hei Kalian!! Dengarkan baik-baik, kita punya manager baru disini!”
Momoi lalu memperkenalkan dirinya tanpa rasa canggung sedikitpun. Sesekali dia juga menjawab pertanyaan dari para murid itu dengan tenang. Untuk ukuran seorang manager baru, Momoi telah berhasil merebut hati para pemain. Tentu saja, siapa yang bisa menolak pesona gadis seperti dia. Kagami yang tengah melihatnya dari samping merasa beruntung telah mengambil hati gadis itu kembali.
“Momoi-san, mengapa kau ingin menjadi manager dari tim basket?” tanya salah satu pemain yang dari tadi sangat aktif bertanya.
“Aku? Emm, karena....”Momoi menatap Kagami beberapa saat, membuat lelaki itu semakin tertarik untuk mendengar jawaban dari mulutnya secara langsung.
“...karena aku ingin terikat dengan seseorang. Melalui basket aku bisa terus berada di dekatnya, dan bisa melihatnya kapanpun aku mau. Karena dia sangat menyukai basket, karena itu aku ingin sekali mempunyai profesi yang dekat dengannya. Aku menyukai apa yang dia sukai, seperti itu. baiklah, pertanyaan terakhir?” Kagami merasa tersentuh, bibirnya mengukir senyum yang sangat tulus.
“Apa profesi orang itu?” tanya salah satu dari mereka.
Momoi terdiam sejenak. Menatap wajah para pemain satu per satu secara bergantian.
“Dia, pelatih basket.” Jawabnya. Lalu tiba-tiba Kagami telah berada dihadapannya dan menarik tubuh Momoi ke dalam pelukannya.
“Kagami-kun! Kenapa kau selalu tiba-tiba memelukku seenaknya?!!!” Momoi merengek, dan marah bukan main, saat dipeluk oleh Kagami didepan para pemain tim basket SMA Seirin.
“Aku hanya ingin memberimu kejutan.” Kata Kagami dengan tenang.
Pemandangan itu membuat para pemain berteriak histeris karena merasa itu adalah tontonan yang sangat menarik. Ternyata manager baru mereka adalah pacar dari pelatih mereka yang berkepribadian keras dan tegas itu.
“Salah kalau tadi aku berpikir bisa menarik hatinya.” Kata kapten tim basket.
“Heii! Apa kau mau mati?!!!” teriak Kagami, menunjukkan tatapan iblisnya kepada para pemain. Mereka semua sontak berteriak histeris, karena ketakutan.
“Lari sprint 100 kali!!!!” perintah Kagami sambil meniup peluit kesayangannya.
“Arrgggghh lari..!!” kata mereka serentak.
‘Dasar Bakagami!’ kata Momoi dalam hati.
“Aku bisa mendengarmu Momoi-chan.” Kagami tersenyum tipis.
“Apa?! Memangnya aku bicara apa?” Momoi menahan senyumnya, dan bersandar pada Kagami yang masih tersenyum bahagia. Tak disangka kalau ini adalah jalan baru yang harus mereka tempuh. Mereka sudah pernah merasakan sakit karena sebuah hubungan, dan sekarang waktunya mereka memetik hasil dari usaha mereka karena telah berusaha selama ini. Kebersamaan menjadi satu-satunya hal yang mereka inginkan.
“Permainan piano-mu sepertinya sudah sangat baik..”ucap Kagami.
“Kau mendengarnya? Kapan??” Momoi penasaran.
“Itu rahasia.” Jawab Kagami, yang telah mengetahui jawaban dari semua rasa penasarannya waktu itu. Walaupun banyak orang bisa melakukannya, tapi belum pernah ada orang yang memainkan lagu favoritnya sebaik Momoi memainkannya, karena dia tahu bahwa Momoi selalu mengingat lagu favoritnya dan memainkannya dengan sepenuh hati.
Momoi memang pernah menjadi kenangan masa lalu yang menyakitkan karena membuatnya harus mengingat kesalahan setiap saat. Itulah yang membuat penyesalan di hati Kagami menguasai dirinya dan membuatnya kacau, seperti bayangan yang menelan cahaya. Tapi sekarang, Bayangan itu justru telah menguatkannya. Bayangan kelam yang hilang, dan membawa Kagami menjadi dirinya yang lebih baik. Tentunya dengan adanya Momoi di sampingnya.




0 komentar:

Posting Komentar